
" eh. sudah mau berangkat ja.?" tanya Tiara sat melihat Arja bersalaman dengan orang tuanya.
" iya. nanti kamu diantar sama bapak.!" jawab Arja memberikan tangannya.
" oh. baiklah.!" balas Tiara mengecup tangan Arja.
Arja berangkat ke rumah Bayu untuk mengambil surat izin.
sesampainya disana dia melihat Amel yang sudah duduk menunggu Bayu.
" hai mel. pagi-pagi udah disini saja.?" tanya Bayu.
" iya. Ja. mau ajak Bayu buat milih gaun.!" jawab Amel.
" ini baru jam berapa.?! emengnya butiknya sudah buka.?" tanya Arja heran.
" um.. memang sih belum buka.! aku mau ajak Bayu pergi sarapan diluar dulu.!" kata Amel malu.
" seharusnya itu yang ngajak Bayu.!" kata Arja.
" eh Ja. ini surat izin gue Ja.!" kata Bayu yang keluar dari rumahnya dan menyodorkan amplop kepada Arja.
" oh.. ya sudah.! kalau begitu aku langsung ke kampus ya.!!" kata arja yang tidak mau jadi obat nyamuk.
" oh.. ya sudah. aku juga mau sarapan diluar sama ini." ujar Bayu memegang kepala Amel.
Arja berangkat ke kampus. sesampainya diparkiran dia sudah ditunggu seorang wanita yang tidak ingin dijumpainya.
" pagi Ja." sapa Violin tapi tidak dihiraukan oleh Arja.
Arja berjalan ke ruang dosen untuk menyerahkan surat izin Bayu.
" kamu mau kemana Ja.?" tanya Violin yang masih mengikuti arja.
" kamu ngapain ngikuti aku.? mendingan kamu masuk ke kelas saja sana !" kata Arja jengkel karena diikuti terus oleh Violin.
" baiklah. hump.!" jawab Violin kesal dan berjalan ke kelas.
Setelah Arja menyerahkan surat izin Bayu dia bergegas ke kelas untuk mengikuti pelajaran.
pulang kuliah seperti biasa Arja menghubungi Tiara.
" Ra. aku sudah pulang. bentar lagi menuju ke sekolahmu.!" kata Arja menulis pesan.
" oh. ya sudah. aku tunggu.!" balas Tiara.
Arja berangkat ke sekolah Tiara.
sesampainya di depan sekolah Arja langsung membukakan pintu mobil dari dalam.
" ayo masuk.!" singkat Arja.
" oh. baiklah.!" ucap Tiara.
" Ja. kita ke bidan sebentar ya. buat cek kandungan.!" ujar Tiara. namun tidak mendapatkan jawaban dari Arja.
" Ja..!" panggil Tiara.
" iya. kita mampir ke rumah sakit!" jawab Arja dengan nada dingin.
Arja sebenarnya masih marah karena dia dikerjai Tiara kemarin malam.
" hah.?!" bingung Tiara dengan sikap Arja yang tiba-tiba dingin padanya.
Sesampainya dirumah sakit Arja keluar dari mobil dan berjalan kedalam tanpa membukakan pintu Tiara.
"Ayo.!" seru Arja dari luar mobil.
" Oh. baiklah.!" jawab Tiara.
__ADS_1
Setelah selesai memeriksakan kandungannya Tiara mengajak Arja untuk mampir makan di restoran, tapi ditolak Arja.
" Ja. kita mampir makan di restoran yuk.!" ajak Tiara.
" nggak. bunda sudah masak dirumah.!" tolak Arja.
" tapi... kamu kenapa Ja...?" kata Tiara bertanya pada Arja.
" aku nggak kenapa-napa.!" jawab Arja.
" tapi, sejak tadi pagi kamu dingin padaku.!" ujar Tiara.
"......." tidak dijawab Arja.
" tuh kan kamu diemin aku.!" ujar Tiara.
" aku sariawan.!" alasan Arja.
" mana.?" tanya Tiara.
" didalam mulut lah. udah. jangan tanya lagi. aku nggak bisa jawab soalnya.!" kata Arja.
Tiara menangis karena ini pertama kalinya Arja begitu dingin padanya.
Arja yang melihat Tiara menangis hatinya ikut sakit, tapi dia hanya diam dan fokus mengemudi.
Sesampainya dirumah Tiara langsung menuju ke kamar.
" kok malam Ra. pulangnya.?" tanya bunda lati melihat Tiara berlari.
" tadi mampir ke rumah sakit bun. untuk memeriksa kandungan.!" jawab Tiara tanpa menengok kearah bundanya, dan lanjut berjalan ke dalam kamar.
" hum. aneh.!" kata bunda lati.
" malam bun.!" sapa Arja bersalaman dengan bunda lati.
" pak li mana bun.?" tanya Arja.
" oh.. ya sudah. Arja ke kamar dulu ya Bun. untuk ganti baju.!" pamit Arja.
" oh. baiklah.!" jawab bunda lati.
Arja masuk ke kamar tapi tidak menemukan Tiara dan mendengar suara gemericik dari kamar mandi.
Arja ganti baju dan menuju ke meja makan tanpa mengajak Tiara.
" Tiara mana Ja.?" tanya bunda lati.
" oh.. dia masih mandi bun.!" jawab Arja.
" oh. ya sudah. kalau kamu lapar. makan duluan saja.! biar bunda panggil Tiara agar cepetan kesini.
" baik bun.!" jawab Arja mengambil nasi dan sayur.
"Ra.. ayo makan.!" seru bundanya dari luar kamar mandi.
" ......." tidak mendapatkan jawaban Tiara.
" Ra." teriak bundanya.
" iya bun. bubda duluan saja. nanti aku nyusul.!" jawab Tiara.
" oh. cepetan ya. suami kamu sudah makan Lo.." kata bunda lati dan meninggalkan Tiara.
" baik bun.!" jawab Tiara.
Tiara sebenarnya tengah menangis dikamar mandi. dia bingung dengan sikap Arja yang dingin terhadapnya. bahkan Arja tidak mengajaknya makan malam seperti biasanya.
Saat Tiara turun dari kamar Arja sudah selesai makan dan pergi kekamar tanpa menyapa Tiara.
__ADS_1
Tiara yang melihat Arja meneteskan air mata.
" kamu kenapa Ra.?" tanya bundanya.
" nggak papa bun.!" jawab Tiara mengusap air matanya.
Selesai makan Tiara bergegas ke kamar untuk bertanya pada Arja.
Bunda lati yang menyadari dengan sikap mereka berdua segera menghubungi suaminya.
" halo pak. sepertinya Arja marah deh sama Tiara.!" kata bunda lati begitu tersambung.
" hah...? yang bener.?" tanya pak li tidak percaya.
" Iya. bunda lihat sendiri.! Arja nggak menghiraukan Tiara dan Tiara tadi menangis.!" kata bunda lati meyakinkan pak li.
" ya sudah. aku segera pulang. nanti aku bakal tanya pada Arja.!" jawab pak li.
" ya sudah." kata bunda lati menutup telpon.
Saat Tiara masuk kamar dia melihat Arja yang sudah tidur diranjang.
"Ja... kamu marah sama akukan.!" kata Tiara memeluk Arja dari belakang.
"....." tidak dijawab Arja.
" kamu kalau marah, marah saja! jangan diem'in aku kayak gini.!" tangis Tiara.
"......." tapi Arja tetap tidak menghiraukannya.
" jawab dong Ja... kalau aku salah, hukum saja.huhuhu!" kata Tiara sesenggukan.
" jangan nangis lagi. kan sudah aku bilang aku sariawan. nggak kuat kalo disuruh ngomong.!" ucap Arja yang nggak tahan melihat Tiara menangis.
" tapi kenapa sikap kamu begitu dingin padaku.?" tanya Tiara.
" ....." tidak dijawab Arja.
" tuh kan nggak jawab.! aku nggak terbiasa Ja. kamu diem'in.!" jujur Tiara.
"sudah jangan nangis lagi...! aku ngga marah sana kamu. kan sudah aku bilang kalau aku sariawan susah untuk ngomong.!" kata Arja memeluk Tiara.
" huhuhu. coba aku lihat! dimana sariawannya.?" kata Tiara menyuruh Arja membuka mulut.
" ya.. nggak kelihatan lah. kan sariawanku ditenggorokan." alsan Arja.
" kita periksa kerumah sakit ya..!" saran Tiara khawatir.
" nggak usah. kalau nggak banyak ngomong pasti cepat sembuh kok.!" kata Arja.
" ya sudah. kamu cepetan istirahat kalau begitu. kamu kan sedang hamil.!" perintah Arja lembut pada Tiara.
" peluk terus. ya...!" kata Tiara.
" baiklah. dasar manja.!" kata Arja.
Mereka tidur sambil berpelukan.
saat pak li sampai dirumah, ia langsung menuju ke kamar Arja dan Tiara.
saat membuka pintu kamar dua melihat anaknya dan menantunya sedang tidur sambil berpelukan.
" mana bun.? Arja nggak marah kok. lihat orang mesra gitu.!" bisik pak li.
" tapi.. tadi... ya sudah lah. mungkin bunda saja yang terlalu khawatir.!" kata bunda lati.
" ya sudah. kita keluar. jangan sampai mengganggu mereka tidur.!" ajak pak li.
" baiklah." setuju bunda lati.
__ADS_1
......