
" kamu kenapa senyum-senyum begitu.?" tanya Tiara melihat Arja.
" eh.? nggak ada apa-apa kok.!" kata Arja dengan wajah malu.
" jujur. jangan-jangan kamu suka sama mereka ya.?" selidik Tiara.
" hah.? mana ada. aku senyum karena kamu mengakui aku sebagai suamimu di depan cewek tadi.!" kata Arja dengan gembira.
Tiara yang mendengar jawaban polos Arja ikut malu.
" sudah. kita makan siang saja yuk.!" ajak Tiara dengan wajah merah tomat.
" um.baiklah.!" angguk Arja karena dia sudah lapar karena harus membawa kantong belanjaan yang banyak.
Mereka berjalan ke restoran didalam mall itu.
Setelah memesan makanan dan menunggu akhirnya mereka menikmati makan siang.
" Kuliah kamu gimana Ja.?" tanya Tiara disela makannya.
" lancar-lancar saja." jawab Arja.
" oh. kamu... nggak dideketin sama cewek dikampus kamu kan.?" selidik Tiara.
" um... ada sih satu yang berani. tapi.. dia udah pindah keluar negeri sekarang.!" kata Arja senang.
" hum..? jadi kamu senang digodain cewek itu.?" tanya Tiara mulai marah.
" tentu saja tidak. cewek itu kamu juga kenal." jujur Arja.
" siapa.?" tanya Tiara dengan penasaran.
" Violin yang dulu ngejar-ngejar aku dari SMA." Jawab Arja.
" ooo Violin yang sekelas kamu. pantesan dia nanyain kamu saat nggak masuk kuliah." kata Tiara.
" eh.? kamu pernah ketemu dengannya.?" tanya Arja.
" iya. saat hari pertama kamu nggak masuk kuliah dia datang kerumah buat nanyain.!" kesal Tiara.
" Ooo yang penting dia sekarang udah nggak gangguin aku lagi.!" kata Arja menenangkan Tiara.
" hum. lain kali kalau dideketin cewek lagi langsung tolak saja.!" perintah Tiara.
" baiklah... hehe." kata Arja sambil tertawa bahagia melihat Tiara begitu cemburu.
" nih makan.!" kesal Tiara memasukan nasi kemulut Arja hingga penuh.
Selesai makan Tiara mengajak Arja untuk mengambil Kaos yang sudah jadi.
Selesai mengambil kaosnya mereka pulang karena Arja nggak mau Tiara kecapekan.
Sesampainya dirumah Tiara langsung masuk ke kamar untuk mandi dan tidur.
sedangkan Arja bermain game dilaptopnya setelah memberikan eskrim pesanan bundanya.
**
Sore harinya Tiara terbangun kaget karena mendengar suara petir begitu keras.
Ctak. kamar menjadi gelap karena diluar listriknya padam dan diluar tengah mendung.
" Ja..! Ja.!" teriak Tiara memanggil Arja.
" iya ada apa.?" tanya Arja yang baru selesai mandi.
__ADS_1
" kamu habis ngapain.?" tanya Tiara sambil memegang tangan Arja.
" habis mandi barusan. kenapa.?" tanya Arja.
" nggak ada apa-apa.! lampunya nggak bisa dinyalain.?" Tanya Tiara.
" harusnya nyala sih.!" kata Arja melepaskan tangan Tiara untuk menghidupkan lampu emergency.
" yah nggak bisa Ra. mungkin karena nggak pernah diganti.!" kata Arja memberi tahu dan menyalakan senter hp.
" aku pakai baju dulu. kamu diem saja dulu.!" kata Arja membuka lemari pakaian.
"Baiklah. Hpku mana.?" tanya Tiara meraba-raba mencari HPnya.
" di meja samping kamu mungkin.!" jawab Arja.
" oh. iya." kata Tiara begitu melihat hpnya.
" yah... baterainya habis. tolong ambilin powerbank di laci dong Ja.!" pinta Tiara.
" iya." kata Arja sambil mengenakan kaosnya.
"Ayo kita turun. mungkin lampu dibawah ada yang nyala." ajak Arja.
" baiklah." setuju Tiara.
" bunda lagi masak.?" tanya Tiara saat melihat bundanya.
" iya. bapak kamu lapar katanya." jawab bundanya.
" kamu lapar Ja.?" tanya Tiara pada Arja.
" iya sih. masak soto ya..!" pinta Arja.
" iya sih. masak mi instan saja kalau begitu.!" kata Arja yang selalu memasak mi instan saat hujan.
" baiklah.!" kata Tiara menuruti.
**
Hari Lahiran Tiara.
Arja tengah duduk disofa depan tv bersama Tiara dihari libur.
" selonjoran saja Ra.!" perintah Arja.
" nggak mau. nanti kalau perutku mules lagi kan repot kalau mau berdiri." kata Tiara kesal dengan perutnya.
" um. kita.. ke periksa saja bagaimana Ra. katanya Mama kalau mau lahir pasti perut mules dulu." kata Arja mulai khawatir.
" um... boleh deh. lagian kalau nanti tiba-tiba pengen lahiran dan kamu sendirian malah repot." setuju Tiara.
" ya sudah. aku ambil jaket dulu, dingin soalnya.!" kata Arja mengingat baru turun hujan pagi tadi.
" baiklah. cepetan ya." kaya Tiara.
Setelah mengambil jaket Arja langsung membawa Tiara untuk periksa ke rumah sakit. Dan yang benar saja saat di mobil Tiara merasakan sakit diperutnya.
" akh... cepetan Ja. perutku udah mulai sakit nih." rintih Tiara badannya mulai berkeringat.
" Iya.... tahan ya.. huhu." kata Arja ikut menangis.
Karena tidak macet akhirnya mereka sampai didepan rumah sakit.
Arja langsung menggendong istrinya ke ruang bersalin.
__ADS_1
Sesampainya disana Arja sudah ditunggu oleh beberapa bidan yang tadi dihubungi Arja sebelum berangkat.
" langsung bawa masuk kedalam saja, tuan muda." kata bidan itu.
" baiklah." angguk Arja langsung membawa Tiara ke yang sudah merintih kesakitan dari tadi ke dalam.
" temanin aku ya Ja." pinta Tiara memegang tangan Arja.
" iya. aku terus disini kok." angguk Arja mengelus kepala Tiara yang berkeringat.
" sus. tolong bawa air hangat yang sudah saya siapkan tadi." perintah bidan yang melihat Tiara sudah siap melahirkan.
" baik." jawab suster itu bergegas mengambil baskom yang ada air hangatnya.
" nyonya muda ikuti arahan saya ya. gigit sapu tangan ini." kata bidan itu menyerahkan sapu tangan.
" baiklah." setuju Tiara.
Tiara mengikuti seluruh arahan dari bidan tersebut dan Arja hanya bisa menangis saat melihat istrinya menjerit kesakitan sambil memegang tangannya.
Setelah beberapa kali nafas akhirnya bayinya keluar dengan selamat dan Arja bernafas lega sambil memeluk istrinya yang tak sadarkan diri karena kelelahan.
" biasa itu tuan. karena ini pertama kalinya bagi nyonya muda pasti kelelahan." kata bidan itu menenangkan Arja.
" baiklah. boleh saya gendong anak saya.?" kata Arja.
" tunggu dibersihkan dulu." balas bidan itu.
" oh baiklah." kata Arja.
Arja membuka HPnya dan menelpon orang tuanya.
" halo pa. Tiara udah lahiran. bayinya perempuan." kata Arja.
" hah. kok nggak ngasih tau dulu." kaget papanya.
" baiklah papa langsung kesana sama mama. kamu jagain Tiara saja." kata Papanya langsung menutup telponnya.
Setelah menghubungi papanya Arja menghubungi orang tuanya Tiara.
" halo bun. Tiara sudah melahirkan anaknya perempuan." kata Arja langsung ke intinya.
" APA. syukurlah. akhirnya bunda udah punya cucu. kamu jagain Tiara.! bunda bakal kesana sama pakli." ujar bundanya dengan girang.
" baikl....bun" kata Arja terpotong karena telponnya sudah ditutup bundanya.
Landa dan Wulan beserta Cindy sudah sampai dirumah sakit.
" dimana bayinya Ja.?" tanya mamanya begitu bertemu Arja.
" masih diurus bidanya ma." kata Arja yang tengah menyuapi Tiara dengan buah.
" Selamat kak. sekarang udah jadi bunda. nanti Cindy punya teman untuk diajak bermain deh." ujar Cindy memeluk Tiara.
" kamu ini taunya cuma main saja.!" kata Arja menyentil kening Cindy.
" sakit tau.huhu." tangis Cindy.
" kak Tiara baru lahiran malah kamu timpa dengan badan kamu." omel Arja.
" maaf ya kak." ucap Cindy yang nggak tahu.
" nggak papa kok." kata Tiara menenangkan Cindy.
........
__ADS_1