
Sore hari sebelum berangkat liburan.
" Bun.... Rara minta dimandiin gara-gara diejek papa bau..." ucap Arja menirukan suara Rara kepada Tiara yang sedang mengecek barang-barang sebelum berangkat nanti malam.
" kalau di ejek papa, suruh papa mandiin saja.!" balas Tiara tanpa menoleh dan terus melihat ke dalam koper untuk mengecek barang-barang.
" haih... kamu mandiin Rara dulu... biar aku yang cek barang." desah Arja melihat Tiara yang tidak mempedulikannya.
" baiklah. cek yang benar..!!" jawab Tiara setelah mengambil Rara dari gendongan Arja.
" ah... kok Rara basah...?" tanya Tiara baru sadar kalau putrinya basah kuyup karena habis bermain bersama Arja dikolam renang.
" kamu habis ajak Rara kemana Ja.? berenang ya..?." tanya Tiara sedikit mengomel.
" iya... tadi dia nunjuk-nunjuk pelampung yang ada di kolam. ya sudah aku ajak berenang.." jawab Arja.
" tapi kita mau liburan Ja... nanti kalau kamu dan Rara masuk angin gimana.?" omel Tiara atas kelakuan suaminya.
" ya.. sudah terlanjur sayang... lagian didalam pesawat nanti ada penghangat ruangannya jadi nggak mungkin masuk angin.." jelas Arja agar tidak di omeli istrinya lagi.
" huh.... kalau nanti Rara sakit berarti itu salah kamu..." kesal Tiara segera masuk ke kamar mandi untuk segera memandikan putrinya dengan air hangat.
" huh... selamat." gumam Arja menghela nafas lega.
Setelah selesai mengecek barang-barang Arja menyusul istri dan putrinya ke kamar mandi untuk mandi bersama.
" ahk... kok kamu sudah selesai Ra..?" tanya Arja kaget melihat Tiara sudah keluar dari kamar mandi.
" iya... kamu sudah selesai ngecek barangnya.?" tanya Tiara balik.
" sudah. aku mau mandi. udah kedinginan nih..." ujar Arja segera masuk kekamar mandi.
Tiara mengoleskan minyak kayu putih keseluruhan badan Rara agar tidak masuk angin dan bedak.
Selesai memakaikan pakaian untuk putrinya Tiara membawanya turun dari ranjang dan di taruh di atas karpet tempat bermain Rara biasanya.
" Rara main disini dulu ya...! bunda mau nyiapin baju buat papa." ujar Tiara pergi ke ruang pakaian untuk mencari pakaian yang digunakan Arja.
" eh... bunda mana Ra.?" tanya Arja begitu keluar kamar mandi dan hanya melihat putrinya yang sedang berusaha menggigit mainannya.
" Ada apa Ja.?" tanya Tiara keluar dari ruang pakaian membawakan pakaian buat Arja.
" oh.. ngak ada apa-apa. cuma nyariin kamu.." jawab Arja mengambil pakaian yang dibawa Tiara.
" oh ya Ja... kita ke bandara jam berapa.?" tanya Tiara karena dia belum tahu.
__ADS_1
" jam delapan malam nanti..." jawab Arja sambil mengenakan pakaiannya.
" oh... ya sudah. kita turun yuk..." ajak Tiara karena ingin memasak bekal buat dimakan di pesawat nanti.
" buat apa kita turun.?" tanya Arja penasaran.
" aku ingin masak buat bekal nanti dipesawat." jawab Tiara dengan polosnya.
" puffss Hahaha. buat apa bawa bekal dipesawat.?" tawa Arja terpingkal-pingkal.
" kan perjalanan kita jauh.... nanti kalau lapar bagaimana.?" tanya Tiara karena dia belum pernah keluar negeri.
" dipesawat sudah disediakan makanan sendiri. lagian pesawat pribadi keluargaku ada dapurnya kok..." jawab Arja menahan tawanya.
" oh.... kenapa nggak bilang...?" kata Tiara malu karena merasa norak.
" Hahaha.... kamu ini lucu sekali.. Hahaha !" tawa Arja mengejek istrinya.
" humph ya sudah kamu jagain Rara dulu. aku mau ganti baju..." kata Tiara kesal karena diketawain Arja.
" Hahaha baiklah. kamu ganti baju saja..." kata Arja yang masih tertawa.
Malamnya mereka berangkat ke Paris bersama.
" betul juga..." jawab pak li.
" baiklah ayo masuk... kasihan Rara nanti.. hahaha.." imbuh Landa menggandengkan tangan istrinya dan Cindy berjalan masuk ke dalam pesawat.
" Wahh... pesawat kamu mewah banget Ja...." kagum Tiara yang baru melihat pesawat milik papanya Arja.
" haih... ini bukan pesawatku.... ini pesawat pribadi papaku... aku mana kuat beli pesawat sekarang.." kata Arja.
" hehehe.... pasti dong mewah... ini kan desain langsung dari papa..." bangga Landa pada dirinya sendiri.
" em....." ditatap Arja penuh ketidak percayaan karena yang mendesain interior pesawat ini adalah dirinya.
" iya.iya... papa cuma desain luarnya saja..." kesal Landa karena ditatap dengan wajah mengejek anaknya.
" Hahaha... pak Landa ini bisa saja..." tawa pak li melihat anak dan orang tua itu berdebat terus.
" papa, pak li, ,Mama,bunda dan Cindy tidur saja kalau mengantuk..." ujar Arja.
" kamu mau ngapain nyuruh kita tidur...?" tanya Landa penuh curiga.
" nggak ngapa-ngapain. cuma nawarin saja... kan sudah malam.." jawab Arja dengan wajah datarnya.
__ADS_1
" aku mau tidur sama dedek Rara boleh nggak..?" tanya Cindy yang jarang tidur bareng bersama ponakannya itu.
" eng..." jawab Arja terpotong.
" boleh dong.... ayo kita tidur... nanti kak Tiara ceritain dongeng buat Cindy..." ajak Tiara keranjang.
" huh.... ya sudah kalian duluan saja. aku masih mau nikmatin pemandangan malam..." desah Arja yang sebenarnya ingin bersama Tiara menikmati malam hari didalam pesawat bersama.
" ya sudah deh papa juga mau tidur. udah capek.." kata Landa menarik tangan istrinya untuk tidur bersama karena tidak diganggu Cindy lagi.
" bapak juga mau tidur. yuk bun.." kata pak li ikut menyusul.
Arja duduk melihat keluar jendela sambil menikmati lampu perkotaan dan bintang dimalam hari.
Tanpa sadar Arja mengingat saat dulu mengunjungi Kakek dan neneknya di Paris.
Karena Cindy dan Rara sudah tidur Tiara pergi menemani Arja yang duduk melihat keluar jendela.
" kamu kenapa Ja.? kok nangis.?" tanya Tiara khawatir.
" eh.. nggak kok... mana mungkin aku nangis." elak Arja segera mengusap air matanya.
" itu... air matamu kamu usap.!" ujar Tiara.
" oh... aku cuma ngantuk.." dalih Arja.
" kamu kenapa.? jujur saja.!" kata Tiara sambil memeluk Arja.
" nggak kenapa-napa kok. cuma... mengingat saat mengunjungi kakak dan nenekku di Paris yang sudah meninggal. Saat pergi mengunjunginya pasti aku akan berangkat pada malam hari... karena saat malam lampu-lampu dibawah seperti bintang yang ada di langit." kata Arja menjelaskan ke Tiara.
" oh... kamu kangen ya sana mereka.?" tanya Tiara ikut sedih dengan cerita suaminya.
" kalau kangen sih pasti..." jawab Arja sambil mengelus kepala Tiara.
Tiara ikut menangis karena dia juga merasakan rindu pada kedua Kakek neneknya yang selalu menjaga Tiara saat orang tuanya tidak ada.
Tiara memeluk erat Arja dan menenggelamkan wajahnya ke dada Arja.
" kenapa kamu ikut menangis.?" tanya Arja bingung.
" aku juga rindu dengan Kakek dan nenekku. mereka berempat dulu selalu menemaniku saat bapak dan bunda bekerja.." jawab Tiara.
" um.... aku paham..." kata Arja mengusap air mata Tiara dan memeluknya, sambil melihat keluar jendela.
_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'_'
__ADS_1