
Sore hari.
" aduh... aduh.. sakit. Rara.? kenapa mencakar wajah papa.? bunda mana.?" ucap Arja saat bangun dari tidurnya.
" bun...!" tunjuk Rara pada bundanya yang tidur dibelakang Arja.
" haih... ini bangunin bunda ya..!" ujar Arja menaruh putrinya diatas badan Tiara dan membiarkannya mengganggu bundanya yang sedang tertidur pulas.
" akh... aduh. sakit. Rara.? Kamu kenapa menggigit dada bunda.? Laper ya..?" ucap Tiara saat bangun tidur.
" Papa juga laper bunda.!" kata Arja menirukan suara putrinya.
" kalau papa bisa masak sendiri...." balas Tiara mulai menyusui putrinya.
" kejam banget.??" gumam Arja.
Arja turun dari ranjang dan menyalakan komputernya karena siang tadi dia belum mengecek laporan gara-gara komputernya dipakai Tiara untuk bermain game.
" Mau ngapain Ja.?" tanya Tiara pada Arja.
" Mau ngecek laporan.!" jawab Arja.
" Oh... nanti malam kita jalan-jalan yuk Ja.! kita ke Mall buat membeli barang-barang buat ke Paris." ajak Tiara pada Arja.
" Iya... Masakin mie dong Ra. buat ganjel perut.! Laper nih..." perintah Arja.
" Baiklah." balas Tiara dan turun dari ranjang sambil menggendong Rara.
" Oh ya... sekalian bunda sama bapak tanyain. apakah mau ikut ke Mall.!" perintah Arja lagi sambil mengecek laporannya.
" Iya...." paham Tiara lanjut berjalan keluar kamar.
Saat sampai didapur Tiara langsung ngomong ke bundanya.
" bun. nanti malam kita ke Mall yuk...!" ajak Tiara.
" Buat apa bunda ke Mall Ra..?" tanya bundanya.
" buat beli barang-barang untuk persiapan pergi ke Paris lah..." balas Tiara.
" Oh... baiklah." setuju bundanya.
" bapak ajak sekalian ya Bun. biar... rame.." imbuh Tiara sambil menyalakan kompor untuk memasak air.
" iya... kamu mau masak apa.?" tanya bundanya.
" tadi.. disuruh Arja masak mie. untuk makan malam dia ngajak makan di Mall saja." ujar Tiara memberi tahu bundanya.
" oh... untunglah bunda belum masak." kata bundanya mengembalikan bahan-bahan makanan ke kulkas.
" Sini Rara biar nenek yang gendong..!" kata Bunda lati mengambil Rara dari gendongan Tiara.
" uhum... Rara belum mandi ya... pantes bau.. unyuk. belum mandi...bau.." kata Bunda lati menimang Rara.
" bun. bun.." oceh Rara ingin digendong bundanya.
" Rara nggak mau sama nenek.?" tanya bunda lati.
__ADS_1
" Bun.. Bun.." oceh Rara lagi sedikit berteriak.
" iya.iya.. nih Ra.. pengen digendong kamu.." ujar bunda lati menyerahkan Rara ke Tiara.
" kenapa sayang...? kok nggak mau digendong nenek.?" tanya Tiara pada putrinya yang biasanya digendong bundanya.
" pa..pa.." oceh Rara ingin bertemu papanya.
" iya... kita masak makanan dulu buat papa." balas Tiara.
" Pa..Paaa.." tangis Rara.
" uh..iya.iya... dasar rewel." kata Tiara langsung berjalan ke kamar.
" bunda aku ke kamar dulu ya. tolong bunda awasi mienya." ujar Tiara pada bundanya.
" iya..." paham bundanya.
Karena bundanya sudah paham Tiara langsung menuju ke kamar untuk mengantarkan Rara bertemu Arja.
" nih Ja.. Rara pengen sama kamu... dari tadi ngoceh pa.pa.." ujar Tiara begitu masuk ke dalam kamar.
" ouhgg.. putrinya papa kangen sama papa ya..? sini.sini.." kata Arja duduk di karpet yang ada di sebelah pintu balkon kamarnya.
" sini.. main sama papa..." ujar Arja mengambilkan mainan Rara yang ada didalam lemari mainan.
" aku lanjut masak dulu ya Ja... sekalian aku bawa kesini.." kata Tiara.
" iya..." balas Arja.
" pa...pa..." oceh Rara berusaha merangkak kepangkuan Arja.
**
" Dasar anak tidak berguna. lihatlah hasil perbuatanmu...! Gara-gara kamu perusahaan papa dalam krisis sekarang. Apa kamu nggak mikir, berani-beraninya mencoba menculik nyonya muda Lasmana. Kamu masih hidup saja itu adalah mukzijat." teriak papanya Violin marah karena mengetahui perbuatan putrinya.
" Kok papa nyalahin aku.? Aku itu sudah cukup disiksa pa..!" balas Violin yang masih kesakitan karena digilir tiga orang.
" Itu juga kamu sendiri yang minta.. lihat.! Sekarang bukan kamu saja yang kena imbasnya, papa juga kena..." omel papanya lagi.
" Pokoknya papa nggak mau tahu. Kamu cepetan minta maaf ke nyonya muda Lasmana dirumahnya.!" perintah papanya.
" Aku nggak mau. Lagian aku belum menculiknya.!" bantah Violin.
" Kalau kamu nggak mau, papa bakal suruh kamu buat tunangan dengan teman papa untuk menyelamatkan perusahaan." ancam papanya.
" Apa.! papa tega menyuruhku buat nikah dengan teman papa.? Papa gila ya..?" teriak Violin tidak percaya dengan omongan papanya.
" Sudah tidak ada jalan lain. Kalau kamu nggak mau minta maaf. Maka hanya bisa menjodohkanmu dengan teman papa." ujar papanya.
" Huh... baiklah. Aku bakal minta maaf.!" setuju Violin karena dia nggak mau harus menikah dengan teman papanya.
" Ya sudah. Cepetan pergi.!" ujar papanya.
" Baiklah." nurut Violin berjalan keluar dan masuk kedalam mobil.
" Sialan.! menculiknya saja belum tapi sudah dapat masalah yang sangat banyak." umpat Violin didalam mobil dan segera menuju kerumah Arja.
__ADS_1
**
Saat sampai di depan rumah Arja Violin dilarang masuk oleh penjaga gerbang.
Dia terpaksa kembali pulang kerumahnya.
" Gimana.? Apakah mereka sudah memaafkanmu.?" tanya papanya saat melihat Violin masuk rumah.
" Aku dilarang masuk sama penjaga gerbang disana pa.!" balas Violin.
" Huh... sudah papa duga. Sekarang hanya bisa menikahkan kamu dengan teman papa.!" kata papanya pasrah.
" Aku nggak mau pa." Tolak langsung Violin.
" Kalau kamu nggak mau.! kamu mau jadi gelandangan.?" tanya papanya.
" nggak.! apa papa nggak ada cara lain.?" tanya Violin.
" nggak ada. pokoknya kamu harus segera menikahi temen papa. papa akan segera menghubunginya." ujar papanya segera menelpon temannya.
**
" Nih Ja, mie kamu.. cepet dimakan. aku mau mandiin Rara dulu.." ujar Tiara menyerahkan mangkok berisi mie.
" kenapa nggak mandi bareng saja biar cepet." ujar Arja.
" oh... ya sudah aku mandi sama Rara biar cepet. Kamu makan dulu." setuju Tiara.
" Aku ikut dong.." kata Arja menaruh mienya di meja.
" nggak. kamu makan saja nanti dingin." bantah Tiara malu.
" Yah... Baiklah." setuju Arja karena dia nggak mau nyia-nyiain masakan istrinya.
Tiara bergegas masuk kekamar mandi bersama Rara sambil membawa handuk.
Sedangkan Arja buru-buru makan mienya karena dia ingin menyusul istri dan putrinya mandi.
Selesai makan Arja langsung masuk ke kamar mandi telanjang.
" Kamu kenapa masuk.?" kaget Tiara melihat Arja yang sudah telanjang didepannya.
" Buat mandi bareng lah... betul tidak Rara?" balas Arja jongkok mencubit pipi putrinya yang sedang dimandikan Tiara.
" Kamu keluar dulu...!" perintah Tiara karena malu melihat bendanya arja bergelantungan.
"Udah terlanjur masuk kena air... sekalian mandi saja.." bantah Arja.
" Huh... ya sudah. kamu mandi disower saja..." perintah Tiara.
" Aku kan juga mau ikut berendam." kata Arja.
" Kalau nggak mau keluar saja." omel Tiara.
" iya.iya.." nurut Arja mulai menyalakan sower.
______________________________________________
__ADS_1