
" heh... yang lihat. adik kamu gendong Tiara. kamu nggak pernah gendong aku.!" ucap Siti cemburu.
" Siapa yang bilang aku nggak pernah gendong kamu.! kamu nggak ingat setiap aku gendong kamu keranjang setelah ketiduran diruang keluarga.?" kata Usman.
" ya... orang tidur mana bisa tahu.. !" sebal Siti menggigit bawah bibirnya.
" ma...ma! us..us..!" oceh Arsya sambil memegangi dada Siti.
" oh... lapar ya... bentar ya..." ucap Siti mengeluarkan susu Arsya yang ada didalam tas yang dibawa Usman.
" ini minum dulu ya..!" kata Siti menyodorkan botol bayi ke mulut Arsya.
" gluk.. hehe... nak.!" uceh Arsya.
Arja membaringkan Tiara lagi setelah cuci muka.
" Ra. berapa usia kandungan kamu.?" tanya Siti.
" baru tiga mingguan.!" jawab Tiara.
" kamu harus hati-hati. kalau butuh apa-apa bilang aja sama arja. nggak perlu sungkan.!" ujar siti menasehati.
" iya.iya.!" malas Tiara karena dari kemarin dinasehati hal yang sama.
" iya.iya. doang.!" kesal Siti setelah mendapat jawaban dari Tiara.
Siti dan Arsya menemani Tiara sampai siang. sedangkan Usman harus membantu papanya menjalankan perusahaan. kalau Arja sedang mengurus surat pulangnya Tiara. karena sudah siang Siti pamit pulang untuk memasak.
" udah siang nih. aku pamit ya.. kasihan Arsya dari pagi belum sarapan. cuma minum susu sama roti saja tadi.!" ucap Siti.
" baiklah. aku juga sudah mau pulang." balas Tiara.
" baiklah. jaga diri baik-baik." kata Siti beranjak keluar sambil menggendong Arsya.
"eh. udah mau pulang kak.?" tanya Arja yang berpas-pasan didepan pintu.
" iya. kamu jaga Tiara. Tiara itu kalau kamu nggak nawarin dia nggak bakal minta.!" ujar siti yang tau sifat Tiara sejak kecil.
" iya kak...!" ucap Arja.
" ya sudah. aku pulang dulu.!" ucap Siti berjalan keluar Puskesmas.
" Ra... Ayo pulang.! kata bidannya kamu udah boleh pulang sekarang.!" ucap Arja begitu masuk keruangan.
" wah.. baiklah.!" senang Tiara dan bergegas keluar.
Setelah sampai rumah Arja memasak untuk makan siang.
" biar aku bantu Ja..!" tawar Tiara.
" nggak usah.. kamu nonton tv saja." ujar Arja menolak.
" tapi..."
" gak ada tapi-tapian. kamu selonjoran saja di sofa dan tunggu aku selesai masak.!" ucap Arja mengelus kepala Tiara.
" em.. baiklah." kecewa Tiara dan berjalan ke sofa didepan TV.
__ADS_1
Tak lama Tiara menunggu akhirnya Arja selesai memasak makan siangnya.
" Ra... sini makan.!" panggil Arja dari sambil menyiapkan makanannya.
" oh. baiklah." jawab Tiara mematikan tv.
" hemm.. harum Ja." puji Tiara.
" iya dong. cepet makan. setelah itu tidur siang. kata bidan tadi harus banyak istirahat.!" ujar Arja segera makan.
" um.. baiklah." patuh Tiara.
Selesai makan Tiara pergi ke kamar untuk tidur siang dan disusul Arja yang membawa laptopnya dari ruang kerja.
Tiara sangat bahagia. karena semenjak dulu tidak ada yang memberikan perhatian seperti yang Arja lakukan. orang tuanya Tiara adalah guru. jadi setiap hari harus masuk kerja dan meninggalkan Tiara. walaupun masih ada hari libur, tetap saja tidak cukup. Arja rela meluangkan semua waktunya untuk Tiara. Tiara tertidur dengan air mata bahagianya.
Arja yang sedang izin tidak ikut kuliah di kampus. tapi dua masih bisa kuliah online di kamarnya. disering melihat Tiara yang tengah tidur.
Selesai membaca materi dan mengerjakan tugas Arja merapikan laptop serta bukunya. setelah selesai Arja ikut berbaring diranjang memeluk dan mengelus perut Tiara.
**
Arja tidur sampai malam dan Tiara yang baru selesai mandi setelah memasak.
"Ja bangun..! udah malam.." ucap Tiara menggoncang tubuh Arja.
" Ah.. hoam. sudah malam ya.. maaf ya. aku tidur terlalu lama." ucap Arja.
" gak papa. cepet mandi sana. keburu airnya dingin. aku tunggu diruang makan ya..!" ujar Tiara.
" iya. sudah dari tadi. cepet mandi. aku udah laper.!" kata Tiara mendorong Arja.
" kenapa nggak bangunin aku. kan aku udah bilangin biar aku saja yang masak.!" protes Arja.
" kalau kamu yang melakukan semuanya. aku nggak gerak sana sekali, juga gak sehat buat bayinya." balas Tiara.
" oh... baiklah. tapi jangan yang berat-berat.!" ujar Arja.
" baiklah. cepetan mandi.!" kata Tiara.
" baiklah. kalau udah lapar makan dulu saja.!" perintah Arja masuk ke kamar mandi.
" iya. bawel.!" sebal Tiara.
Tiara makan terlebih dahulu karena dia sudah sangat lapar.( maklum orang hamil).
" udah selesai maka Ra.?" tanya Arja yang baru turun dari kamar.
" sudah.!" jawab Tiara yang tengah menonton televisi.
" oh. ya sudah. aku makan dulu ya." ucap Arja menuju ke meja makan.
" loh. kok kamu masak dikit Ra.?" tanya Arja setelah melihat nasi,lauk, dan sayurnya yang tinggal sedikit.
" tadi aku masak banyak. tapi..... aku makan. jadi itu yang tersisa.!" jawab Tiara malu.
" yah... ya udah. gak papa.!" kata Arja paham dengan nafsu makan Tiara yang besar.
__ADS_1
Selesai makan Arja menemani Tiara menonton televisi sambil memijat kaki Tiara.
" turun Ja. ah.. em enak.. ah.." desah Tiara saat dipijat Arja.
" pundak juga ya Ja. nanti.!" pinta Tiara.
" baiklah.." jawab Arja.
" Tadi kak Usman gak kesini.?" tanya Arja.
" nggak. cuma kak Siti sama Arsya yang kesini. buat main sama mbantu aku masak.!" ujar Tiara.
" oh...Ra.. apa gak lebih baik kamu... berhenti kerja saja.?" tanya Arja ragu.
" nanti kalau sudah hamil besar bakal baru berhenti.!" balas Tiara.
" tapi... itu...kata bidan kalau hamil mudah capek Lo. aku nggak mau kamu kenapa-napa seperti kemarin.!" ujar Arja yang merasa bersalah akibat kemarin.
" nggak papa kok.!" balas Tiara.
" Ra kamu ngajar tiga bulan saja ya. setelah itu berhenti saja.!" kata Arja dengan lembut.
" em... baiklah. tapi.. kalau aku nggak kerja kamu harus sering nemenin aku. kan bosan lalu sendirian." setuju Tiara dan memohon pada Arja.
" tentu saja kalau itu. nanti saat aku keluar kota. aku bakal ajak kamu ya..!" kata Arja.
" iya." kata Tiara menyetujuinya.
"Ayo tidur udah malam Lo..!" ajak Arja.
" um mm.... gendong..!" manja Tiara melebarkan tangannya.
" hah.? sejak kapan kamu jadi manja begini.?" bingung Arja.
" jadi gak mau.!!" bentak Tiara.
" iya.iya." Arja menggendongnya didepan sampai di kamar.
" Ra... boleh nggak.?" tanya Arja ragu yang lagi kepingin.
" sabar ya Ja... tunggu tahun depan. baru bisa.!" jawab Tiara mencolek hidung Arja dan segera menutupi tubuhnya menggunakan selimut.
" yah.... huhu." tangis Arja karena nggak bisa dapat jatah.
Arja hanya bisa memeluk istrinya dan mengelus perut istrinya sesekali.
"Apaan sih Ja.? geli tau..!" kesal Tiara karena merasa geli saat dielus Arja.
" Kata kak Siti, ini interaksi seorang Ayah pada anaknya saat didalam perut.!!" polos Arja yang kemarin diberi tahu Siti.
" itu kalau perutku sudah besar.! ini tangan saja belum kebentuk, bagaimana interaksibya.?" tanya Tiara yang pusing karena kepolosan Arja.
" eh.. jadi belum saatnya ya.? tapi... ngelus perutmu kan enak." ucap Arja lanjut mengelus.
" hahhh" Tiara hanya bisa mendengus pasrah dan membiarkan Arja mengelus perutnya sampai tertidur.
....°_^
__ADS_1