GURUKU ISTRIKU

GURUKU ISTRIKU
78


__ADS_3

Tiara menemani Arja bekerja hingga Malam dan makan malam dikantin kantor.


" Tumben Rara tidak rewel...!" goda Arja disela mengecek laporan dan tengah memangku putrinya.


" Iya... Malah aku yang bosan...!" ujar Tiara.


" Yah... Kita nungguin kak Usman balik kesini dulu baru kita jalan-jalan...!" kata Arja.


" Haiss... Kakak kamu juga lama amat sih...!" kesal Tiara.


" Tunggu bentar lagi aja...!" kata Arja.


" Huh... Kamu nggak bosan lihat kertas-kertas itu.?" tanya Tiara.


" Sebenarnya iya sih... tapi ini kan kewajiban aku...!" kata Arja.


" Humm... Lebih enak jadi guru ya kalau gitu... Cuma ngajar beberapa jam... terus istrihat... dan lanjut ngajar lagi... Dan nggak ada pake lembur disekolahan...! Kalau adapun itu les atau perayaan...!" kata Tiara membandingkan pekerjaannya dulu dengan Arja.


" Hehehe... Kalau cuma jadi guru, Kita nggak bakal bisa nikmatin harta seperti sekarang dong... Dan kalau jadi guru aku menyia-nyiakan kejeniusan ku... Perusahaan ini kan bisa dan membawa banyak lapangan pekerjaan untuk orang lain, juga bisa untuk memajukan ekonomi masyarakat maupun negara.!" kata Arja menjelaskan kalau ( setiap pekerjaan akan berbeda bila hasilnya berbeda.)


" Hum... Benar juga... Sih. Tapi guru kan juga memajukan anak-anak menjadi berpendidikan sehingga bisa seperti kamu sekarang...!" kesal Tiara merasa disindir karena pekerjaannya yang dulu direndahkan.


" Um.. Benar.!" Angguk Arja setuju.


" Itu tergantung dengan orangnya masing-masing. Kita kan saling membantu. Guru membantu melatih anak-anak hingga mantap untuk bisa bekerja dan kita para pencipta lowongan pekerjaan bisa membantu juga kan." kata Arja menjelaskan biar Tiara tidak salah paham.


" Wah..wah... Asik bener ngobrolnya... Enak ya... Bekerja ditemani sama keluarga...!" Sahut Usman setelah membuka pintu.

__ADS_1


" Bilang aja Iri...!" ejek Arja.


" Kakak kamu udah balik kesini Ja... Kita pulang yuk.!" ajak Tiara.


" Eh... Kamu tadi nggak bawa mobil Ra.?" tanya Usman.


" Nggak. Tadi aku kesini dianterin pak Anto dan sekarang pak Anto sudah pulang karena tadi aku bilang kalau pulangnya bareng Arja.


" Yah... Kakak gimana dong... Mobil Arja kan cuma muat dua orang...!" kata Usman.


" Naik taksi kan bisa kak...!" ujar Tiara.


" Tapi aku kan lagi ngirit pengeluaran...!" ujar Usman.


" Bukannya tadi udah dipinjami Arja yang ya.?" tanya Tiara.


" Itu kan untuk dua Minggu kedepan...!" balas Usman.


" Bunna... Suh..!" jawab Rara ingin digendong bundanya karena haus.


" Tega banget...!" ucap Usman mengeluarkan ponselnya dan hendak menelpon pak Anto.


" Kita kemana dulu yang.?" tanya Arja pada Tiara.


" Um... Cari mobil lah...!" Balas Tiara.


" Nggak pengen mampir ke taman bermain atau Mall dulu.?" tanya Arja lagi.

__ADS_1


" Setelah beli mobil saja sayang..." kata Tiara yang merasa kalau Arja tidak akan membelikannya mobil.


" Hahaha...Aaaii.. Baiklah.!" balas Arja dengan tawa canggung karena ketahuan niatnya.


" Tenang saja... Nanti malam aku milikmu...!" bisik menggoda Tiara dikuping Arja.


" Kan memang sudah miliku...!" balas Arja.


" Nggak mau.?" tanya Tiara sambil melihatkan tubuh sexynya.


" Mau...." balas Arja semangat.


" Ya sudah. Nanti kamu harus belikan apapun yang aku mau...!" perintah Tiara.


" Siap..." jawab Arja tanpa berpikir.


---


Pada akhirnya Arja menyesali perkataannya karena Tiara membeli mobil termahal didealer yang mereka datangi.


" Terima kasih sayang...!" ucap Tiara memeluk Arja yang berdiri terpaku sambil menggendong Rara yang mengunyah jari Arja.


" Hum..." angguk Arja.


" Baiklah... Keinginanku sudah terpenuhi... sekarang giliran Rara... Ayo kita ke Mall..!!" seru Tiara semangat.


" Malll.." uceh Rara mengikuti suara Bundanya.

__ADS_1


" Go.go.go..." semangat Tiara dikuti Rara jingkrak-jingkrak di gendongan Arja karena melihat Bundanya senang.


_@$


__ADS_2