
" Nanti balik kantor Arja ikut ya Pa...!" kata Arja karena tidak mau dihukum Tiara lagi.
" Eh. Tumben mau.? Ada apa.? Biasanya kamu kalau nggak dipaksa nggak bakal mau kan.?" heran Landa.
" Hihihii.. Takut sama istrinya Pa...!" sahut Mama Wulan.
" Eh. Eh... Gitu..." paham Landa.
" Mama apaan sih..." kesal Arja karena rencanannya ketahuan.
" Rara tidur.?" tanya Landa pada Tiara yang baru dari kamar Arja.
" Iya Pa." angguk Tiara.
" Ya sudah. Kamu ikut makan siang gih..." ajak Landa.
" Baik Pa. Eh... Kamu belum makan.?" tanya Tiara pada Arja.
" Nungguin kamu..." ketus Arja.
" Hah.?!!" bentak Tiara ingin Arja mengulangi perkataannya tadi.
" Ah... Nungguin kamu sayang.... Kan kamu yang masak... Jadi harus kamu dulu yang makan...!" ucap Arja lembut.
" Kenapa mesti aku dulu yang makan.? Takut aku kasih racun.?" tanya Tiara.
" Um... Nggak...Bukan gitu...umm.." balas Arja kehabisan kata-kata.
Sedangkan Papa Landa dan Mama Wulan asik cekikikan.
" Ayo sini duduk disebelahku...!!" kata Arja.
__ADS_1
" Humph... Kalau takut aku racuni... Jangan ikut makan...." kata Tiara duduk di kursi yang dimaksud Arja.
" Siapa yang takut kamu racuni... Lagian.. Aku rela kok kalau racunnya, racun cinta..." gombal Arja.
" Puffs.." kaget Landa dan Wulan merasa jijik dengan ucapan anaknya itu.
" Nih... Aku kasih cinta..." kata Tiara mangimbilkan nasi Arja hingga piringnya tidak muat.
" Tuh... Dihabiskan... Kalau nggak habis, Berarti kamu nggak tulus menerima cintaku..." gombal balik Tiara.
" Hah... Baiklah...." setuju Arja dengan terpaksa.
" Makan tuh cinta..!!" ejek Papa Landa.
" Pasti dong... Lihat... Cinta Tiara ke Arja... Hingga menumpuk banyak..." balas Arja.
" Iya.... masih muda ya Ma.... Kalau Mama kamu kan sudah terbagi cintanya..." ujar Papa Landa.
" Emang bener kok. Nih... Cinta Mama dibagi kepada anak-anak Mama bukan ke Papa saja..." kata Mama Wulan menambahkan lauk ke piring Wilda.
" Hah...!!" kaget Wilda dan ingin menangis karena dirinya sudah di kerjai habis-habisan.
" Hahaha..." Tawa puas Landa.
Arja mulai melahap makanannya dengan terpaksa.
" Haikk... Udah.. Udah kenyang aku... Ayo Pa..Kita berangkat ke kantor...!" ujar Arja.
" Tungguin Kakak kamu...!" balas Papanya.
" Ya sudah... Aku mau tidur dulu..." Pamit Tiara mengambil piring Arja dan meletakkannya di wastafel dapur.
__ADS_1
" Iya..." balas Arja.
Setelah Usman sampai dikediaman Lasmana sehabis makan siang bersama istrinya, Mereka langsung berangkat menuju kantor.
" Eh... Itu siapa yang sama pak Presdir.?" tanya Seorang karyawan baru wanita.
" Itu.! Dia Presdir muda kita.! Sekarang dia masih kuliah...!" ujar temannya sesama karyawan.
" Ganteng banget..!" ujar karyawan baru itu.
" Emang ganteng... Tapi dia kejam...!!" balas temannya.
" Kejam.?" bingung karyawan baru itu.
" Iya. Dulu saat Istrinya dicelakai wanita yang mengidamkannya... Keluarga wanita tersebut hancur... Yang tersisa hanya ibunya saja...!" jelas temannya itu.
" Jadi... Dia ngebunuh orang.?" kaget Karyawan baru itu.
" Kalau itu nggak ada yang tahu. Wanita dan Bapaknya hilang sampai sekarang... padahal wanita itu dari keluarga terkenal..." ujar Temannya itu.
" Wah..." kaget Karyawan baru itu.
" Ah... Siang Presdir... tuan muda pertama...tuan muda kedua...!" sapa para karyawan.
" Siang...!" balas Usman dan Papanya, sedangakan Arja hanya mengangguk saja sekan tidak peduli.
" Loo... kok males ngomong gitu Ja... Disapa orang itu sapa balik kek..." ujar Usman merangkul Arja.
" Biar apa.?" tanya Arja sambil jalan menuju lift.
" Ya...menghormati orang lain kek....!" kesal Usman karena dibantah adiknya itu.
__ADS_1
" Nggak terbiasa...!!" balas Arja.