
Setelah keluar dari kamar mandi Tiara balik ke teman-temannya.
" eh Ra.. tadi kamu lihat nggak. tadi ada dua pria kekar yang pingsan dan diseret oleh seorang pria dari kamar mandi.?" tanya Jeje.
" nggak lihat." jawab Tiara kebingungan.
" oh... ya sudah deh. ini udah siang nih... balik yuk... suamiku nanti marah-marah karena keluar lama." kata Tiara takut kalau putrinya rewel.
" baiklah. aku juga mau nyiapin makan siang buat suamiku." setuju Jeje.
" dasar kalian berdua mentang-mentang udah punya suami..." sebel Lily karena dirinya masih jomblo.
" hahaha makanya cepet cari jodoh. jangan kerja terus..." tawa Tiara mengejek Lily.
" huh.... masih ngejek orang lagi.. ya sudah aku juga mau balik.." kata Lily mencubit pipi Tiara.
Kedua teman Tiara langsung pulang dan Tiara membayar dulu karena dia yang mengajak kedua temannya untuk ngumpul.
"Apakah langsung pulang nyonya muda.?" tanya Fanny saat didalam mobil.
" iya..." jawab Tiara singkat.
Sesampainya dirumah Tiara melihat Arja yang sedang duduk di teras ditemani Rara yang sedang belajar merangkak.
" halo sayang... lama ya bunda tinggal.?" ujar Tiara menggendong putrinya.
" iya lama." jawab Arja yang khawatir karena tadi mendapat laporan dari Fanny.
" kamu kenapa sih...?" tanya Tiara melihat Arja begitu khawatir.
" nggak papa. ayo masuk...! aku udah lapar nih.." ajak Arja sengaja ingin menyembunyikan rasa khawatirnya.
" baiklah. Raranya bunda pasti udah lapar ya..?" tanya Tiara sambil menusuk-nusuk perut putrinya itu.
Karena bunda lati sudah memasak mereka langsung makan.
" tumben kakak kamu belum kesini Ja.?" tanya pak li mengingat Usman yang selalu membawa Arsya bermain kerumah.
" oh... dia lagi disuruh papa ke bali subuh tadi untuk berkunjung ke hotel yang ada disana katanya ada masalah. kak Siti sama Arsya juga diajak sekaligus liburan disana. " jawab Arja.
" oh... pantesan nggak kelihatan. Kamu rencana mau liburan kemana Ja..?" tanya pak li yang sebenarnya sudah tidak sabar ingin liburan.
" Apakah bapak ada saran.? saya sebenarnya juga bingung pak mau ke mana.!" jawab Arja.
" kalau bapak sih ngikut saja." balas pak li.
" katanya kamu ada rumah diparis Ja..?" sahut Tiara.
" oh... boleh juga sih kalau diparis. bunda sana pak li mau ke Paris.?" tanya Arja.
" baiklah. sekali-kali keluar negeri bagus juga. tambah wawasan." setuju pak li dengan tenang sambil meminum kopinya.
" bunda juga setuju. bunda juga ingin merasakan naik pesawat keluar negeri." semangat bunda lati.
" ya sudah. dua hari lagi semuanya harus bersiap-siap. malam harinya kita berangkat." ujar Arja.
" kok cepet banget Ja..?" tanya Tiara kaget.
__ADS_1
" iya. biar kita disana lebih lama.." jelas Arja.
" Ooo... bener juga.." paham Tiara.
" orang tuamu nggak diajak Ja.?" tanya pak li.
" aku sudah mengajak tadi saat kesana. tapi yang bisa cuma Mama sama Cindy yang bisa. papa mau ngurus perusahaan." kata Arja.
" oh... dasar papa kamu itu gila kerja.." kata pak li.
" memang pak. sebenarnya Arja sudah nawarin diri buat menggantikannya, tapi dilarang." balas Arja juga merasa kesal dengan pikiran papanya. sebenarnya Landa tidak ingin Arja yang masih terlalu muda harus dilepas untuk jadi direktur di perusahaan.
Selesai makan Arja berpamitan ke Tiara karena harus mengurus penculik yang mencoba menculik Tiara tadi.
" Ra.. aku mau keluar bentar. kamu dirumah saja, jangan kemana-mana..." pamit Arja pada Tiara.
" kamu mau kemana.? kenapa nggak ngajak aku..?" tanya Tiara.
" tadi ada masalah. bentar doang kok. kamu dirumah saja tidur siang.!." kata Arja.
" baiklah. cepet pulang ya...!" kata Tiara menyetujui Arja.
" iya.iya.." balas Arja.
Arja langsung mengemudikan mobilnya ke gudang.
sesampainya disana Arja sudah disambut oleh dua orang penjaga gerbang gudang yang mirip penjara itu.
" orangnya dimana.?" tanya Arja pada Fanny yang membukakan pintu mobilnya.
" didalam tuan muda.." jawab Fanny.
setelah didalam arja langsung duduk didepan dua pria penculik itu.
" siapa yang menyuruh kalian.?" tanya Arja.
"......" tidak ada jawaban dari kedua pria itu.
" terakhir kalinya saya tanya, kalau nggak jawab patah tangan kalian.!" ancam Arja.
" siapa yang menyuruh kalian.?" tanya lagi Arja.
"......" masih tidak dijawab oleh dua pria itu.
" bagus... sudah hampir dua tahun aku nggak denger teriakan seorang pria.... langsung saja..!" perintah Arja pada Fanny.
Kraaak.....kraakk...
" Aahhhk ampun Akh... tolong.. ampuni saya.." teriak kedua pria itu.
" aduh... sudah jadi cacat. jawab saja... siapa yang menyuruh kalian, biar adil dengan bos kalian." ujar Arja membuat kedua pria itu ketakutan.
" eee.... nona Violin tuan.. nona Violin." teriak kedua pria itu karena Fanny mulai mendekati mereka.
" oh... bagus... kalian diam disini dulu. nanti biar kalian juga melihat pertunjukan seru.." kata Arja mengambil telponnya dan menghubungi seseorang.
" hallo. jemput seorang perempuan bernama Violin yang kemarin ulang tahun itu... bilang saja Arja mau ketemu." kata Arja langsung menutup telpon kembali.
__ADS_1
" kalian tunggu saja..." kata Arja pada kedua pria yang ada didepannya.
Setelah setengah jam menunggu akhirnya mobil yang membawa Violin akhirnya tiba.
Violin kebingungan kenapa Arja mengajak ketemuan ditempat mengerikan seperti ini.
Setelah masuk Violin kaget dan gemetaran.
" oh... bis kalian sudah sampai... lihat baik-baik bagaimana saya membalas seseorang yang mencoba mencelakai keluarga saya." ujar Arja.
" bawa ke ruangan." perintah Arja pada Fanny untuk membawa Violin ke kamar di pojok gedung.
" nah kalian mau nggak mencicipi tubuh bos kalian itu...?" tanya Arja pada kedua pria didepannya.
"em.." angguk cepat kedua pria itu karena tidak mau membantah Arja dan ingin memberikan pelajaran pada Violin karena sudah membuat mereka cacat.
" bagus kalau begitu. silahkan dinikmati." kata Arja mempersilahkan kedua pria itu untuk masuk ke kamar beserta seorang pria dari salah satu pengawal Arja yang khusus melayani wanita.
" TIDAK.. JANGAN MENDEKAT.... TOLONG.. JANGAN MENDEKAT." teriak Violin dari dalam kamar.
Arja pulang ke rumah karena tidak ingin membuat Tiara khawatir.
Violin masih menjerit karena digilir oleh tiga orang pria kekar sekaligus untuk pengalaman pertamanya.
Ketiga pria itu bermain sampai membuat Violin pingsan karena kecapekan.
Arja sudah sampai rumah dan langsung masuk ke kamar untuk menemani Tiara.
Saat masuk ke dalam kamar Arja melihat istrinya sedang bermain game di komputer Arja.
Arja mendekatinya dan memeluknya dari belakang sehingga membuat Tiara kaget.
" Akh..." teriak Tiara membuat Arja kaget.
" Kamu kenapa sih teriak kenceng banget.!" ujar Arja mengolok-olok kupingnya.
" Lagian kamu tiba-tiba memeluk aku dari belakang. gimana nggak teriak.?" balas Tiara.
" Kamu ngapain main game di komputer aku.?" tanya Arja bingung.
" Biarin... main di handphone kan bosen." balas Tiara melanjutkan bermain game.
" Huh... ini kan komputer kerja.!" keluh Arja.
" Biasanya kamu juga main game di komputer ini kan.!" balas Tiara.
" ukh... terserah kamu saja... aku mau mandi dulu." pasrah Arja.
" oi... siapin bajuku..!" perintah Arja.
" iya.iya. kamu mandi dulu saja..!" kata Tiara masih fokus bermain game.
" huh... pasti nggak bakal disiapin kalau udah begitu.." gumam Arja mengambil pakaiannya sendiri.
Selesai mandi Arja ikut tidur disamping putrinya. Sedangkan Tiara masih sibuk dengan gamenya.
Tiara yang baru ingat Haris menyiapkan pakaian untuk Arja langsung mempause gamenya. Saat membalikkan badan Tiara melihat Arja yang sudah tidur disamping putrinya. Karena Tiara juga mengantuk dia mematikan komputer dan ikut tidur disebelah Arja sambil memeluknya.
__ADS_1
______________________________________________