
" Tiara mana Ja.? kok belum keluar.?" tanya bunda lati saat melihat Arja menggendong Rara turun dari tangga.
" baru dandan bun. tadi dia ngurus Rara dulu." jawab Arja.
" oh... Rara sini sama nenek ya... dari tadi siang nenek belum gendong Rara." ujar bunda lati menjulurkan tangan hendak menggendong Rara.
Namun Rara malah memeluk erat Arja karena tidak mau digendong neneknya.
" huh.. dasar. sekarang papanya dirumah sama sekali nggak mau digendong nenek." sedih bunda lati sekaligus bahagia karena Rara bisa mengenali Arja sebagai ayahnya.
" hehehe. mungkin pengen digendong Arja terus bun." kata Arja.
" dasar. sudah ada papanya sekarang ngelupain nenek." kesal bunda lati mengerucutkan bibirnya.
" huh... kamu ini... biarin Rara sama Arja. mumpung Arja bisa." desah pak li melihat istrinya seperti anak kecil saat ngambek.
" benar juga sih...". paham bunda lati.
" Ayo bun.pak.ja. kita berangkat." celoteh Tiara saat turun dari tangga.
" ya sudah. ayo berangkat bun.pak." kata Arja berjalan keluar rumah untuk menuju ke mobil yang sudah disiapkan.
" Mama kamu sama Cindy nggak diajak Ja.?" tanya bunda lati.
" sudah tadi. katanya mereka sudah ada disana sama papa karena papa kebetulan ada disana untuk kunjungan kerja." jawab Arja.
" oh... baiklah." kata Bunda lati.
" nah.. Rara sama bunda dulu. papa mau nyetir mobilnya sayang." kata Arja menyerahkan putrinya ke istrinya. Namun Rara menolak Bersi kukuh memeluk Arja dengan erat.
" kok nggak mau.?" tanya Tiara bingung.
" Kalau Papa gendong Rara gimana papa nyetir mobilnya sayang.?" tanya Arja pada putrinya yang sedang menenggelamkan wajahnya di dada Arja.
" huh... aku panggil pak Anto dulu saja." ujar Arja karena putrinya tidak mau melepaskan pelukannya.
" pak Anto. bisa anterin kita ke Mall nggak soalnya Rara nggak mau lepas dari pelukan Arja pak." teriak Arja pada pak Anto yang tengah mengobrol dengan penjaga gerbang.
Pak Anto langsung berlari ke arah Arja.
" bisa tuan muda." jawab pak Anto saat mendekati Arja.
" baiklah kita langsung berangkat saja." kata Arja menaiki mobil sambil menggendong putrinya.
" baik. tuan muda." jawab pak Anto segera masuk mobil disusul Tiara.pak li dan bunda lati masuk.
" kamu punya mobil kayak gini juga ya Ja. seperti bus saja." ujar pak li yang baru tahu arja memiliki mobil seperti hotel itu.
__ADS_1
" ini nggak punya Arja pak. mobil ini punya papa untuk dinas keluar kota. tadi Arja pinjam papa karena mobil ini nggak dipakai hehe." jujur Arja karena dia belum mampu beli mobil super mewah itu sendiri.
" oh...." paham pak li karena dia nggak percaya kalau Arja memiliki mobil seperti ini.
" Rara nggak mau digendong bunda saja.?" tanya Tiara yang ingin menggendong putrinya itu.
" em.." geleng Rara saat melihat bundanya menjulurkan tangan.
" hump.... kamu kasih Rara apa Ja.? sampai nggak mau lepas dari kammu gitu." tanya Tiara dengan tatapan tajam.
" nggak ngasih apa-apa kok. mungkin Rara pengen aku gendong terus. soalnya biasanya kan aku sibuk." balas Arja takut dengan tatapan istrinya.
" humph... Rara nggak mau minum susu.?" tanya Rara.
" um." angguk Rara karena belum minm asi dari Tiara sejak tadi siang.
" tadi kamu nggak mau digendong bunda. kenapa sekarang mau.?" heran Tiara.
" us...us.." oceh Rara berusaha meraih dada Tiara.
" dasar. mau digendong kalau ada maunya saja." kesal Tiara dan mulai mengeluarkan dadanya untuk menyusui putrinya.
" sudah... Rara kan masih kecil. buat apa kamu marahin. begitu..?." ujar Arja menenangkan istrinya.
" Siapa yang marah.? Rara kan Putri bunda paling gemesin..." balas Tiara sambil menggosokkan hidungnya dipipi Rara.
" um. baiklah. pak Anto parkirin mobil terlebih dahulu setelah itu ikut nyusul kami masuk ke dalam.!" perintah Arja.
" baik tuan muda." jawab pak Anto.
" Ayo Pak.Bun.Ra.!" ajak Arja membuka pintu mobil dan masuk kedalam Mall untuk mencari orang tuanya terlebih dahulu.
Saat bertemu kedua orang tuanya Arja langsung menyapanya.
" Pa.Ma.Cindy..!" seru Arja membuat Landa.Wulan dan Cindy termasuk bodyguard papanya menengok ke arah suara.
" eh. baru sampai Ja.?" tanya Mama Wulan.
" iya... soalnya Rara tadi rewel sebelum berangkat." kata Arja memberi tahu.
" oh... ya sudah. sini Rara digendong sama Oma ya..?" kata Mama Wulan.
" um" geleng Rara menolak Omanya.
" hehe... Raranya dari tadi sore ngemplok ke papanya terus ma..." kata Tiara merasa tidak enak dengan mertuanya.
" oh... kamu sih Ja..." paham Mama Wulan kalau Arja sering ninggalin cucunya karena sibuk.
__ADS_1
" hehe... nggak papa lah Ma... mumpung bisa hehe.." canda Arja membuat semua orang tertawa.
" sudah.sudah. ayo kita cari makan terlebih dahulu.! Papa lapar soalnya habis ketemu klien tadi.." ujar Landa karena dia belum makan sejak tadi siang.
" Hahaha. betul pak Landa. saya juga belum makan malam." balas pak li setuju dengan ajakan besannya itu.
Mereka segera menuju ke sebuah restoran yang ada dilantai tiga.
Setelah memesan makanan mereka menunggu sambil mengobrol.
" oh ya pak Landa kenapa nggak ikut kita liburan ke paris.?" tanya pak li heran dengan besannya yang umurnya tidak lagi muda.
" iya.. sudah aku paksa malah nggak mau dianya pak li." sahut mana Wulan karena kesal dengan sifat suaminya yang gila kerja itu.
" nggak gitu sayang. aku kan harus menjalankan perusahaan..." balas Landa.
" Papa kalau mau ikut liburan. Ikutan saja, biar tambah rame. Kalau soal perusahaan aku bisa ngatur seseorang untuk mengerjakannya dan bakal aku pantau saat di Paris." ujar Arja.
" Tapi Ja.... papa nggak mungkin.." kata papanya terpotong.
" nggak mungkin apa.? Arja sudah mempersiapkannya pa.." potong Mama Wulan.
" tapi ma... Arja itu terlalu kejam... saat mengurus perusahaan." bisik Landa pada istrinya.
" kejam bagaimana.?" bentak istrinya membuat semua orang kaget.
" hustt... hehe." Landa langsung membungkam mulut istrinya.
" nanti papa bakal ceritain saat dirumah." bisik Landa lagi.
" um." angguk Wulan karena mulutnya di bungkam oleh suaminya menggunakan tangannya.
" Arja tau yang ada dipikiran Papa. Papa tenang saja, kalau karyawan nggak cari gara-gara Arja nggak bakal menghukumnya." kata Arja berusaha meyakinkan papanya.
" Huh... baiklah. nanti papa bakal ngurus srat cuti terlebih dahulu." pasrah Landa karena sudah dipaksa.
" nah gitu dong." ujar Wulan senang.
" syukur deh pak Landa mau ikut." kata pak li bersyukur karena dia bisa mendapat teman ngobrol saat liburan.
" iya pak li." angguk Landa.
" bagus. kalau karena papa juga ikutan jadi rame.." senang Arja.
Setelah makan mereka melanjutkan berbelanja keperluan untuk pergi liburan.
....bersambung.....
__ADS_1