
" mas.. Arja pingsan mas. cepet tolong dia.!!" teriak Siti sesampainya di meja makan.
" HAH.. kok bisa.? yang hamil kan Tiara.! kok dia yang pingsan.?" kaget,bingung, serta nggak percaya. itulah yang dirasakan Usman.
" beneran. cepetan tolong dia. Aku tadi udah suruh Tiara buat nemenin.!" kata Siti.
" oh.. ya sudah kita ke sana sekarang.!" kata Usman segera menghabiskan makanannya.
" mendingan kamu telpon dokter Teguh buat kesini.!" perintah Usman pada istrinya.
" baiklah.!" setuju Siti.
Usman pergi ke rumah Arja, sedangkan Siti menghubungi dokter Teguh.
" mana Arjanya.?" tanya us begitu masuk kerumah Arja.
" disini.!" kata Tiara yang tengah memangku kepala Arja.
" kok bisa pingsan.?" tanya usman.
" aku juga nggak tahu. saat dia menyuapiku tiba-tiba pingsan.!" jawab Tiara sambil menangis.
" ya sudah. aku bawa ke kamar dulu. kamu ambil minyak kayu putih dulu.!" perintah Usman.
" baiklah." kata Tiara dan bergegas mengambil minyak kayu putih.
Usman mengangkat Arja dan membawanya ke kamar.
Tak lama setelahnya dokter Teguh, Tiara, dan Siti masuk kedalam kamar.
" Sini biar saya periksa sebentar.!" kata dokter Teguh.
"Gimana dok.?" tanya usman yang melihat dokter Teguh selesai memeriksa.
" huh.. hanya demam dan kecapekan saja.!" kata dokter Teguh sambil menuliskan resepnya.
" ini tebus diapotek. sebentar lagi dia akan sadar.! saya pamit dulu kalau begitu.!" kata dokter Teguh berpamitan.
" baiklah dok. maaf ganggu dokter bekerja dirumah sakit. terima kasih.!" kata Usman paham.
" ya sudah. jaga adik kamu. jangan sampai bekerja terlalu berlebihan.!" kata dokter teguh.
" baik dok.!" kata Usman.
" baiklah aku tebus obat dulu. kamu temani Tiara dulu ya.!" kata Usman pada istrinya.
" baiklah mas.!" jawab Siti.
Tiara masih menangis, dia nggak nyangka kalau Arja bisa pingsan gara-gara memenuhi semua keinginannya.
Setelah beberapa menit, Arja berteriak dan meminta air.
" ehm.. Air.! Air.! panas.. tolong.!" kata Arja yang bermimpi buruk saat diculik mantan pacar ayahnya dan di sekap digedung yang terbakar.
" Ja.. bangun Ja.. kamu kenapa.?" bingung Tiara.
" Akh...hah.. hah" teriak Arja bangun dengan ngos-ngosan.
" kamu kenapa Ja.. mimpi buruk.?" tanya Tiara takut.
" hah.. nggak papa kok." jawab Arja.
" eh. kak Siti kok disini.?" tanya Arja.
" kamu tadi pingsan. kata dokter Teguh kamu demam dan kecapekan." balas siti.
" oh... jadi gitu. maaf ya. udah buat khawatir.!" kara Arja mengelus kepala Tiara yang sedang menangis.
" kamu.. kenapa nggak bilang kalau capek.?" tangis Tiara di dada Arja.
" ya sudah. karena kamu sudah bangun kak siti pulang dulu. kasihan Arsya sendirian. nanti kak Usman bakal ngasih obat ke kamu.!" kata Siti beranjak pergi karena tidak mau jadi obat nyamuk.
" terima kasih sit.!" ucap Tiara.
__ADS_1
" nggak papa." ucap Siti.
" sudah. nggak usah nangis lagi. aku kan nggak kenapa-napa.!" ucap Arja mengelap air mata Tiara.
" kamu kenapa nggak bilang kalau capek. huhu!". tanya Tiara sesenggukan merasa bersalah.
" yang penting aku nggak kenapa-napakan.! mungkin kurang istirahat saja.!" kata Arja lembut.
" ya sudah. kamu banyak istirahat mulai sekarang.! biar aku yang ngurus kamu.!" ujar Tiara.
" aku kan kepala rumah tangga masak kamu yang ngurus aku.?" tanya Arja.
" kamu kan sedang sakit.!" balas Tiara.
" udah nggak papa kok.! lihat.!" kata Arja mengangkat tangannya yang kurus tapi berotot.
" pokoknya kamu istirahat dulu.!" tegas Tiara.
" hah.. baiklah.!" pasrah Arja.
" maaf saya mengganggu. ini obatnya tuan.!" canda Usman dari balik pintu.
" kak Usman mana obatnya.?" tanya Tiara pada Usman.
" ini. suruh minum setelah makan.!" kata Usman.
" karena Arja sudah sadar. aku pulang dulu. belum kelar makan tadi.!" ujar Usman.
" baiklah. terima kasih.!" kata Tiara.
" woi.. pemuda lemah. jaga diri baik-baik.!" ejek Usman.
" siapa yang lemah.!" kesal Arja.
" ya sudah aku masak dulu.!" ucap Tiara.
Usman kembali kerumahnya dan Tiara pergi memasak, sedangkan Arja tengah sibuk mengerjakan tugas kuliahnya beserta mengecek laporan perusahaan.
" iya..." patuh Arja menutup laptopnya.
" Aku suapi ya..!" tawar Tiara yang masih merasa bersalah.
" oh. boleh deh.!" setuju Arja.
" Selesai makan kamu harus minum obat ya!" perintah Tiara.
" um... aku udah sehat kok. mungkin setelah tidur akan sembuh m!" ujar Arja menolak untuk minum obat.
" tapi tetap harus minum obatnya ya.!" kata Tiara.
" tapi... aku ngga suka minum obat. biasanya saat aku sakit cuma dipijit dan dikasih minum air hangat setelah itu sembuh." jujur Arja.
" Haha kamu ini umur berapa kok gak bisa minum obat.?" tawa Tiara.
" jadi pijit saja ya..!" pinta Arja.
" um.. iya. tapi kalau nggak membaik harus minum obatnya.!" balas Tiara.
" um. baiklah.?" angguk Arja.
Setelah makan Arja langsung tidur siang karena takut kalau disuruh minum obat,
Sedangkan Tiara baru makan siang.
Selesai makan Tiara ikut menyusul Arja tidur siang karena dia juga kelelahan.
Arja yang merasakan Tiara ikut tidur disebelahnya dia memeluknya.
" maaf ya, sudah membuatmu khawatir dan menangis tadi.!" bisik Arja ditelinga Tiara.
" nggak papa. kan salah aku juga yang nyusahin kamu terus.!" balas Tiara.
" kan aku suamimu, seharusnya aku lebih kuat dan tidak membuatmu merasa khawatir.!" kata Arja mencium leher Tiara.
__ADS_1
" ya sudah. cepetan tidur. nanti nggak sembuh Lo..!" perintah Tiara yang merasa geli.
" baiklah. nyonya muda..!" ucap Arja memejamkan matanya.
" dasar bodoh. aku yang harusnya minta maaf. aku nggak layak dapat perhatian dari kamu Ja.! terima kasih." kata Tiara dalam hatinya dan tanpa sadar mencium kening Arja. Arja yang tiba-tiba dicium keningnya tersenyum bahagia.
**
1 Minggu kemudian.
Arja sudah kembali masuk kuliah di kampusnya. sedangkan Tiara juga sudah mulai ngajar disekolahnya.
" inget. kalau sudah capek istirahat saja.!" ucap Arja menasehati Tiara saat didepan gerbang sekolah.
" baiklah.!" jawab Tiara.
" kalau ada apa-apa langsung telpon aku.!" imbuh Arja.
" baik...." malas Tiara yang dari kemarin malam dinasehatin terus.
" ya sudah. aku berangkat kuliah ya.!" pamit Arja.
" oke.!" kata Tiara.
Arja pergi ke kampus yang jaraknya tidak jauh.
Sesampainya di parkiran Arja langsung disambut oleh seorang wanita.
" hai Ja...!" sapa Violin tapi tidak dihiraukan Arja.
" Ja.. katanya istri kamu hamil ya..?" tanya Violin.
" ehm." angguk Arja tanpa memandangnya.
" kalau begitu selamat ya..!" ujar Violin dan tidak dibalas Arja.
" Ja... nanti sore boleh nggak aku jenguk istri kamu.?" tanya Violin begitu duduk di bangku.
" terserah kamu saja.!" kata Arja malas meladeninya.
" wih.... calon papa muda sudah mulai masuk nih..!" teriak Usman menarik perhatian kelas.
" Teman-teman nanti siang kita ditraktir Arja makan di kantin sepuasnya.!" imbuh Bayu.
" WAHH.!! BENERAN.? ASYIKK MAKAN GRATIS.!" teriak satu kelas.
" kamu ini apaan sih.?" tanya Arja kesal.
" hustt jangan marah dong. sebagai ucapan syukur karena istri Lo hamil. maka Lo harus traktir kita semua donk.!" kata Bayu melebarkan tangannya.
" huhhh baiklah. nanti siang di kantin. aku yang traktir.!" pasrah Arja.
" nah gitu dong.!" kata Bayu tersenyum.
" gimana kabar istri Lo.?" tanya Bayu.
" baik-baik saja.!" jawab Arja.
" syukur deh kalau gitu. gua lagi bingung nih Ja.!" ucap Bayu.
" bingung kenapa.? perasaan ceria seperti biasanya.!" tanya arja ikut bingung.
" kemarin setelah jenguk istri Lo. Amel juga pengen hamil Ja... dia pengen dimanjain seperti Tiara." curhat Bayu.
" ya... tinggal Lo manjain saja lah. buat apa bingung.?" heran Arja.
" tapi... dicerita sama orang tuanya dan orang tuaku. kata mereka aku harus segera menikahi Amel. biar cepet buat cucu untuk mereka.!" kata Bayu seraya ingin menangis.
" ya.. tinggal nikahin saja lah. lagian Lo kan juga udah punya penghasilan sendiri buat nafkahin dia.!" kata Arja.
" tapi Ja.. gua belum siap.!" kata bayu.
" haleh. aku juga belum siap dulu. buktinya sekarang bahagia saja.!" ujar Arja.
__ADS_1