
Malam hari.
" Akh...uh.. mmm... Sudah ya Ja. Aku sudah tidak kuat lagi. umm.." desah Tiara yang sedang bercinta dengan Arja.
" Aku belum puas sayang...." ucap Arja melanjutkan memompa.
" Akhh...." Jerit Tiara karena sudah mencapai titik akhir.
" Huh...huh... Sudah ya Ja. Aku beneran nggak kuat lagi...huh.." Ucap Tiara.
" Humm... Baiklah. Tapi besok malam lagi..." ujar Arja.
" Brengsek.." ucap Tiara lemas.
" Hehehe... ini hukuman buat kamu... siapa suruh bohongin aku... Sudah tahu aku udah menunggu lama..." kata Arja.
" Maaf. Lagian kamu.... orang sakit malah dipaksa ngelayanin kamu...!" balas Tiara.
" Kan untuk merangsang kesadaran kamu... Istri mesum..." ujar Arja.
" Kamu yang mesum. Cabul. pemeras..." huhat Tiara.
" Hahaha... Baiklah. Jangan teriak keras-keras. Nanti Rara bangun gimana... Ayo tidur.!" ujar Arja mendekap wajah Tiara didadanya.
" Akhh... kok digigit.? Aku gigit balik loo.." ucap Arja yang dadanya digigt Tiara.
" Humph.." Tiara tidak mempedulikannya dan tidur.
Pagi hari.
" Wahh.... Aaa..." tangsis Rara.
" Yang... Rara nangis tuh...." ucap Arja menggoncang tubuh Tiara dengan mata masih terpejam.
" Umm... Kamu kek yang bangun. Aku masih capek..." balas Tiara.
__ADS_1
" Uhhkk.." desah Arja bangun dari tidurnya.
" Ada apa Rara...." ucap Arja manja mengangkat tubuh putrinya.
" Bun.. nda... Bun..." oceh Rara.
" Sayang.... Rara manggil kamu...." Ujar Arja menaruh putrinya diatas tubuh Tiara.
" Um... ada apa sayang....?" tanya Tiara pada Rara.
" Suh....su..." jawab Rara.
" Humm... Sudah habis.... Salahin Papamu..." ucap Tiara.
" Waaa... su...wa bun..." tangis Rara karena tidak dituruti permintaannya.
" kasih dong sayang.... kasihan Raranya.!" kata Arja yang ingin bersiap mandi.
" Kamu sih. Aku masih capek tau...." ujar Tiara menyalahkan Arja.
" Humph. Papa brengsek.!" umpat Tiara.
" Bunda mesum...." balas Arja.
----
Dirumah Usman.
" Yang.... Kita ke rumah Arja yuk. Ngasih oleh-oleh.!" ujar Siti.
" Aku masih capek.... Kamu saja sendiri, nanti aku nyusul.... Aku mau tiduran bentar..." Balas Usman yang baru tiba dirumah setelah diajak Siti untuk liburan keluar negeri.
" Kamu ini payah banget ya... Jadi suami bukanya kuat malah letoy... kayak begini..." ujar Siti.
" Ah... terserah mau bilang apa. Yang penting aku bisa istirahat..." ujar Usman tidak perduli.
__ADS_1
" Humph.... Awas saja. Nggak bakal aku kasih jatah lagi..." ancam Siti.
" Siap.!! Pelayan ini siap menemani nyonya...." kata Usman segera bangun karena dia belum mendapatkan dari Siti semenjak Siti hamil.
" Huh. Otak bawah.!!" kesal Siti.
" Hehehe... Biar saya saja yang membawa barangnya nyonya..." kata Usman dengan sopan.
" Humph... Ayo jalan." ujar Siti yang jijik melihat wajah mesumnya Usman.
" Hehehe..." Tawa Usman licik.
Usman membawa oleh-oleh kerumahnya Arja dikuti Siti yang menggendong Arsya.
" Eh. Usman. Pulang kapan.?" tanya Bunda Lati yang sedang menyirami bunga didepan.
" pagi tadi Bun." jawab Usman.
" Itu apa.?" tanya Bunda Lati.
" Ini oleh-oleh." ujar Usman menyerahkan oleh-olehnya ke Bunda Lati.
" Wah... Terima kasih.... Ngerepotin kamu saja..." sungkan Bunda Lati menerima oleh-olehnya.
" Hehehe... Nggak papa kok Bun." jawab Usman.
" Oh ya. Tiara mana Bun.? katanya udah sembuh." ujar Isti.
" Masih tidur. Dia ada masalah dengan Arja." ujar Bunda Lati.
" Masalah apa Bun. Bukannya Arja seharusnya senang.!" bingung Usman.
" Tiara sembuh nggak bilang-bilang ke Arja. Arja marah dan mencueki Tiara dua hari." jawab Bunda Lati.
" Ohh... Biarin saja Bun. Salahnya sendiri itu mah... Suami udah perhatian kayak gitu malah dibohongi..." ujar Siti yang tidak habis pikir dengan pemikiran sahabatnya itu.
__ADS_1
________________________________@$