
Setelah selesai makan bakso Arja pulang ke rumah.
Sebelum pulang Arja memesan sebungkus bakso untuk Tiara jaga-jaga kalau tiara menunggunya dirumah.
Saat sampai dirumah Arja melihat Tiara yang menunggunya sambil menonton televisi.
" nih Ra bakso." ujar Arja menyerahkan baksonya.
" eh... Mak kasih.!" balas Tiara membawa baksonya kedapur.
Tiara memakan baksonya sambil menonton televisi ditemani Arja. Selesai makan dia mengajak Arja untuk tidur karena sudah mengantuk.
Karena sudah tidur dari tadi sore Arja tidak bisa tidur lagi. Dia ingat kalau Tiara janji bakal melayaninya malam ini.
" Ra... tadi siang kamu janji loo.!" tagih Arja saat dikamar.
" um... janji apa.? aku nggak janji apa-apa, mau tidur.!" elak Tiara pura-pura lupa.
" nggak usah pura-pura lupa begitu. walaupun nggak janji tetep harus layani aku. aku udah sebulan Lo.. nggak dapat jatah dari kamu.!" ujar Arja.
" huh... baiklah...! bentar saja ya..!" akhirnya Tiara menyetujuinya karena merasa kasihan.
Arja langsung mengulum bibir Tiara.
karena sudah lama nggak melakukannya kali ini Arja melakukannya hingga Tiara capek dan tertidur. Arja yang sudah puaspun ikut tidur disampingnya. sedangkan putrinya tidur di tempat tidurnya sendiri.
**
esok harinya.
Tiara belum bangun karena kecapekan.
Sedangkan Arja baru selesai memandikan putrinya.
" uh... Putri papa udah cantik... unyuk.unyuk." kata Arja sambil mencium pipi putrinya.
" ayo kita sarapan dulu.... bunda masih bobok. kita tinggal saja ya..!" ujar Arja menggendong Rara ke meja makan.
" Tiara mana Ja..?" tanya pak li yang sedang menonton berita.
" masih tidur pak." jawab Arja menaruh putrinya dimeja makan bayi.
" oh... kok nggak kamu bangunin.?" tanya pak li.
" nggak tega pak. oh ya. bunda mana pak.?" tanya balik Arja untuk mengalihkan topik.
" bunda lagi mandi setelah masak tadi.!" jawab pak li.
" oh..." paham Arja.
" Rara ayo makan.. biar cepet gede." ujar Arja menyuapi putrinya.
Setelah menyuapi putrinya Arja menitipkan putrinya ke pak li sedangkan dirinya pergi ke kamar untuk membangunkan Tiara.
" Ra... bangun yuk. udah siang nih.!" ucap Arja dengan lembut.
" um.. bentar lagi Ja.. masih capek nih.." balas Tiara menampar tangan Arja.
" uh.. bangun sayang... kamu belum mandi Lo...!" ujar Arja memeluk Tiara yang masih telanjang dibalik selimut.
" ah... baiklah. dasar bawel. tukang ganggu." ujar Tiara bangun dan berjalan kekamar mandi dengan telanjang bulat.
__ADS_1
" humm... makin montok kamu Ra.." seru Arja melihat bentuk tubuh Tiara yang terkena sinar matahari dari jendela.
" hah. Aahh.." jerit Tiara yang baru sadar kalau telanjang dan berlari kedalam kamar mandi.
" Ja... tolong ambilin handuk dong.. aku lupa nih.!" teriak Tiara dari dalam kamar mandi.
" ambil sendiri saja Ra..!" balas Arja yang ingin melihat Tiara telanjang.
" dasar genit. cepetan ambilin.!" perintah Tiara mulai marah.
Arja akhirnya mengambilkan handuknya dan dia ikut masuk ke dalam untuk ikut mandi.
" kenapa kamu ikut masuk.? kamu diluar saja.!" bentak Tiara melihat Arja yang ikut masuk.
" Aku kan juga pengen mandi.! lagian kita udah lama nggak mandi bareng." jawab Arja melepaskan pakaiannya.
" huh... ya sudah.!" pasrah Tiara.
" Ra... Nanti malam aku disuruh papa untuk ke pesta ulang tahun anak temanya. kamu mau ikut nggak.?" tanya Arja sambil menggosok badan Tiara.
" ehm.... boleh Ja.." setuju Tiara.
" kamu nggak keberatan.? kita bakal ke pesta ulang tahunnya Violin Lo..!" kata Arja.
" Hah. Violin yang deketin kamu dulu.?" tanya Tiara penasaran.
" iya. sebenarnya aku udah nolak. tapi papaku maksa buat wakilin dia." kata arja menjelaskan.
" kok papa mu maksa kamu ke pesta ulang tahun perempuan.? jangan-jangan papamu mau mencarikan istri buat kamu lagi ya..?" selidik Tiara.
" nggak lah. papaku itu nyuruh aku kesana karena dia malas meladeni papanya Violin yang sepertinya punya maksud saat mengundang papaku.!" kata Arja menjelaskan agar Tiara tidak salah paham.
" oh... kalau begitu aku bakal ikut kamu... siapa tau kamu bakal kegoda sama siviolin itu.!" ujar Tiara mulai cemburu.
" apaan sih. gombal.!" malu Tiara.
" kamu beli hadiah buat dia nggak.?" tanya Tiara pada Arja.
" kamu saja. masa aku.? nanti kalau ada yang cemburu gimana.?" goda Arja membuat Tiara semakin kesal.
" siapa yang cemburu.? kamu itu yang kepedean.!" teriak Tiara memukul dada Arja.
" Haha sudah-sudah. Ayo cepetan mandinya. aku udah lapar nih.!" kata Arja menyudahi berendamnya.
" gendong.!" manja Tiara melebarkan tangannya.
" uyuh-uyuh... manja sekali ratuku ini.!" kata Arja menggendong Tiara dan membilas badanya dibawah sower.
Selesai mandi dan berpakaian mereka turun kebawah untuk sarapan.
" pagi pak.bun.!" seru Tiara.
" pagi apa.! sudah siang ini.!" balas bundanya kesal terhadap putrinya itu.
" oh.. iya. aku sarapan dulu Bun.!" kata Tiara berjalan ke meja makan bersama Arja.
" bunda masak pecel lele?" tanya Tiara saat melihat makanan di meja.
" nggak. itu dari Usman tadi." jawab bunda lati sambil bermain bersama Rara.
" oh... tumben dia pagi-pagi ngasih makanan kesini.!" heran Arja dengan kakaknya.
__ADS_1
" itu tadi di beliin buat Siti tapi kebanyakan. katanya sih lagi ngidam." sahut pak li yang diberi tahu Usman tadi.
" wah... udah mau punya anak lagi.?? kamu nggak pengen punya lagi Ra.?" tanya Arja pada Tiara.
" nunggu Rara besar dulu. lagian kamu juga belum lulus kuliah." jawab Tiara mencubit pinggang Arja.
" Aww baiklah..." ujar Arja meringis kesakitan.
" setelah makan aku kita jenguk Siti." ujar Tiara yang masih cemberut.
" iya. iya." jawab Arja ikut cemberut karena dicubit Tiara.
Selesai sarapan Tiara mengajak putrinya dan Arja untuk melihat Siti yang sedang hamil.
Sesampainya dirumah Usman, Usman terlihat menyedihkan.
" Ada apa kak.?" tanya Arja merasa sedih melihat kakaknya yang biasa ceria tiba-tiba sedih.
" eh. nggak papa kok Ja... cuma kecapekan saja.!" jawab Usman sambil bersandar ke kursi.
" kak Siti hamil ya ka.?" tanya Arja memastikan.
" iya... setelah gua ambil Arsya dari elo tadi malam. kakak membawa kak Siti periksa ke rumah sakit karena mual-mual terus." kata Usman menjelaskan.
" oh... kenapa kak Usman nggak jagain kak Siti didalam.?" tanya Tiara Yang bingung.
" itu... kakak habis di omelin sama kak Siti gara-gara gak bisa masak nasi goreng udang.!" jawab Usman dengan muka yang menyedihkan.
" kakak emangnya nggak bisa.?" tanya lagi Tiara.
" nggak bisa Ra." jawab Usman menggelengkan kepalanya.
" huh... kakak minta Arja ajarin saja. dia pinter masak Lo..." saran Tiara menuju suaminya.
" oh. benar juga... ayo Ja.. masuk ajarin kakak masak.!" kata Usman menarik tangan Arja dan membawanya masuk kedapur.
" ngapain kamu masuk.!" seru Siti yang tengah menonton televisi ditemani Arsya.
" ini ada Arja sama Tiara." jawab Usman sambil menundukkan kepalanya.
" eh Ra... sini-sini." kata Siti menepuk bangku disebelahnya.
" baik sit. kamu lagi hamil.?" tanya Tiara dan duduk memangku Rara.
" iya... kata dokter sih udah hampir dua bulan." jawab Siti sambil menyuapi Arsya cemilan.
" oh... orang tuamu sudah tau.?" tanya Tiara.
" sudah lah.. tadi malam langsung aku kabari." balas Siti.
" hum... tadi kamu marah ya sama kak Usman.?" tanya lagi Tiara.
" iya. masa aku suruh masak nasi goreng udang, udangnya nggak dicuci dan digoreng terlebih dahulu.!" jawab Siti kesal.
" pufss ha-ha-ha parah banget kak Usman... Lo sih terlalu manjain dia.." tawa Tiara terpingkal-pingkal.
" memangnya kamu nggak manjain Arja.?" sewot Siti.
" enggak lah. malahan aku yanfebih banyak ngerepotin dia haha." ujar Tiara merasa bangga mempunyai suami yang bisa di andalkan seperti Arja.
" hum... mulai sekarang aku juga nggak bakal manjain dia lagi.." kata Siti mulai iri dengab Tiara.
__ADS_1
....