
Setelah Arja sadar, dia dimarahi oleh mamanya dan dipaksa untuk makan.
" Ummm sudah. Ma.. Arja udah nggak kuat lagi.." kata Arja menyingkirkan tangan mamanya yang menggenggam sendok.
" Makan.!! Nanti kalau kamu sakit gimana.? Yang merawat Tiara siapa kalau kamu sakit.? Kamu nggak bisa merawat diri sendiri... Gimana mau rawat anak orang.?" tangis mamanya menyuapi Arja paksa.
" Tapi.. aku udah makan dua piring ma... kalau Mama paksa lagi aku bisa pingsan karena kekenyangan...." Kata Arja menunjuk piring yang ada di meja.
" Huh.. Baiklah. Kamu juga harus banyak Istirahat.! Nggak usah mikirin tugas kuliah dulu..." kata mamanya meletakkan piring dan mengambilkan minum buat Arja.
" Baiklah ma.... Tiara sudah bangun ma.?" tanya Arja yang khawatir dengan Tiara.
" Baru saja tidur. Dia tadi menyusui Rara yang rewel." jawab mamanya.
" Aku mau lihat ma.." Kata Arja turun dari ranjang.
" Ishh.. Kamu ini.... Tiara sedang istirahat. Jangan kamu ganggu.!" balas mamanya.
" Tapi.. ma.." ucap Arja.
" Tiara sudah di jaga sama orang tuanya. Kamu tenang saja." ujar Mamanya.
-------****
Dua bulan kemudian.
Kini Tiara sudah melepaskan perbannya.
__ADS_1
Dan walaupun wajahnya tidak seperti semula tapi setidaknya lebih mulus.
Walaupun wajahnya sudah kembali tapi psikologis masih belum membaik dan sekarang Tiara tidak menghindari Arja lagi.
" Sayang... Waktunya makan..." seru Arja sambil membawa nampan berisi soto ayam dan segelas air.
" makan dulu yuk...." kata Arja duduk disampingnya Tiara.
Seperti biasa Tiara tidak menjawab dan Arja langsung menyuapinya.
Walaupun Arja tahu kalau Tiara nggak bakal jawab, tapi dia terus mengajak Tiara untuk ngobrol seperti saran psikolog.
" sayang..... bentar lagi ulang tahunnya Rara... kamu nggak mau ngucapin selamat ulang tahun ke Rara.?" tanya Arja.
" Rara sekarang sudah lancar merangkak loo... dan sekarang mulai belajar berdiri..." kata Arja bercerita dengan antusias.
" Ra.aaa.. Kamu sampai kapan begini terus sih.? Kamu nggak kasihan sama aku,sama Rara.? Kita semua nungguin kamu loo... nungguin supaya bisa seperti dulu...!" ucap Arja.
" Aku kangen Ra... Aku kangen saat kamu ngomelin aku... aku kangen ngobrol sama kamu... aku kangen saat kamu memerintah aku... aku kangen sama kamu Raa...." tangis Arja.
" Aku udah hampir empat bulan nggak begituan sama kamu... Aku kangen Ra..." imbuh Arja yang sebelumnya belum dapat jatah selama empat bulan.
" Aku boleh minta sekarang kan Ra...?" tanya Arja yang tidak kuat menahan nafsunya.
" Raa..." manja Arja mulai menyentuh dada Tiara.
Tiara tidak menolak karena dia juga kasihan pada Arja yang sudah menahan sangat lama.
__ADS_1
" Boleh ya..." ucap Arja memandang wajah Tiara.
Karena tidak ada penolakan Arja mengunci pintu kamar terlebih dahulu sebelum memulai aksinya.
Setelah mengunci pintu Arja langsung membuat Tiara mendesah.
Arja sangat senang karena Tiara bisa bersuara sekarang.
Setelah puas, seperti biasa Arja memandikan Tiara dan dirinya dikamar mandi.
" Kita lanjut ya Ra...!" ucap Arja saat di kamar mandi dan tidak bisa menahan nafsunya saat mengusap punggung Tiara.
" um.." tolak Tiara mendorong Arja karena sudah capek.
" Hahaha.... syukurlah kamu sekarang sudah bisa bersuara... Aku seneng banget..." tawa Arja memeluk Tiara.
Karena Tiara menolak Arja hanya bisa menurutinya.
" Ja... Ja... Rara nangis nih..." seru bunda lati dari luar kamar.
" Iya bun... Tunggu sebentar. Aku lagi mandi'in Tiara soalnya." balas Arja berteriak dari dalam kamar mandi.
Arja segera menyelesaikan mandinya dan membawa Tiara untuk memakai pakaian dan mengeringkan rambut.
" Humm.. sudah wangi... kamu duduk di ranjang... aku mau ambil Rara dulu..." kata Arja.
_____________________@$______________________
__ADS_1