Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Lia, menjadi umpan?"


__ADS_3

Jerremy Mahanggara, pria paruh baya yang usianya di taksir sekitar 45 tahun. Pemilik yayasan sekolah SMA Bumi Pertiwi melemparkan koran pada meja kantornya, koran itu berisi berita mengenai kematian Ratna.


Berita itu sudah tersebar luas membuat Jerremy prustasi. Lagi-lagi ia harus dihadapkan dengan situasi pelik, banyak orang tua para murid protes mengenai terror kematian disekolah ini, bahkan membuat ia kehilangan banyak murid dan menyisakan 30% dari 99% banyaknya murid yang sebelumnya bersekolah disana.


Bahkan sebagian orang tua yang anaknya menjadi korban tak terima, namun kasus nya selalu saja terombang-ambing, dan selalu saja tak pernah tuntas. dan pihak yayasan selalu menegaskan bahwa mereka tak bertanggung jawab dengan apa yang terjadi karena tak cukup bukti untuk menyalahkan pihak yayasan mengenai kasus ini. Pihak yayasan selalu menegaskan bahwa kematian para murid itu diluar tanggung jawab mereka. Sehingga orang tua para korban pun terpaksa menyerah sebelum waktunya.


Jerremy sudah goyah, ia akan kehilangan semuanya. Ia bahkan sudah kehilangan akal nya bagaimana untuk membuat citra sekolah ini menjadi bersih seperti dahulu awal mula yayasan ini di dirikan.


"Bagaimana ini pak? kita sudah kehilangan banyak murid dan bahkan citra baik sekolah ini sudah semakin pudar,"Pak Anjay berbicara, namun hanya helaan napas berat yang terdengar dari Jerremy dengan satu tangannya mengurut-urut pelipisnya yang terasa pening.


"Kita sudah tak bisa menutupi banyak kasus semacam ini lagi, semuanya sudah tersebar luas."sambung Pak Anjay lagi setelah beberapa detik terjeda.


Jerremy berdiri terbangun dari posisi sebelumnya, memasukan kedua tangan ke kantong saku celana bahan berwarna hitam itu. Ia terlihat berjalan mondar-mandir mencoba berpikir keras apa yang harus ia lakukan.


"Kita harus menemukan dulu pelakunya, jika masih berkeliaran tentu saja itu akan menjadi boomerang."ucap Jerremy akhirnya.

__ADS_1


"Tidak banyak yang bisa kita lakukan, pak. Karena tak ada sidik jari yang ditinggalkan pelaku dimanapun. Kematian Cyra, Larasati, dan Ratna juga sulit untuk dipecahkan, dan untuk Andra menurut saya dia juga termasuk korban yang sudah di targetkan, bukan karena terpeleset di atas gedung sekolah menurut rumor yang beredar. Dan saya merasa pembunuhnya ada dilingkungan sekolah ini."Pak Anjay berbicara yakin, sementara Jerremy langsung menatapnya dengan tatapan menyipit.


"Dan saya rasa pembunuh berdarah dingin itu cerdik, dia bisa menghilangkan jejak CCTV. Yang berarti, dia memiliki akses keluar masuk ke kantor ini."Jerremy menambahkan yang disetujui Pak Anjay dengan kepala mengangguk kuat.


"Menurut rekan saya Nasuttion selaku kepolisian yang menyamar untuk mengecek lingkungan sekolah ini, ia tak mendapatkan barang bukti apa pun, sepertinya si pembunuh sangat profesional. Dan dia tahu segalanya."sambung Pak Anjay yang membuat Jerremy menghela napas resah dan bimbang.


"Kau minta Nasuttion untuk berhenti menyelidiki untuk beberapa waktu, saya masih memiliki pertimbangan yang lainnya. Saya juga tak boleh gegabah, mengingat pembunuh berdarah dingin ini berlabel kelas kakap."perintah Jerremy dan Pak Anjay hanya mengangguk paham.


*****


Andra berjalan mondar-mandir di kamar Lia, setelah sepulang sekolah Andra memang sudah membujuk Lia yang merajuk dan akhirnya Lia luluh juga, dan memaafkan perkataan Andra sewaktu di perpustakaan.


"Satu-satunya cara kita harus memberi umpan lalu menangkapnya."jawab Andra setelah beberapa menit ia larut dalam pikirannya sendiri.


"Magsudmu?"Lia langsung berdiri tepat di hadaapan Andra.

__ADS_1


"Aku yakin kau akan paham,"sahut Andra lalu berdehem karena ia merasa tenggorokannya langsung kering, mendapati ekspresi Lia yang langsung menatapnya curiga.


"Ah, aku paham apa magsudmu. Jadi, aku harus menjadi umpannya?! oh, tidak. aku sama sekali tidak ingin mengambil resiko sebesar itu untuk membahayakan nyawaku sendiri, pemikiranmu sempit sekali,"Lia berbicara sarkas, menolak langsung.


"Tapi, mungkin hanya itu satu-satunya cara untuk menyelesaikan kasus ini. Hanya kau yang tahu jalan ceritanya, dan Semmy juga menginginkanmu."kata Andra sembari merengkuh kedua pipi Lia. Lia langsung berdecak, membuang muka dan tangannya bersidekap di dada. Tanda bahwa ia kesal dengan Andra.


"Apa magsudmu Semmy menginginkanku?! Aish, bahkan aku sama sekali tak tertarik untuk di milikinya, dasar bodoh."Lia mendelik tajam.


"Sebenarnya kau ini benar-benar ingin menolongku atau tidak sih, Li? aku bingung sekali dengan dirimu."Andra berbicara lagi seraya menghela napas panjang.


"Tapi, tidak dengan cara aku menjadi umpan!"sambung Lia cepat sembari menatap Andra tajam.


"Aku akan memastikan aku akan selalu menjagamu, Li. Dan kau akan baik-baik saja, percayalah."Andra langsung memegang kedua bahu Lia dengan binar mata memohon, sementara Lia masih diambang bimbang.


"Jadi, apa rencanamu?"tanya Lia ketus setelah seperkian detik terdiam.

__ADS_1


__ADS_2