
Malam yang pekat tanpa cahaya rembulan malam, Lia turun dari atas balkon kamarnya, menggunakan tali panjang yang di ikat sampul kuat pada tralis pagar.
sementara Andres menunggu dibawahnya, dengan pelan-pelan namun pasti akhirnya kakinya menapak juga, Andres juga ikut membantu memeganginya agar tidak terjatuh. berhubung kini waktu menunjukan pukul 22.00. dan Lia memutuskan untuk kabur, dan tak meminta izin terlebih dahulu. itu semua ia lakukan agar orangtuanya tak khawatir.
malam-malam pergi kesekolah, membayangkannya saja pasti sudah berigidig. dulu Lia sudah merencanakan ini dan berniat untuk mengajak Sifa sebelum akhirnya Sifa memutuskan secara sepihak, untuk tidak ikut-ikutan dalam mengungkap kasus pelik seperti ini. namun, kini ada Andres yang menggantikan posisi Sifa. bahkan, Andres lebih kopratif dan mudah di ajak diskusi.
Andres dan Lia mengangguk mantap lalu bergegas. Andres menepikan sepeda motornya ditempat yang agak gelap, setelah mereka berdua sampai di gerbang sekolah.
Andres membantu Lia untuk memanjat gerbang. dan akhirnya Lia berhasil mendarat dengan sempurna, begitu pula dengan Andres.
Angin spoi yang berhembus, membuat bulu kuduk Lia merinding. suara daun-daun dari pepohonan bergerak terkena sentuhan angin yang berhembus. suasana sepi dan mencekam terasa pekat bak film trailler yang mengerikan.
Namun, Lia berusaha untuk tidak terbawa suasana. Andres merangkul bahu Lia, kemudian mengajak Lia untuk segera berjalan. lalu, mereka berduapun melangkahkan kaki.
Angin malam semakin membelai tubuh Lia, angin semakin kuat berhembus sehingga Lia mengeratkan jaketnya dan memeluk dirinya sendiri. suhunya dingin dan juga terasa sangat berbeda hawa.
"Li, apa kau baik-baik saja?"tanya Andres dengan tatapan khawatir.
"Ah, aku hanya kedinginan. tapi, aku baik-baik saja, kau tak perlu khawatir."jawab Lia seraya tersenyum, berusaha menyembunyikan rasa gelisah dan was-wasnya. Andres pun ikut tersenyum, seperti ia tak pernah ketakutan sedikitpun.
Mereka berdua berjalan dalam keheningan, semakin melangkah masuk ke gedung sekolah mereka berdua semakin merasakan hawa yang sangat berbeda, hawa dingin namun terasa sangat sesak.
Derap langkah kaki terdengar dari arah belakang, seperti ada yang mengikuti. disituasi sunyi suara sekecil apapun pasti akan terdengar menggema.
Lia menoleh ke belakang sebentar, kemudian menatap Andres. begitupun dengan Andres, lalu mereka berdua memutuskan untuk menghentikan perjalanan di kolidor.
"Andres, kau mendengar sesuatu?"tanya Lia sembari meneguk pelan air liurnya, sekaligus menyeka keringat dingin yang sudah bercucuran sedari tadi di keningnya.
"Apa?"tanya Andres pura-pura tidak tahu padahal ia memang mendengar sesuatu, Andres melakukan itu agar Lia tak panik dan agar ia tidak semakin ketakutan.
"Seperti ada seseorang yang mengikuti dan mengawasi kita,"jawab Lia dengan napas yang tersenggal.
Mereka berdua diam sesaat, tanpa bersua. namun, suara langkah itu menghilang sekejap. dan Andres tak berkata apapun. ia hanya mengulas senyuman pada Lia, kemudian melanjutkan langkahnya kembali.
Dan sesaat kemudian suara langkah itu kembali terdengar, malah semakin jelas. mereka berdua kembali terdiam dan saling melirik satu sama lain. bahkan, ketika mereka berdua tak lagi melangkah, suara derap langkah dari belakang kini malah masih tetap terdengar. berbeda dengan tadi yang seketika menghilang seiring mereka berdua berhenti berjalan.
"Apapun yang terjadi kita jangan berpisah, dan kita harus tetap bersama-sama. apa kau paham?"Andres mengingatkan penuh antisipasi, sementara Lia mengangguk paham sembari menggenggam tangan Andres begitu kuat.
"Sebaiknya kita mempercepat langkah, abaikan saja apa yang kau dengar, tujuan kita hanya pergi ke dalam gudang. jangan terkecoh, oke?"pesan Andres serius dan lagi-lagi Lia hanya mengangguk, namun tak bisa menyembunyikan seberapa paniknya saat ini.
__ADS_1
Mereka berdua terus berjalan, namun kali ini dengan langkah agak cepat. Andres berusaha untuk tidak hilang konsentrasi ditengah situasi seperti ini, berusaha tetap fokus meskipun kini ia merasakan bahwa tubuhnya lemas. entah mengapa energi yang ia punya malah terkuras habis begitu saja.
Lia tiada henti merahpalkan do'a-do'a sebisa yang ia ingat. peluh keringat membasahi leher serta wajahnya, bahkan mungkin telapak tangannya yang tiada henti menggenggam tangan Andres.
Andres dan Lia berdiri tepat di pintu gudang, Andres menggerakan handlle berulang kali tampaknya pintu gudang di kunci.
"Kita tidak bisa masuk, Li."bisik Andres dengan napas memburu.
"Pasti scurity sekolah sudah mengunci setiap ruangan disini. ah, aku sampai melupakannya. seharusnya aku mencuri kunci cadangannya terlebih dahulu. payah sekali,"Lia merutuki dirinya sendiri dengan teramat kesal, dan hampir ingin menangis.
"Tenanglah, Li. bolehkah aku pinjam bobby pin milikmu?"tanya Andres setenang mungkin, agar ia bisa terus berpikir sebelum ia benar-benar kehilangan konsentrasi.
"Oh, boleh."Lia mengangguk.
Andres langsung meraih dua bobby pin atau sejenis jepitan rambut yang menempel dirambut milik Lia.
"Aku perlu dua jepit rambut milikmu dan sedikit kesabaran, semoga ini bisa membantu."kata Andres seraya menghembuskan napas panjangnya.
"Memangnya bisa?"
"Satu jepit rambut berfungsi sebagai pencungkil, sementara satunya lagi akan dipakai sebagai tuas yang digunakan untuk memutar kunci,"terang Andres begitu cemerlang, sementara Lia mengangguk paham sambil tersenyum lega, karena mereka berdua sudah mendapatkan petunjuk.
Andres memasukkan tuas pengungkit ke bagian bawah lubang kunci. dengan memegang ujung tuas pengungkit yang pendek dan bengkok, kemudian memasukkan ke lubang kunci bagian bawah. dan tuas pengungkit akan menggantung di bagian depan lubang kunci.
Andres hanya perlu tuas untuk mengatur tekanan pada kunci, saat dicungkil dan memutar kunci setelah dicungkil.
Andres menekan tuas secara berlawanan dengan arah jarum jam untuk menekannya. Tekanan pada tuas akan membuat laras penguncinya berputar sehingga ia bisa mengangkat masing-masing pin di lubang kunci. Andres terus menekan tuas sampai ia merasakan tekanan itu terjadi, tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga.
Andres berusaha untuk menjaga tekanan di kunci saat mencungkilnya.
Tekanan ini diperlukan agar pin tidak masuk kembali ke laras pengunci dan agar pintu tidak terkunci kembali.
Andres memasukan pencungkil ke dalam lubang kunci dan mencoba merasakan keberadaan pinnya. Memasukan ujung pencungkil yang agak bengkok ke lubang kunci dengan posisi bagian yang tajam menghadap ke atas. Pin kunci berada di bagian atas lubang kunci. merasakan keberadaan pin menggunakan pencungkil dengan menekan pegangannya saat dimasukkan ke lubang kunci. lalu ia pun menekan pegangan pencungkil untuk mendorong pin ke atas.
__ADS_1
Sebagian besar gagang pintu tradisonal dilengkapi lima atau enam pin pengunci.
Sebuah kunci akan mendorong pin tersebut ke posisi sejajar dengan laras pengunci untuk membuka kunci pintu.
Andres menekan pencungkil sampai mendengar suara ‘klik’. Beberapa pin dapat masuk dengan mudah saat ditekan oleh pencungkil, sementara beberapa lainnya terasa agak keras. Pin yang keras disebut sebagai pin penahan. namun, ia tetap fokus pada pin yang sulit dicungkil terlebih dahulu. kemudian mencari pin yang sulit ditekan, dan menekan perlahan ke bawah dari bagian pegangan pencungkil sampai terdengar suara ‘klik’.
Suara ‘klik’ tersebut berasal dari pin yang terpasang di laras pengunci.
Dan Andres harus melepas pin penahan sebelum melepas pin lainnya.
Andres kemudian mengangkat sisa pin pada lubang kunci pintu. dan terus mencari keberadaan pin dengan pencungkil, kemudian menekan pegangan pada alat tersebut untuk mengangkat semua pin. Setelah pin berhasil dipindahkan ke atas laras pengunci, pintu akan terbuka.
Andes memutar tuas pengungkit berlawanan dengan arah jarum jam untuk membuka pintu. dengan memegang ujung tuas pengungkit dan diputar seperti sebuah kunci sampai pintu terbuka. Dan akhirnya berhasil, pintu gudang terbuka sempurna. ternyata kesabarannya membuahkan hasil.
Biasanya, untuk membuka pintu dengan pin perlu memutar tuas pengungkit berlawanan dengan arah jarum jam untuk membuka pintu, tetapi hal ini bisa jadi berbeda pada sebagian gagang pintu.
Tuas pengungkit hanya akan berputar sempurna jika pin terpasang dengan benar di dalam laras penguncinya.
"Kau cerdas dan berbakat menjadi maling,"bisik Lia disertai gurauan yang membuat Andres terkekeh, sekedar untuk mencairkan suasana yang sedari terasa sangat mencekam.
"Hanya perlu kesabaran,"sahut Andres sembari menyeka keringat di keningnya.
Lia berdecak."Jika punya kesabaran tapi tidak tahu triknya itu sama saja bohong, aku akui kau memang sangat cerdas. aku bangga padamu,"puji Lia sambil tertawa pelan.
"Jangan memujiku, nanti para psikopat disana iri padaku lalu membunuhku. dan kau sendirian disini,"usil Andres yang langsung dipukul Lia seketika.
Plak...
"Jangan bicara asal!"gerutu Lia kesal, dan Andres langsung mengusap cepat puncak rambut Lia sambil tertawa pelan.
"Sudah, makanya ayo masuk!"ajak Andres yang langsung merangkul bahu Lia, kemudian mereka berdua pun masuk kedalam gudang.
Tanpa sadar, sosok gadis dengan membawa senter tengah memperhatikan gerak-gerik Andres dan Lia sedari tadi, lalu sosok itupun langsung terkikik bak iblis yang mengerikan.
__ADS_1