
Untuk sekolah swasta hari sabtu memang libur, sekarang baru pukul setengah enam pagi. Andres, pulang sekitar pukul sebelas malam setelah mereka berdua membicarakan rencana untuk malam minggu nanti.
Lia beringsut dari ranjangnya, berdiri lalu menggeliat sembari menguap. melangkahkan kaki lalu membuka gordeng, tiba-tiba sosok tampan itu muncul di jendela kaca luar. membuat Lia terkesiap kemudian mengembangkan senyuman.
Lia berdiri disana dengan balutan tank top hitam, dan celana piyama. pakaian yang selalu dikenakannya saat tidur, wajahnya masih terlihat jelas bak muka bantal. tapi, tidak mengurangi kadar kencantikannya. rupanya, Andra telah membangunkan putri tidur. seharusnya cara membangunkannya jangan muncul melalui jendela, membangunkan putri tidur 'kan harusnya dengan cara mencium bibirnya. mengapa Andra baru kepikiran sekarang? ah, bodoh.
"Ma'af, aku baru menemuimu."kata Andra seraya tersenyum lebar, lalu masuk dengan cara menembus jendela, dan sekarang ia berdiri tepat dihadapan Lia.
"It's okay. aku pikir kau melupakan aku,"Lia tertawa kecil, sementara Andra mengusap cepat puncak rambut pacarnya itu dengan sayang.
"Belum mandi?"goda Andra, lalu memutar kebelakang tubuh Lia, kemudian memeluknya sembari melingkarkan tangan di perutnya. membuat debaran jantung Lia seketika menggila.
Lia sedikit gugup dan canggung, apalagi saat ia merasakan deru napas Andra di pundaknya yang langsung menerpa kulit, yang berhasil menghasilkan gelenyer aneh disekujur tubuhnya.
"Aku memang belum mandi, lantas mengapa memelukku?"gugup Lia sembari melirik kearah Andra yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku merindukanmu, Li."bisiknya seperti melodi mendayu yang membuat bulu kuduk Lia meremang seketika.
"Apa?"
"Apakah aku tak boleh merindukanmu?"Andra berbisik dengan suara seraknya, yang membuat Lia sedikit kegelian diarea telinganya.
"A-aku,"Lia tampak berusaha melepaskan diri dari belitan tangan Andra, namun Andra tetap menahannya.
Andra menyukai sensasi yang dirasakannya ketika saat tubuh milik Lia berada dalam pelukannya. pelukan yang lebih menebarkan, memicu ardernalin dan menegangkan. apalagi, saat Andra melihat pundak Lia yang terbuka. bahkan tali tank top miliknya tersingkap hingga mempertontonkan kulit yang putih, mulus, dan bersih. begitu pula dengan bongkahan daging yang menggoda iman terpangpang. suhu ruangan terasa sangat panas, padahal Ac masih tetap menyala. sangat aneh dan semoga Lia tidak merasakan bahwa kini Andra sedang tegang.
Lia berdehem."Andra,"panggil Lia berusaha menghalau sesuatu yang membuat tenggorokannya serasa tercekat, sehingga suaranya menjadi sedikit parau.
"Meskipun kau belum mandi, tapi mengapa masih sewangi ini?"puji Andra sungguhan.
mendadak Lia langsung melotot, Andra sadar bahwa mungkin Lia berpikir bahwa hal itu adalah kalimat sebaliknya, sehingga pasti sebentar lagi Lia akan marah dalam beberapa detik kemudian.
"Kau meledekku, ya?" dan benar saja, sedetik kemudian Andra mendapatkan hadiah sikutan tepat diperutnya.
meskipun Lia ini mungil, tapi ketika ia marah secara mendadak seperti ini tenaganya akan jauh lebih kuat. Andra terdengar meringis kesakitan, bahkan pelukan itu melonggar sehingga Lia bisa membebaskan diri. dengan sigap Lia membetulkan tali tank top yang tersingkap, lalu menatap Andra dengan tajam.
"Aish, kenapa kau galak sekali sih? momen romantis langka begini malah kau rusak."Andra berucap dengan nada sedikit kecewa.
"Siapa yang merusak suasana? justru kau yang merusak suasana romantis ini, kau menyebalkan sekali. bahkan, secara tidak langsung kau mengatakan aku bau 'kan?"Lia mendengus sebal dengan kedua tangan bersidekap di dada, sementara Andra terlihat menghela napas.
"Li, aku ini berkata dengan jujur, bahwa meskipun kau belum mandi tapi kau sangat wangi. tapi, mengapa kau berpikir bahwa aku meledekmu?"jujur Andra menjelaskan, sementara Lia seperti sudah tak tertarik lagi untuk melanjutkan perdebatan itu. Lia malah melenggang pergi begitu saja.
__ADS_1
"Kau mau kemana, Li?"tanya Andra yang sudah kehabisan ide untuk membujuk Lia yang merajuk karena salah paham.
"Kau pikir aku mau kemana? aku mau mandi, diam disitu dan jangan mengintip! atau aku akan memukul tulang ekormu!"Lia menatap Andra dengan penuh ancaman, tapi pipinya memerah menggemaskan yang membuat Andra mengulum senyum.
Lia menutup pintu toilet, kemudian bersandar di pintu, menghembuskan napas panjangnya lalu tersenyum tipis, debaran jantungnya saat ini sangat menegangkan, akhirnya Lia punya kesempatan bebas dari pelukan Andra yang berbahaya.
segera Lia mandi di bawah shower, untuk mendinginkan tubuh yang serasa panas oleh situasi. lalu, mengenakan kaos dan celana pendek belel yang syukurnya sempat ia ambil dari lemari, sebelum ia masuk kedalam toilet. jika ia menggunakan bathrobe pasti pikiran kotor Andra kembali muncul seperti waktu itu.
Lia menggelung rambutnya yang setengah basah, setelah ia mengeringkan dengan hair dryer. beberapa helaian rambut berjatuhan, memangpangkan leher jengjangnya yang seperti rapuh. kemudian ia pun keluar dari dalam toilet, dan mendapati Andra yang sedang rebahan di ranjang miliknya sembari membaca buku, sembari menggoyang-goyangkan kaki, santai seperti di pantai.
"Ciuman yang sangat mengairahkan. jika aku memiliki kesempatan untuk mengulanginya lagi, aku ingin menciumnya sangat lama, bahkan akan berulang kali **********. dia cinta pertamaku, bahkan bersama dia juga aku bisa merasakan apa yang namanya beradu bibir. Andra, kapan kau akan menciumku lagi?"
Andra membacakan seluruh inti dari buku diary yang Lia tulis, sepasang mata Lia membelalak. ia terkejut tak kepalang, bahkan Andra membacanya dengan lantang. sungguh sangat begitu memalukan, bakan kini wajahnya sudah terasa panas.
"Kau yang menulisnya?"Andra tertawa meledek dan seketika Lia langsung berlari lalu naik ke atas kasur, dengan ekspresi sangat panik.
"Andra, aku mohon kembalikan atau aku akan mencekik lehermu!"jerit Lia gemas sembari berusaha meraih buku miliknya, namun Andra mengacungkan buku itu lebih tinggi lagi sehingga Lia sulit meraihnya.
"Ayo kita ciuman, Li?"goda Andra menampilkan seringai jahilnya sambil terkikik, sementara Lia langsung melotot tajam sambil berkacak pinggang dan ia menyerah mengambil buku itu.
Lia berdecak."Kenapa kau sangat menyebalkan? buku diary itu milikku, dan itu pribadi dan rahasia, terus kau membacanya sesuka hatimu? dimana adabmu? kau tidak sopan!"kesal Lia lalu duduk memunggungi Andra.
"Kenapa marah-marah terus?"Andra terkekeh, Lia hanya mendelik sekilas lalu tak bicara lagi.
sektika Lia merasakan, Andra memeluknya dari belakang dengan membenamkan kepalanya di bahu Lia yang memangpangkan leher jengjangnya, Lia merasa ia mendadak kikuk dan entah harus apa. antara pergi menghindar atau tetap disana? rasanya, sulit dijelaskan. pergerakannya seperti terkunci dan sulit untuk beranjak.
Lia berusaha melepaskan diri dari belitan tangan Andra yang melingkar di perutnya. tapi, Andra malah mengerang sambil menguatkan rengkuhannya. deru napasnya lagi-lagi menerpa kolom leher Lia sehingga membuat sekujur tubuhnya kembali meremang.
"Kau wangi sekali, Li."komentar Andra setelah merasakan sensasi wangi dari tubuh Lia yang menyeruak masuk ke indra penciumannya.
"Gombal,"decak Lia.
"Aku serius kau wangi sekali,"ulangnya lagi yang membuat Lia menatap Andra curiga.
seharusnya Lia tahu bahwa itu tanda bahaya, namun ia malah lengah dan tak bisa mengelak saat wajah Andra tiba-tiba saja tersuruk ke lehernya. Namun, kali ini Lia bisa merasakan dengan sangat jelas ketika bibir basah milik Andra menyesap kuat kulit leher Lia.
hanya sesaat, setelah itu kepalanya terangkat dan sepasang mata mereka berdua saling menatap, dan bibir Lia masih terbuka karena masih terkejut dengan apa yang telah terjadi, sementara Andra hanya memangpangkan ekspresi tak berdosa sama sekali, ditambah dengan seringai nakalnya.
"Itu ciuman special untukmu, Li."ucapnya sambil terkekeh.
"Ini hickey, ciuman yang sama persis seperti gigitan nyamuk, right?"ledeknya tanpa tertawa.
"Lalu kau mau ciuman seperti apa, Li? ciuman erotis seperti hari yang lalu?"godanya lalu mengacak-ngacak rambut milik Lia.
Lia berdecak kesal."Apa-apaan sih Andra, rambutku jadi berantakan!"
__ADS_1
"Kan memang belum di sisir, Li."
"Tapi, setidaknya rambutku tadi tidak berantakan lebih dari ini, dasar payah!"Lia mencubit tangan Andra gemas, alih-alih meringis Andra malah tertawa.
"Oke, kali ini aku akan berhenti menggodamu, Li. mari kita berbicara serius."ucapnya setelah ia menghentikan tawa.
"Mau mengajakku menikah? kok serius sekali,"komentar Lia agak sewot. Andra terkekeh, sebelum ia kembali untuk serius lagi.
"Ini tentang rencanamu malam ini, kau benar-benar siap?"tanya Andra belum meyakini sepenuhnya rencana Lia.
Lia menipiskan bibirnya lalu mengangguk."Jangan remehkan aku, mentalku bukan mental kerupuk!"
"Li, apapun yang terjadi padaku nanti. kau bisa berjanji padaku 'kan? kau takan merasa bersedih,"tanya Andra selembut mungkin.
"Magsudmu?"Lia mengerenyit bingung sambil menatap Andra lamat-lamat.
"Janji dulu,"decak Andra.
"Ya, katakan dulu baru aku berjanji!"
"Kau tahu aku sudah menjadi arwah, dan aku takan abadi. jika, aku menghilang, aku tak sepenuhnya menghilang. aku berada di hatimu, Li."Andra menggenggam kedua tangan Lia dengan seulas senyuman sendu, sementara Lia hanya terdiam seolah ia sudah mengerti arah tujuan dari pembicaraan Andra itu.
"Kenapa kau tidak bisa kembali?"cicit Lia mulai mendung.
Andra tersenyum kecil, kemudian menghapus air mata yang menetes di pelupuk pipi milik Lia. lalu, ia mencium tangan Lia dengan sangat kuat.
"Li, jangan khawatir aku akan selalu ada untukmu, aku berada di dalam hatimu. dan kenanglah aku sepanjang hidupmu, Li."
seketika Lia langsung berhambur memeluk erat Andra, dengan berlinangan air mata yang sudah tak bisa di bendung lagi. rasanya sesak, dan sulit dijelaskan. mengapa, kematian selalu datang tanpa permisi? bahkan, mengapa itu harus terjadi pada Andra.
"Li, aku mohon berhentilah untuk tidak menangis lagi,"Andra membelai rambut Lia dengan penuh kasih sayang, lalu memeluknya kuat. meskipun air mata miliknya pun ikut menetes, namun dengan cepat Andra menghapus air mata itu dan berusaha keras agar ia tak terisak. ia tak ingin Lia larut dalam situasi ini.
"Mengapa kita harus dipisahkan oleh maut? mengapa kau datang disaat ragamu tak ada? mengapa aku, hanya bisa merasakan cinta sesaat dari mu? aku ingin lebih lama dan abadi bersamamu Andra, apa itu tidak bisa?!"Lia mengeluarkan seluruh isi hatinya sambil sesegukan, tak kuasa menahan kesedihan yang bercampur dengan amarah.
"Li, ini sudah takdir dan mutlak dari tuhan yang tak bisa di kendalikan oleh manusia."Andra berusaha menenangkan Lia dengan menangkup pipinya yang sudah banjir dengan air mata.
"Andra, aku... aku tak bisa tanpamu."Lia menunduk layu dengan isak tangis menyayat hati yang teramat perih.
sekali lagi, Lia langsung berhambur memeluk tubuh Andra. kali ini lebih erat lagi seolah ia tak ingin berpisah dengan Andra. bahkan, sampai jaket milik Andra tampak basah oleh air mata milik Lia yang terus-menerus tak berhenti bercucuran.
"Ma'afkan aku, Li."bisik Andra lirih lalu mencium rambut Lia dengan teramat sayang.
__ADS_1