
Dulu Andres meragukan apa itu cinta pada pandangan pertama, meskipun wajahnya tampan ia tak pernah mengandalkan ketampanan itu untuk menjerat para perempuan. Terlebih saat ia masih di luar negeri pun dengan rata-rata kehidupan yang cenderung hidup bebas dan liar, tapi berbeda dengan Andres dalam setiap waktunya ia tak pernah melampaui batas. Bekerja sambil kuliah adalah rutinitasnya, sangat normal dan type lelaki yang jauh dari hal negative. Tidak ada kisah masa cinta sekolah atau pun ia tidak pernah terlibat kenakalan masa remaja seperti yang lainnya. Ia selalu berjalan mengikuti peraturan, sampai ia tumbuh dewasa seperti ini pun ia masih tetap dalam batasan.
Semenjak bertemu Lia, Andres mulai percaya apa itu cinta. Terlebih Andra selalu menyuruhnya untuk terus bersama Lia, tentu saja membuat rasa ketertarikan dan jatuh cinta pada pandangan pertama itu terjadi. Meskipun ia selalu menepis apa yang ia rasakan karena ia sangat menghargai Andra. Namun ternyata apa yang ia rasakan berkembang pesat dan pada akhirnya sekarang Lia bisa ia miliki.
Dan bahkan saat ini genggaman tangan itu semakin menyatu bagai aliran darah yang mengalir, berjalan seiring seirama menuju kampus. Lia memutuskan untuk kuliah di Universitas Indonesia bersama dengan Andres, dan Lia memutuskan untuk menyewa kosan untuk menghindari banyaknya waktu yang terbuang jika harus pulang-pergi Jakarta-Bogor, keputusan yang sangat berat karena ia harus rela berjauhan dengan kakaknya.
Penampilan Andres terlihat begitu keren dan terlihat cool dengan jas almamater yang membalut tubuhnya. Andres mengambil fakultas ekonomi dan bisnis. Di semester 5 ini Andres tengah fokus merancang skripsi dan merancang masa depan tentunya. Andres terbilang mahasiswa pintar dan rajin, sehingga ia dapat wisuda S1 dengan cepat dan rencana kedepan ia akan bekerja di perusahaan papi nya sambil melanjutkan kuliah untuk menempuh S2. Sementara Lia masih semester 4 fakultas kedokteran yang perjalanannya masih sangat panjang.
Lia sangat begitu bangga pada Andres, meskipun ia sibuk dengan kuliahnya ia selalu memberikan sedikit waktunya hanya untuk sekedar menjemput, menelphone dan menggandeng tangannya seperti ini. Lia tak bisa mendeksripsikan bagaimana fisik dan wajahnya secara detail sekarang, tapi yang jelas Andres begitu tampan dan nyaris sempurna. Lia mengembangkan senyuman dibibir saat Andres menoleh dan membalas senyumannya dengan sama manisnya.
"Kau tahu, ini hari yang begitu menyenangkan karena bisa berangkat ke kampus bersama-sama, biasanya kita jarang sekali seperti ini."Lia berucap dengan memasang wajah ceria.
Andres mengangguk sambil tersenyum."Ya, kau benar,"sahutnya seraya menarik kuncir rambutnya, sehingga rambut panjang Lia pun tergerai dan terhembus oleh angin sepoi-sepoi.
Lia langsung berdecak sementara Andres tertawa. "Andres apa-apaan sih, jangan usil! ayo kembalikan ikat rambutku!"pinta Lia sambil berusaha meraih ikat rambut dari tangannya. Namun, dengan cepat Andres langsung memasukan ikat rambut itu kedalam kantong celana jeansnya.
"Jangan diikat rambutnya, Li. Aku lebih suka rambutmu terurai."bisiknya yang langsung disambut cubitan lembut oleh Lia di tangannya, sementara wajahnya menghangat.
"Tapi sebelumnya kau tidak pernah bilang kalau kau tidak suka rambutku di kuncir."Lia mengerucutkan bibir.
"Sekarang aku bilang kalau aku lebih suka rambutmu terurai,"Andres nyengir sambil kembali menggenggam tangan Lia, dan mereka berdua pun meneruskan langkahnya yang sempat terhenti. Sementara Lia geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Andes, lalu ia pun mengedikan bahunya singkat.
Mereka berdua menapaki tangga outdor kemudian masuk kedalam kolidor kampus, seketika tautan tangan itu terlepas dari tangan Andres.
__ADS_1
"Kita berpisah disini, ya. Li,"ucap Andres yang dibalas anggukan Lia.
"Pulang pukul berapa?"tanya Lia.
"Pukul satu siang,"jawabnya, Lia mengangguk seraya tersenyum sebelum akhirnya melambaikan tangan.
"Mau aku jemput nanti?"tawar Andres yang di jawab gelengan kepala oleh Lia.
"Kau tidak perlu jemput aku karena aku pulangnya masih lama. Ada beberapa mata kuliah soalnya."tolak Lia lembut dan beralasan. Andres mengangguk paham kemudian tersenyum.
"Baiklah, semangat ya Bu Dokter!"lantang Andres sembari mengangkat kepalan tangan untuk menyemangati sang pujaan hati dengan memasang wajah seceria mungkin.
Lia terkekeh lucu melihat Andres saat ini."Masih calon,"koreksi Lia, sementara Andres hanya manggut-manggut.
"Nanti kau juga jadi dokter sungguhan, Li. Sekaligus sungguhan jadi istriku juga, hehe.. Jangan lupa, semangat ya kuliahnya. Love you sayang."bisik Andres disalah satu telinga Lia yang membuat Lia salah tingkah dibuatnya, tidak lupa dengan cepat Andres langsung mengecup pipi Lia dengan sentuhan lembut, yang membuat jantung Lia seakan akan rontok saat itu juga.
"Aku tidak peduli, kau kan pacarku."kata Andres dengan penuh rasa bangga.
"Meskipun pacar tapi jangan cium pipi ditempat umum, Andres."decak Lia seraya geleng-geleng kepala.
"Kalau ciuman di kosan, boleh?"tanya Andres antusias dengan sepasang matanya yang berkilat jahil.
Lia langsung melotot saat itu juga lalu berdecak gemas."Andres, jangan keras-keras bicaranya. Kalau kedengaran yang lain bagaimana?"Lia meringis seraya memutar bola mata disela obrolannya.
"Aku tidak peduli, Li. Aku yakin mahasiswa disini juga pasti punya pacar, dan pasti mereka juga pernah melakukan hal yang lebih dari itu."kata Andres berucap dengan sangat santai, dan tidak memedulikan mahasiswa dan mahasiswi yang berjalan hilir mudik silih berganti.
"Lebih dari itu bagaimana magsudnya?"Lia mengangkat satu alisnya bingung.
"***,"bisik Andres yang membuat bulu kudung Lia mendadak meremang setelah mendengar ucapan Andres, apalagi posisi bibirnya yang menempel di salah satu telinganya, membuat debaran itu semakin menggila.
__ADS_1
Seketika Lia langsung menjauh sambil berigidig."Andres, itu bukan berarti dirimu akan mengajak aku berhubungan *** 'kan?"tanya Lia menurunkan volume suaranya dengan nada penuh antisipasi.
Andres seketika langsung tertawa ngakak, mendengar pertanyaan Lia yang terdengar lucu dan menggelitik perut, apalagi setelah ia melihat ekspresinya yang begitu ketakutan, sangat menggemaskan sekali. Kening alis Lia bertaut bingung atau lwbih tepatnya sebal karena Andres mengabaikan pertanyaannya. Alih-alih menjawab pertanyaannya Andres malah tertawa seperti itu. Apa pertanyaan Lia terdengar seperti lawakan?
"Andres aku serius,"tegur Lia seraya berkacak pinggang dan mendengus sebal karena Andres sama sekali tak berhenti tertawa.
"Oke, oke. Maaf,"Andres berusaha menghentikan gelak tawanya dan berusaha untuk berbicara dengan tenang. "Li, dengar aku!"seketika Andres langsung meraih kedua bahu Lia, menatap mata Lia dengan dalam, disertai arti yang luar biasa. Kemudian seulas senyuman manisnya tersungging. "Aku sayang padamu, dan bukan berarti aku ingin tubuhmu juga. Aku punya prinsif, aku hanya ingin melakukannya jika hubungan yang aku jalin sudah terikat pernikahan. Aku tidak peduli orang-orang akan mencerca aku, atau mengatai aku bahwa aku tidak modern karena aku tidak mengikuti arus pergaulan bahwa *** adalah hal yang lumrah. Setelah mendengar apa yang aku katakan barusan, apa kau ingin menertawakan aku, Li?"tatapan Andres begitu intens dan serius pada Lia.
Untuk beberapa saat Lia terdiam, ia merasa tersanjung setelah mendengar ucapan Andres barusan. Terdengar sangat tulus dan jujur, tentu saja Lia merasa bangga akan hal itu. Memiliki pacar seperti Andres yang mengerti batasan adalah keberuntungan untuknya.
Lia mengembangkan senyuman tulus dari bibirnya, sedetik itu pula Lia langsung berhambur mengalungkan tangannya di leher Andres, memeluk tubuh Andres dengan rasa sayang yang telah membuncah untuknya. Lia memejamkan mata sebentar, menikmati setiap pelukan yang sedang berlangsung. Sangat nyaman dan sangat hangat, serasa ia tak pernah ingin melepaskan pelukan itu. Dan tak pernah ingin semuanya segera berakhir.
"Mendengar apa yang kau katakan barusan, sungguh tak ada alasan apapun untuk aku menertawakanmu. Justru aku bangga, dan aku merasa aman saat denganmu Andres. Andres, terimakasih. Aku mencintaimu sayang,"imbuh Lia dengan senyuman penuh rasa bangga bercampur dengan haru.
Andres tersenyum kecil, dan membalas pelukan itu dengan sama eratnya."Aku juga mencintaimu, Li. Jangan tinggalkan aku,"bisik Andres penuh harap, dan ia merasakan bahwa Lia mwnganggukan kepalanya, kemudian Andres pun mengecup rambut panjang Lia dengan lembut seraya memejamkan mata. Menikmati pelukan yang terasa romantis dan mesra disetiap detikan jarum jam yang berdetak.
__ADS_1