Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Kenangan tentang Andra dan Sifa,"


__ADS_3

Tidak terasa dua minggu berlalu, Andres dan Lia sudah pulih. Maka, mereka berdua sudah keluar dari rumah sakit. Lia berjalan menghampiri jendela kaca kamarnya yang terbuka, dengan seberkas sinar matahari terang menerpa wajahnya. Tak sehangat dulu, bagaimana kerinduan itu kembali hadir ketika ia sudah tak dapat bertemu dengan Andra lagi. Seperti yang Andra bilang ia selalu ada di hatinya, ia yakin Andra jauh lebih tenang sekarang. Lia mengembangkan senyuman, meskipun dadanya terasa sesak namun ia harus bisa merelakan semua apa yang terjadi padanya. Kehilangan pacar dan sahabat dalam kasus yang sama adalah pilihan yang sulit untuk di halau, ia membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk melupakan segala kenangan yang pernah dilewati bersama.


"Hei?"sapa Sifa teman sebangkunya menyapa ramah saat itu. akhirnya ia pun menoleh kearah Sifa.


"Hai juga!"sahut Lia setelah sesaat terdiam, lalu tersenyum tipis.


"Namanya Pak Anjay!"ucap Sifa yang membuat kening alis milik Lia berkerut bingung.


"Magsudnya?"


"Guru yang suka PMS setiap hari itu namanya Pak Anjay. Tenang saja, kau boleh kok bilang Anjay. kau takan dipenjara."Sifa bergurau yang membuat Lia spontan terkekeh.


"Setiap hari dia suka marah-marah begitu kah?"bisik Lia nada penasaran.


"Iya, entahlah setan apa yang merasuki Pak Anjay. ia begitu sangat menakutkan!"jawabnya sembari mengedikan bahu. "Oh ya, namaku Siti Fatimah. Panggil saja Sifa !"Sifa mengulurkan tangannya pada Lia dan spontan Lia menyambut tangan itu untuk saling berkenalan.


"Aku Lia!"Lia tersenyum.


"Tapi Pak Anjay takut sama bau minyak telon!"kata Sifa mengungkapkan fakta yang membuat Lia tertohok lalu terkekeh geli.


"Sekali-kali kita kerjain nanti !"jail Lia lalu mereka berdua tertawa bersama dengan pelan.


"KALIAN MENGGOSIP KAN SAYA YA !!!"


BRAKK.....


"ANJAYYYYY !!" Kejut mereka berdua, karena mendengar pukulan penggaris kayu Pak Anjay di meja mereka, dan spontan mengundang gelak tawa pecah seisi kelas.


Lia tertawa kecil mengingat masa-masa itu dengan Sifa, perkenalan yang konyol dan akhirnya mereka berdua menjalin kedekatan, sampai akhirnya maut yang merenggut untuk memisahkan persahabatan mereka berdua.


Lia termenung lagi, ketika mengingat pertama kali ia bisa berbicara dengan Andra saat itu, sungguh sangat berkesan dan Andra menjadi sosok lelaki special di hatinya.


"Aku Andra dan kau Lia?"Andra memperkenalkan diri.


"Aku tak ingin berkenalan dengan hantu, cepat enyahlah !"sambung Lia cepat sembari menggeleng-gelengkan kepala dengan deru napasnya yang tak beraturan, karena ketakutan melihat Andra saat itu.


"Kau sudah tahu mengenai aku?"tanyanya dengan binar antusias.


"Tidak,"geleng Lia berusaha untuk berpura-pura tidak tahu.


"Hanya kau yang bisa melihatku, dan bahkan mungkin kau sudah mengetahui bahwa aku sudah menjadi arwah, hanya kau yang bisa ku harapkan, semoga kau bisa membantu."ucapnya semangat sembari duduk di tepi ranjang seolah ia adalah pemilik dari ranjang itu.


"Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan, sudahlah menyingkir dan enyah dari kamarku, dasar cabul !"usir Lia.


Setetes air mata jatuh, maka dengan cepat Lia menghapusnya. Menghela napas panjang lalu tersenyum ikhlas dengan pandangannya yang sama sekali tak beralih.


"Hai, Li? Kenapa melamun?"sambut Bayu datang tiba-tiba ke kamarnya.

__ADS_1


Lia terkesiap lalu mencoba tersenyum sembari menggelengkan kepala."Ah, aku tidak melamun."Lia berjalan menghampiri ranjangnya lalu terduduk di tepi kasur.


"Apa yang kau pikirkan?"tanya Bayu lagi, pria itu mendudukan tubuhnya di samping Lia.


"Kau pikir aku memikirkan apa?"Lia malah balik bertanya dan berpura-pura berekspresi ceria.


"Andra."sahut Bayu singkat tapi berhasil memebuat Lia terpaku seketika.


"Apa?"


"Kau memecahkan kasus pembunuhan ini demi Andra 'kan?"tanya Bayu sembari memicingkan matanya menatap Lia, sementara Lia malah gelagapan.


"Kenapa kau tahu tentang Andra?"gugup Lia nada penasaran.


"Saat kau sedang bersama Andres di ruangannya, aku keluar bersama Papi nya Andres dan kami mengobrol sebentar. Dia menceritakan tentang Andra kembaran Andres, menceritakan tentang kematian Andra."jawab Bayu lalu menghela napas panjang.


"Lalu?"tanya Lia semakin penasaran.


"Apa kau pernah berhubungan dengan Andra? setelah papi Andres bercerita mengenai kematian Andra yang terjadi sekitar enam bulan yang lalu, maka aku berpikir kau adalah murid pindahan, tapi mengapa kau mengenal Andra?"Bayu mencoba mengintrogasi adiknya itu dengan curiga.


"Sebenarnya aku tidak tahu, magsudku aku tak mengenalnya saat itu. Tapi, entah mengapa aku bisa melihat arwah Andra. Andra minta tolong padaku, dan aku ingin menolongnya."cerita Lia sedikit terbata-bata.


"Kau menolongnya karena rasa iba atau--"


"Karena Andra baik padaku dan dia istimewa."sambung Lia cepat dengan kepala menunduk.


"Jadi kau dengan Andra pac---"


"Hallo?"





"Hallo, Li?"sambut seseorang yang tiada lain adalah suara Andres di sebrang sana.


"Oh, Andres. Ada apa?"


"Bisa kita bertemu, Li?"


"Ya?"


"Aku ingin bertemu denganmu, apakah aku boleh menjemput mu ke rumah?"


"Memangnya kita akan pergi kemana?"

__ADS_1


"Nanti kau juga akan tahu, Li. Apa kau sedang sibuk?"


"Aku tidak ada aktivitas apapun kok, kalau begitu kau datang saja ke rumah ku. Aku ada di rumah,"


"Baik, nanti aku kesana."


"Oke, aku tunggu."


"Mau nitip sesuatu? Makanan atau minuman?"


"Ah, tidak perlu membawa apa-apa Andres."


"Oke, kalau begitu aku kesana sekarang. aku tutup telephone nya ya, Li."


"Iya, silahkan Andres."


Tut....


Sambungan telephone itu berakhir, Lia terdiam sesaat kira-kira Andres mau mengajaknya kemana? tiba-tiba pikirannya buyar ketika Bayu memanggil namanya.


"Hai, Li? are you okay?"Bayu mengibaskan tangannya di depan mata Lia, sehingga spontan Lia mengerejap lalu tersenyum kikuk.


"Aku fine,"sahut Lia lalu bangkit berdiri sembari meletakan ponselnya di nakas.


"Kau akan pergi kemana bersama Andres?"tanya Bayu penuh penasaran dengan binar mata menggoda.


"Kenapa kakak ingin tahu?"lirikan Lia sepertinya tak suka dengan pertanyaan yang di lontarkan Bayu barusan padanya, karena Lia merasa itu adalah urusan pribadinya.


"Karena aku penasaran saja,"sahut Bayu mengedikan bahu sebentar.


"Kak apa kau bisa keluar sebentar dari kamarku? aku ingin berganti pakaian,"Lia berdiri tepat di hadapan kakaknya sembari melebarkan senyuman.


"Kau baru saja mandi, dan baru saja berganti pakaian, Li. kenapa kau tak pakai baju ini saja, terlihat santai dan cocok untuk pergi keluar."kata Bayu membuat bibir Lia mengerucut.


"Baju ini jelek, aku tidak mau terlihat jelek--"


"Dimata Andres? kau tak mau terlihat jelek di mata Andres, right?"goda Bayu cepat membuat bibir Lia mencabik seketika.


"Tidak sama sekali, aku berdangdan hanya untuk di nikmati oleh diriku sendiri, bukan karena Andres."bantah Lia berkacak pinggang dengan sorot mata kesal, sementara sang kakak langsung tertawa ngakak melihat ekspresi sang adik yang begitu menggemaskan.


"Wah, rupanya kau tak pandai berbohong."godanya lagi setelah menghentikan gelak tawa.


"Hei, kenapa menyebalkan sekali dirimu!"Lia mendengus sebal sementara Bayu terkekeh.


"Baiklah, aku keluar. Dangdan yang cantik ya nona, sebentar lagi tuan Andres datang menjemputmu, hahahaha..."Bayu beranjak pergi sembari mencolek dagu Lia usil, sebelum melangkah jauh Lia berhasil memukul lengan Bayu.


Plak.

__ADS_1


"Bedebah,"komentar Lia memutar bola mata malas dengan kedua tangan bersidekap di dada, lalu menghela napas panjang dan bergegas menuju lemari pakaiannya.



__ADS_2