
Stefan meraih tubuh Nabila dari bawah meja dengan sekali hentakan yang kasar. Kemudian mendorong keras tubuh Nabila sampai terjelembab ke ubin. Menyaksikan hal itu setelah kedua orangtua nya bangkit, membuat mereka berdua terperangah dipenuhi rasa ketakutan dengan rasa cemas, serta kebingungan harus melawan mereka dengan cara apa, agar bisa menyelamatkan anaknya itu.
"Hentikan!"ayah Nabila berseru keras, membuat Stefan menoleh dan memberi kode pada salah satu anak buahnya dengan cara mengedikan dagu kerah orangtua Nabila. Seolah mengerti anak buahnya pun langsung bergerak cepat.
Sementara satu anak buahnya lagi sedang memantau para tamu agar tak melakukan perlawanan, ataupun berusaha melarikan diri. Sementara satu anak buahnya yang tadi di perintahkan langsung menarik kedua orangtua Nabila lalu mengikat tangan dan kaki mereka dengan kuat, serta menutup mulut mereka dengan lakban. Sehingga kedua orangtua Nabila pun tak berdaya. Rupanya mereka telah menyediakan peralatan yang dibutuhkan di dalam back pack anak buah masing-masing.
Melihat kedua orangtua nya di perlakukan seperti itu maka Nabila tak terima, ia bangkit lalu berusaha untuk berbicara pada Stefan.
"What's the matter with you Stefan? are you crazy? why are you doing all this? do you want money? OK, I'll give it to you. After that you better leave, before I report it to the police. And please treat my parents well![Ada apa denganmu Stefan? kau gila? kenapa kau melakukan semua ini? apakah kau ingin uang? Oke, aku akan memberikannya kepadamu. Setelah itu lebih baik kau pergi, sebelum aku melaporkannya ke polisi. Dan tolong perlakukan orangtua ku dengan baik!]"sentak Nabila yang langsung di sambut tamparan keras dari Stefan.
Plak!!!
Nabila langsung tersungkur dan terbentur meja akibat tamparan keras itu yang menimbulkan denyut nyeri, dan meninggalkan memar di sudut bibirnya. Sangat sakit, sehingga membuat Nabila meringis. Dan ia berusha menekan bekas tamparan itu.
Melihat hal itu hati nurani Bayu tergerak, ia tak tinggal diam dan memilih untuk mempertaruhkan nyawanya sendiri. Ia benar-benar tak terima dengan perlakuan kasar dari pria itu terhadap Nabila.
"Kak Bayu?!"Lia sedikit teriak memanggil sang kakak yang sudah bangkit untuk menghampiri pira itu, dengan rasa cemas Lia tak bisa memungkiri bahwa ia takut terjadi ha-hal yang tak di inginkan pada sang kakak.
"Stop stupid! before you act more anarchic, then I will kill you first![Berhenti bodoh! sebelum kau bertindak lebih anarkis, maka aku akan membunuhmu terlebih dahulu!]"teriak Bayu lantang dengan gigi bergemeletuk, kedua tangan mengepal kuat di sisi tubuh, serta sorot mata tajam yang sudah memerah akibat emosi yang meluap-luap.
Menyaksikan hal itu, salah satu anak buahnya langsung bersiap untuk menembak Bayu dari jarak satu meter. Namun, Stefan langsung memberi kode dengan tangannya agar pistol itu diturunkan lagi oleh anak buahnya. Maka, anak buahnya pun langsung menuruti perintah sang bos dengan begitu hormat.
__ADS_1
Stefan tertawa licik sambil mendekat kearah Bayu. Memperhatikan penampilan Bayu dari bawah sampai atas, sambil tangannya mengusap-ngusap dagu angkuh."Wow, are you Nabila boyfriend? so you act like a hero like this? Hmm, I think Nabila taste is not local. Besides, you're completely unattractive, and even you are a hairless man and an imperfect looking head.[Wow, apakah kau pacar Nabila? jadi kau bertingkah seperti pahlawan seperti ini? Hmm, menurutku selera Nabila bukan lokal. Selain itu, kau sama sekali tidak menarik, dan bahkan kau adalah pria yang tidak berambut dan kepala yang tampak tidak sempurna]"ledeknya yang membuat kemarahan Bayu seketika meledak-ledak lebih parah lagi, dan semua itu bukan tanpa alasan.
"I don't care if I don't have hair, and how my imperfect head looks. Obviously that's not a yardstick, you should enjoy a punch from me, so you know, that real men don't just insult, or harass women. But how does it perform when fighting, one on one doesn't need a lousy subordinate, to interfere!![Aku tidak peduli jika aku tidak memiliki rambut, dan bagaimana penampilan kepalaku yang tidak sempurna. Jelas itu bukan tolak ukur, kau harus menikmati pukulan dariku, jadi kau tahu, bahwa pria sejati tidak hanya menghina, atau melecehkan wanita. Tapi bagaimana performanya saat bertarung, satu lawan satu tidak perlu bawahan yang payah untuk ikut campur!!]"sarkas Bayu yang sudah tak bisa mengendalikan diri.
"Oke,"sahut Stefan santai dengan wajah congkak seolah ia berada di atas angin, dan tentu saja ia sedang meremehkan Bayu.
Sedetik itu pula mereka berdua langsung bertarung, Andres yang menyaksikan juga ikut merasakan emosional. Hal itu terlihat dari kedua tangannya yang seketika langsung menggepal kuat. Melihat hal itu, Lia langsung memegang tangan Andres untuk berusaha menenangkan dan mengisyartkan untuk jangan bertindak gegabah.
"Aku harus menolong kak Bayu!"kata Andres dengan rahang mengeras.
Lia menggeleng dengan mata yang mulai meremang."Tapi__Andres,"Lia tak kuasa berkata-kata lagi, sementara napas Andres sudah memburu.
"Andres akan baik-baik saja pih! jika terjadi sesuatu dengan kak Bayu dan semua orang yang berada disini, termasuk kalian. Aku takan pernah bisa memaafkan diriku sendiri, karena bodohnya aku lebih memilih berdiam diri seperti seorang pengecut!"seloroh Andres menggebu-gebu dan sudah tak bisa ditahan oleh siapapun lagi. Pada akhirnya ia langsung pergi dari bawah meja, meninggalkan kecemasan bagi Lia dan papi nya.
"Andres?!"panggil Lia dan sang papi dengan was-was, namun hal itu tampaknya sia-sia. Andres sama sekali tak menggubris.
Wajah Bayu memar dan beberapa luka sayatan dari pisau lipat milik Stefan yang kini terlihat mendominasi. Berkali-kali pukulan mendarat pada tubuh Bayu. Sehingga tubuh Bayu hampir kehilangan keseimbangan. Namun, Bayu berusaha keras untuk melakukan perlawanan. Entah itu memukul perut Stefan, ataupun menendang lututnya. Namun, tampaknya Stefan jauh lebih kuat.
Sementara Nabila yang menyaksikan pertarungan Stefan dan Bayu tampak ketakutan, sampai ia mencoba mengesot untuk melakukan penyerangan menggunakan cara lain. Namun, tampaknya pergerakannya harus terhenti. Karena salah satu anak buah itu, langsung meraih tangan Nabila dengan cengkraman kuat ketika ia hendak mengambil botol bir kosong yang berada di atas meja. Nabila berteriak minta di lepas ketika satu anak buah Stefan mengikat tangannya di bawah kaki meja, serta mengikat kuat kakinya. Nabila mencoba berontak, namun sungguh sia-sia ia sama sekali tak bisa melakukan apapun.
Satu anak buah lainnya yang sedang mengawasi para tamu, terus mengancam mereka dengan menodongkan senjata api. Sehingga membuat mereka benar-benar ketakutan dan memilih untuk tak melawan. Yang terpenting bagi mereka adalah mereka bisa selamat.
__ADS_1
"Jika kalian diam seperti ini, maka kalian semua akan selamat. Tidak perlu berontak, dan tidak perlu ikut melawan. Diam saja seperti ini, kalian paham?! bahkan ponsel kalian semua takan berfungsi, jadi percuma!"ucapnya sambil terkikik bak iblis, dan para tamu itu hanya bisa menguatkan satu sama lain dengan cara saling berpelukan di pojok ruangan. Dan beberapa di antaranya ada yang menangis.
Terjangan kaki panjang Andres langsung mengenai dada milik Stefan dalam sekali hentakan yang kuat ketika ia melakukan serangan. Sehingga Stefan langsung terdorong cepat dan tubuhnya mengenai meja dengan amat keras, sehingga beberapa piring dan gelas berjatuhan dan pecah berkeping-keping menyentuh ubin.
Breengggg!!!
"Kak, apa kau baik-baik saja?"panik Andres merangkul pundak Bayu, dan Bayu masih saja tetap berusaha menahan rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuhnya. Bayu menganggukan kepala bahwa ia mencoba meyakinkan diri bahwa ia masih bisa bertahan.
Napas Andres memburu, dan tanpa pengampunan ia langsung menyerang Stefan lagi yang terlihat tengah berusaha berdiri meskipun dadanya masih terasa sesak, dan terbatuk-batuk.
Bugh!
"Mati kau!!"Andres berseru setelah mengambil ancang-ancang dan kaki panjangnya langsung menyentuh kasar wajah Stefan, sampai hidungnya mengucurkan darah segar.
Kedua anak buahnya tak tinggal diam melihat bos nya sedang diserang, maka saat mereka akan melakukan sesi tembak. Bayu langsung menyerang anak buah itu, dan ternyata serangan itu juga langsung di bantu oleh papi Andres yang tampak gatal menyaksikan pertarungan itu dengan hanya mengintip di bawah meja. Terjun langsung tampaknya akan lebih seru, meskipun usianya tak lagi muda tapi setidaknya ia ingin menguji kekuatan serta kebugarannya dalam sebuah pertarungan sengit itu.
"Hiyaaaaatttttttt!!!"serangan diluncurkan oleh Bayu dan papi Andres dengan emosi yang menggebu-gebu kepada kedua anak buah itu sampai senjata api itu terlepas dari genggaman.
__ADS_1