
Andres langsung terbelalak kemudian melirik kearah Lia. sungguh, ia tak menyangka bahwa setelah ia meraba dingding itu sebuah pintu rahasia langsung terbuka lebar. bahkan, kini degup dadanya berkali-kali lipat terasa memacu ardernalin.
ia tak habis pikir dengan apa yang ia alami saat ini, ternyata ini bukanlah adegan shooting film. ini kenyataan, bukanlah fiktif belaka.
"Haruskah kita masuk, Li? apa kau yakin?"Andres bertanya setelah bisa menguasai dirinya, meskipun sebenarnya ia mulai merasakan bahwa nyalinya mendadak ciut.
"Aku yakin, Andres. kita sudah bersusah payah untuk membuka pintu gudang. tidak lucu 'kan jika kita mundur begitu saja?"ucap Lia kali ini benar-benar sudah bertekad untuk siap menghadapi apapun.
"Ya, kau benar."Andres mengangguk setuju, dan berusaha menghalau segala ketakutan dan khawatirannya.
Andres langsung meraih tangan Lia kemudian menggenggamnya. ia sudah memutuskan untuk masuk kedalam ruangan bersama Lia.
Tak...tak..tak...
Langkah kaki mereka menggema ketika mereka berdua masuk kedalam lorong, dengan bantuan cahaya dari senter ponsel yang sudah di isi daya dengan full untuk antisipasi.
ruangan cukup gelap, dan dingin. ketika mereka berdua masuk tentu saja hal itu mengundang bahaya yang mengintai mereka berdua, dan siap mengeksekusi kapanpun si psikopat itu inginkan.
tangan mereka berdua saling bertautan, bahkan mereka berdua mengikis jarak dengan saling berdekatan, untuk saling melindungi jika bahaya datang.
tubuh Lia menggigil kedinginan, meskipun begitu, ia tetap tenang. bahkan, pikirannya pun bercabang. antara ia dan Andres akan selamat, atau bisa jadi ini adalah hari terakhir mereka hidup.
"Li, apa kau baik-baik saja?"tanya Andres khawatir.
"Aku hanya kedinginan,"jawab Lia sekenanya.
__ADS_1
"Haruskah kita kembali saja, Li?"tanya Andres kembali, namun Lia langsung menggeleng dan tetap ingin melanjutkan kasus ini sampai tuntas, tentu ia harus mengumpulkan banyak bukti terlebih dahulu, itulah sebabnya ia masuk malam-malam kedalam gudang ini.
setelah beberapa menit, sampailah mereka di hadapan pintu yang tertutup tanpa gagang pintu, dan tanpa lubang kunci. hal itu tentu saja membuat Andres tak bisa mencungkilnya menggunakan jepitan rambut milik Lia lagi, seperti saat tadi mereka kesulitan masuk kedalam gudang. pintu itu menggunakan kode angka untuk memasukinya. mereka berdua terlihat saling bertukar pandang, berkomunikasi menggunakan mata.
"Kenapa?"tanya Lia yang di jawab gelengan kepala oleh Andres."Tapi, kau terlihat aneh,"komentar Lia berdecak.
"Kau tahu, kode akses untuk masuk kedalam sana menggunakan lock smart, bahkan kita tidak tahu kode nya. jika dalam tiga kali kita menekan tombol angka secara random maka secara otomatis lock smart itu akan mengeluarkan bunyi. aku bingung sekali bagaimana kita masuk,"desah Andres menghela napas beratnya.
Lia menyenteri lock smart itu, bahakan tak ada jejak jemari yang menempel disana untuk menemukan kode. Lia menghela napas pasrah, bahkan ia terlihat kecewa bahawa semuanya tak mudah untuk dilalui.
"Hm, kau benar."sahut Lia terdengar tak semangat.
Lia dan Andres saling melirik, Andres mengangguk mantap sedangkan Lia terlihat menelan pelan air ludahnya pertanda ia ragu untuk masuk. padahal sedari tadi Lia lah yang selalu bersikeras agar ia tak berhenti untuk mendapatkan bukti, namun kali ini terlihat Andres lah yang terlihat menggebu-gebu tingkat penasarannya. Andres semakin menguatkan genggaman tangannya untuk selalu menjaga Lia. keduanyapun langsung masuk kedalam ruangan dengan pendar lampu merah menyala, membuat Lia berigidig ngeri.
Baru beberapa langkah masuk kedalam ruangan, keduanya langsung berjalan mundur karena indara penciumannya menangkap aroma yang tidak sedap, antara bau busuk dan bau karat yang menyengat yang membuat mereka berdua terasa ingin muntah dan membuat kepala terasa pusing siapapun yang menciumnya.
"Kenapa bau nya aneh?"tanya Lia menutup hidungnya dengan kerah baju.
"Entahlah, aku juga tidak tahu."jawab Andres mengedikan bahu singkat.
Karena tidak tahan dengan aroma yang aneh di dalam, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk melihat-lihat pemandangan di depan mereka berdua itu di ambang pintu saja.
Andres, menyorotkan senter yang langsung memantulkan cahaya kesetiap sudut ruangan. mata Andres langsung terbelalak, setelah melihat pemandangan yang ia lihat yang tak ubahnya seperti tempat jagal psikopat, ada blankar, ada alat-alat bedah, dan beberapa benda tumpul seperti palu besar, dan linggis yang tajam.
__ADS_1
"Seharusnya ini bisa dijadikan bukti,"kata Andres menelan ludah, dan keringat yang bercucuran. sementara Lia langsung menempel pada Andres dan semakin menguatkan genggamannya, bahkan degup jantung mereka berdua tak pernah tenang sedari tadi.
cekrek..cekrek...
Andres memotret seisi ruangan dengan flash light yang menyala. saat Andres berusaha memotret kesudut lainnya, tiba-tiba ada sosok jangkung yang berdiri disana. membuat Andres dan Lia terkesiap, dan sedetik itu pula ada seseorang yang mendorong mereka berdua dari belakang, sehingga Andres dan Lia langsung tersungkur dan sekarang mereka berdua menepati posisi masuk ke dalam ruangan. dan secara otomatis pintu itu langsung terkunci.
entah siapa yang mendorong bahkan mereka berdua tak mendengar langkah kaki dari belakang sedari tadi, ataukah fokus mereka teralihkan karena terlalu sibuk dengan lock smart?
Andres dan Lia saling bertukar pandang, dengan cahaya remang-remang dari senter ponsel yang terjatuh. Andres, semakin menguatkan genggamanya, seolah ia takut ia akan berpisah dengan Lia di situasi seperti ini.
bahkan bau menyengat itu semakin menyeruak masuk ke indra penciuman, membuat Lia dan Andres terasa mual.
detik itu terdengar suara saklar lampu dihidupkan, dan akhirnya cahaya yang sempurna menyala. membuat Andres dan Lia terperanjat bukan main, mendapati dua psikopat itu ada di hadapan mereka berdua dengan tawa iblisnya yang mengerikan.
"Kalian ini terlalu penasaran dengan kami?"tanyanya dengan nada antusias di sertai gelak tawa.
"Kau Semmy? aku tahu itu kau, lalu untuk apa kau terus bersembunyi di balik masker serta kupluk itu, ha?!"Lia berseru keras tanpa takut-takut.
"Ya, kau benar ini aku. rasanya aku tak bisa membunuhmu secara cepat Li, aku berjanji aku akan membunuhmu secara perlahan saat kau masih sekarat, hahaha..."sahut Semmy dengan tawa penuh perhitungan, yang membuat Lia ketakutan.
"Aku tidak peduli, aku akan selamat!"sahut Lia sarkas."Dan, kau...aku tahu kau Sifa 'kan?!"terka Lia dengan emosi menggembu sembari menunjuk perempuan itu yang mendorongnya bersama Andres.
"Kau yakin?"Semmy mengambil alih untuk bertanya disela tawa nya yang menggelegar dan menggema, membuat Lia mengerutkan kening alisnya."Bukankah itu sahabatmu, right?"Semmy menunjuk kesudut ruangan, membuat sepasang mata Lia mengikuti arahan, dan langsung menjerit sekuat tenaga.
Lantas, jika perempuan itu bukan Sifa? perempuan psikopat itu siapa?
__ADS_1