
Lia berjalan mondar-mandir di dalam kamar, pikirannya hanya tentang Andres. Lia sedang memikirkan bagaimana caranya untuk memulai pembicaraan dengan Andres, kemudian minta maaf padanya.
Lia mengangkat ponsel, mencoba menghubungi Andres. Namun, entah mengapa gerakannya terhenti seketika dan malah lebih memilih untuk melempar ponsel itu ke atas kasur. Menghela napas panjang lalu pergi meninggalkan kamar.
Setelah keluar kamar, mata Lia langsung terbelalak mendapati sosok Andres yang sedang duduk di sofa bersama Bayu, dan mereka berdua terlibat perbincangan yang begitu asik, terlihat dari cara mereka berdua yang tengah tertawa. Lia terpaku, dan melihat kepala Andres terangkat seakan menyadari kehadirannya saat ini. Wajah Andres terlihat begitu cerah, dan seperti biasa di selalu tampil keren.
Andres melebarkan senyuman."Hai, Li? baru bangun tidur?"candanya dengan mata berkilat jahil.
Kedua tangan Lia bersilang di dada, sambil mendengus kesal karena sapaan Andres barusan, yang terdengar so tahu bagi Lia. Alih-alih membalas sambutan Andres, Lia malah pergi begitu saja tanpa senyuman dan tanpa sepatah kata apapun untuk bicara pada Andres.
"Hai, Li kau mau kemana? katanya mau minta maaf pada Andres?"itu suara Bayu dengan setengah teriak, membuat langkah Lia terhenti dalam beberapa menter.
"Oh, bodoh. Kenapa aku harus marah seperti ini pada Andres. Padahal, tadi aku berniat ingin minta maaf padanya, tapi mengapa aku terus memusuhinya lagi sekarang? Aish, aku terlanjur bersikap dingin, jika aku melangkah mundur dan menghampiri Andres, pasti rasanya malu sekali. Andres pasti akan meledekku,"gumam Lia serba salah, kepalang tanggung sudah bersikap dingin maka ia pun terpaksa melanjutkan sikap acuhnya itu, dan kembali meneruskan langkah menuju area dapur, tanpa menghiraukan ucapan Bayu.
Bukannya marah setelah mendapati perlakuan Lia yang masih tetap sama, Andres malah terlihat cengengesan. Bahkan, Bayu pun hanya bisa menanggapi Lia dengan geleng-geleng kepala, menganggap Lia terlihat seperti bocah yang sedang ngambek karena tak dibelikan sesuatu.
"Wah, aku minta maaf padamu Andres. Aku pikir Lia takan seacuh itu padamu. Padahal, tadi Lia bilang akan meminta maaf padamu. Sudah jauh-jauh dari Jakarta dan belum lagi terkena macet di jalan, setelah sampai di sini kau malah di suguhi wajah masam dari Lia. Sungguh, sebagai kakak nya Lia aku merasa tak enak hati padamu,"kata Bayu panjang lebar, membuat Andres tersenyum mendengarnya.
"Tidak masalah, mungkin Lia masih belum sadar betul. Lia habis tidur siang 'kan, kak?"Andres terlihat sedang berusaha menyemangati dirinya sendiri.
"Ah, tidak. Beberpa menit yang lalu kita baru saja selesai makan siang, setelah itu Lia masuk kamar."sahut Bayu namun Andres hanya mengangguk. Dan kembali larut dalam pikirannya sendiri.
"Apa mungkin Lia masih marah? Aish, aku jadi tak enak hati pada Lia. Ini semua salahku, jika ciuman itu tak pernah terjadi mungkin hubungan kami akan baik-baik saja."sesal Andres dalam batin.
"Dan, bahkan Lia bilang dia akan minta maaf padamu, karena sebulan ini dia mengabaikanmu."sambung Bayu lagi seperti menyadari perubahan Andres yang cenderung diam, tidak seperti sebelumnya yang tampak lebih ceria.
"Ah, tidak. Justru aku yang harus minta maaf pada Lia. Gara-gara suatu hal, Lia marah padaku. Sungguh aku menyesali perbuatanku,"kata Andres seraya tersenyum tipis, namun Bayu mengerti arti senyuman Andres itu adalah senyuman kesedihan. Senyuman yang mengartikan sebuah penyesalan.
"Andres, ini minuman untukmu. Kau pasti haus,"itu suara Lia, dengan kedua tangannya membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk serta dua toples berisi cemilan.
Kepala Andres dan Bayu seketika terangkat, dan melihat ekspresi Lia yang berubah begitu manis. Dengan senyuman mengembang di bibir, kemudian Lia pun menaruh nampan itu di atas meja.
"Tahu dari mana rumahku?"kali ini Lia duduk di salah satu sofa, bertanya pada Andres seraya tersenyum. Melihat perubahan Lia tentu saja membuat Andres merasa lega bahwa kini Lia terlihat lebih baik.
__ADS_1
"Ah, aku tahu rumahmu dari kak Bayu, kak Bayu share lokasi via WhatsApp kemarin."jawab Andres seraya membalas senyuman Lia.
Menyadari sesuatu, Bayu berinisiatif untuk pergi ke kamarnya. Bayu mengerti betul bagaimana tingkah anak muda yang sedang melakukan pendekatan. Sebagai seorang pria, Bayu juga mengerti apa yang sering Andres lakukan demi sang adik. Andres yang selalu perhatian pada Lia, dan selalu memperlakukan Lia dengan sangat baik. Bayu menyimpulkan itu semua, setelah ia merasakan dan menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya semasa ia dan Lia berada di rumah sakit.
Andres begitu telaten dan sabar menghadapi Lia, meskipun sang adik mengacuhkannya saat itu.
"Wah, sepertinya aku kekenyangan setelah makan siang tadi. Mataku benar-benar sudah tak bisa di ajak kompromi. Aku ingin tidur,"Bayu pura-pura menguap lebar, membuat kedua alis Lia menyatu keheranan. Bagaimana pun Lia tahu bahwa sang kakak jarang sekali tidur siang.
"Oh, begitu, ya."Andres menyahut, Bayu menganggukan kepala.
"Kalau aku tidur bagaimana, Andres? maaf sekali aku tak bisa mengajakmu mengobrol lagi, bisa-bisa nanti aku tidak nyambung saat di ajak bicara. Serius, mataku berat sekali rasanya."kata Bayu, lagi-lagi berpura-pura menguap.
"Ah, kalau begitu aku pulang saja, kak. Kak Bayu istirahat saja, aku tidak masalah."ucap Andres membuat Bayu seketika terkejut.
"Jangan pulang begitu saja, Andres. Kau baru saja datang, masa kau akan pulang dengan terburu-buru. Kau tak perlu khawatir, kan ada Lia. Kalian ini sudah berteman baik, kenapa terlihat sangat begitu canggung? kalian ngobrol saja berdua, dan aku tidur."kata Bayu sembari bangkit berdiri dari sofa. Sementara Andres hanya mengangguk.
"Kau serius mengantuk?"tanya Lia seperti belum meyakini apa yang Bayu katakan.
Bayu langsung tertawa."Tentu, Li. Aku juga manusia sama sepertimu, aku benar-benar sangat mengantuk sekarang."
"Jika, Andres belum makan, ajak dia makan, Li."ujar Bayu sedikit teriak, karena ia sudah berjalan naik menuju tangga bergegas ke kamarnya.
"Iya,"sahut Lia, lalu ia melihat Bayu sudah menghilang.
Lia menatap Andres yang duduk di sofa berhadapan dengannya saat ini. Namun, kini ia melihat Andres hanya diam dengan pandangannya menatap langit-langit ruangan.
"Sudah makan?"tanya Lia membuka percakapan.
Pandangan mata Andres teralih menatap Lia."Sudah pas di rest area,"jawab Andres seraya tersenyum, lalu ia kembali diam, seperti tak ada niatan untuk mengajak Lia mengobrol, sehingga Lia berinisiatif untuk mencari topik pembicaraan, termasuk untuk meminta maaf pada Andres.
"Andres?"
"Hm?"
__ADS_1
"Andres, aku minta maaf padamu. Sebulan ini aku mengabaikanmu, dan acuh padamu. Maaf, aku terlalu bertingkah kekanak-kanakan."ucap Lia setulus hati, menyesali apa yang ia lakukan pada Andres.
"Iya,"sahutnya singkat.
"Aku serius, Andres. Aku benar-benar menyesali apa yang aku lakukan padamu, dan aku juga berterima kasih atas segala kebaikanmu yang sudah menolong aku dan kak Bayu, dan juga sudah menjagaku dan kak Bayu selama kami berada di rumah sakit. Dan tak sepantasnya aku mengacuhkanmu, pasti ini tak adil bagimu. Aku marah hanya gara-gara tingkahku yang konyol setelah ciuman itu terjadi, padahal kita sama-sama melakukannya,"sesal Lia panjang lebar, sementara Andres masih saja diam, sebelum pada akhirnya ia menyahut.
"Iya,"lagi-lagi sahutan Andres tetap dingin. Membuat Lia menghela napas panjang.
"Andres, kau marah padaku?"tanya Lia sedikit sedih, karena respon Andres yang terlalu singkat dan tak banyak bicara. Lia kemudian langsung pindah posisi duduk, duduk di sofa tepat di samping Andres."Andres, please jawab."pinta Lia dengan binar mata yang begitu menggemaskan.
Andres menoleh."Aku tidak marah,"jawabnya datar.
"Andres, kau kenapa berubah menyebalkan seperti ini, sih?"Lia merajuk seperti anak kecil, karena tanggapan Andres yang begitu dingin tak seperti biasanya.
Lia meluruskan tubuhnya, sehingga ia tak menatap Andres lagi. Lia dibuat bingung dengan sikap Andres, dan sedikit membuatnya kehilangan kesabaran. Harus dengan cara apa lagi agar ia dan Andres bisa berbincang dengan normal kembali?
"Kalau aku marah, aku mungkin tidak berada di rumah mu sekarang,"ujar Andres pelan.
"Ya, terserah."sahut Lia ketus sembari menyandarkan tubuhnya di sofa, dengan tangan bersilang di dada, serta kaki yang menari-nari kecil di lantai. Dan gerakan bibir yang terlihat sedang menggerutu.
Entah umpatan apa yang terucap dari bibir Lia, namun yang pasti hal itu membuat Andres seketika mengulum senyum. Apalagi saat melihat ekspresi wajah Lia yang berubah masam. Sangat begitu menggemaskan.
"Suka sama dress nya 'kan?"tanya Andres seketika yang ikut bersandar di sofa, dengan tangan melewati kepala Lia yang membuat Lia terpaku, sedetik itu Lia merasakan tangan Andres melingkar di bahunya. Kemudian Lia pun menatap wajah Andres dengan ekspresi sedikit terkejut, apalagi saat melihat senyuman Andres yang mengembang, membuat jantung Lia dag-dig-dug seer tak karuan.
__ADS_1