
Kini Lia sedang berada di pusat perbelanjaan, dengan menyeret lengannya penuh antusias oleh Andres. awalnya, Lia menolak namun Andres terus memaksa sehingga Lia tak memiliki kesempatan untuk menolaknya yang kesekian kali.
"Sudah ku bilang, cemburumu harus segera di sembuhkan. perempuan 'kan memang suka shopping, jadi kau perlu sedikit refreshing biar kepalamu tidak terlalu pening."kata Andres seraya tersenyum, sembari menyeret pergelangan tangan Lia tanpa henti.
"Tapi, aku sudah bilang bahwa aku tidak cemburu sama sekali pada Jesllyn!"Lia berkilah, sementara Andres menggeleng-geleng kepala, lalu mereka berdua naik eskalator.
"Kau bohong, aku tahu itu!"goda Andres dengan tangan bersidekap didada, setelah tautan tangan mereka terlepas. sementara Lia memolototi Andres sembari menyebikan bibir, lalu berjalan manual di eskalator mencoba untuk menghindari Andres.
Andres mengejar sembari berteriak memanggil."Li, tunggu!"
"Lepas, Andres!"Lia langsung menepis tangan Andres cepat, ketika Andres berhasil menghentikan langkahnya.
"Jika itu tidak benar mengapa harus marah?"tanya Andres berkacak pinggang.
"Ya, karena kau menuduhku! makanya aku marah, kenapa kau payah sekali sih!"Lia mendengus sebal, lalu membalikan badan dengan kedua tangan bersidekap didada karena ia kesal pada Andres.
"Ayolah, jangan galak seperti itu."Andres menghela napas mencoba merayu Lia yang merajuk.
Lia langsung menoleh cepat."Aku tidak galak!"Lia berseru keras sampai beberapa pengunjung mall menatap Lia ketakutan.
"Aish, gadis itu memaki pacarnya. dia galak sekali ya."bisik salah satu pengunjung kepada teman-temannya.
tentu saja Lia langsung mendelik tak suka, karena ia dijadikan bahan gosip seperti itu. pengunjung itu pun langsung pergi terbirit-birit setelah melihat ekspresi Lia yang seperti ingin menggigit.
sementara Andres hanya mengulum senyum, Lia melihat ekspresi Andres pun berubah kesal kembali. dengan cepat Lia langsung mencubit pelan perut Andres, sampai Andres tertawa pecah.
"Kau jahat !"kesal Lia yang langsung pergi begitu saja.
"Apanya yang jahat, Li? bukankah itu fakta?"teriak Andres disela tawanya, lalu ia pun mengejar Lia.
__ADS_1
"Ta-da, Li. Lihatlah aku! apakah aku tampan?"Andres keluar dari ruang ganti, berpakaian bak model.
Lia hanya mengangguk saja, dengan ekspresi biasa saja. toh, Andres memang tampan dan cocok menggunakan pakaian apapun. jadi, untuk apa ketampanannya di pertanyakan. ya, dengan berbagai cara Andres membujuk Lia yang merajuk, dan akhirnya luluh juga meskipun ia masih bersikeras tidak ingin dibelikan baju, namun tentu saja Andres takan tinggal diam. Andres memiliki banyak ide cemerlang untuk merayu, tentu saja.
"Aku ingin memilih baju yang ini saja, dan kau Li? kau yakin tidak ingin membeli pakaian, bra, tenk top atau apapun itu? padahal aku yang terlaktir, loh."tanya Andres sembari berjalan disamping Lia, sementara Lia hanya menoleh sekilas acuh.
Andres terkekeh melihat ekspresi Lia yang menggemaskan, lagi-lagi masih merengut.
"Tidak, aku tidak ingin beli baju."akhirnya Lia menjawab ketus, setelah beberapa detik bungkam.
Tiba-tiba Andres menarik pergelangan tangan Lia kerah lain, bahkan tidak memberikan kesempatan untuk Lia memprotes ataupun menolak karena Andres terus saja mengoceh.
"Oke, kali ini tidak boleh menolak. telingaku rasanya sangat panas ketika berkali-kali kau selalu saja menolak. kau pikir aku tidak punya uang? aku punya uang, Li. jadi kau tak perlu khawatir jika aku akan kehabisan uang dan malah menyuruhmu untuk membayarnya. dengar, aku tidak sepayah itu, mengerti?"Andres berbicara panajang lebar, sementara mata Lia hanya membola sembari mengikuti langkah besar milik Andres.
"Kenapa kau sangat berisik?"keluh Lia sementara Andres hanya tertawa.
"Ingat, kau bukan Raja!"Lia memutar bola mata malas, sementara Andres mengabaikannya. pada akhirnya Lia pun menghela napas pasrah, karena Andres begitu bersikukuh. dan Andres mulai melihat dan memilih pakaian.
"Nah ini, aku suka dengan baju ini. selain bahannya bagus, modelnya juga terlihat masa kini. kalau beli sepasang, nanti bisa mendapatkan potongan harga. untuk baju sekeren ini meskipun harganya tinggi, tapi worth it, sih."seru Andres antusias, sembari mengambil baju yang di gantung itu.
"Ya, bajunya bagus untuk di pakai couple dengan pacarmu."komentar Lia tak bersemangat.
"Aku ingin membelikannya untuk mu, bukan untuk pacarku. lagi pula aku tak punya pacar,"kata Andres yang membuat Lia mengerenyitkan dahi. Andres mencoba menyesuaikan ukuran baju dengan tubuh Lia sembari memicingkan mata, membuat Lia menahan senyum, karena Andres terlihat lucu saat ini dengan ekspresinya bak desainer.
"Tapi__"
"Diam, Li."Andres memotong pembicaraan Lia cepat."Oke, sepertinya ukuran baju ini yang cocok untukmu adalah XXL."
__ADS_1
Plak....
"Aduh kenapa aku di pukul?"Andres meringis, karena Lia memukul lengan Andres dengan gerkan bak kilat yang tak bisa diterka.
"Memangnya tubuhku sebesar apa, hah? sampai-sampai kau mengatakan ukuran bajuku XXL, memangnya aku kerbau sawah?! kau ini, brengsek sekali. kau tahu, dengan secara tidak langsung kau mengatai aku gendut!"seloroh Lia protes tak terima, Andres langsung tertawa ngakak setelah mendengar celotehan Lia barusan.
"Maaf, Li. aku hanya bergurau."kata Andres disela gelak tawanya.
"Leucon garing,"Lia mendengus sebal dengan tangan bersidekap didada.
"Magsudku, ukuranmu S dan kenapa kau mungil sekali, Li? aku takut kakimu patah karena kau terlalu kurus,"
Lia berdecak."Ck. ukuran bajuku M bukan S!"sahut Lia cepat nada kesal.
Andres hanya mengembangkan senyum yang terlihat puas menggoda Lia, dan Lia sadar ternyata ia menerima telaktiran Andres yang membelikannya baju. rupanya, rayuan maut Andres mempan juga.
"Andres!!"rengek Lia mencoba menolak.
"Sudah fix, kau tidak bisa menolak bahkan mengembalikannya padaku, aku harap kau nanti pakai baju dari ku, oke?!"ucapnya sebelum akhirnya ia melesat jauh saat Lia ingin menariknya.
"Ikh.. dia sangat menyebalkan. jika aku memakai baju darinya, apakah tidak terasa aneh, jika aku dan dia menggunakan pakaian couple, sementara kami bukan pasangan?"Lia menghela napas panjang, kemudian mengumpat didekat manekin mall.
kalau begini, apakah ini bisa di hitung sebagai berhutang budi. kemudian Lia berpikir ia harus membayarnya di kemudian hari? bahkan, ia takut jika Andres mengungkit untuk meminta balas budi.
dengan langkah kesal Lia pun langsung pergi, setelah melihat punggung Andres yang mulai menghilang dari pandangan.
Lia melirik Andres yang selalu saja tersenyum tiada henti, setelah membayar total belanjaannya di kasir. ditangannya terdapat banyak paper bag, dan yang membuat Lia terkejut adalah, Andres bukan hanya membelikannya baju, tapi juga tas dan sepatu. bahkan semua yang Andres belikan sampai merogoh kocek. Lia sempat berpikir, apakah senyumannya itu adalah senyuman bangga karena telah menghabiskan banyak uang? ataukah senyuman itu adalah senyuman getir karena uangnya telah terkuras habis dan tanpa tersisa sedikitpun di dompet? ralat, atau mungkinkah di dompetnya hanya menyisakan struk belanjaan?
"Aish, Andres sangat begitu royal."gumam Lia sembari geleng-geleng kepala.
__ADS_1