Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Dia tampan tapi takan menjadi hantu,"


__ADS_3

Andres memutuskan untuk pulang ke Jakarta, sebenarnya Lia bilang dia masih rindu lalu meminta Andres untuk menginap saja. Tapi, Andres bilang hari ini ia hanya ingin pulang. Maka, dengan berat hati Lia hanya mengangguk setuju.


Andres mengemudi dalam kecepatan sedang, namun pikirannya sama sekali tak beralih memikirkan Andra. Dan tanpa sadar air mata itu kembali menetes, dengan cepat Andres menghapus air mata itu dan berusaha untuk tetap tegar dan bertahan dalam rasa sesak.


Terlebih saat ia mengingat bagaimana mimpinya semalam mengenai Andra dan sekarang ia mengerti bahwa keanehan Lia rupanya berkaitan dengan mimpinya itu.


Di rerumputan ilalang yang tinggi Andres berjalan dengan warna senja yang anggun serta dedaunan kering yang berterbangan karena terhembus angin. Andra berjalan dibelakangnya tanpa disadari Andres.


Andres terlihat kebingungan dengan keberadaannya karena tampak asing, namun seketika Andra meraih bahunya sehingga Andres menoleh dengan terkesiap, maka untuk seperkian detik Andres langsung berhambur memeluk erat adiknya itu dengan begitu sedih, betapa merindukan seseorang yang telah tiada itu benar-benar sangat berat.


Andres menangis dipelukan Andra tanpa suara, Andra merasakan kesedihan yang dirasakan Andres kini. Setelah pelukan itu terlepas, Andra berusaha mengembangkan senyuman.


"Apa kabar denganmu? kau semakin tampan."Andra membuka percakapan yang membuat Andres tersenyum sendu.


"Kabarku tidak selalu baik, dan untuk jawaban dari pertanyaan selanjutnya adalah, apakah netra mu perlu di perbaiki? aku tidak setampan itu,"Andres berusaha bergurau, sementara Andra langsung terkekeh.


"Padahal aku berharap kabar mu selalu baik-baik saja, serius kau semakin tampan dan Lia pasti semakin menyukaimu."kata Andra dengan nada menggoda.


Andres menggeleng samar."Apa kau tidak merindukan Lia?"tanya Andres sembari menatap wajah sang adik dengan serius.


Andra terdiam sesaat, lalu tertawa kecik."Aish, mengapa aku harus merindukan pacar kakak ku?"Andres tertawa kecil mendengarnya.


"Aku serius,"


"Andres dengarkan aku,"Andra meraih kedua bahu Andres dan menatapnya lekat. "Aku sangat menyayangimu, kau adalah saudara yang solid dan aku takut menyakitimu. Maka, aku memutuskan untuk membuat Lia melupakanku."

__ADS_1


Andres mengerutkan kening alisnya tak mengerti."Melupakan bagaimana?"


"Jika aku memberi tahu mu sekarang maka itu bukan rahasia lagi, Andres. Ini adalah kejutan untukmu. Tunggu besok!"Andra tersenyum lebar seraya menaik-turunkan kedua alisnya jahil.


Andres berdecak sambil berkacak pinggang."Andra, please jangan melakukan sesuatu yang diluar nalarku!"


Andra langsung menghentikan bibir Andres dengan jari telunjuknya."Sttt... Jangan pikirkan apapun, yang jelas ini adalah keuntungan untukmu."


"Keuntungan apa?"Andres telihat membuang muka sekilas, lalu tersenyum kecut kearah Andra. "Jangan melakukan apapun, aku tidak setuju kau membuat Lia lupa padamu. Kau itu adalah hal terindah baginya, biarkan kau dalam kenangan dihidupnya!"kali ini Andres terlihat marah dan tak menyetujui rencana Andra.


"Sekali lagi tunggu besok! selamat tinggal saudaraku, kau akan bahagia selamanya!"pungkas Andra sumringah dan tak menggubris apa yang Andres katakan, membuat Andres berdecak kesal karena Andra memutuskan rencana secara sepihak tanpa persetujuan darinya sama sekali. Dan ia tak tahu apa rencana Andra, dan ia harap bahwa apapun yang Andra lakukan takan pernah terjadi.


"Andra jangan berulah!"seru Andres namun Andra hanya nyengir dan tak menggubris, lalu ia memilih hilang dari pandangan Andres. "Andra kembali, selesaikan perbincangan kita! Andra?!"teriak Andres seraya melihat ke sekeliling dan tidak menemui sosok Andra lagi, membuat Andres menghela napas kasar.


Mengingat mimpi semalam, Andres hanya bisa mengucurkan air matanya lagi maka dengan cepat pula ia menghapusnya. Ia tak ingin lemah sedikitpun, tapi rupanya perasaan jauh lebih mengerti bagaimana keadaan hatinya yang sebenarnya telah rapuh.


"Aku hanya memikirkan mimpiku semalam,"


"Mimpi apa?"


"Aku tak mengerti apa yang Andra bilang."


"Andra? Andra siapa?"


Respon Lia saat itu benar-benar mempengaruh pikirannya, seharusnya Andres senang bahwa Lia sudah lupa dengan Andra. Tapi sekali lagi, Andres tidak se-serakah itu dan tidak sejahat itu. Ia tak ingin bahagia diatas penderitaan orang lain. Apalagi ia hanyalah seorang lelaki kedua yang dicintai Lia, setelah Andra. Meskipun Andra sudah meninggal tapi ia tak ingin membuat Andra sedih, terlebih lagi karena cinta, tapi ia juga tak bisa bertindak apapun karena ini memang kemauan Andra.

__ADS_1


Saat Andres masih mengemudi, rasa pusing di kepala berdenyut begitu nyeri secara tiba-tiba. Apalagi pandangannya kini mengabur sehingga ia tidak begitu jelas melihat apa yang ada di depannya, di tambah lagi hujan begitu deras mengguyur bumi. Andres berusaha untuk menahan rasa pusing dikepalanya, namun rupanya pusing kali ini tidak tertahankan. Mungkin kepalanya kehabisan oksigen dan kehabisan cairan, maka ia memutuskan untuk mengambil obat sakit kepala yang tergeletak di laci dashboard mobil dengan kepala yang semakin berat.


Setelah minum pil obat sakit kepala Andres meraih botol mineral di cup holder, karena kehilangan keseimbangan maka botol itu pun terjatuh dari genggaman tangannya, maka dengan berhati-hati Andres mencoba meraih botol itu yang jatuh tepat mengenai kakinya. Dengan pandangan yang tak lepas melihat kearah jalan, meskipun pandangannya semakin lama semakin mengabur. Ditambah lagi cuaca memang sedang buruk, ketika di 2 km dari rumah Lia awan sudah mengihitam. Andres berpikir mungkin akan turun hujan yang lebat, dan sekarang terbukti hujan sangat lebat.


Dan tanpa sengaja kakinya malah menancapkan gas sehingga mobil melaju dalam kecepatan tinggi. Seketika dari arah yang berlawanan ada sebuah truk yang juga mengemudi dengan kecepatan tinggi sehingga rem truk ini jadi tidak pakem lalu lepas kendali. Jadilah dua kendaraan itu saling bertabrakan, Andres berteriak karena terkejut mobil yang ia kemudi langsung tergelincir karena aspal begitu licin akibat hujan deras, serta mobil Andres yang sulit dikendalikan seketika langsung terjun kedalam jurang dengan berguling-guling.


Sementara Andres yang masih berada di dalam mobil tersebut terlihat terjepit dan sudah tak sadarkan diri dengan sabuk pengaman yang masih terpasang. Serta kepala yang sudah berumuran darah.


Beberapa menit kemudian, datanglah bantuan *ambulan*ce berkat warga sekitar yang telah melihat kejadian tersebut lalu salah satu dari mereka menghubungi 911 agar segera mengirim ambulance ke lokasi tersebut. Andres dan sopir truk mengalami luka yang cukup parah. Sementara teman sopir ditemukan dalam keadaan selamat.


Roh Andres yang telah keluar dari raganya, begitu terkejut tak kepalang melihat apa yang terjadi pada dirinya. Saat tubuhnya di angkat dari dalam mobil oleh tim penyelamat, Andres begitu ngeri milihat dirinya yang berumuran darah dengan kondisi yang parah. Dengan garis polisi yang membentang ia sadar bahwa ia telah mengalami kecelakaan hebat, roh miliknya terlihat begitu panik dengan kondisi tubuhnya yang menyedihkan. Ia tak tahu harus melakukan apa, selain mengikuti raganya kemanapun pergi.


"Ayo cepat, cepat!"seru komandan dari tim penyelamat pada rekannya dengan berucap lantang karena hujan semakin deras, kemudian menggotong tubuh Andres di atas tandu lipat, dengan menggotongnya secara terburu-buru kemudian memasukannya kedalam mobil *ambulan*ce.


"Aku harap aku tidak mati,"desis Andres pilu dengan berbicara dalam batin sembari menatap tubuhnya yang tak berdaya di atas brankar ambulance emergency strecher.



      




__ADS_1



__ADS_2