
Lia membuka pintu kamarnya dengan lembut, kemudian menutupnya kembali. Lia melangkahkan kaki dengan tatapan mata kosong dan terlihat sendu, baru saja ia bersama kedua orang tuanya telah membahas mengenai kepindahan mereka ke kota hujan, Lia sempat menolak namun tentu saja kedua orang tuanya tak bisa di bantah, membuat pikiran Lia melayang entah kemana. Lia berjalan menuju ranjang dan duduk di bibir kasur.
Perasaan sedih semakin berkecamuk, lalu ia tak bisa menahan air mata yang sudah ingin segera tumpah. Lia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan lalu menangis tersedu-sedu.
Isak tangis itu terdengar nyaring memenuhi isi ruangan, membuat Andres seketika terbangun dari tidurnya, membuka perlahan matanya lalu mengucek-ngucek matanya yang masih terasa sangat berat, lalu melihat punggung Lia.
Andres beringsut, lalu duduk disamping Lia. Andres mencondongkan kepalanya, dan merasa heran mengapa Lia menangis tersedu-sedu seperti itu.
"Li, kau kenapa?"tanya Andres memegang satu pergelangan tangan Lia, lalu memperbaiki posisi duduknya untuk menyamping menghadap kearah Lia.
"Andres..."seketika Lia langsung memeluk Andres kuat-kuat dan tangisan itu malah semakin tak berhenti dan semakin keras.
"Li, ada apa? apa ada seseorang yang menyakitimu?"panik Andres seketika, lalu melepaskan pelukan Lia kemudian sepasang mata Andres menatap lamat-lamat wajah Lia yang beruraian air mata.
Lia sedang menangis, dan entah kenapa Andres merasakan hatinya seketika terasa sakit. Andres paling benci jika melihat seorang perempuan yang sedang menangis, termasuk melihat--Lia kini yang menangis tiada henti.
"Why, Li? please don't cry, Li. aku sangat begitu cemas."Andres berkata lirih, sembari menangkup kedua pipi Lia dengan sorot mata yang teramat khawatir.
Lia membalas tatapan Andres dengan sepasang matanya yang basah oleh air mata, membuat hati Andres serasa teriris. Maka, Andres langsung menghapus air mata itu dengan jemarinya.
"Aku hanya sedih Andres,"sahut Lia dengan suara seraknya khas orang yang sedang menangis.
Andres hanya menatapnya skeptis, sehingga membuat senyuman Lia mengembang lebih tulus, atau mungkin lebih tepatnya seperti senyuman yang tengah menguatkan dirinya sendiri.
"Andres,"panggil Lia selembut mungkin.
"Apa?"sahut Andres lirih.
__ADS_1
"Apa kita teman?"
Andres mengerutkan kening alisnya heran, mengapa Lia bertanya seperti itu?"Ya,"jawab Andres pendek, rasanya sulit untuk mengakui bahwa status hubungan mereka berdua ternyata hanya sekedar seorang teman--bukan lebih.
"Apa kau merasa nyaman denganku?"tanya Lia lagi.
"Tentu, jika aku tak nyaman aku pasti akan meninggalkanmu."jawab Andres apa adanya.
"Tapi, aku meninggalkanmu bukan karena aku tidak nyaman berteman denganmu."kata Lia dengan menatap wajah Andres sambil berlinangan air mata lagi, membuat Andres kembali dibuat bingung oleh ucapan Lia barusan.
Andres menelan pelan air liurnya."Magsudmu apa sih, Li?"Andres tersenyum kecut, namun pikiran buruk itu tiada henti terbesit di otaknya kini.
"Aku akan pindah,"jujur Lia seraya tersenyum kecil, kemudian menghapus air matanya cepat.
"Pindah?"Andres terlihat bingung.
"Aku akan pindah ke kota hujan beberapa minggu lagi, kedua orang tua ku tidak mengizinkan aku untuk tinggal di ibu kota lagi. Mereka menghawatirkanku tentang segala hal mengenai aku. Dan aku rasa, tak ada pilihan lain selain menyetujui keputusan itu."Lia berterus terang, membuat kedua mata Andres seketika membola tak mempercayai apa yang baru saja ia dengar.
Andres menggeleng samar."Jangan balik membalas mengerjai aku, Li. Apa kau mau balas dendam padaku, gara-gara aku mengerjaimu tadi?"
"Aku serius Andres."ucap Lia dengan ekspresi setenang mungkin, membuat Andres tak habis pikir.
"Tapi, setelah kau pindah apa kau akan bahagia?"tatap Andres serius.
"Tentu."sahut Lia singkat, namun dari intonasinya terdengar seperti ragu. Sejenak, mereka berdua hanya saling menatap satu sama lain. Lalu, Lia merasakan Andres yang berubah menggenggam tangannya.
"Lalu bagaimana dengan aku? kau bahagia disana sementara aku menderita?"pertanyaan Andres membuat Lia terdiam untuk sesaat.
__ADS_1
"Kau juga akan bahagia, tentu saja kau akan bahagia aku yakin itu."kata Lia berucap yakin.
"Setelah apa yang kita lewati? dan kau pergi begitu saja? Li, apa kau tak mengerti bagaimana perasaanku?"Lia kembali terdiam, dan Andres hanya menghela napas panjang lalu mengubah pandangannya menatap lurus kedepan.
"Kita hanya teman, Andres. Jangan menganggap perpisahan ini secara berlebihan, dan aku yakin kau akan mendapatkan teman yang lainnya. Dan bahkan kita akan tetap berkomunikasi, tentu saja."lanjut Lia dan berusaha menahan diri agar ia tak terisak dan supaya suaranya tak terdengar bergetar.
"Lalu kenapa kita tak mengubah status kita dari teman menjadi pacar? itu lebih mudah 'kan, Li?"sahut Andres sarkas sembari menatap wajah Lia serius.
"Andres, are you kidding me?"
"Of course I'm serious, there's no reason for me to joke with you."
Lia menghela napas berat, lalu menatap Andres yang masih menatapnya juga. Kali ini Lia menatap Andres dengan sepasang mata yang bening, tanpa ada air mata yang mengalir, jauh lebih tegar dari sebelumnya. Namun, setelah mendengar ucapan Andres membuat Lia sedikit terkejut.
"Baiklah, lupakan saja apa kataku."lanjut Andres lalu menghela napas kemudian pandangan matanya beralih menatap langit-langit kamar.
"Andres,"panggil Lia lirih.
"Pergilah ke kota hujan, dan lupakan pertemanan kita."tukas Andres dan langsung pergi meninggalkan Lia tanpa senyuman.
"Andres?!"panggil Lia sedikit teriak, namun Andres sudah menghilang, pergi melalui pintu balkon kamarnya.
Setelah Andres pergi, air mata itu kembali berlinang. Dadanya sesak, hatinya sakit, mengapa Andres tidak mengerti dengan posisinya saat ini? mengapa ia egois, jika bisa memilih tentu saja Lia tidak ingin pindah.
Mereka berdua hanya butuh waktu untuk berpikir tenang, agar mereka berdua bisa cukup dewasa melewati keadaan. Ada pertemuan tentu saja ada perpisahan. Tentu saja mereka berdua harus siap.
__ADS_1