
Andres menggerakan jemarinya, memetik senar tipis digitar yang berada dipangkuannya. meluncurkan nada yang seperti nyanyian, dengan menatap sayu setiap petikan yang ia ambil.
bernyanyi dengan nada seperti tertahan, ditelan hati.
ingatan dikepalanya berkelana ke masalalu seiring bibirnya tersenyum tipis, atau lebih tepatnya miris.
...Bila nanti kita berpisah...
...Jangan kau lupakan...
...Kenangan yang indah...
...Kisah kita...
...Jika memang kau tak tercipta...
...Untuk kumiliki...
...Cobalah mengerti...
...Yang terjadi...
...Bila mungkin memang tak bisa...
...Jangan pernah coba memaksa...
...'Tuk tetap bertahan...
...Di tengah kepedihan...
...Jadikan ini perpisahan yang termanis...
...Yang indah dalam hidupmu...
...Sepanjang waktu...
...Semua berakhir tanpa dendam dalam hati...
...Maafkan semua salahku...
...Yang mungkin menyakitimu...
...Semoga kelak kau 'kan temukan...
...Kekasih sejati...
...Yang 'kan menyayangi...
...Lebih dariku...
...Bila mungkin memang tak bisa...
...Menyatukan perbedaaan kita...
...Dan tetap bertahan...
...Di tengah kepedihan...
...Jadikan ini perpisahan yang termanis...
...Yang indah dalam hidupmu...
...Sepanjang waktu...
...Semua berakhir tanpa dendam dalam hati...
...Maafkan semua salahku...
...Yang mungkin menyakitimu...
__ADS_1
...Bila mungkin memang tak bisa...
...Menyatukan perbedaaan kita...
...Dan tetap bertahan...
...Di tengah kepedihan...
...Ho-oh-oh...
...Jadikan ini perpisahan yang termanis...
...Yang indah dalam hidupmu...
...Sepanjang waktu...
...Semua berakhir tanpa dendam dalam hati...
...Maafkan semua salahku...
...Yang mungkin menyakitimu...
...Jadikan ini perpisahan yang termanis...
...Yang indah dalam hidupmu...
...Sepanjang waktu...
...Semua berakhir tanpa dendam dalam hati...
...Maafkan semua salahku...
...Yang mungkin menyakitimu...
...Sumber: Musixmatch...
...Penulis lagu: Imunk Lovarian...
"Terimakasih Mih, Andres masih belajar."Andres langsung tersipu kemudian tertawa renyah.
Andres, masih ingat alunan yang ia mainkan. momen saat ia bersama mendiang Maminya, teramat lampau karena saat itu ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.
kerinduan, dan pemilihan yang salah ketika ia memutuskan untuk sekolah diluar. dan sampai saat-saat terakhirnya pun ia tak bisa melihat kondisi sang Mami yang sudah tiada. ia hanya bisa menyaksikan saat mendiang Mami nya di ke bumikan.
setelah larut dari suasana sedih seperti ini, Andres menghentikan aktivitasnya barusan, kemudian menghapus cepat air mata yang siap turun. menghirup napas sebanyak-banyaknya sebelum akhirnya ia menghemuskannya pelan.
"Apa yang kau pikirkan?"
Andres mendongak, melihat sosok pria paruh baya yang menjadi audiensi dalam pertunjukan sederhananya.
Andres hanya menggeleng kemudian tersenyum tipis, hanya untuk menyembunyikan kepingan luka dari lubuk hatinya paling dalam.
ruangan senyap seketika, tak ada pembicaraan. dan Andres merasakan pria paruh baya yang disebut Papi itu kini duduk disampingnya.
"Papi, paham kondisimu."
Andres menghentikan pergerakannya yang hendak menaruh gitar ditempatnya.
"Kita sudah kehilangam dua orang yang sangat kita cintai, dan kita kesepian. seperti tak memiliki siapapun lagi."sang Papi menatap wajah anaknya itu dengan binar nanar, sementara Andres terlihat menghela napas panjang. lalu tersenyum lebar untuk mencairkan suasana.
"Papi berkata apa? tentu saja ada aku yang selalu menemani Papi. bahkan, aku juga merasa tidak kesepian karena disampingku ada Papi yang aku sayangi. untuk yang pergi, kita hanya bisa merelakan. Aku percaya tuhan itu adil."Andres merangkul bahu sang Papi sementara sang Papi hanya tersenyum haru.
"Kau benar."sahutnya dengan lirih.
"Sebaiknya Papi istirahat, hari sudah mulai larut. malam ini biar aku temani ya, Andres khawatir dengan kondisi Papi."Andres beranjak berdiri, Papinya mengangguk setuju lalu mereka berdua pun bergeges naik ke loteng.
*****
Lia merasakan tubuh Andra merangkulnya dari belakang setelah melampirkan selimut di punggungnya. Lia juga merasakan hembusan napas hangat Andra yang menerpa telinganya.
"Tidurlah, aku akan pergi setelah kau tidur,"bisiknya dengan tangan bertumpu dikepalanya.
"Aku tidak bisa tidur,"ucap Lia lirih kemudian ia bergerak, lalu tidur menyamping dan menatap wajah Andra dengan begitu intens.
__ADS_1
"Apa yang kau pikirkan?"tanya Andra dengan tangan yang terulur merapihkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah Lia.
"Bolehlah aku bertanya?"Lia meminta izin sentara Andra hanya mengangguk.
"Aku rasa wajah lebam ini pasti sakit,"Lia merangkum pipi milik Andra dengan satu tangannya, sembari melihat luka-luka diwajahnya. itu adalah luka bekas jatuh dulu, sebelum pada akhirnya meninggal.
Andra hanya diam, sembari memejamkan matanya.
"Aku istirahat sebentar bolehkan, Li? setelah itu aku pergi."izinnya setelah ia membuka matanya kembali.
"Kenapa harus tanya aku dulu,"sungut Lia menghela napas kesal. sementara Andra hanya tersenyum kecil.
"Aku harus minta izin dulu sama pemilik kamarnya, aku takut di hukum."cengirnya.
"Aku tidak segalak itu tahu !"sahutnya membuat bola matanya berputar.
"Ya, aku percaya."Andra terlihat mengulum senyum sambil menggenggam tangan Lia dibawah sana.
"Kenapa megatakan aku galak pada Andres?"Lia mengedikan dagu angkuh.
"Ah, tidak.."kilahnya sambil tertawa.
"Baik begini, kau bilang aku galak? kau jahat sekali,"Lia meringis lalu mengerucutkan bibirnya manja.
"Aku hanya bercanda, Li."ia tertawa renyah, sementara Lia masih saja merengut.
"Kenapa?"tanyanya jahil, sementara Lia hanya mengedikan bahu acuh.
tanpa Lia sangka, Andra langsung memeluknya dan kemudian mengecup keningnya dengan lembut. kasih sayang yang semakin membuncah kini sudah terasa sangat begitu kuat pada Lia.
tanpa Andra sangka, dengan cepat Lia membalas. ia mengecup rahang milik Andra sekilas, karena ia takut mengenai luka di ujung bibir milik Andra jadi ia tidak berani mengecupnya berlama-lama.
Andra tak mengatakan apapun, ia hanya mengeratkan pelukannya saja.
"Andra, tadi saat cium keningku. luka di bibirmu kerasa sakit tidak?"tanya Lia pelan sembari mendongak.
"Tidak,"jawabnya santai disertai gelengan kepala.
senyuman milik Lia langsung merekah, disertai binar mata yang menginginkan sesuatu. sementara Andra yang menyadari itu hanya mengulum senyum.
Lia menangkup pipi Andra, perlahan matanya juga mulai terpejam. Lia mulai mendekat, dan bibirnya terbuka. helaan napas hangat sampai terasa di wajah Andra.
sialnya, sebelum niatnya untuk mengecup bibir milik sang pujaan hati Andra Mahesa Dirlangga yang sangat ia cintai terlaksana, suara ketukan pintu terdengar.
tok..tok..tokk...
"Li, apa kau sudah tidur? boleh pinjam charger ponselmu tidak? charger milikku rusak!"suara Bayu terdengar nyaring, tadi itu nyaris ciuman. Lia menghela napas kasar, sementara Andra langsung tertawa lebar, dan bangkit dari ranjang.
Malam-malam begini meminjam charger, mengganggu suasana. pasti ponsel Bayu kehabisan batrai karena ponselnya terlalu sering digunakan bermain game. menyebalkan, bukan?
"Good night, sayang. aku pulang yah."Andra tertawa dan Lia kini sudah beringsut duduk di kasur. dengan memasang wajah sebal.
"Mau pulang? tidak mau cium dulu?"tanya Lia seperti anak kecil dengan ekspresi cemberutnya.
seketika Lia merasakan, Andra mengecup cepat bibirnya. sebenarnya Lia agak kecewa, karena ciuman itu bukan ciuman ******* yang menggairahkan. setelah itu Andra tersenyum sangat manis.
"Li, aku pulang ya."pamitnya dan Lia hanya mengangguk pasrah.
"Li, kenapa pintunya dikunci sih? Aku mau masuk!"itu suara Bayu lagi dengan sedikit teriak dengan berkali-kali menggerakan gagang pintu.
Shitt, Bayu sialan. Lia menghela napas kasar, Andra hanya tertawa kemudian menghilang.
__ADS_1