Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Stefan dan Nabila."


__ADS_3

Setelah kedua anak buah Stefan berhasil di taklukan dengan keadaan mereka yang sudah terkapar tak berdaya di ubin, dengan napas terengah-engah maka Andres segera berlari dengan penuh rasa cemas yang berkecamuk merayap du dalam dada, maka ia langsung menghampiri sang papi yang terlihat mulai pucat pasi.


"Andres sebaiknya kita segera membawa papi mu ke rumah sakit, sebelum keadaannya semakin memburuk."saran Lia bercampur dengan rasa panik.


Andres mengangguk cepat."Kau benar."


"Sebaiknya kalian berdua segera ke rumah sakit, sementara yang disini biar aku yang urus."ujar Bayu lantang disela napasnya yang tak beraturan, dengan dipenuhi peluh keringat yang bercucuran.


"Ok,"sahut Andres setuju dengan sorot mata yang begitu cemas.


Maka, Andres dan Lia langsung memapah sang papi dengan rasa panik yang tak bisa disembunyikan lagi. Kemudian mereka berdua pun meninggalkan ruangan. Sementara para tamu langsung berpelukan satu sama lain, rasa lega menyelimuti dengan bercampur rasa haru karena akhirnya mereka selamat. Meskipun harus menyisakan trauma yang luar biasa.


Ponsel Bayu mengeluarkan bunyi notifikasi, itu artinya signal ponsel telah stabil.


Dengan cepat Bayu merogoh ponselnya dari saku celana, dan tak berpikir panjang ia langsung mengambil kesempatan untuk menelpone polisi saat itu juga.


Tutt...


"Hallo?"


"..."


"Hallo, pak polisi saya Bayu selaku korban penyandaraan di gedung ANRI, mohon bantuan untuk kami disini. Dan para pelaku sudah saya amankan."


"..."


"Baik, pak terimakasih. Kami tunggu,"

__ADS_1


Tutt..


Setelah telephone itu berakhir, tiba-tiba Bayu tersadar mengapa signal ponselnya kembali normal. Apa itu artinya alat pengacau signal mati karena kehabisan batrai atau bisa jadi karena alat itu sudah di bawa pergi seseorang.


Untuk sesaat Bayu tercenung, mencoba mencerna situasi. Dan pada detik itu pula ia teringat bagaimana kondisi Nabila.


"Nabila?!"panggil Bayu teriak sambil mengedarkan pandangan kesegala arah, dan berusaha mencari-cari sosok Nabila. Namun, tak kunjung ia temukan. Bahkan sosok Stefan pun sudah tak ada di ruangan ini.


"Brengsek,"umpat Bayu ketika ia menyadari kelengahannya, karena rupanya Stefan telah berhasil membawa Nabila untuk melarikan diri.


Saat pandangan mata Bayu mendarat kearah sana, ia melihat kedua orang tua Nabila yang masih terbelenggu. Maka, dengan cepat ia langsung berlari menghampiri mereka, dan langsung melepas belenggu itu satu persatu.


"N-nabila di bawa kabur Stefan,"kalimat ibu Nabila terdengar gemetar, setelah lakban di mulutnya telah di buka.


"Apa?"kejut Bayu dengan kedua mata yang hampir saja keluar.


"Om dan tante tenang saja, saya sudah lapor polisi dan tentu saja saya akan ikut membantu."ikrar Bayu mencoba menenangkan dengan seulas senyuman kecil. Tapi, tak memungkiri rasa gelisah yang semakin merayap.


"Terimakasih,"sahut ibu Nabila parau disela isakan. Sementara Bayu hanya mengangguk sambil mengusap bahu orang tua Nabila dengan lembut.


Dan disituasi Nabila, setelah Stefan berhasil keluar dari area gedung. Stefan yang masih menggendong Nabila dipelukannya segera langsung membuka pintu mobil, lalu tubuh Nabila di baringkan disana.


Dengan gerak cepat dan terburu-buru setelah menutup pintu mobil, maka Stefan langsung menyalakan mesin mobil dan mulai melaju, meninggalkan area parkiran gedung.


Dengan menancapkan gas mobil secara penuh, Stefan berusaha untuk pergi sejauh mungkin agar tak terlacak oleh kepolisian.


"Sorry, Nabila I have to take you by force like this. It's for good, we have to leave Indonesia. I will make you lose your memory and we will live happily together. In fact, now I'm already imagining us getting married and having cute kids. Be patient, we will get there.[Maaf, Nabila aku harus membawamu dengan paksa seperti ini. Ini untuk kebaikan, kita harus meninggalkan Indonesia. Aku akan membuatmu kehilangan ingatanmu dan kita akan hidup bahagia bersama. Bahkan, sekarang aku sudah membayangkan kita menikah dan punya anak lucu. Bersabarlah, kita akan sampai di sana.]"Stefan bermonolog sendiri ketika ia menyetir, lalu tertawa penuh rasa bangga dan tak sabaran. Sambil melihat Nabila melalui kaca didepannya yang terlihat sosok Nabila yang masih terkapar tak berdsya di jok belakang.

__ADS_1


Hening, dan Stefan kembali pokus untuk menyetir. Dan kini ia terjebak macet, pandangannya menatap lurus kedepan. Jari jemarinya mengetuk-ngetuk setir seakan tidak sabar ingin terbebas dari kemacetan itu. Kemudian, mobil pun kembali berjalan.


"Nabila, don't worry, I won't hurt you if you become an obedient woman. But, if you don't obey, maybe I will do something to make you obey me.[Nabila, jangan khawatir, aku tidak akan menyakitimu jika kau menjadi wanita yang penurut. Tapi, jika kau tidak menurut, mungkin aku akan melakukan sesuatu untuk membuatmu menurutiku.]"Stefan tertawa setelah berbicara demikian, lalu kembali melihat sosok Nabila dari cermin yang masih tak sadarkan diri lalu tersenyum miring.


Beberapa saat kemudian jemari Nabila mulai bergerak secara perlahan, matanya terbuka meskipun sedikit agak mengabur. Memijat pelipis pelan karena rasanya kepalanya sedikit pusing. Kemudian melihat sosok Stefan yang sedang mengemudi, membuat Nabila terkejut tak kepalang karena rupanya Stefan berhasil membawanya melarikan diri.


Tangannya gemetar dengan peluh keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya. Rasanya ia ingin menangis saat itu juga, namun ia berusaha kuat karena ia tak ingin kesadarannya diketahui oleh Stefan.


Nabila beringsut sedikit agar kepalanya bisa mencoba mengintip pada jendela kaca mobil, yang ternyata mereka sedang menempuh perjalanan di tol. Dan Nabila tak mengerti ia akan di bawa kemana oleh Stefan. Tidak ada ponsel dan tidak ada apapun untuk digunakannya agar ia bisa memberikan kabar kepada keluarganya, ataupun untuk memberitahukan posisinya saat ini pada Andres. Hanya air mata yang bisa membasahi pelupuk pipinya, kemudian ia kembali menidurkan kepalanya sambil tiada henti menangis tanpa suara, dengan menatap langit-langit mobil dan hanya bisa meratapi diri.


"Apa yang harus aku lakukan,"batin Nabila mencoba berpikir keras dengan rasa putus asa yang menyelimuti.


"Our Nabila will move to Italy, starting a new happy life. We'll get married, then have kids, and we'll never be apart. You know I love you so much and I'm so obsessed with you. I can kill you if you try to run away. So, be nice to me.[Nabila kita akan pindah ke Italia, memulai hidup baru yang bahagia. Kita akan menikah, lalu punya anak, dan kita tidak akan pernah berpisah. Kau tahu aku sangat mencintaimu dan aku sangat terobsesi denganmu. Aku bisa membunuhmu jika kau mencoba melarikan diri. Jadi, bersikap baiklah padaku.]"ujar Stefan berbicara sendiri yang membuat Nabila melotot ketakutan setelah mendengar apa yang Stefan ucapkan barusan.


"Menikah?"Nabila berbicara tanpa suara , lalu menggeleng-gelengkan kepala dengan kuat. Seolah semua itu tak boleh terjadi.


Nabila mencoba berpikir keras apa yang harus ia lakukan agar segera menghindar dari pria gila semacam Stefan. Hingga sebuah ide cemerlang pun terlintas dari pikirannya saat ini.


Ketika Stefan sedang lengah dan tetap pokus dalam kemudinya, Nabila mencoba merobek selendang yang menyatu pada dress. Kemudian mencoba beringsut secara perlahan dan mulai melakukan aksi. Nabila langsung mencekik leher Stefan dari belakang menggunakan selendang itu. Yang tentu saja membuat Stefan kehilangan konsentrasi seketika dalam mengemudi, karena ia hampir kehilangan napas akibat tercekik dan berusaha melepaskan cekikan itu dengan satu tangannya, sementara satu tangannya lagi berusaha untuk mengendalikan setir.


"Nabila don't be crazy, we will die! Come on, get your scarf off my neck. Or I will lose concentration in driving![Nabila jangan gila, kita akan mati! Ayo, lepaskan selendangmu dari leherku. Atau aku akan kehilangan konsentrasi dalam mengemudi!]"teriak Stefan dengan suara tercekat, dan kini ia sudah mulai benar-benar kehilangan konsentrasi. Sampai mobilnya mulai terasa oleng.


"I'd rather die my way. Than I have to marry a crazy man like you or die by your hands. I don't care if I have to have a tragic accident![Aku lebih baik mati dengan caraku. Dari pada aku harus menikahi pria gila sepertimu atau mati di tanganmu. Aku tidak peduli jika aku harus mengalami kecelakaan tragis!]"sentak Nabila dengan gigi bergemeletuk dan ia semakin kuat mencekik leher Stefan, dengan cara menarik leher Stefan dengan selendang itu dalam tarikan sekuat tenaga. Sampai Stefan sesak napas. Dan Stefan sudah kehilangan keseimbangan pada mobilnya.


"Aaaaaaa....."teriak keduanya sebelum pada akhirnya mengalami kecelakaan yang cukup parah.


Dengan menembus kecepatan penuh mobil Stefan melaju tak beraturan dan sudah hilang kendali, sehingga menabrak pembatas jalan dan menembus sisi kiri body mobil. Sehingga menimbulkan kecelakaan tunggal.

__ADS_1


Mobil yang di miliki Stefan seketika ringsek, dan terguling. Kepala Stefan tersentak kedepan, sehingga mengucurkan darah akibat beturan keras pada stir kemudi, dan kini Stefan tak sadarkan diri. Sementara, tubuh Nabila langsung terpental keluar dan terjelembab pada aspal dan langsung mengucurkan darah dari dalam mulutnya, karena pintu mobil yang secara otomatis terbuka membuatnya terpental cukup jauh, dan mengalami benturan keras.


__ADS_2