Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Seringai jahat,"


__ADS_3

Dengan kondisi parah yang dialami Nabila ia terbaring di brankar rumah sakit di ruangan ICU, dengan keadaan masih dalam tahap pemulihan. Sementara, Stefan sudah cukup pulih mengingat lukanya tidak terlalu parah ia hanya pingsan akibat sock dengan kecelakaan yang baru saja dialaminya. Dengan di jemput paksa oleh dua kepolisian, setelah membaik dalam kurung waktu tiga hari perawaatan Stefan akhirnya digiring untuk dijebloskan pada jeruji besi. Kedua tangannya di borgol, kanan kiri dan di depannya juga ada polisi. Gigi Stefan tampak bergemeletuk benci, sorotan mata tajam penuh dengan amarah, derap langkah memenuhi kolidor rumah sakit dengan begitu nyaring ketika dalam sepi.


Ketika emosinya bergejolak maka tanpa berpikir panjang, Stefan langsung menghentakan kedua sikut lengan dengan kekuatan penuh, untuk melayangkan pukulan keras pada punggung polisi yang berjalan di depan, dan polisi itu langsung tersungkur. Dan pada detik itu pula, dengan cepat sebelum kedua polisi yang lainnya menangkapnya. Stefan langsung menerjang kedua polisi itu dengan terjangan kakinya yang mengarah kesamping dalam masing-masing sekali hentakan. Sehingga kedua polisi itu terjatuh akibat tendangan yang di layangkan Stefan. Tanpa berpikir panjang maka Stefan langsung melarikan diri menyusuri kolidor dengan kedua tangan yang masih di borgol.


Dengan menyusuri setiap ruangan yang ternyata tidak ada tanda-tanda sosok Nabila. Seolah Stefan tak ingin menyerah sedikitpun yang ingin membawa kabur Nabila dan ingin membunuh Nabila dengan tanggannya sendiri, jika ia sama sekali tak bisa mendapatkan Nabila seutuhnya. Dan disela napasnya yang terengah, Stefan masih mengawasi situasi untuk berjaga-jaga dan memastikan bahwa ketiga polisi itu tak dapat menemukannya.


Stefan mencoba mencari jalan pintas tanpa naik lift dengan menyusuri anak tangga yang panjang. Keringat mulai bercucuran, dan melihat kedua tangannya masih terbelenggu membuatnya semakin marah. Maka ia berusaha untuk berpikir keras, bagaimana borgol itu terlepas dari tanggannya.


Maka, Stefan mencoba mencari sesuatu. Kemudian ia berhasil menemukan sebuah kawat melengkung yang tergeletak di area anak tangga, lalu ia pun merunduk meraihnya. Tak tinggal diam, ia pun langsung mencoba untuk membuat kunci buatan.


Stefan mencoba memasukan ujung kawat yang sudah di luruskan itu kedalam lubang kunci yang sudah di temukan pada lubang kunci borgol. Kemudian ia membengkokan kawat itu sampai 70 derajat.


Dan sekarang ia bengkokkan kawat ke arah lainnya. Memasukan kawat kembali ke dalam lubang kunci dan membengkokkan ujungnya lagi. Bentuk yang akan dihasilkan adalah sudut seperti lingkaran kecil.


Memasukkan kunci ke dalam lubang. Dan mencoba memukan lubang kembali dengan mengoyang-goyangkan bagian kawat yang bengkok ke dalam lubang sehingga menghadap lengan yang terkunci. Kunci harus berada pada sudut 90 derajat dari lubang kunci. 


Kemudian memutar kunci dan membuka borgol. Seperti halnya membuka dengan kunci biasa, Stefan memutar kawat tersebut. Kawat akan mengangkat alat pengunci di dalam borgol dan membukanya.

__ADS_1


Stefan mungkin harus berlatih memutar kunci ke kedua arah sebelum dapat membukanya, dan di butuhkan kesabaran ekstra meskipun ia harus menggerutu dan beberapa umpatan keluar dari mulutnya.


Tak ingin membuang waktu terlalu banyak, setelah borgol itu terlepas dari tangannya maka, Stefan langsung berlari sambil membuang borgol itu kesembarang arah.


Setelah sampai berada di lantai atas, dengan napas tak beraturan serta keringat yang mengucur. Stefan melihat ruangan ICU dan mencoba mengintip di jendela kaca pintu. Matanya langsung berbinar cemerlang lalu tersenyum miring.


Ceklek...


Membuka gagang pintu ruangan dan langsung terbuka dengan penampakan sosok Nabila yang berbaring tak berdaya. Seringai jahatnya muncul, lalu perlahan melangkah mendekati brankar Nabila. Detik itu Stefan langsung mencekik leher Nabila yang tentu saja membuat Nabila tersentak terbangun dari tidurnya dengan mata melotot dan mulai kehilangan napas.


"Stop and raise your hand![Berhenti dan angkat tanganmu!]"ketiga polisi datang dengan menodongkan senjata api sebagai peringatan keras untuk Stefan.


"I will not stop, I will kill Nabila and you guys can kill me too. I want to go with my girl together, so that no man will have Nabila. He's completely mine.[Aku tidak akan berhenti, aku akan membunuh Nabila dan kalian juga bisa membunuhku. aku ingin pergi dengan gadis ku bersama-sama, sehingga tidak ada laki-laki akan memiliki Nabila. Dia milikku sepenuhnya.]"teriak Stefan lalu tertawa terbahak-bahak, kemudian semakin mencekik kuat leher Nabila.


Tidak ingin kehilangan hal yang sia-sia, maka satu polisi meminta izin kepada kedua temannya dengan memberikan kode untuk menyetujui penembakan menggunakan senjata api, berhubung sang pelaku tak menggubris dan membahayakan orang lain saat diberi peringatan. Maka, perizinan itu pun di setujui dengan anggukan kepala.


Tanpa mengulur waktu, peluru itupun di muntahkan dari pelatuk senjata dan langsung mengenai betis Stefan dengan tepat. Secara perlahan cekikan itupun langsung terlepas dari leher Nabila, bersamaan dengan tubuhnya yang lunglai pada ubin karena tembakan di kakinya tak dapat menahan keseimbangannya lagi.

__ADS_1


"You guys cheated to do this to me.[Kalian curang untuk melakukan ini padaku.]"Stefan tertawa marah.


"Briptu Ikhsan dan Briptu Afgan tolong tangkap pelaku!"perintah Bripka Ali.


"Siap!"maka dua Briptu itupun langsung membawa Stefan dengan cara dipapah, dan terpincang-pincang.


"Let go, please let go. Do not touch me![Lepaskan, tolong lepaskan. Jangan sentuh aku!]"brontak Stefan namun tak digubris pihak kepolisian.


Setelah melakukan panggilan telephone oleh Bripka pada pihak rumah sakit, maka satu perawat serta satu dokter langsung datang keruangan ICU dengan terburu-buru.


"Dok, tolong cek kondisi pasien. Sementara kami pamit untuk memberikan perawatan pada sang pelaku."ujar Bripka Ali sementara dua Briptu telah membawa Stefan terlebih dahulu pergi dari ruangan.


"Baik, Pak!"sahut sang dokter yang langsung memeriksakan keadaan Nabila yang terlihat begitu pucat akibat kejadian yang mengejutkannya itu.


"Sus, sebaiknya tolong hubungi keluarga pasien sekarang juga!"pinta sang dokter.


"Baik, dok."angguk sang suster mengerti.

__ADS_1


__ADS_2