Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Aku ke kamar mu,"


__ADS_3



Lia langsung menghela napas kesal, setelah bangkit dari ranjang kemudian membanting ponselnya ke atas kasur. Tangan berkacak pinggang, gigi bergemeletuk, maka dengan satu hentakan kakinya melangkah menuju pintu. Dan ia bersiap-siap ingin mencekik Andres yang telah membuat mood nya berantakan seperti ini.


Ceklek.


Dengan cepat Lia membuka pintu kamarnya, secepat itu pula Andres yang sudah berada di hadapan Lia langsung menyerobot masuk begitu saja, membuat Lia terkesiap, apalagi Andres langsung menutup pintu kamarnya dengan rapat, kemudian menyentuh kedua bahu miliknya, Lia berusaha menenangkan degup di dadanya dengan penuh antisipasi.


"Lepas!"Lia langsung menepis tangan Andres di bahunya, dengan ekspresi yang tampak masih snagat kesal pada Andres.


Andres terlihat menghela napas."Apa benar kau sedang datang bulan?"


Lia langsung tersenyum sinis."Aku baru selesai datang bulan dua minggu yang lalu, dan kemarahanku ini bukan karena datang bulan!"Lia berseru dengan kedua tangan bersilang di dada, serta sorot matanya yang tajam.


"Tapi, karena cemburu?"sambung Andres cepat, seraya tersenyum bandel.


"Cemburu? cemburu pada siapa?"sewot Lia langsung memalingkan wajahnya, agar Andres tak bisa menatapnya dengan tatapan jahil yang bisa saja mengguncangnya saat ini.


"Nabila,"sahut Andres membuat wajah Lia kembali menatapnya dengan kening alis bertaut bingung.


"Aku tidak kenal,"


Lia berusaha kabur dari tatapan Andres yang begitu intens dengan cara bergegas akan keluar dari dalam kamar, namun seketika Lia merasakan pergelangan tangannya di raih oleh Andres dengan sekali hentakan, sehingga kepalanya tersungkur di dada bidang milik Andres, serta tubuhnya yang menempel dengan tubuh jangkung miliknya.


Untuk pertama kalinya Lia mendengar, mendengar detakan jantung milik Andres dengan sangat dekat. Sedetik itu kepala Lia terangkat dan sepasang mata nya melihat sosok tampan itu, hidungnya yang bangir, kedua alis yang hitam pekat, serta bibir tebal penuh ketegasan, terlihat nyaris begitu sempurna.


Andres tersenyum kecil tapi terlihat begitu sangat tulus. Binar matanya begitu cemerlang, tapi tak memungkiri makna yang indah disana."Li, aku minta maaf karena seharian itu aku tak membalas chat darimu, tapi apa kau tahu? bahwa seharian itu kau selalu ada di kepalaku, aku selalu ingat bayang-bayangmu. Dan bahkan aku sangat begitu merindukanmu, padahal seharusnya aku merindukan orang lain yang sudah lama tak bertemu denganku. Apakah itu tak terdengar sangat aneh, Li?"ucap Andres dengan lirih, membuat tenggorokan Lia serasa kering dan bersusah payah untuk menelan air liur yang sama sekali tak ia dapatkan.


"A-apa?"


"Jika kau tak merindukan aku juga, untuk apa kau marah seperti ini 'kan?"Andres menangkup kedua pipi Lia dengan sangat lembut, Lia hanya diam sebelum akhirnya ia bicara.


"Tapi, aku tidak merindukanmu, kita sering bertemu."kilah Lia pelan.


"Berbohong pada orang lain akan terlihat mudah, tapi berbohong pada diri sendiri itu jauh lebih sulit."desis Andres membuat Lia menggigit bibirnya dalam, dan entah mengapa kata-kata Andres barusan begitu tepat kena di ulu atinya. Itu artinya, Lia sadar bahwa ia sedang berbohong pada dirinya sendiri.


"Andres,"panggil Lia dengan suara serak.


"Hm?"Andres mengangkat satu alisnya, membuat Lia merasa bersalah pada Andres.


"Aku terlalu kekanak-kanakan, ya? aku minta maaf, karena hal sepele seperti ini aku malah mengabaikanmu."ucap Lia serius.


Bukannya merespon serius tapi Andres malah terus menatapnya geli. Padahal saat ini, Lia terlihat sedang tidak bercanda.


"Terus?"


Lia menghela napas panjangnya, menggigit bibir bawahnya lalu mulai berbicara lagi."Mau mema'afkan aku 'kan?"tanya Lia dengan mata yang terlihat begitu menggemaskan.


Andres tertawa kecil,"Sepertinya tidak,"geleng Andres setelah menjauhkan tubuhnya dari Lia, kemudian berjalan menuju ranjang milik Lia lalu duduk di bibir kasur.


Lia berdecak sambil menghampiri Andres, berdiri di hadapan Andres dengan ekspresi seperti keluhan."Tapi kenapa?"

__ADS_1


"Pingin saja,"sahut Andres singkat.


"Pingin apanya?"


"Pingin merasakan bagaimana aku marah padamu, lalu kau akan membujuku."Andres tertawa membuat Lia memutar bola mata.


"Berarti kau juga sama sepertiku,"


"Sama?"ulang Andres tak mengerti.


"Sama-sama seperti anak kecil,"sambung Lia cepat, lalu memunggungi Andres dengan kedua tangan bersilang di dada, karena Andres tak menanggapi permintaan maafnya.


Andres tersenyum, kemudian ia bangkit. Dan Lia merasakannya, merasakan kedua tangan Andres melingkar di perutnya membuat Lia terkejut karenanya. Serentak Lia berbalik badan dan mendorong Andres ke atas kasur, dan secara bersamaan pada detik itu juga Andres menarik pergelangan tangan Lia secara spontanitas, sehingga keduanya sama-sama terhempas ke atas kasur dengan posisi tubuh Lia yang menaungi tubuh Andres yang berada di bawahnya.


Mata Lia terbelalak, menelan pelan air liurnya perlahan dan saat ia berusaha untuk bergerak, Lia merasakan tangan Andres begitu kuat melingkar di pinggangnya, sehingga ia kesulitan untuk bergerak.


"A-Andres kau mau apa?"tanya Lia terdesak bercampur dengan rasa panik yang bercampur menjadi satu.


"Menurutmu aku mau apa?"Andres berbalik bertanya dengan seringai jahil yang berhasil membuat debaran jantung Lia semakin menggila."Dikamar ini hanya ada kita berdua,"ucapnya yang membuat Lia mulai untuk ber-antisipasi.


"A-apa?"tanya Lia bingung, sementara Andres tersenyum miring, mengerikan sekali.


Sedetik itu badan Lia terhempas pada kasur yang begitu empuk, dengan posisi sudah berubah bak kilat, setelah tubuhnya di gulingkan lalu di tindih oleh tubuh Andres. Membuat sepasang Lia melotot dengan begitu lebar, bercampur dengan ketakutan yang kini merayap membuat sekujur tubuhnya meremang.


"Andres, kau mau apa?"tanya Lia lagi dengan wajah yang berubah pias.


"Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu,"ungkap Andres membuat Lia tercenung.


"Apa?"Lia terperangah.


"Andres,"


"Apa kau percaya bahwa cinta akan berjalan seiring waktu?"tanya Andres, namun Lia masih diam seakan tak mampu berkata-kata. Andres tersenyum lalu melanjutkan percakapannya lagi."Aku tak percaya bahwa aku menyukai pacar adikku sendiri. Apakah aku pantas untukmu, Li? pantas mendapatkanmu, pantas mendapatkan cintamu, dan pantas untuk menjadi sosok yang berarti di hidupmu, apakah aku terlihat pantas, Li?"ungkap Andres setegas mungkin, bercampur dengan rasa haru karena ia bisa berterus terang dengan perasaannya sendiri.


Namun, Lia masih saja tak beregeming. Ia masih terlihat bingung apakah ini hanya mimpi ataukah sebuah lelucon? dan apakah ia harus mempercayai semua apa yang ia dengar, ataukah harus memilih untuk menutup telinga dan berusaha untuk menepis?


"Jangan konyol Andres,"Lia tertawa hambar.


"Tapi aku serius,"sahut Andres dengan kalimat penuh penekanan, Lia menatap mata Andres lamat-lamat berusaha mencari jawaban. Namun, sekali lagi yang ia temukan dari Andres adalah kejujuran.


"A-aku,"


"Masih adakah sisa rasa yang bisa kau bagi untuk ku, Li? ataukah, rasa itu seutuhnya hanya milik Andra?"tanya Andres dengan binar mata sendu, membuat Lia merasa dalam kebimbangan.


Tanpa sadar air mata itu jatuh membasahi pelupuk pipi Lia secara perlahan."Tapi,"hanya kata itu yang bisa meluncur dari bibirnya, dan tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya lagi.


"Kau belum bisa?"tanya Andres dengan tatapan mata terlihat putus asa.


"Aku hanya butuh waktu,"dengan susah payah Lia menjawab, Andres memalingkan wajah disertai tawa hambar saat itu juga.


"Beri aku kesempatan,"Andres kembali menatap Lia dengan tatapan memohon, lalu menghapus air mata Lia yang kembali berlinang. Bagi Lia ini adalah keputusan yang sulit, terlebih ia masih belum memiliki rasa pada Andres.


"Aku takut jika aku menyakitimu Andres, hanya karena aku belum bisa menggantikan posisi Andra di hatiku."akhirnya Lia memberanikan diri untuk berterus terang. Meskipun kejujuran yang ia ucapkan mungkin akan menyakiti perasaan Andres saat ini.

__ADS_1


"Aku yang jamin dengan apa yang aku rasakan, Li."ucap Andres dengan lirih.


"Aku tak ingin meresikokan seseorang untuk terluka,"Lia menggeleng samar dengan menatap wajah Andres lamat-lamat.


Cup!


Sedetik itu, Lia merasakan sentuhan bibir Andres menyatu dengan bibirnya. Bibir kenyal dan basah memagut bibir Lia dari atas sampai bawah, Lia melihat bagaimana mata Andres terpejam, wajah tampan yang menaungi sementara bibirnya masih sibuk menjelajah. Ciuman itu terasa seperti tergerak dengan perasaan yang teramat lembut, bukan semata-mata dengan rasa nafsu yang menyerang.


Lia masih belum bisa membalas ciuman itu, hanya air mata yang terus berlinang membasahi sudut matanya. Bahkan ketika ia mengingat wajah Andra saat tersenyum menawan, membuatnya merasakan hal yang aneh. Merasakan bahwa bayang-bayang wajah Andra tiba-tiba menghilang, dan seperti membuat hatinya merasa lega.


"Mungkin dulu aku mencintai Andra, dia first love dan first kiss yang sulit aku lupakan. Tapi, jika ada seseorang yang berhasil meyakinkan aku dan mengetuk hatiku, apakah aku boleh membuka hatiku untuk seseorang itu? apakah aku harus memberikan kesempatan itu pada Andres?"batin Lia berkata, dan dengan perlahan matanya seketika terpejam.


Sedetik itu tangan Lia bergerak pelan menyusuri dada milik Andres, menyentuh lehernya dan pindah pada rahangnya yang tegas.


Lia membalas ciuman itu selembut mungkin, memagut dan berhasil membuat Andres mengerang. Seketika bibir Andres melepas bibir Lia membuat Lia merasa kehilangan, dan Lia sadar ia masih belum mengerti apa yang ia rasakan. Kening mereka berdua menyatu dengan napas yang sama-sama tersenggal.


"Li?"


"Ya?"


"Aku minta maaf, karena berani mencium bibir mu sembarangan."ucapnya dengan suara parau, membuat napas Lia memberat setelah mendengarnya. Lalu, Lia pun melepaskan tangannya dari rahang milik Andres secara perlahan.


Kemudian Andres segera menjauh, membanting dirinya sendiri pada kasur, napasnya masih terdengar tersenggal, saat Lia menoleh kearahnya ia mendapati sosok Andres yang sedang memejamkan mata, dengan kepalan tangan berada di atas keningnya, seperti menyesali sesuatu dan merutuki diri.


Lia memang merasakan tubuhnya sedikit agak kepanasan saat adegan ciuman itu, akan tetapi mungkin Andres jauh lebih tersiksa karena kesulitan menahan suatu desakan dalam dirinya, atau mungkin orang-orang menyebutnya dengan kata gairah.


"Kau menyesal menciumku?"Lia masih menoleh kearah Andres, mendengar pertanyaan Lia yang seperti itu seketika membuat mata Andres terbuka, lalu menoleh kearah Lia.


"Apa?"


"Aku tidak marah karena kau menciumku,"ucap Lia lalu tersenyum.


Andres terpaku, matanya beralih menatap langit-langit kamar seolah ia masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Li,"Andres kembali menoleh pada Lia dengan tatapan yang masih terlihat bingung.


"Kau tahu artinya apa?"sambung Lia sembari menatap langit-langit kamar, lalu menatap Andres lagi.


Andres menggeleng."Apa artinya?"


"Artinya aku memberimu kesempatan,"kata Lia membuat tatapan Andres seketika berubah dengan binar cemerlang, lalu menyampingkan tubuhnya dengan tangan yang masih menumpu kepalanya, agar ia bisa melihat Lia dengan leluasa.


"Kau serius?"tanya Andres belum sepenuhnya yakin.


Lia mengangguk kuat."Aku serius."Lia merubah posisinya sama seperti Andres dengan menyampingkan tubuhnya.


"Kau menerimaku?"


Lia mengangguk lagi."Aku menerima mu,"


Andres tersenyum lebar, tanda ada rasa haru bercampur rasa bahagia disana."Terimakasih, Li. Aku senang sekali,"Andres tertawa serta langsung mengelus pipi Lia dengan rasa sayang, dan Lia membalas senyuman itu.


__ADS_1



__ADS_2