Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Semmy"


__ADS_3

Hujan menyambut ketika Lia dan Sifa baru saja pulang dari rumah Andra, tentu saja menurut ramalan cuaca menjelang sore, cuaca akan mendadak berubah. Scoppy milik Sifa diarahkan ketepi jalan dan memutuskan untuk berteduh di halte bus. Dengan cepat mereka berlari sampai pakaian merekapun basah kuyup karena air hujan yang cukup deras mengguyur tubuh mereka.


"Belum sampai rumah tiba-tiba hujan turun,"keluh Lia saat berteduh.


"Kau tidak pernah melihat BMKG di ponselmu?"Sifa tertawa tak habis pikir bagaimana manjanya sosok Lia dengan beberapa kali merengek karena kedinginan.


"Sama sekali tak pernah mengecek,"geleng Lia sembari mengedikan bahu acuh, Sifa hanya tertawa.


*****


Disuasana lain Semmy terlihat tengah berada disuatu tempat, tempat asing yang terlihat kumuh dan tak terurus bahkan terlihat sangat begitu mengerikan, bak dalam sebuah film horror.


Lebar lorong itu di perkirakan sekitar tiga meter persegi, tinggi ruangan itu bahkan tidak terlalu tinggi karena jarak antara kepala keatap pun terlihat sangat dekat.


Tak...tak..tak...


Derap langkahnya menginjak ubin yang berdebu dan sangat kotor, suaranya menggema karena ruangan yang sunyi.


Dingding tembok berwarna hitam dan terdapat jaring laba-laba yang menyulam. Tidak lama kemudian ia sampai tepat di depan pintu yang tertutup. Menekan beberapa angka yang menjadi kode akses untuk bisa masuk kedalam, pada akhirnya pintu itu terbuka lebar dengan sendirinya tanpa sebuah gagang pintu. Saat pintu itu terbuka terdengar suara decitan meja yang bergesekan dengan ubin, namun suara decitan itu seperti suara backsong film horror, membuat sipapun yang mendengar pasti akan berigidig ngeri.


Semmy tertawa menyeramkan setelah masuk kedalam ruangan itu, ia menarik saklar lampu yang menggantung dan lampu itupun menyala. Dan menampakan wujud seorang perempuan berseragam sekolah Bumi Pertiwi yang digantung menggunakan rantai besar yang menjuntai.

__ADS_1


Dari atas rambut sampai ujung kaki terdapat noda-noda darah beserta beberapa darah segar yang masih menetes keluar, karena sepertinya siswi itu baru saja di eksekusi beberapa jam lalu. Apakah Semmy sudah tak waras? membunuh sisiwi itu? apa permasalahannya sehingga dengan tanpa rasa manusiawi ia melakukan tindakan yang keluar dari norma-norma yang berlaku.


Disudut ruangan terdapat alat pukul seperti palu kecil sampai palu besar, dan pekakas benda tumpul lainnya, serta golok dan gergaji.


Semmy terkekeh sinis lalu ia kembali melangkah, mengambil linggis dan mencoba menegakan kepala sisiwi itu yang layu, terlihat jelas bagaimana wajah siswi itu yang hancur bahkan wajahnya sudah tak bisa di kenali.



Jemarinya masih dapat bergerak meskipun hanya beberapa kali dan sepertinya siswi itu tengah sekarat, namun beberapa detik kemudian tak ada lagi tanda-tanda kehidupan dari siswi itu. Semmy hanya tersenyum sinis melihatnya, kemudian tertawa iblis.


*****


Sesaat Lia terbayang-bayang sosok Andra si pemilik kelopak mata yang indah serta bola matanya yang kecoklatan. Bagaimana caranya agar ia bisa minta maaf dan bertemu dengan Andra? jujur dari lubuk hati yang paling dalam Lia menyesali apa yang ia ucapakan padanya dan membuat Andra menghilang. Jika waktu bisa diputar kembali, rasanya ia ingin menarik kata-katanya itu. Namun, semuanya sudah terlambat, tak berguna juga untuk disesali.


"Bagaimana dengan sekolah barumu?"itu suara Bayu kakak kandung Lia, yang kini duduk berhadapan dengannya.


"Kakak? astaga, mengagetkanku saja."Lia terkesiap lalu tersenyum kikuk.


"Kau sedang melamun? melamunkan seorang pacar?"goda Bayu dengan sepasang matanya yang menyipit, membuat Lia meringis.


"Aku tak punya pacar,"bantahnya.

__ADS_1


"Seharusnya kau harus segera punya pacar, agar hidupmu sedikit berwarna. Setidaknya bisa membuatmu tertawa."usul Bayu bernada sindiran, namun Lia hanya menanggapinya dengan mengedikan bahu acuh.


"Aku tak membutuhkan itu,"ucap Lia setelah meneguk cokelat panas miliknya.


"Aish, seharusnya aku curiga dengan orientasi seksualmu yang patut dipertanyakan."ucap Bayu berulah, yang membuat bola mata Lia langsung berputar.


"Memangnya aku kenapa?"sinis Lia.


"Curiga karena kau tak suka seorang pria,"kekehnya.


"Pemikiran yang sangat sempit, jelas aku masih normal. Hanya saja aku belum menemukan seseorang yang bisa membuat hatiku berbunga-bunga seperti di taman. Haha.. mungkin itu butuh waktu, karena aku sulit jatuh cinta, aku tak ingin buang-buang waktu ku serta tenaga ku untuk pacaran, aku nyaman dengan statusku yang sekarang. Lalu, why not untuk tetap seperti ini saja."jelas Lia berucap dengan santai.


"Baiklah, kakak akan menunggumu sampai punya pacar, jika sudah punya pacar tolong beritahu aku, agar aku bisa berkenalan dengannya. Gadis secantik dirimu, mana mungkin tak ada yang naksir, mustahil. Mungkin kau terlalu pemilih, right?"Bayu mengangkat satu alisnya dengan binar mata berkilat jahil.


"Kau selalu saja menggodaku, bahkan kau selalu saja ingin tahu urusan orang lain. Sudah aku tekankan aku hanya butuh waktu, dan tak ingin terburu-buru untuk berpacaran. Jalanku masih panjang, lalu untuk apa khawatir? seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu, nanti malah keduluan nikah sama teman kakak, Mas Gibran."ledek Lia seraya terkikik.


"Aish, rupanya kau tahu caranya membuatku ingin mengakhiri pembicaraan, anak cerdas."Bayu beranjak setelah ia mencubit hidung bangir milik Lia, Lia hanya tertawa terpingkal-pingkal karena berhasil meledek sang kakak yang sangat menggemaskan.


"Menikahlah, supaya aku bisa menjadi pagar ayu di pernikahanmu,"sambung Lia yang masih meledek kakaknya disela tawanya.


Namun Bayu hanya menanggapinya dengan mengibaskan tangannya ke udara, tanda ia mengabaikan dan tanpa menoleh sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2