
Tak..tak..tak..
Derap langkah memecah keheningan dalam pekatnya kegelapan tanpa cahaya, membuat Nabila semakin mengeratkan pelukan di tubuh Bayu yang masih berada di bahwahnya.
"Bay, itu suara apa?"tanya Nabila serupa bisikan nada penuh ketakutan.
"A-aku tidak tahu,"jawab Bayu gemetar akan sesuatu, bukan karena ketakutan. Melainkan karena tubuh Nabila yang masih berada diatasnya membuat percikan dahsyat itu kembali hadir.
Bayu merasakannya, merasakan Nabila menyurukkan wajahnya dileher karena kengeriaannya. Membuat Bayu lagi-lagi mengerang karena tak tahan dengan segala momen yang membuat gairah itu kembali bangkit tanpa jeda.
"Nabila, jangan seperti ini."pinta Bayu dengan suara rendah seperti tersiksa akan sesuatu.
"Tapi aku takut, aku takut kegelapan."sahut Nabila yang malah semakin mengeratkan pelukan.
Mungkin Nabila benar-benar tak mengerti bagaimana tersiksanya Bayu saat ini. Apakah Nabila tak merasakan sesuatu di bawah sana yang tengah berdiri tegak?
"Tapi aku lebih takut lagi, jika aku memangsamu."ucap Bayu tegas, yang membuat Nabila seketika mengangkat kepalanya. Jika ada cahaya, mungkin Nabila bisa melihat bagaimana ekspresi Bayu saat ini yang terlihat begitu sangat tertekan.
"Magsudmu apa?"tanya Nabila dengan penuh antisipasi.
"Aku terpengaruh olehmu,"jawab Bayu terang-terangan.
"Terpengaruh?"ulang Nabila dengan suara serak, serta kening mengkerut berusaha untuk mengerti sesuatu.
"Aku, ach..."Bayu tak sanggup lagi berbicara, dan malah mengerang prustasi.
"Ekhm... sedang apa kalian?"tiba-tiba terdengar suara berat namun terdengar lantang diantara keheningan.
Bayu dan Nabila langsung merasa silau karena senter ponsel yang menyenteri wajah mereka berdua, refleks keduanya langsung terkesiap melihat sosok Andres dan Lia kini sedang berdiri di hadapan mereka dengan tatapan mata penuh curiga. Membuat Nabila dengan cepat bergerak bangkit dari posisi sebelumnya, dan menatap Andres dan Lia dengan rasa malu yang menyelimuti, begitupun dengan Bayu yang ikut bangkit disertai wajah tegang yang begitu mengguncang.
"Ini tidak seperti apa yang kalian pikirkan, kami tidak melakukan apapun,"bantah Bayu berusaha setenang mungkin.
__ADS_1
Lia dan Andres saling melirik satu sama lain, seolah sedang melakukan komunikasi dengan kontak mata. Namun, Lia hanya mengedikan bahu singkat, seolah ia tak mengerti apapun. Dan Andres terdengar terkekeh setelah mendengar Bayu berbicara.
"Dalam ruangan gelap seperti ini dengan posisi kalian berdua yang terlihat begitu intim, apakah kami akan mempercayai bantahan itu? pantas saja kami datang kalian tidak sadar,"tanya Andres berusaha bertingkah usil.
"Andres, tadi itu kecelakaan kecil."Nabila langsung menyerobot untuk mengambil alih pembicaraan, sebelum Bayu mengangkat suara.
"Aish, apakah kalian akan melakukan make love di bawah meja? kenapa tidak di dalam kamar saja, lebih nyaman right?"usil Andres lagi dengan tatapan menggoda, membuat Lia yang melihat wajah-wajah tegang mereka hanya bisa mengulum senyum, karena mereka berdua tampak begitu menggemaskan.
"Andres, stop! kami tidak melakukan apapun,"rajuk Nabila yang sudah kehilangan cara bagaimana untuk membantah pernyataan itu. Tampaknya ia masih belum bisa men-stabilkan keadaan.
"Lia, kau adalah adikku. Kau percaya aku 'kan? bahwa kakak mu ini tidak mungkin berbuat bejad pada seorang perempuan?"kali ini Bayu berbicara dengan tegas sembari meraih kedua bahu milik Lia dengan sorotan mata gelisah.
Mendengar kalimat itu, Lia benar-benar tak bisa lagi menahan tawa. Maka, tawa Lia pun pecah seketika, begitupula dengan Andres yang ikut tertawa ngakak karena melihat dua orang yang ada di hadapannya begitu sangat tegang.
"Brengsek, rupanya kalian... aish, hampir saja aku akan terkena serangan jantung. Mengapa kalian menggoda kami seperti ini, sih?"Bayu mengumpat dengan nada protes, sementara Lia dan Andres masih saja tertawa.
"Stop! semua ini bukan lelucon!"sambung Nabila cepat sambil berkacak pinggang.
"Tenanglah, kami hanya bercanda. Tidak mungkin juga 'kan kalian bercinta di bawah meja pantry?"kata Andres berbicara di antara tawa yang tersisa.
"Ya, kalian kan tidak ada hubungan yang special jadi kami tidak curiga sama sekali."kata Andres seraya menaik turunkan kedua alisnya dengan binar mata jahil.
"Baguslah, jadi kau tidak perlu mengatakan bahwa kami akan bercinta di bawah meja, sialan."seloroh Bayu seraya mendengus sebal, sementara Andres hanya terkekeh.
"Oke, guys. Sepertinya kita harus mengecek meteran listrik. Tadi, aku melihat rumah tetangga lampunya hidup semua."saran Lia setelah berusaha keras menghentikan tawa.
"Baiklah, biarkan aku dan Andres saja yang mengecek. Dab kalian berdua tunggu disini!"kata Bayu pada Lia dan Nabila. Kemudian Bayu dan Andres pun beranjak pergi untuk mengecek meteran listrik di depan rumah. Sementara Lia dan Nabila duduk di kursi pentry.
"Kak Nabila, maaf ya kami tadi iseng,"Lia membuka percakapan sambil tertawa kecil, sementara Nabila mengangguk.
"Tidak apa-apa. Hanya saja aku takut kau dan Andres tidak percaya. Tadi itu, kejadiannya berlangsung cepat, aku takut kegelapan. Mendadak lampunya mati dan terjadilah kecelakaan kecil seperti tadi,"cerita Nabila sambil menghela napas panjang.
__ADS_1
Lia mengangguk paham."Ya, aku mengerti."Lia terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya berbicara lagi. "Sepertinya kak Bayu menyukai kak Nabila."
Deg!
Seketika Nabila langsung terperangah, dari cahaya ponsel yang menyinari rupanya Lia bisa melihat bagaimana perubahan ekspresi Nabila yang terlihat begitu terkejut setelah ia berucap demikian. Kemudian detik berikutnya Nabila mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Apa?"ulangnya pelan, seolah belum bisa mencerna apa yang Lia katakan barusan.
"Aku tahu bagaimana kakak ku jika sedang menyukai seseorang,"lanjut Lia seraya tersenyum kecil.
"Li, aku benar-benar tak mengerti apa magsudmu,"
"Aku pernah mendengar kakak ku bermimpi dan menyembut nama kak Nabila."ucap Lia yang membuat Nabila tersenyum kikuk.
"Mungkin itu hanya kebetulan, Li."tepis Nabila berusaha santai.
"Setahun belakangan ini setelah kak Bayu putus dengan mantannya, dia tidak pernah lagi memikirkan perempuan manapun. Tapi, semenjak bertemu kak Nabila, kak Bayu sering melamun sambil senyum-senyum sendiri. Bahkan, saat kak Bayu menunggu kak Nabila saat dirawat inap, kak Bayu begitu perhatian pada kak Nabila. Mendadak kak Nabila menjadi prioritasnya setiap saat, bahkan sampai mengabaikan aku."ujar Lia sambil tertawa kecik, membuat Nabila mendadak salah tingkah setelah mendengarnya.
"Ya, Bayu memang begitu perhatian padaku. Mungkin itu semua yang ia lakukan karena kami teman,"kata Nabila berusaha menekan rasa geer nya yang bercampur aduk dengan rasa canggung.
"Tidak ada teman seperhatian itu, apa lagi setelah berkenalan kurang lebih beberapa jam yang lalu semenjak pertemuan di pesta, kecuali jika tumbuhnya perasaan maka perhatian itu pasti akan terjadi. Sama hal nya aku dan Andres."ujar Lia lalu melebarkan senyuman.
Nabila terdiam untuk sesaat, berusaha untuk mencerna apa yang ia dengar. Dan, ia pun mulai merasakannya. Merasakan detakan jantung yang berpacu seiring dengan lampu yang kini telah menyala terang menderang, diiringi dengan munculnya sosok Bayu yang tengah berjalan. Pandangan mereka bertemu, rasa canggung mendera dan rasanya sangat begitu aneh.
Nabila menyadari bahwa sosok Bayu benar-benar menawan. Dengan tampilan seadanya tapi tidak mengurangi kadar ketampanannya yang malah bertambah berlipat-lipat, di tambah lagi sosok badannya yang tinggi tegap, dan sangat gagah saat di pandang.
"Bayu, apa itu benar, apa benar bahwa kau menyukaiku?"batin Nabila berkata dengan pandangan yang sama sekali tak teralihkan dari sosoknya.
__ADS_1