
Lia berjalan seorang diri setelah bel sekolah berdentang. suasana sekolah sudah sepi, Lia sedang menunggu Bayu untuk menjemputnya di depan gerbang. kata Bayu ia akan menjempuntnya, karena ia khawatir dengan kondisi Lia. dan tak ingin Lia kembali pingsan seperti saat itu.
Lia melirik ke area pos satpam yang kosong, kemana satpam itu? Lia mengedikan bahu acuh. dan memilih untuk tetap menunggu, dengam berkali-kali melihat arloji di tangannya. pukul setengah tiga, hari sudah hampir petang.
Lia menghela napas panjang, ia paling malas sebenarnya untuk menunggu. suara ban motor berdecit, dan langsung menepi. betapa terkejutnya setelah Lia melihat sosoknya. wajah itu, wajah yang pernah ia temui. jadi ini benar sungguhan?
"Hai,"sapanya sungkan, yang membuat Lia terdiam untuk beberapa saat.
"Hai juga...kau?"sahut Lia sedikit ragu dan untuk sejenak larut dalam pikirannya.
Lelaki itu turun dari motor CBR nya, kemudian berhadapan dengan Lia. disertai senyuman yang tersungging.
"Andres,"lelaki itu mengulurkan tangan kearah Lia untuk berkenalan, Lia mengerejapkan matanya berkali-kali sebelum pada akhirnya ia menyambut uluran tangannya itu.
"Lia,"seulas senyuman, Lia tunjukan. hanya sekedar untuk menghargainya.
tiada henti Lia menelusuri wajahnya yang begitu mirip dengan Andra. tak ada seinci pun yang ia lewatkan. bahkan kini jantungnya berdebar-debar, jika ia Andra. dengan sangat pasti Lia akan memeluknya dan takan melepaskannya.
"K-kau yang ada di kafe kemarin?"Lia membuka suara lagi dengan suara yang sedikit gugup.
"Iya, ini aku yang kemarin."jawabnya seraya tersenyum lebar.
"Tentang kemarin aku minta maaf, sungguh aku tak bermagsud."tutur Lia merasa sangat malu akibat ia terlalu merindukan Andra dan langsung memeluk Andres saat itu.
"Tidak masalah,"sahutnya seraya tertawa renyah.
"Lalu, kenapa kau disini?"tanya Lia sedikit penasaran.
__ADS_1
"Oh, aku.. em.. oh tadi aku baru saja pergi membeli sesuatu ke minimarket. lalu, aku melihatmu."jawabnya agak terbata-bata lalu ia tersenyum kikuk.
"Lalu, kau menghampiriku? magsudku, untuk apa?"tanya Lia lagi seraya tersenyum tipis.
"Ah, aku melihatmu seperti orang yang sedang kebingungan. maka, aku menghampirimu."jawabnya setelah seperkian detik berlaga berpikir, sementara Lia hanya mengangguk-nganguk.
"Oh, aku sedang menunggu kakak ku."sahut Lia seraya tersenyum kecik, lalu menengok kanan-kiri namun sosok Bayu masih saja belum terlihat sedari tadi.
"Pulang bersamaku saja,"tawarnya sangat berbaik hati.
"Tidak perlu, aku akan menunggu kakak ku saja disini."tolak Lia cepat, menghela napas panjang dan berusaha sabar menunggu sang kakak yang tak kunjung datang.
"Kalau begitu, aku akan menemanimu sampai kakak mu datang. jika tak kunjung datang, biarkan aku yang mengantarkan mu."ucapnya lalu berdiri disamping Lia dengan kedua tangan berada disaku jaketnya.
"Tidak perlu, aku bisa naik transfortasi umum dan bahkan berjalan kaki."sambung Lia tetap menolak secara lembut, seraya melirik kearah Andres yang berada disebelahnya.
"Kau takut padaku?"tanyanya dengan satu alis terangkat, lalu tertawa.
"Aku tampan, bahkan banyak gadis yang menginginkan ku, mereka jarang menolak. tapi, kau mengapa menolak tawaranku?"tanya Andres dengan penuh percaya diri.
"Tapi, jangan lupa. kau bukan pangeran."ucap Lia yang membuat Andres mengerejapkan matanya berulang kali, setelah mendengar ucapan Lia barusan yang mungkin terdengar seperti lawakan. sampai akhirnya ia tertawa ngakak, sementara Lia menatap Andres dengan keheranan.
"Ya, kau benar. aku memang bukan seorang pangeran. tapi, apakah aku terlihat seperti seorang penjahat?"
"Kenapa kau mirip sekali dengan seseorang?"Lia menatap mata milik Andres lamat-lamat yang membuat Andres merasa menjadi mati gaya.
"Aku?"Andres menunjuk dirinya sendiri."Memangnya aku mirip dengan siapa?"lanjutnya.
"Kau mirip dengan pacarku,"cicit Lia.
__ADS_1
"Ah, mungkin aku juga pacarmu. tapi, kau lupa."goda Andres lalu tertawa, sementara Lia hanya larut dalam pikirannya sendiri.
"Memangnya kemana pacarmu?"tanya Andres tersenyum kecil.
"Dia pergi,"cicit Lia dengan napas berat.
seolah mengerti ada suatu hal, Andres langsung berdiri tepat di hadapan Lia sekarang. senyuman Andres memudar, kemudian ia memegang dua bahu milik Lia dan menatap dengan serius.
"Pergi kemana? tiba-tiba?"
"Aku tidak tahu,"jawab Lia apa adanya dengan kepala yang tertunduk layu.
bibirnya berucap kembali."Li, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, apa kau baik-baik saja?"
tentu saja, Lia tidak baik-baik saja. mana ada yang rela perempuan manapun jika kehilangan pacaranya yang sangat dicintai.
Lia tak bisa menjawabnya, hanya seulas senyuman tipis yang mampu terukir.
"Lebih baik kita jangan bahas ini lagi, aku merasa sangat sedih jika harus membicarakan hal ini."ucap Lia akhirnya.
"Aku mengerti perasaanmu,"ujar Andres terdenyum, memahami bagaimana perasaan Lia saat ini. tentu saja, pasti sulit baginya.
"Sejak pertama bertemu denganmu, aku merasa bahwa wajahmu tidaklah asing bagiku. rupanya, kau memang mirip dengan pacarku. sangat mirip sekali, bahkan aku sulit untuk membedakannya. mungkin, hanya potongan dan gaya rambutmu yang terlihat berbeda. menurut rumor, kita memiliki tujuh wajah yang mirip dengan kita yang tersebar didunia, mungkin kau juga termasuk. jadi, aku hanya salah orang."papar Lia tersenyum kecik.
Andres melepaskan kedua tanggannya di bahu Lia, tangannya masuk dengan santai ke saku jaketnya. kemudian, melemparkan pandangan kesembarang arah.
"Jika kau mengetahui fakta yang sebenarnya kau pasti akan terkejut,"ucap Andres kembali menatap Lia seraya tersenyum kecil.
"Tentang apa?"tanya Lia tak mengerti.
__ADS_1
"Jika kau ingin tahu maka kau harus ikut aku, kirim pesan pada kakak mu supaya dia tidak khawatir. setelah aku selesai mengatakannya, aku berjanji akan mengantarkanmu pulang."kata Andres yang membuat Lia terdiam sejenak.