
"Andra!"jerit Lia terbangun dari tidurnya, rupanya ia bermimpi.
"Li, kenapa sayang?"sang Ibu menghampir Lia dengan begitu panik.
Lia menggerakan matanya dan melihat sekeliling, ia sadar masih berada di rumah sakit. sepulangnya dari ruangan Andres, Lia langsung tertidur akibat kelelahan karena menangis dan ia merasa tubuhnya terasa sakit kembali, mengingat kondisinya yang masih belum pulih betul.
"Apa kau mimpi buruk sayang?"tanya sang ibu menatap khawatir, sembari menyeka keringat di kening anaknya itu.
Lia tak ingin ibu nya khawatir, maka ia hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. lalu berusaha tersenyum, menyembunyikan keadaan hatinya yang sebenarnya terasa sangat sesak mengingat mimpi buruk itu. sang ibu menggenggam tangan Lia dengan penuh kasih sayang, kemudian mengecup puncak rambut anaknya itu dengan lembut.
"Jika ada apa-apa cerita pada ibu, ya."ucap sang ibu perhatian.
"Iya, bu."sahut Lia seraya tersenyum tipis.
"Kau tahu ibu sangat cemas padamu, cepat pulih sayang. Ibu tak ingin kau terbaring seperti ini terus-menerus."kata sang ibu sembari mengusap-usap rambut Lia.
"Lia minta maaf ya, bu. Lia sungguh tak bermagsud untuk sok pahlawan atau pun--"
"Li, ibu paham. niatmu begitu mulia, tapi mengingat dirimu perempuan ibu sangat begitu khawatir. ibu takut terjadi sesuatu denganmu, bahkan sekarang kamu sudah terbaring lemah seperti ini."
"Tapi, Lia baik-baik saja 'kan bu. ini hanya luka ringan,"
"Tapi tetap saja sakit,"
"Aku kuat bu, sekarang aku sudah sadar dan merasa lebih baik."
"Jangan mengulangi hal seperti ini lagi, ibu mohon. berjanjilah pada ibu."
Lia tersenyum lebar, kemudian menganggukan kepala."Lia janji takan mengulangi hal ini lagi, bu. Percaya padaku."ikrar Lia sungguh-sungguh.
"Ibu sayang padamu, Li."sang ibu langsung berhambur memeluk Lia dengan rasa cemas yang masih belum pulih, dan Lia membalas pelukan itu.
"Lia juga sayang ibu."sahut Lia terharu.
Sementara dengan Andres dia meminta suster untuk mengantarnya ke lingkungan taman rumah sakit yang asri, dengan suster yang mendorong kursi roda miliknya. Rasanya Andres ingin menyegarkan pikirannya yang terasa begitu penat, maka ia butuh udara segar untuk menghilangkan stres itu.
"Terimakasih, sus."ucap Andres seraya tersenyum sopan.
"Sama-sama tuan Andres,"sahut suster itu membalas senyuman, sebelum akhirnya ia beranjak pergi meninggalkan Andres seorang diri.
Andres terlihat menghirup napas panjangnya, menatap lurus ke depan. Hatinya masih terasa pilu, dan banyak hal yang ia pikirkan.
Tiba-tiba sosok Andra hadir tepat di hadapannya. Membuat Andres terkesiap sekaligus merasa ia begitu merindukan saudara kembarnya itu.
"Andra?"panggil Andres seraya menggembangkan senyuman dengan binar mata tak percaya bahwa Andra kini hadir dihadapaannya.
__ADS_1
Andra tersenyum sendu."Andres, apa kau baik-baik saja sekarang?"tanya Andra menatap nanar wajah Andres.
"Cukup lebih baik, Andra sungguh aku tak menyangka kau berada disini."ucap Andres antusias.
"Ini hari terakhirku."lirih Andra membuat sebentuk senyuman milik Andres seketika memudar.
"A-apa magsudmu, A-aku tak mengerti."
"Kita akan benar-benar berpisah, Andres."
Andres terdiam sesaat, mencoba mencerna apa yang Andra ucapkan barusan. Kemudian Andres tertawa hambar, lalu menatap wajah milik Andra yang kelam, dengan buliran air mata yang menggantung di dasar mata miliknya yang suram.
"Kau sudah bertemu dengan Lia?"tanya Andres lemah bersamaan dengan air mata yang jatuh berlinang.
Andra menggeleng pelan."Aku tidak akan menemuinya."jawab Andra membuat Andres tertohok.
"Tapi kenapa?"sambung Andres cepat bernada protes.
"Aku sudah menemuinya lewat mimpi, dan aku tak ingin menemuinya lagi. Aku tak ingin melukai Lia dengan kepergianku."sahut Andra setenang mungkin.
"Tapi, Lia pasti akan kecewa padamu. Disaat hari terakhir seperti ini, kau sama sekali tak ingin menemuinya? tentu saja hal itu pasti akan mempengaruhi pikiran Lia nantinya."kata Andres lalu menghela napas berat.
"Aku yakin Lia bisa bersikap dewasa dan bisa menerima kenyataan. Aku tak sanggup melihat Lia menangis hanya gara-gara aku."ucap Andra setegar mungkin.
"Kau mau berjanji padaku?"pinta Andra serius.
"Berjanji untuk apa?"sahut Andres cepat.
"Buatlah Lia tersenyum dan bahagia. Demi aku, Andres."ujar Andra memohon sembari duduk dilantai tepat di hadapan Andres.
"Aku tidak bisa Andra."tolak Andres seketika.
"Please, demi aku."Andra langsung menggenggam kedua tangan sang kakak yang berada dipangkuannya dengan begitu kuat, sembari menatap mata Andres penuh permohonan.
"Tapi sungguh aku tak bisa."tolak Andres bersikeras.
"Kenapa?"tanya Andra setelah menghela napas berat.
"Karena yang bisa membuat Lia tersenyum dan bisa membuat Lia bahagia adalah kau, bukan aku."jawab Andres apa adanya.
"Kau bisa Andres."
"Tidak Andra, jelas-jelas kehadiranku sama sekali takan memberikan pengaruh apapun untuk Lia. Justru hanya kau yang bisa melakukannya."seloroh Andres tetap menolak, yang membuat Andra merasa putus asa.
"Jika aku masih hidup mungkin iya, Andres. Jika aku masih hidup aku akan selalu ada untuknya, jika aku masih hidup aku ingin menghapus air mata kesedihan dari matanya, jika aku masih hidup aku ingin membuatnya tertawa dan jika aku masih hidup---"
__ADS_1
"Stop, Andra! tolong hentikan!"Andres berseru keras.
"Faktanya aku sudah MATI Andres, aku tak bisa bertindak layaknya manusia yang masih bernyawa. Gerakkan ku terbatas, lalu aku harus bagaimana Andres? aku harus bagaimana, hah?!"tutur Andra sarkas dengan menggebu-gebu, dan akhirnya tangisannya pun pecah seketika, bercampur dengan amarah yang tak dapat di kendalikan.
"Tenangkan dirimu!"seru Andres memegang kedua bahu Andra dengan tegas, membuat Andra tersadar dari amarahnya.
"Aku hanya meminta padamu Andres. Demi aku, tolong, gantikan posisiku untuk Lia."Andra memohon-mohon disela isak tangisnya yang menyayat hati sembari menatap mata Andres begitu dalam.
Andres ikut merasakan kesedihan adiknya itu, dan tanpa sadar air mata yang menggantung akhirnya jatuh juga. Sungguh ia tak punya pilihan lagi, Andres terlihat menghirup napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, untuk sesaat ia memejamkan mata sebelum akhirnya ia menganggukan kepala tanda bahwa ia menyetujui permintaan Andra.
"Aku akan mengabulkannya."luluh Andres pelan, namun masih bisa ditangkap oleh kedua telinga milik Andra.
"Terimakasih kakak ku,"bahagia Andra yang langsung berhambur memeluk Andres dengan pelukan kuat bercampur dengan rasa haru yang menggebu.
Andres membalas pelukan itu dengan sama kuatnya."Andra, maafkan aku jika aku bersalah padamu. Kau tahu, aku sangat menyayangimu. Sepanjang waktu aku selalu memikirkanmu, bahkan aku bersyukur bisa melihatmu meskipun kau sudah menjadi arwah."bisik Andres terisak.
"Aku juga minta maaf, atas semua kesalahanku padamu Andres. Aku juga sangat menyayangimu, terimakasih sudah selalu memikirkan aku sepanjang waktu, dan terimakasih untuk segalanya. Kau adalah kakak terbaikku. Tolong jaga papi juga, katakan bahwa aku juga sangat begitu mencintai dan menyayanginya."sesak Andra dengan perasaan begitu pahit untuk dirasakan, terlalu sulit namun ia harus berlapang dada menerima takdir yang tak bisa ia rubah.
Andres melepaskan pelukan itu, lalu menatap wajah Andra dengan ekspresi kesedihan yang terpangpang"Tentu, Andra."
Andra tersenyum haru."Dan tolong jaga, Lia. Dia gadis istimewa yang pernah aku temui."
"Meskipun dia galak?"gurau Andres yang langsung disambut tawa kecil dari Andra.
"Meskipun dia galak tapi dia begitu menggemaskan."
"Kau beruntung bisa mengenal Lia."puji Andres sembari tertawa kecik.
"Ya, kau benar aku memang sangat beruntung."sahut Andra setuju dan merasa bangga akan hal itu.
"Aku akan menjaga Lia."ikrar Andres tulus.
"Aku percaya padamu."Andra menepuk satu bahu milik Andres dengan senyuman mengembang, meskipun hati tak bisa di bohongi bahwa ia sangat begitu kehilangan Lia, dan tak dapat disembunyikan bahwa ia teramat sedih.
Andres tersenyum tipis."Kau akan bahagia disana, Andra."sepasang matanya menatap langit cerah sementara Andra tak kuasa menahan haru.
"Dan kau juga akan bahagia di bumi ini, Andres."batin Andra berucap.
Andres menatap wajah Andra kembali, kemudian mereka berdua pun tertawa bersama, oh indahnya.
__ADS_1