Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Rahasia."


__ADS_3

"Kalian pacaran?"


"No."bantah Lia cepat sembari menggeleng kuat kearah papi Andres.


Sementara Andres memangpangkan ekspresi tenang kali ini, ia tak menbantah sedikitpun pertanyaan dari papi nya. Hanya suara deheman yang melununcur dari tenggorokannya.


Melihat ekspresi papi Andres yang terlihat mengulum senyum membuat Lia melirik sekilas kearah Andres, lalu menyikut pelan lengan Andres, membuat Andres mengangkat satu alisnya sebagai ganti bertanya apa yang di magsud gerakan Lia barusan. Lia mengedikan dagu singkat seolah menjelaskan bahwa itu kode agar Andres membantah spekulasi papi Andres mengenai hubungan mereka berdua.


Seolah paham dengan kode itu, Andres menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal kemudian tersenyum kikuk kearah papinya.


"Kami teman baik, Pih. Jadi tak ada hubungan special apapun di antara kita berdua. Maka, kita tidak lebih dari hanya seorang teman baik."suara berat Andres terdengar.


"Tapi menurut papi kalian memiliki chemistry. but, why kalian tidak pacaran saja?"tanya papi Andres dengan senyuman terkembang di bibir.


"Lia rasa kami hanya cocok sebagai teman baik saja, om. Tidak lebih dari itu. Aku masih belum siap menerima siapapun untuk sekarang ini,"sahut Lia tersenyum kaku.


"Li."tegur Andres nada berbisik, yang membuat Lia langsung melirik sekilas kearah Andres dengan mengerutkan kening alisnya, tanda ia tak mengerti kode yang di magsud Andres, dan Lia memutuskan untuk berkomunikasi lewat mata saja saat itu juga.


"M-magsudku, kami terasa nyaman dengan status kami yang sekarang."ucap Lia terbata-bata sembari berusaha menggembangkan senyuman kearah papi Andres.


Papi Andres manggut-manggut sambil mengulum senyum, setelah Lia berbicara."Ya, om paham. kalian masih malu-malu mengakuinya 'kan? Om mengerti, tenang saja om juga pernah muda."kekeh papi Andres yang sepertinya salah menanggapi apa magsud dari ucapan Lia barusan.


"Om magsud Lia--"


"Wah, sepertinya makanan akan berubah dingin jika di diam kan saja. Ayo di lanjutkan lagi makan nya."Andres langsung menyerobot pembicaraan, sebelum Lia menuntaskan ucapannya.


Sementara papi Andres telihat mengulum senyum, dan sorot matanya tak bisa di sembunyikan bahwa ia merasa sangat gemas dengan tingkah anak muda seperti Andres dan Lia saat ini.


Dan Lia langsung berdecak pelan, karena tampaknya ia kesal karena Andres tak membiarkannya untuk meluruskan tanggapan papi nya yang salah menanggapi ucapannya tadi.


"Li, ayo di makan."suara Andres terdengar seperti kalimat mengejek, Lia tak berucap apapun selain suara helaan napasnya kemudian melanjutkan kembali aktivitas makannya yang sempat terhenti.




Selesai dari rumah Andres, Lia kembali melanjutkan perjalanan dan entah kemana lagi Andres akan membawanya pergi. Karena ia tak bisa menebaknya karena jalan yang di lalui tampak asing.


"Li, thanks ya."Andres melirik sekilas kearah Lia, kemudian menatap lurus kedepan lagi, agar tetap pokus dalam melajukan sepeda motornya.


"Terimakasih untuk apa lagi nih?"tanya Lia sedikit lantang karena deru mesin motor Andres yang melaju cepat, membuat suaranya agak tenggelam.


"Karena sudah mau menemui papi ku sekaligus ikut makan bersama. Dan sebagai ucapan terimakasih, aku ingin mengajak mu kesuatu tempat!"


"Kemana?"tanya Lia antusias.


"Rahasia!"jawabnya pendek, membuat Lia berdecak gemas.


"Kenapa rahasia-rahasiaan terus, sih?"

__ADS_1


"Ya, biar penasaranlah."


"Kenapa senang sekali membuatku penasaran? yang ada aku malah semakin gemas kalau kau terus-terusan main rahasia-rahasiaan."kata Lia lalu menghela napas.


"Ya suka-suka aku."sahutnya yang membuat kedua mata Lia berputar, sementara Andres hanya terkekeh.


Setelah tiba di lokasi, ternyata Andres mengajak Lia pergi ke Taman Cattleya, Taman Cattleya adalah salah satu taman kota terbesar di Jakarta dengan luas sekitar 3 hektare. Sesuai namanya yang cantik, Taman Cattleya ini diisi oleh aneka ragam tanaman hias dan pepohonan yang rindang. Membuat Lia tiada henti berdecak kagum.


Taman kota di Jakarta ini tertata rapi dengan jogging track, taman bermain anak, jalan setapak, kursi, dan danau buatan membuat suasana hari- hari Lia yang semula dirundung duka kini membuatnya sedikit bisa melupakan kesedihan.


Kemudian mereka berdua pun terduduk di tepian danau buatan. Menikmati pemandangan yang begitu indah di pandang, dengan berbagai tanaman seperti jenis trembesi (samanea saman); jakaranda (jacarandaacutifolia); kecrutan (spathodea campanulata); beringin (ficusbenjamina);Yangliu; glodogan tiang (sarraca sp), hampir 1.000 pohon, berdiri di sana.


Setelah puas duduk-duduk di tepi danau maka Andres dan Lia kini mencoba berkeliling di taman Cattleya, mereka berdua terlibat dalam obrolan ringan, ada canda dan tawa. Sesekali Lia menunjuk kearah dimana ada bunga-bunga cantik yang ia lihat.


Bahkan tanpa sadar mereka berdua saling bergandengan tangan. Jika orang lain tak mengenali mereka, pasti banyak orang yang berpikir bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih.


Kemudian tautan tangan mereka berdua terlepas, Andres berlari pelan yang membuat Lia tersenyum kecil. Langkah Andres terhenti dari beberapa meter, menatap Lia seraya tersenyum lalu mengambil sesuatu dari sling bag miliknya.


"Li, lihatlah kesini!"panggilnya terdengar agak jauh disertai dengan binar matanya yang terlihat antusias.


Ckrek.



"Andres, mengapa kau tidak sopan sekali, memotretku tanpa seizinku?"teriak Lia mendengus sebal. karena Andres tiba-tiba saja mengeluarkan kamera, bahkan memotretnya tanpa persiapan sama sekali.


Sementara Andres hanya terkekeh setelah melihat hasil jepretannya.



Lia berdecak kesal."Kalau mau memotretku pastikan dulu bahwa aku siap, jangan langsung tiba-tiba, nanti hasilnya jadi jelek."Lia merengut, yang membuat Andres tertawa kegelian.


"Oke-oke maaf. Ya sudah aku ulang ya, jadi bagaimana apa kau sudah siap kalau aku photo sekarang?"tanya Andres setelah menghentikan tawanya.


"Iya tentu saja. Ayo, photo yang benar. Jangan sampai jadi jelek, ya."ancam Lia melotot menggemaskan.


"Siap nona."sahut Andres tertawa ringan.


"Satu, Dua, Tiga,"


Ckrek...



Setelah memotretnya, bak kilat Lia langsung merebut kamera itu dari tangan Andres dan langsung bergerak mundur, yang tentu saja membuat Andres terkesiap.


Ckrek...


__ADS_1



Lia tak berhenti tertawa setelah melihat hasil jepretannya setelah memotret Andres dengan asal-asalan.


"Wah, belajar dari mana kau bertindak usil seperti ini?"Andres menggeleng-gelengkan kepala sambil berkacak pinggang, sementara Lia masih tertawa.


Kemudian tangannya terulur mengacak rambut milik Lia yang terurai.


"Kau mirip aktor,"komentar Lia nada menggoda.


"Itu bukan berita baru, sih"Andres berkata jumawa sembari mengedikan bahu ringan, dan tentu saja bola mata Lia langsung berputar.


"By the way today you are, beautiful."puji Andres seketika.


Deg!


Wajah Andres bertemu dengan wajah Lia. Entah mengapa napas Lia seperti tersenggal, begitupun dengan tenggorokannya yang seperti tercekat.


Apalagi saat Andres merapihkan rambut panjang milik Lia dengan jari-jemarinya, kemudian beberapa helaian rambut milik Lia terhembus angin, maka detik itu Andres menyelipkan helaian rambut itu ke balik telinga Lia.


Kepala Lia menengadah, memperhatikan wajah Andres yang berada di depannya. Sosok pria yang berpostur tinggi dengan segala ketampannanya yang nyaris sempurna. Dan tentu saja mengingatkannya pada mendiang Andra.


"Li,"panggilnya lembut.


"Hm?"Lia mengerejap.


"Aku ingin bicara sesuatu,"


"Bicara apa?"


Lidah milik Andres sudah gatal dan tak bisa menahan-nahan lagi, dan memberanikan diri untuk bicara."Li, apa kau bisa bicara dengan jujur?"


Kedua alis Lia menyatu dengan kening, seolah tak mengerti dengan apa yang Andres katakan. Kepala Andres menunduk dan sepasang matanya tak pernah lepas dari Lia, ia terdiam sesaat menunggu kalimat yang akan Lia ucapkan setelahnya.


"Apa kau tidak merasa aneh?"


"Aneh kenapa?"


Andres hanya diam, kemudian Lia merasakan Andres menggenggam satu tangannya kuat dengan pandangan mata yang sama sekali tak teralihkan, dan tentu saja membuat tenggorokan Lia serasa mengering seketika dan sulit menelan air liurnya.


"Apa sekarang kau merasa deg-degan?"mendengar pertanyaan itu kedua mata Lia pun langsung membola.


Jangan bilang kalau Andres----


Jatuh Cinta Pada Lia.



__ADS_1




__ADS_2