
Bel berdering nyaring, penghuni sekolah berhamburan antusias untuk segera pulang. sementara Lia hanya berjalan santai, dengan tatapan matanya yang kosong. banyak hal yang ia pikirkan. termasuk ia merasa kehilangan Sifa. biasanya ia selalu pulang bersama dengan Sifa, berbincang-bincang dengan obrolan yang mengasikan di penuhi canda tawa.
bahkan bayang-bayang Sifa seperti berkeliaran di dalam pikirannya itu. bahkan cuplikan itu seperti terputar kembali, Lia merasakan bayangan antara dirinya bersama dengan Sifa tengah berjalan bersama, seiring seirama di kolidor. dengan tangan Sifa yang merangkul pundaknya sembari tertawa terbahak-bahak. Lia tersenyum haru melihat cuplikan itu di kolidor yang melintasi dirinya.
apa itu artinya rindu? tapi mengapa Sifa sama sekali tak menghubunginya? apa Sifa juga tak peduli terhadapnya? atukah mereka berdua merasa tak ingin mengalah dan lebih memilih mempertahankan ego?
tanpa sadar saat Lia melintasi area gudang sekolah. tiba-tiba terdengar bunyi nyaring dari dalam, yang membuat Lia terkejut tak kepalang.
sehingga langkahnya terhenti tepat di depan pintu gudang. hatinya berdesir dan tersirat rasa penasaran yang sangat dalam, menatap lamat-lamat papan kecil diatas pintu yang bertuliskan 'Gudang'.
rasa itu hadir, rasa penasaran bercampur curiga. siapa tahu ia bisa mendapatkan sebuah petunjuk dari sana? mungkin sudah saatnya ia memulai untuk berpetualang mencari segala petunjuk yang ada. dari pada harus berdiam diri, dan sama sekali tak pernah mendapatkan apapun. lebih baik ia bergerak cepat, untuk memastikan bukti kuat itu bisa ia dapatkan dari sana. berhubung korbannya selalu dari penghuni sekolah, pasti alat bukti itu tidak jauh juga dari area sekolah.
Lia menggigit bibir bawahnya, dan berusaha untuk meyakinkan diri bahwa ia bisa melewati semuanya sendirian. ia ingin menepati janjinya pada Andra, namun bukan karena itu juga. nurani nya juga berbicara ingin membantu semua korban. supaya mereka bisa kembali ke alam baka dengan tenang.
ceklek..
Lia membuka pintu gudang, rupanya gudang itu tidak dikunci. dengan mantap ia melanjutkan niatnya tanpa ragu dengan melangkah masuk kedalam. kemudian ia pun menyalakan lampu yang terdapat saklar di balik pintu, lalu mengedarkan pandangan pada sekeliling gudang yang terdapat banyak peralatan olahraga seperti matras, bola basket yang sudah rusak. dan meja-meja beserta kursi yang tergeletak dimana-mana.
Lia terbatuk-batuk karena debu gudang yang sangat pekat, gudang yang terlihat sama sekali tidak pernah di bersihkan. sekolah elit macam apa yang tidak bisa menjaga kebersihan, bahkan gudang sekalipun.
Lia meraba-raba dingding dan meraba-raba lantai, siapa tahu ia bisa menemukan petunjuk seperti ruang bawah tanah yang selalu ada dalam film-film.
Lia berusaha menggeser meja-meja kemudian memperhatikan sekeliling dengan teliti, sampai akhirnya ia melihat dingding yang sedikit berbeda dari dingding lainnya yang cenderung lebih cerah, sementara dingding yang ada didepannya cenderung memiliki warna yang sudah pudar, apakah dingding itu tidak terkena sentuhan cat karena terhalang meja-meja?
tanpa sengaja tangannya terulur, meraba dingding. sehingga ada sebuah tombol yang sangat kecil sekali, sehingga Lia juga tak menyadari telah menekannya.
Lia mengerejapkan matanya berkali-kali sembari menelan air liurnya dengan gelisah. apa yang ia cari terpangpang nyata tepat didepannya. dingding itu terbuka lebar secara otomatis? apakah ini mimpi, apakah ia sedang melakukan adegan film horror?
tempat rahasia macam apa itu? dan untuk apa tempat itu di buat? apa semua yang Lia pikirkan mengenai gudang ini benar, bahwa dari sinilah ia akan mendapatkan petunjuk bahkan bukti nyata?
Lia terduduk lemas di lantai yang berdebu, benar-benar tak habis pikir. ada berapa psikopat yang berada disekolah ini?
__ADS_1
dengan segera Lia langsung bangkit berdiri. tidak, ia tidak boleh buang-buang waktu hanya karena ia terkejut dengan semua kegilaan ini. tentu saja psikopat itu cerdik, jadi untuk apa ia terus berpikir.
dengan anggukan mantap, Lia yakin masuk kedalam dengan melangkahkan kaki segera, dengan bantuan senter dari ponselnya. karena ruangan itu sangatlah gelap gulita.
sampai kedasar tempat itu, suhu terasa sangat lembab. Lia pun berjalan dilorong yang tidak di ketahui dimana ujungnya, karena suasana yang remang. bahkan kini degup dadanya sama sekali tak bisa tenang, yang selalu saja berdetak cepat karena terlalu cemas. memikirkan bagaimana kondisinya selanjutnya, setelah masuk kedalam area tempat psikopat yang bisa saja meng-eksekusi korbannya disana.
lantai yang ia pijak berwarna gelap dan berdebu setelah ditelusuri oleh senter ponselnya. semakin menyusuri lorong semakin terasa juga udara lembab dengan bercampur bau karat yang menyeruak menuju indra penciumannya.
Lia tidak tahan dengan baunya sampai-sampai ia serasa akan muntah, namun ia tetap bertahan. jika ada cahaya yang lebih baik, mungkin terlihat jelas bagaimana ekspresi wajah Lia yang kini sangat pucat, dan badannya yang menggigil kedinginan.
Tak..tak..tak..
hanya langkah kakinya yang terdengar ditempat sunyi ini, tak ada suara apapun lagi.
kini Lia tampak merasakan bahwa ia telah mendapatkan ujung lorong itu. Lia melihat ada pintu disana yang tertutup rapat. dan terdapat sebuah kotak yang memiliki banyak tombol, yang sepertinya adalah sebuah kunci akses untuk masuk kedalam.
Lia melirik kanan-kiri dan juga belakang, dan tak ada siapapun. bahkan pintu akses pertama ia masuk kesini pun sudah tak terlihat cahayanya, meskipun ia mengedarkan senter ponselnya yang tak dapat menjangkau pantulan senter lebih jauh lagi. Lia tampak bingung, dan penasaran bagaimana caranya agar ia bisa masuk kesana, bahkan ia sama sekali tak tahu apa kode aksesnya. Lia mencoba menempelkan telinganya pada pintu itu, berharap ia bisa mendengar sesuatu. Lia menghela napas kasar, sungguh sialan ia tak dapat mendengar apapun juga. mengapa pintu itu sangat canggih?
Lia menangkap suara derap langkah sepatu, matanya membelalak. tadi, saat ia masuk sungguh tak ada siapapun disana. tapi, mengapa ia bisa mendengar dan merasakan bahwa ada seseorang yang menghampirinya dari belakang.
dari tempat sunyi seperti ini, pastilah suara sepelan apapun akan terdengar menggema. dan tentu saja mendengar suara itu membuat Lia terkejut dan ketakutan setengah mati. tubuhnya bergemetar hebat, mungkinkah ia akan mati hari ini? menjadi korban selanjutnya?
Lia menelan ludahnya kasar, rasanya tenggorokannya sangatlah kering tanpa air liur. energinya benar-benar habis oleh guncangan ketakutannya. siapapun yang berada disituasi ini akan sulit mempertahankan tingkat kewarasan. termasuk Lia sendiri, dengan apa yang terjadi membuat pikiran buruknya mendominasi dalam otaknya.
Lia mencoba memberanikan diri, untuk melihat siapa yang kini berjalan dibelakang. meskipun sekujur tubuhnya kini menggigil akibat peluh keringat yang terus bercucuran di suhu yang lembab.
Tiba-tiba terdengar suara tawa yang menggelegar yang menggema, membuat tawa itu semakin menyeramkan.
Lia semakin mengurungkan niatnya untuk melihat siapa sosok dibelakangnya itu. meskipun rasa penasaran itu menghantui, namun ternyata rasa takutnya lebih mendominasi di bandingkan keberaniannya. dengan memejamkan mata ia hampir ingin menangis. bahkan, ia hanya bisa memanggil nama Andra dengan lirih. berharap Andra datang untuk menolongnya.
"Andra, kau dimana? aku membutuhkanmu? kenapa kau tak ada disaat situasi mencekam seperti ini? huk..huk..huk.."Lia berucap lirih lalu terdengarlah isakannya, yang tak kuasa menahan ketakutan luar biasa yang melanda.
__ADS_1
"Siapa kau?"tanya Lia seketika menekan rasa takutnya, setelah ia berbalik badan. Andra tak datang setelah ia berkali-kali memanggilnya. lalu untuk apa ia membutuhkan Andra? hanya dirinya sendiri yang dapat menolongnya.
orang itu berpakaian serba hitam, masker dan topi berwarna senada. sangat asing.
"Sungguh kau ingin tahu?"suara itu, sungguh Lia tak dapat mengenalinya. dari suaranya, sepertinya orang itu seperti gadis muda. jadi itu bukan Semmy? Lia mencoba mencerna apa yang ia dengar, apa yang ia alami, dan apa yang membuatnya bingung setengah mati. siapa dia? apa dia psikopat sebenarnya? tapi, kata Andra pelakunya Semmy. Jadi, apa yang terjadi sesungguhnya?
"S-siapa?!"tanya Lia lagi dengan suara lantang dan gemetar.
mendengar pertanyaan itu membuat gadis itu malah tertawa puas sampai terbungkuk-bungkuk.
jarak antara orang itu dan Lia hanya dua meter. tapi, sungguh Lia tak bisa mengenalinya. senter ponsel yang masih menyala pun tak dapat mengenali kelopak mata itu. Lia merasa bahwa ia sama sekali belum pernah bertemu dengan orang itu.
orang itu kembali melangkahkan kaki dan kini hanya menyisakan jarak hanya satu meter.
"Berhenti disitu ! atau aku akan berteriak!"seru Lia ketakutan. sementara psikopat itu hanya terkekeh, melihat Lia yang ketakutan.
tanpa menghiraukan Lia, orang itu semakin mendekat kearah Lia. Lia tak bisa berkutik, karena posisinya yang sudah terpojok. disela itu, Psikopat gila itu lmenggerakan pisau lipat yang seketika berdiri tegak. membuat Lia semakin spot jantung, dan habislah sudah nyawanya hari ini. semua pikiran buruk melintas dalam otaknya yang membutnya semakin pening sendiri.
"Tolong... tolong...."teriak Lia sebisa mungkin sampai suara itu menggema, lalu Lia menjerit prustasi karena mungkin teriakannya akan berakhir sia-sia. sementara orang itu tertawa terbahak-bahak sembari memainkan pisau dan berjalan semakin dekat.
"JANGAN BERISIK !!"orang itu berseru marah, yang kini menjangkau Lia.
sekuat tenaga Lia menepis pisau tajam itu yang akan menancapkan di bola matanya. orang itu juga langsung menjambak rambut panjang Lia dengan kasar, memggunakan satu tangannya. yang membuat Lia menjerit dan menangis berharap keajaiban datang dari Andra untuk menolongnya. sementara orang itu terkikik. kemudian psikopat itu pun melemparkan tubuh Lia ke lantai dengan dorongan kasar.
"SEBENARNYA SIAPA KAU? DAN MENGAPA KAU TEGA MELAKUKAN SEMUA INI? APA KAU SUDAH TAK WARAS?"Lia beringsut duduk, dan teriakan Lia perpaduan antara rasa takut, marah, dan prustasi menjadi satu.
kewarasannya sudah hilang, dengan berani membentak pada psikopat itu yang bisa saja membunuhnya secepat kilat, dengan menusukan pisau itu untuk merobek perutnya dan mengeluarkan semua isinya.
"Kau cerewet sekali, ha?"desis nya lalu tertawa kembali.
tiba-tiba Lia merasakan kepalanya dipukul dan rasanya terhuyung. sampai ia tak sanggup lagi membuka matanya dan merasakan dunianya benar-benar gelap.
__ADS_1