Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Pernikahan,"


__ADS_3




Pernikahan itu berlangsung dengan khidmat, setelah janji suci itu di ucapkan semua tamu undangan bernapas lega dan wajah cerah serta senyuman bahagia terpatri. Lia dan Andres berciuman didepan para tamu undangan dengan penuh rasa bahagia yang paling berkesan. Dalam pelung hati terdalam, Andres begitu bersyukur kini Lia sudah menjadi miliknya seutuhnya. Senyuman bahagia terlihat jelas dari keduanya setelah ciuman itu berakhir, serta mata mereka berdua saling berpandangan.


Setelah acara respesi pernikahan selesai dengan lancar, menjelang malam dan kelelahan Lia masih saja berada di dalam toilet kamar. Seharusnya ia bergegas ke kamar untuk tidur, tapi pikirannya selalu saja membayangkan hal-hal aneh yang membuat bulu kuduknya meremang. Ia terus saja memandang wajah pucatnya dicermin wastafell, menepuk-nepuk pipi dan berkali-kali mencuci wajah. Rasanya benar-benar sangat gugup, ini adalah malam yang begitu canggung setelah pernikahan mereka berdua sah. Apa yang harus ia lakukan sekarang, apalagi berkali-kali Andres memanggil namanya seolah sudah tak sabaran untuk melakukan sesuatu ataukah Andres ingin ditemani mengobrol?


"Sayang, kenapa lama sekali?" teriak Andres untuk kesekian kalinya memanggilnya.


"Tunggu sayang, aku sedang buang air besar." sahut Lia berbohong dengan agak teriak.


"Tadi buang air kecil, sekarang buang air besar, nanti mau buang air apa lagi sayang?" kali ini suara Andres terdengar di balik pintu toilet, membuat Lia tersentak dengan tubuhnya yang langsung terdorong ke dingding tembok.


Andres menggerakan Handell pintu berkali-kali yang tak kunjung bisa di buka, rupanya Lia sengaja mengunci pintu toilet karena sungguh ia benar-benar ketakutan tentang apa yang ia baca mengenai hubungan intim yang sengaja ia searching di internet karena rasa penasarannya saat itu. Di internet dikatakan bahwa jika perempuan yang belum pernah melakukan hubungan intim pasti akan terasa sakit, ada juga yang bisa mengeluarkan darah dan tentu saja hal itu mempengaruhi pikiran Lia saat ini.


"Sayang kenapa pintunya di kunci?" tanya Andres heran bercampur bingung sambil ia mengetuk-ngetuk pintu. "Apa kau baik-baik saja sayang?" tanya Andres lagi dengan sedikit khawatir.


"A-aku baik-baik saja, sudah tunggu saja di kamar aku masih belum selesai buang air besar," sahut Lia dengan terbata-bata.


"Apa kau sakit perut?" tanya Andres lagi yang sungguh mengkhawatirkan istrinya itu.


"Beberapa hari ini aku belum buang air besar, mungkin pup nya jadi sedikit keras. Tapi, kau tidak perlu khawatir aku baik-baik saja." kata Lia lalu menggigit bibir bawahnya, terpaksa ia berbohong semua itu demi menyembunyikan rasa takutnya. Mendengar hal itu Andres hanya tertawa, Lia benar-benar sangat polos mengatakannya.


"Baiklah, aku tunggu diranjang ya, sayang." jahil Andres yang membuat mata Lia seketika terbelalak. Lia tak menyahut sama sekali, dan ia kembali menatap wajahnya di cermin. Kemudian berjalan mondar-mandir meratapi nasibnya sebagai seorang istri yang harus melayani suaminya.


"Ya ampun, apakah sesakit itu?" Lia merengek seraya menghela napas panjang.


Ceklek...


Lia membuka pintu toilet setelah menghabiskan waktu 45 menit di dalam tanpa melakukan apapun, setelah menutup pintu toilet Lia mendapati sosok Andres tengah duduk di bibir kasur sambil memandangi sebuah album photo, membuat kening alis Lia berkerut karena Andres terlihat bersedih. Maka, ia pun berjalan menghampiri Andres dan duduk disampingnya seraya melihat photo dengan potret perempuan paruh baya yang berpenampilan modis dan anggun yang tiada lain adalah mami nya.


"Mami cantik ya," puji Lia seraya menelusuri potret mertuanya itu dengan jemari miliknya.

__ADS_1


"Sama sepertimu, Li." kata Andres seraya menoleh, dan Lia hanya tersenyum menanggapinya.


Andres membuka lembaran album selanjutnya, yang terdapat photo dirinya dan Andra saudara kembarnya. Melihat hal itu tentu membuat kenging alis Lia menyatu ditengah lalu menatap Andres dengan sorotan penuh tanya.


"Dia siapa sayang?" tanya Lia penasaran.


"Sungguh kau tidak tahu?" Andres berbalik bertanya seraya menatap Lia sendu, sementara Lia hanya menggeleng kepala seolah ia benar-benar tidak pernah mengenal sosok itu.


"Dia Andra, saudara kembarku." jawab Andres yang memaklumi kenyataan bahwa Lia sudah lupa mengenai Andra, lelaki yang dulu ia cintai sepenuhnya.


"Tapi kenapa aku tidak pernah melihatnya? saat pesta pernikahan pun dia tidak datang, kenapa?" tanya Lia bingung.


"Dia sudah meninggal, Li." jawaban Andres tentu saja membuat Lia tertohok.


"Ya ampun, sayang. Aku minta maaf aku sama sekali tidak bermagsud," sesal Lia yang langsung menggenggam tangan Andres. Andres mengangguk seraya tersenyum sendu kearah Lia.


"Tidak masalah, Li." kata Andres lirih.


"Li, seandainya kau ingat siapa Andra kau pasti akan ikut merasakan kesedihan yang sedang aku rasakan saat ini. Tapi, aku percaya di surga Andra pasti sangat bahagia karena kita sudah menikah sayang." batin Andres berkata seraya mengelus-elus pipi Lia dengan teramat sayang.


"Sayang, tidur yuk?" ajak Lia yang membuat Andres menampilkan seringai nakalnya.


"Memangnya tidak ada aktivitas lain selain tidur, Li?"


Mendengar ucapan Andres, seketika Lia langsung berantispasi dan langsung menjaga jarak sadar bahwa ia mengetahui kode yang dimagsud Andres saat ini. Jika hanya sekedar ciuman ia tak masalah, tapi jika Andres menginginkan lebih apakah sungguh ia sudah benar-benar siap?


Lia meremas kain seprai dengan kuat ketika Andres sudah mulai mengikis jarak seraya kedua tangan milik Andres yang bertengger kuat dipinggangnya.


"Li, setelah menikah apa kau tahu apa yang dinantikan oleh kaum adam?" bisik Andres disalah satu teling Lia yang membuat Lia berigidig kegelian.


"Andres, a-aku..."


Dan pada detik itu, sengatan listrik seolah mengenai tubuh Lia saat itu juga. Berdesir dan detakan jantungnya seolah berhenti berdetak untuk beberapa saat, sebelum tubuh Lia menegang karena aliran darah Andres seperti menyatu padanya. Kuat dan tak terkendali serta memacu ardernalin. Mata Lia membeliak dengan rahang terbuka terlalu terkejut dengan serangan yang baru saja Andres lakukan.


Tubuh Lia ditahan oleh Andres sehingga ia tak bisa lagi menjaga jarak dan tubuhnya semakin dirapatkan. Sehingga dengan bebas Andres bisa melakukan aksinya.

__ADS_1


"Andres," desis Lia sembari memegang lengan Andres sambil gemetar.


"Hm, kenapa sayang?" bisiknya dengan suara parau seraya menatap Lia dari samping.


Lia menelan ludah secara paksa, menahan diri agar tidak menatap Andres yang berbahaya. Menatapnya sama saja mengundang aksi liarnya lagi, namun tangan Lia sulit untuk dikendalikan untuk menyentuh telinganya yang basah akibat sentuhan lidah oleh Andres.


"Andres, basah.." cicit Lia seraya menundukan kepala.


"Basah yang mana? yang bawah?" goda Andres yang seketika membuat Lia menatap Andres sambil melotot lalu memukul pelan dadanya kesal karena Andres berbicara terlalu vulgar.


"Andres jangan macam-macam, ya! Awas saja kalau kau melakukan sesuatu padaku!" ancam Lia membuat Andres tertawa geli karenanya.


"Aku suka saat kau mengancamku seperti ini, aku semakin ingin." usil Andres seraya mendekati wajah Lia seraya tersenyum miring.


Lia semakin meremas seprai dan berusaha untuk mencoba melarikan diri, tapi sial kakinya mendadak susah untuk bergerak.


Seketika tubuh Lia dihempaskan ke kasur, Andres berdiri tegak seraya menampilkan seringai yang mengerikan. Tatapannya seperti sedang memangsa sesuatu dan seperti sudah siap untuk menelanjangi tubuhnya. Hal itu tentu saja membuat Lia gemetar dan kepanasan, apalagi saat Andres melepas satu persatu kancing piyama yang ia kenakan, membuat Lia bergerak mudur dengan kaki yang sengaja ia tekuk, dan sementara tangannya sama sekali tak mau melepaskan seprai yang sedari tadi ia remas begitu kuat.


Piyama milik Andres sudah terlepas dan ia langsung melemparkannya ke sembarang arah. Badannya yang keren membuat kaum hawa manapun yang melihat pasti akan terpikat, dadanya yang berbidang, perut kotak-kotak serta lengan kekar yang begitu gagah sekaligus kuat.


Lia berusaha memejamkan mata dan mencoba menghalau pikiran-pikiran yang berseliweran di kepalanya yang membuatnya pusing dan akhirnya ia malah memilih kabur dari ranjang.


"Aaaaaa.... aku belum siap Andres!" seru Lia berteriak sambil berlari menuju toilet kamar.


"Li, tunggu! kau takan bisa lari dariku...hahahaha..." teriak Andres mengejar Lia seraya tertawa.



"Andra terimakasih telah mempercayakan aku untuk menjaga Lia. Aku yakin kau juga pasti merasakan kebahagiaan yang sama denganku. Andra semoga kau tenang di alam sana. Andra terimakasih sekali lagi, aku menyayangimu." batin Andres berkata dengan lirih tapi penuh makna.


...END...



__ADS_1



__ADS_2