Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Ada tamu? siapa?"


__ADS_3







*Penggalan lagu dari Agatha Chelsea - Solfami.


"Sulit untuk dipercaya, setiap air mata dari kenangan, dan itu tidak akan berhenti."


Sudah tiga minggu berlalu begitu cepat, tanpa sosok kehadiran kedua orang tua yang biasanya membuat hari-hari menjadi terasa lengkap, tapi setelah ketiadaan mereka membuat Lia merasa sangat begitu hampa. Dalam bibir yang terlontar ia selalu berkata bahwa ia sudah merelakan kepergian mereka. Dan mencoba untuk tegar melalui segala kesedihan yang sedang ditempuhnya. Rupanya tidak semudah itu, Lia sama sekali belum mampu menerima keadaan yang ia alami. Hatinya sama sekali tak bisa berbohong, bahwa kini hidupnya terasa hambar seolah ia sudah kehilangan nyawanya sendiri, hidup dalam kesedihan yang tak kunjung berhenti.


Lia hanya bisa menatap jendela kaca kamar dengan tatapan kosong, jendela kaca itu terlihat basah oleh air hujan yang baru saja turun di kota hujan. Bersamaan dengan air mata yang ikut jatuh berlinang.


Jemarinya menyentuh senar, memetiknya perlahan tanpa nyanyian.


"Ayah, Ibu apa kalian tahu bahwa aku sangat begitu merindukan kalian? apa kalian bisa melihatku ketika menangis seperti ini? apa kalian masih bisa merasakan bagaimana keterpurukan yang sedang ku alami disini? Rasanya masih sangat sulit untuk menerima suratan takdir ini, apa kalian tahu bahwa aku sangat begitu tersiksa tanpa kehadiran kalian?"Lia mengutarakan isi hatinya dalam batin, dan membiarkan air mata itu semakin berlinang dengan begitu deras.


"Li?"seseorang memanggil Lia, membuat Lia terperanjat. Rupanya itu adalah kakaknya yang kini tengah duduk tepat di sampingnya, entah sejak kapan.


Dalam kecelakaan saat itu, hanya Lia dan Bayu yang selamat. Setidaknya Lia tidak kehilangan semua anggota keluarganya. Meskipun begitu, kehilangan kedua orang tuanya adalah bukan keinginan yang diharapkan. Tiga minggu ini kondisi Lia dan Bayu sudah pulih, meskipun kondisi Bayu kepalanya kini sedikit penyok akibat benturan keras pada aspal saat itu, serta rambut yang kini pelontos setelah dicukur habis pasca oprasi.


Jika Lia bisa memilih, ia sama sekali tak menginginkan tragedi itu terjadi. Namun, semua itu memang bukan kehendaknya.


Maka, dengan cepat Lia menghapus air matanya dengan punggung tangan. Dan berusaha untuk mencoba bersembunyi lagi dari keterpurukan. Dengan seulas senyuman menatap sang kakak, kemudian meletakan gitar di samping kasurnya.

__ADS_1


"Kak, sejak kapan kau disini? biasanya kau selalu mengetuk pintu kamarku dulu,"sambut Lia seceria mungkin, meskipun mungkin kini suaranya terdengar parau, khas orang yang baru menangis.


"Cukup lama, aku sudah mengetuk pintu kamarmu, tapi tak ada jawaban sama sekali. Aku sangat begitu mengkhawatirkanmu, maka aku memutuskan untuk memeriksa keadaanmu. Dan kau-- masih sama, masih larut dalam duka."kata Bayu dengan seulas senyuman sendu yang membuat Lia terdiam untuk sesaat.


"Ah, aku hanya sedang tidak enak badan saja."Lia mencoba mencari alasan untuk menyangkal apa yang Bayu katakan, agar sang kakak tak terlalu mengkhawatirkannya.


"Kau bohong, Li."tepis Bayu lalu menghela napas panjang.


Lia langsung menoleh, dan bola matanya kembali meremang oleh buliran cairan bening."Aku serius,"kilah Lia masih ingin tetap menyangkal.


"Aku tidak percaya apa katamu, Li."ucap Bayu seraya tersenyum kecut.


"A-aku,"


"Li, aku mengerti dan aku tahu apa yang kau rasakan. Aku juga mengalami apa yang kau alami saat ini. Bahkan, aku merasa sangat begitu terpukul dan putus asa. Mengapa tidak aku saja yang mati, Li?!"seloroh Bayu sedih bercampur putus asa lalu tiba-tiba saja Bayu terisak.


"Kak?!"tegur Lia seketika.


"A-aku tidak tahu, kak. Rasanya aku juga belum sanggup, dan tak bisa menerima apa yang baru saja kita alami. Kita kehilangan keduanya, Ayah dan ibu adalah panutan, mereka berdua adalah denyut nadi, mereka berdua adalah segalanya. Even this time I don't know how to live life anymore, I don't know how to smile loosely. I felt like I lost my way, lost my enthusiasm, passion, and felt very empty. I can't walk without them, they are like feet that know how to walk."Lia mencurahkan segala yang mengganjal membuat Bayu seketika berhambur memeluk Lia, lalu mereka berduapun menangis tak berdaya dalam pelukan, pelukan saling menguatkan satu sama lain.


"Li, mengapa hidup kita berubah seperti ini. Mengapa, Li?"racau Bayu disela isak tangisnya.


"I don't even know the answer. maybe this is life's test, life's toughest test that we experience, and it feels like we can't."ucap Lia lirih.


Bayu melepaskan pelukan perlahan, kemudian menatap mata Lia yang bengkak akibat larut dalam tangisan. Kedua tangannya terulur memegang bahu Lia lalu tersenyum kecil, seperti senyuman penguat agar mereka berdua bisa segera bangkit dari keterpurukan yang berlarut-larut.


"Li, maafkan aku. Maafkan aku belum bisa menjadi kakak yang baik untukmu, seharusnya aku menguatkanmu. Tapi, rupanya aku juga cengeng."Bayu tersenyum sendu."Li, seharusnya kita jangan berlarut-larut dalam kesedihan ini, aku kasihan pada ibu dan ayah. Sebaiknya kita membiarkan mereka tenang dengan mengirimkan do'a, bukan dengan air mata."kata Bayu berusaha untuk berpikir dewasa dan tenang.


"Aku selalu memanjatkan do'a pada tuhan untuk ibu dan ayah setiap hari. Dan aku selalu berkata dalam hati bahwa aku tegar, aku rela tapi nyatanya sulit untuk di lakukan,"air mata milik Lia kembali jatuh, membuat tangan Bayu terulur dan jemarinya menghapus air mata sang adik yang ia sayangi.


Bayu tersenyum sambil mengangguk pelan."Ya, aku mengerti. Tapi, mulai sekarang apakah kita bisa saling berjanji satu sama lain, agar kita tidak larut lagi dalam kesedihan?"

__ADS_1


"A-aku,"


"Berjanjilah,"Bayu mengangkat jemari kelingking kearah Lia, sesaat Lia terdiam.


Lia menatap sang kakak, sang kakak tersenyum dengan kedua alis terangkat."Janji,"akhirnya Lia melebarkan senyuman, sembari mengaitkan jari kelingkingnya dengan erat di kelingking Bayu.


"Janji,"ucap mereka berdua bersamaan, membuat mereka berdua tertawa bersama pada akhirnya.


Mencoba tertawa lepas, dan berusaha untuk tidak larut dalam duka serta saling menguatkan satu sama lain, itulah perjanjian mereka berdua. Meskipun butuh waktu, tapi mereka berdua harus segera bangkit.


Tiba-tiba tawa mereka berdua terhenti setelah bel pintu depan berbunyi, tanda ada tamu. Lia mengedikan dagu sebagai ganti bertanya, sedangkan Bayu hanya menjawabnya dengan kedikan bahu. Lalu, mereka berdua pun memutuskan untuk beranjak keluar kamar dan bergegas untuk membuka pintu.


Ceklek...


Bayu membuka pintu, dan menatap lama sosok itu dalam diam. Dan berusaha mengenali siapa gerangan yang datang menyambangi rumahnya, sungguh ia sama sekali tak mengenali tamu dihadapannya saat ini. Dia sangat asing.


"Pagi, Lia nya ada?"sambut seseorang itu dengan sopan.


Mendengar namanya di sebut, maka kepala Lia pun langsung menyembul dari belakang punggung Bayu. Berusaha mengintip, dan Lia terpaku setelah melihat sosoknya.


"K-kau?"Lia menatap sosok itu dengan ragu-ragu, serta berusaha mengingat-ngingat sosok nya. Apakah ia sungguh mengenalnya atau tidak?






__ADS_1



__ADS_2