Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Mimpi basah 21+"


__ADS_3

"Hallo, em.. aku sudah ada di depan rumamu,"


"...."


"Baik, aku tunggu didepan."


Tut....


Bayu baru saja selesai menelphone seseorang, setelah memasukan ponsel kedalam saku celana, pintu depan rumah itu kini terlihat sudah terbuka lebar. Dengan menampakan seseorang yang sedang ia tunggu. Sosok perempuan cantik keluar dengan style floral outfit yang anggun, dengan rambut pirang tergerai berlayer. Dan tentu saja membuat Bayu berdecak kagum, tapi hanya bisa ia lakukan dalam hati.


"Hai, maaf ya, aku malah menyuruhmu untuk datang kesini,"sambutnya dengan ramah tamah serta senyuman manis tersungging.


"Ah, tidak apa-apa. Lagi pula aku free."ucap Bayu apa adanya.


"Oh, oke. Kalau begitu yuk masuk!"ajaknya yang langsung berjalan terlebih dahulu, yang diikuti Bayu dari belakang.


Nabila membawa minuman serta cemilan oleh tangannya sendiri di nampan. Melintasi Bayu yang terduduk di sofa. Perempuan se-kaya Nabila ternyata bukan type perempuan yang menyusahkan orang lain. Padahal, tadi Bayu sempat melihat dua orang ART yang berlalu-lalang. Bayu sempat berpikir salah satu dari mereka akan menyediakan minuman untuknya sebagai tamu. Tapi justru, malah tuan rumahnya yang melakukan hal tersebut.


"Diminum dulu, Bay."ucap Nabila mempersilahkan, sembari duduk di sofa dengan santai tepat disebrang Bayu.


Bayu mengangguk lalu meneguk jus jeruk itu."Terimakasih,"Bayu tersenyum lebar.


Nabila mengangguk sambil tersenyum."Bagaimana hari kelulusan Lia?"Nabila membuka percakapan.


"Lancar dan Lia dapat juara pertama,"jawab Bayu setenang mungkin, sekedar untuk menetralisir detakan jantungnya yang terasak akan meledak, hanya karena ia bisa berbincang berduaan seperti ini dengan Nabila.


Nabila langsung berdecak kagum setelah mendengar apa yang Bayu sampaikan padanya."Wah, selamat ya untuk adikmu. Sudah aku duga selain cantik, Lia itu smart. Andres beruntung sekali memiliki pacar seperti Lia."ucap Nabila antusias, sementara Bayu terkekeh.


"Ya, Lia juga beruntung memiliki pacar seperti Andres."kata Bayu.


Nabila manggut-manggut."Paket komplit, ya?"Nabila tertawa ringan.


"Iya,"sahut Bayu. "Oh ya, ibu dan ayahmu kemana?"tanya Bayu beralasan, karena sedari tadi ia sama sekali tak melihat penampakan kedua orang tua Nabila.


"Mereka masih di kantor, pulangnya tidak menentu. Kadang sore kadang malam,"jawab Nabila lalu tersenyum.


"Oh,"sahut Bayu pendek. Rasanya, ia tak mengerti harus memulai pembicaraan dari mana. Sebelumnya ia tak pernah segugup ini jika sedang bersama perempuan. Bahkan dengan mantan-mantan yang lainnya juga demikian, mengalir begitu saja. Tapi, saat bersama Nabila ia malah kikuk dan tak tahu harus melakukan apa.

__ADS_1


"Kau keren dan tampan hari ini, seperti seorang pria yang mau ngapel."Nabila tertawa renyah, sementara Bayu langsung gugup.


"Ya?"


"Sebelum ke rumahku apa kau ke rumah pacarmu dulu?"tanya Nabila dengan binar mata menggoda.


"Pacar?"ulang Bayu mengerenyitkan dahi.


"Iya, pacar."


"Ah, aku tidak punya pacar. Bertemu dengan seseorang memang harus kelihatan rapih 'kan? tidak mungkin aku harus berpakaian compang-camping?"gurau Bayu yang langsung disambut tawa ngakak oleh Nabila.


"Yup, kau benar."sahut Nabila manggut-manggut disela tawanya yang begitu menggemaskan, membuat Bayu tanpa sadar ikut terpesona karenanya.


Sepulangnya dari rumah Nabila, Bayu langsung menghempaskan tubuhnya pada tempat tidur, menghembuskan napas lalu tersenyum lebar. Hari ini adalah hari yang begitu indah, Nabila bukan hanya sekedar mengajaknya mengobrol. Tapi, Nabila juga mengajaknya makan malam di rumahnya bersama kedua orang tuanya yang ternyata pulang kantor lebih awal.


Rasanya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi. Orang tua Nabila benar-benar begitu ramah dan begitu perhatian padanya. Apalagi hidangan yang disajikan benar-benar sangat lezat, membuat perutnya sangat kenyang. Makan malam itu sengaja Nabila rencanakan jauh-jauh hari, katanya hal itu dilakukan sebagai bagian kecil tanda terimakasih karena kebaikannya pada Nabila setelah menolongnya dari Stefan, dan tanda terimakasih karena telah merawatnya di rumah sakit kala itu.


Tanpa sadar akhirnya matanya terpejam, ini pasti efek karena terlalu kekenyangan maka kedua matanya pun menjadi sangat berat.


Seperti baru saja terpejam, tapi tiba-tiba saja Bayu merasakan sesuatu, ada lengan yang begitu halus melingkari pinggangnya serta dengan deru napas teratur yang menderu tepat di telinganya, sangat terasa hangat hingga Bayu mencoba untuk membuka mata lalu menoleh.


Bayu tak ingin larut dalam pikirannya sendiri, akhirnya ia memutuskan untuk beringsut dan membalikan tubuh yang semula terlentang agar bisa menatapnya.


Senyuman Bayu terkembang di bibir, mana kala ia menatap wajah Nabila dengan se-intens ini dalam jarak yang begitu dekat. Nabila terlihat sangat begitu molek dan anggun kala ia terlelap. Kelopak matanya yang indah, hidungnya yang bangir, bibirnya yang tipis, dagunya seperti lebah bergantung, kulit putih dan mulus.


Tanpa sadar jemarinya terulur menelusuri bingkai wajah si pemilik difinisi cantik dengan sentuhan halus, gumaman paraunya terdengar seiring dengan sepasang mata yang perlahan terbuka yang berpendar sayu khas orang yang baru saja bangun tidur.


"Hei?"lirih Bayu serupa bisikan, dan senyuman tipis pun tersungging darinya.


"Hei,"balasnya dengan suara dalam dan serak.


"Kenapa kau berada disini?"tanya Bayu beralasan.


"Aku kesini bersama Andres beberapa jam yang lalu, dan sekarang Andres di bawah bersama Lia. Aku mengetuk pintu kamarmu, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Maaf, rupanya aku lancang masuk ke kamarmu dan malah ikut ketiduran disampingmu. Tadinya aku ingin membangunkanmu, karena aku ingin mengobrol denganmu. Tapi, melihatmu tertidur pulas aku jadi enggan. Aku tak tega membangunkanmu."paparnya sementara Bayu mengangguk paham.


"It's okay, jika masih mengantuk tidur saja."saran Bayu tersenyum, sementara Nabila menggeleng pelan seraya tersenyum malu-malu.

__ADS_1


"Aku sudah tidak mengantuk,"sahutnya.


"Baiklah,"


"Sepertinya kau harus bergegas mandi, Andres bilang kita akan menonton DVD di bawah. Dan, lebih baik aku juga segera bergegas untuk segera turun."Nabila terbangun dari posisinya, ketika hendak melangkah Bayu segera beringsut dan menahannya dengan menarik pergelangan tangan Nabila, sehingga dengan refleks Nabila terduduk di pangkuan Bayu saat itu juga.


Mata Nabila terbelalak, dan spontan saja kedua tangannya pun ikut melingkar dileher Bayu. Pandangan mereka terkunci satu sama lain, hanya suara detikan jarum jam dingding yang terdengar diantara keheningan.


Pada detik itu juga, Nabila merasakan tangan Bayu menggenggam rambut miliknya yang terurai dan langsung mengibaskannya pelan kebelakang. Nabila merasakan tangan Bayu yang merayap dan membelai bagian punggungnya. Entah mengapa sensasinya benar-benar memabukan dan napasnya pun mendadak tersenggal, begitu pula dengan napas Bayu yang terdengar memburu. Kilatan mata yang dimiliki Bayu seperti kabut yang berkilat pekat, ada arti yang berbeda yang pasti akan di pahami oleh orang dewasa.


Seketika Bayu membungkam bibir Nabila dengan bibirnya. Bibir Bayu memagutnya dengan begitu rakus, dan Nabila pun membalas setiap pagutan itu. Ciuman itu membuatnya seperti kehilangan napas, serta perubahan suhu kamar yang mendadak panas. Satu sama lain merespon setiap gigitan-gigitan kecil dari bibir atas dan bibir bawah, serta menyambut serbuan-serbuan lidah yang melilit yang tengah menari erotis didalam.


Napas Nabila semakin menderu seiring dengan ciuman Bayu yang semakin menggebu. Lalu, Bayu melepas ciumannya dan beralih menghujani lehernya dengan ciuman-ciuman penuh napsu, serta hisapan lembut yang membuat tubuh Nabila bergelinjang disertai racauan yang tak jelas, dan membuat Bayu ikut mengerang.


"Aku akan membawamu ke bulan, Nabila."Bayu mengigau sambil senyum-senyum, dengan mata yang masih tertutup. Membuat sang adik yang sedang berusha membangunkannya langsung geleng-geleng kepala sambil berkacak pinggang.


"Dia bermimpi bersama kak Nabila rupanya, Aish, dasar kucing garong."desis Lia sambil berdecak, sebelum akhirnya melempari Bayu dengan bantal. "Banguuuunnnn, kak Bayu! Ayo, temani aku untuk membeli sesuatu keluar!"Lia seketika langsung mengguncang-guncang tubuh Bayu, karena sedari tadi Bayu sangat sulit di bangunkan.


"Oh, bodoh. Kenapa ada kau disini? dimana Nabila?"teriak Bayu langsung terkesiap setelah beringsut duduk, sementara Lia terlihat memutar bola mata sambil menghela napas kesal, lalu terduduk di tepi ranjang.


"Kau bermimpi apa dengan kak Nabila? sampai-sampai kau ingin mengajaknya ke bulan?"Lia mencoba mengintrogasi dengan kedua mata menyipit penuh selidik. Sementara Bayu langsung kikuk.


"Apa?"


"Kau mimpi apa?"ulang Lia lagi jengah.


"Ah, tidak."kilah Bayu menggelengkan kepala. "Oh bodoh, rupanya tadi hanya mimpi."batin Bayu berkata lalu menghembuskan napas panjangnya.


Suguh mimpi barusan benar-benar membuatnya seperti melayang, satu tahun terakhir ini ia benar-benar tak bisa memungkiri betapa rindunya ia pada gairah. Dan kali ini ia mulai merasakannya lagi, tapi kenapa harus pada Nabila? apa itu artinya...


"Ya ampun, kak. Kau mengompol di celana? iukhhh menjijikan.."pekik Lia berigidig setelah melihat penampakan celana jeans milik sang kakak tepat di retsleting yang terlihat basah.


"Oh, tidak."ucap Bayu pelan, sambil mengacak rambutnya prustasi setelah melihat celana jeans nya yang basah. Sebelum akhirnya ia terbirit-birit menuju toilet kamar.


"Sudah besar masih mengompol di celana. Aish, aku tak bisa membayangkan bagaimana kak Nabila kelak jika menjadi istrinya, setiap hari pasti harus mencuci sprai karena kak Bayu masih sering mengompol di celana."dengan polosnya Lia berkata, sambil geleng-geleng kepala tak habis pikir.


__ADS_1



__ADS_2