
"Ini pasti kasus rengking satu lagi,"gumam Lia tak habis pikir sembari menatap intens mading.
"Li, apa seharusnya kita mundur saja? aku seperti ketakutan sekarang untuk membantu Andra, Aku takut mati."bisik Sifa dengan nyalinya yang sudah surut duluan.
"Kau pikir ini bisa dihentikan? jika kita mencoba untuk menyerah, lalu kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya? tentu saja perlahan pembunuhan ini akan terus terjadi, bahkan aku sempat mendengar desas-desus bahwa sekolah ini sudah hampir kekurangan murid, karena semuanya pindah sekolah sebab kasus ini."kata Lia lalu menghela napas panjang, mencoba untuk bersikap tenang.
"Apa peduli mu? kau baru saja bertemu Andra, lalu kau begitu sangat berambisi membantunya, kenapa?"tanya Sifa sarkas.
"Aku sudah berjanji padanya,"jawab Lia sembari menatap wajah Sifa serius.
"Kau bisa mengingkarinya,"sahut Sifa cepat setelah beberapa detik ucapannya terjeda."Aku takut aku akan mati, maaf Lia mungkin aku takan membantumu."sambungnya dengan nada lemah.
"Tapi kenapa?"tanya Lia mencoba meminta penjelasan dari Sifa lagi.
"Aku tak bisa,"jawabnya keras, membuat Lia tersentak. tak habis pikir bahwa Sifa berani membentaknya.
"Kau?"
"Maaf Li, aku ingin menyerah. maka kau hargai keputusanku."ucap Sifa prustasi.
"Sungguh kau tak ingin tahu siapa pelakunya? aku sudah tahu siapa pelakunya kita hanya membutuhkan waktu untuk mengungkapkannya kepada khalayak umum, dan kita bisa mempenjarakan dia !"balas Lia sengit.
"Aku tak perlu tahu siapa pelakunya Lia!! aku tak ingin terlibat apapun, apa kau paham?!"sungut Sifa yang langsung menghentakan kaki kasar dan meninggalkan Lia tanpa senyuman.
"Sifa ?!"teriak Lia memanggil Sifa yang sudah melangkah jauh, namun Sifa sama sekali tak menggubris. membuat Lia menghela napas kasar dan memangpangkan wajah prustasi.
saat itu Sifa meninggalkan Lia, Sifa berjalan di kolidor dengan prustasi, menghela napas kasar dan menghentikan langkah sesaat. kemudian, menoleh kebelakang dan mendapati Lia yang masih berdiri menghadap ke mading. disela itu, Sifa melihat sosok Semmy yang sedang memperhatikan Lia dari jarak jauh. tentu saja hal itu membuat Sifa menelan pelan air liur nya sekuat tenaga, dan kemudian membalikan badannya lagi.
Sifa, sangat khawatir pada Lia. namun, dengan cara apa agar ia bisa membujuk Lia untuk menghentikan tujuannya membantu Andra. Sifa, sama sekali tak memiliki ide cemerlang. ia tak bisa berpikir dalam keadaan perasaan tertekan seperti ini, sekaligus ketakutan.
"Bagiamana, caranya agar aku bisa membantu Lia? agar Lia selamat dari incaran Semmy?"Lia bermonolog dengan dirinya sendiri, dengan perasaan bercampur dengan rasa cemas. ia menggigit ujung kukunya resah. kemudian, ia pun melanjutkan langkahnya kembali di kolidor.
dan saat di kelas, Sifa berusaha untuk mengendalikan diri untuk selalu bersikap tenang jika Lia masih saja marah padanya. tentu, itu adalah hal wajar karena Sifa merasa bahwa Lia sedang kecewa atas keputusannya untuk tidak ikut serta mengungkap kematian Andra. namun, terlepas dari itu, Sifa berhati mulia karena ia tak ingin Lia terluka atau bahkan lebih dari itu. rasanya telalu sulit, namun Sifa yakin ia bisa membujuk Lia. meskipun ia sadar di butuhkan kesabaran yang ekstra untuk merayu Lia, tentu saja ia lakukan agar Lia bisa selamat dari bahaya itu.
"Kau marah padaku?"tanya Sifa memutuskan untuk memulai pembicaraan, yang membuat Lia langsung mendelik sesaat kearahnya.
__ADS_1
Lia tak menjawab pertanyaannya, dan Lia memilih untuk menenggelamkan kepalanya di atas meja, bahkan Lia tak memedulikan Pak Aryo yang sedang menjelaskan sebuah materi. sementara Sifa hanya menghela napas panjang karena Lia mengabaikannya.
"Mungkin, aku harus membicarakan ini pada Lia setelah pulang sekolah."batin Sifa berusaha tenang dan menyabarkan diri.
setelah bel sekolah berdentang, terlihat Lia sudah berjalan menuju pintu kelas. sementara, Sifa masih sibuk membereskan buku-buku kedalam tasnya.
"Li, tunggu sebentar aku ingin bicara padamu!"teriak Sifa segera bergegas.
Namun, Lia hanya menoleh sekilas tanpa memedulikan Sifa yang kini sedikit berlari mengejarnya. bahkan, Lia memilih untuk menghindari Sifa dengan cepat ketika Sifa terjatuh ke lantai karena kakinya tersandung kursi.
"Aww.."Sifa meringis kesakitan lalu bangkit lagi."Li, tunggu aku sebentar saja!"teriak Sifa lagi, dan ia segera bangkit kemudian memaksakan diri untuk berlari lagi, meskipun kakinya masih terasa sangat sakit, ia harus mengejar Lia yang sudah menghilang dari pandangannya.
suasana kolidor sudah mulai lenggang dan sepi, sementara sepasang mata milik Sifa masih mencari keberadaan Lia. namun, sepertinya Lia masih benar-benar marah. sehingga Lia mengabaikannya dan pulang begitu saja tanpa dirinya. bahkan, Lia sama sekali tak menghiraukannya sedari tadi. meskipun ia sudah berteriak, Sifa yakin bahwa Lia pasti mendengar ketika ia memanggilnya, karena suaranya yang lantang. bahkan Lia sendiri tadi sempat menengok kearahnya.
Sifa menghela napas pasrah, ia sadar bahwa terlalu sulit untuk meredam amarah Lia yang masih saja salah paham terhadap dirinya. mungkin Lia sudah mengklaim bahwa ia penghianat. namun, Sifa akan tetap meyakinkan Lia bahwa dirinya bukanlah type manusia yang seperti itu.
ketika Sifa mulai melangkahkan kaki, tiba-tiba saja ada seseorang yang membungkam mulutnya dengan sapu tangan. Sifa terlihat berusaha brontak dan berusaha teriak, namun sepertinya sapu tangan itu terdapat obat bius, sehingga Sifa langsung melemah dan jatuh pingsan. sosok itu yang ternyata Semmy dan kemudian ia pun langsung menyeret Sifa ke area gudang.
Beberapa menit kemudian Sifa terbangun dari pingsannya, membuka perlahan kedua matanya dan merasakan kepalanya agak sedikit pening. kini ia terkapar di lantai yang terasa lembab dan bau aneh yang menyengat, menambah rasa pusing yang semakin kuat. Sifa beringsut untuk duduk, lalu melihat sekeliling yang asing dan menakutkan.
"Hai, Sifa?"sambut Semmy yang membuat mata Sifa terbelalak lalu menelan pelan air liurnya yang terasa sangat kering.
"Kak Semmy? kenapa aku bisa berada disini? kenapa tempatnya sangat mengerikan?"Sifa berucap dengan gemetar sementara Semmy malah tertawa.
"Kau ingin menggagalkan rencanaku untuk membunuh Lia?! tidak semudah itu Sifa! dasar, gadis bodoh! tak tahu aturan!"Semmy berseru keras sambil melotot, lalu berjalan perlahan menghampiri Sifa. sementara Sifa langsung mengesot untuk menjauhi Semmy.
pergerakannya terhenti dan ia bersandar ditembok, Sifa ketakutan, gemetar dan sudah kehilangan energinya karena mungkin efek bius itu masih ada.
BUGH !!!
"OHOOKKK..."
Semmy langsung menghantam perut milik Sifa, tanpa memedulikan bahwa Sifa adalah perempuan yang harus di jaga, bukan malah disiksa seperti ini. berhubung Semmy adalah psikopat maka ia sudah di pastikan tak memiliki nurani dan rasa belas kasihan.
tersemburlah darah segar dari mulut Sifa seketika, akibat hantaman bogem yang dilakukan Semmy padanya. sekali lagi, Semmy mengepalkan kuat tangannya dan meninju begitu keras di perut Sifa, dan lagi-lagi darah segarpun tersembur.
__ADS_1
Sifa meringis kesakitan diiringi tangisan, sembari memegang perutnya, dengan tangan yang lemas. matanya juga berkunang-kunang dan mengabur, sebelumnya Sifa belum pernah merasakan di aniyaya secara sadis seperti ini. bahkan, untuk membela dirinya sendiri Sifa sudah tak mampu.
Semmy menjambak rambut Sifa, sampai Sifa menangis ketakutan bercambur dengan rasa sakit, dan perlahan ia bangkit untuk berdiri mengikuti kemauan Semmy.
Semmy langsung mengikat badan Sifa di kursi, kemudian menyumpal mulut Sifa menggunakan kain sehingga Sifa kesulitan berbicara ataupun berteriak.
"Kau akan mati di tanganku!!"ucap Semmy dengan smirknya.
Sifa hanya menggeleng-gelengkan kepala diiringi isakan tangis menyayat hati. Semmy sudah tak tahan dengan Sifa yang terus-menerus menangis. sehingga dengan kalapnya Semmy mengambil pisau lipat dari dalam saku celana seragamnya.
Sifa langsung terkejut dengan mata yang terbelalak, melihat perlakuan Semmy yang menyeramkan lebih dari iblis. seketika dengan lembut, pisau lipat yang tajam itu menggoreskan ke area pipi Sifa yang mulus hingga berdarah dan menetes membasahi ubin. jika saja Sifa tak di bungkam kain, maka ia akan berteriak keperihan mendapati pipinya yang digoreskan pisau yang begitu tajam.
Srakk...srakk...
"Sttt.. kenapa kau berisik sekali, ha?! berhentilah untuk tidak menangis bodoh!!!"
plak....
Semmy langsung menampar pipi Sifa dengan keras, sehingga bunyinya terdengar nyaring di ruangan sunyi seperti ini.
Sifa terdengar sesegukan, dan berusaha untuk berbicara namun tertahan oleh sumpalan kain di mulutnya. maka, Semmy pun langsung melepaskan sumpalan kain itu.
"Aku mohon lepaskan aku, apa salahku?"Sifa menangis sembari memohon-mohon dengan rasa takut yang bercampur menjadi satu.
"SALAHMU ADALAH TERLALU IKUT CAMPUR!! KAU TAHU, AKU INGIN MEMBUNUH SEMUA ORANG YANG BER-RENGKING SATU, TAPI KAU MALAH INGIN MELINDUNGI LIA! BODOH, ITU SAMA SAJA KAU MENYERAHKAN NYAWAMU SENDIRI. PADAHAL AKU TAK BERNIAT MEMBUNUHMU!"teriak Semmy nada sarkas kemudian menampar pipi Sifa kanan-kiri.
Plak..plak..plak..
seolah tak memberikan ampun, Semmy menendang perut Sifa dan menendang kursi yang diduduki Sifa sampai tersungkur ke lantai.
"Akan ku habisi kau!!"seringai jahat Semmy terpangpang, lalu tertawa terbahak-bahak seolah apa yang ia perbuat adalah pertunjukan yang teramat seru.
__ADS_1