Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Pertengkaran,"


__ADS_3

"Ada apa, Bay?"tanya Nabila yang mulai ikut panik, sebenarnya ia mendengar apa yang Bayu bicarakan lewat sambungan telephone tadi, namun ia hanya ingin memastikan bahwa apa yang ia dengar tidak keliru.


"Andres kecelakaan, Bil."jawab Bayu dengan wajah yang berubah pias.


Nabila terkesiap dan langsung bangkit dari tempat duduk."Apa?"


Nabila bergetar, tangannya menutup mulutnya yang terperangah, lalu sedetik itu air mata kembali meluncur mendesak keluar dengan begitu cepat. Menggeleng samar untuk menepis bahwa tidak mungkin Andres kecelakaan, tapi rupanya kecelakaan itu memang terjadi.


"Lalu bagaimana keadaannya, Bay?"Nabila terisak lirih.


"Jangan menangis, Bil. Tenangkan dirimu,"Bayu mengusap bahu Nabila dengan lembut karena Nabila semakin bergetar, dan terisak-isak. Bagaiamana pun Andres adalah sahabat terbaiknya yang sudah ia anggap layaknya sebagai saudara sendiri.


"Bagaimana keadaan Andres?"tanya Nabila serak dengan menatap mata Bayu lekat.


"Aku juga tidak tahu,"jawab Bayu menggeleng dan ikut cemas karena melihat Nabila yang menangis semakin deras.


"Aku mau kesana, Bay. Aku harus kesana..."


Tanpa berpikir panjang Bayu mengangguk."Iya kita kesana,"


Akhirnya Bayu dan Nabila pun langsung pergi dari taman dengan begitu terburu-buru karena rasa panik mereka berdua terhadap keadaan Andres. Semoga keadaan Andres tidak cedera parah, dan semoga Andres bisa langsung sadarkan diri.


Akhirnya Bayu dan Nabila sampai di dalam rumah sakit. Berjalan terburu-buru dengan wajah pias mereka yang terpatri diwajah. Nabila langsung berlari kecil dan langsung menanyakan pasien bernama Andres pada resepsionis rumah sakit.


"Permisi, sus. Pasien yang bernama Andres yang mengalami kecelakaan ada diruangan mana, sus?"tanya Nabila pada seorang suster disana. Sementara Bayu yang berada disampingnya hanya bisa merangkul pundak Nabila dan sesekali mengelusnya untuk menenangkan.


Suster yang ditanya langsung memeriksa sesuatu di komputernya."Ruangan VIP lantai lima, bu."jawab suster seraya tersenyum ramah.


Nabila mengangguk."Terimakasih, sus."


Dengan cepat Nabila bergerak melangkahkan kaki dan langsung berjalan menuju lift, yang didampingi oleh Bayu yang sama cemasnya. Dengan penuh tak sabaran, Nabila langsung menekan tombol lantai lima setelah masuk kedalam lift. Sesekali Nabila menghapus cepat air matanya yang berkali-kali menetes yang menangis tanpa suara. Hatinya berdebar, bercampur dengan rasa takut Andres mengalami kecelakaan parah. Mendengar kabar buruk seperti ini tentunya membuat jantung Nabila serasa menclos seketika.


Setelah keluar dari dalam lift Nabila langsung berlari kecil dan akhirnya sampai diruangan yang di magsud dan mendapati dua sosok yang sedang sama cemas nya. Yang duduk di kursi tunggu adalah Lia yang terlihat sedang sesegukan, sementara papi Andres terlihat mondar-mandir dengan ekspresi resah seperti sedang menunggu sesuatu. Sepertinya mereka sedang menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter.


Lia dan papi Andres yang tengah menunggu dengan cemas, cukup terkejut melihat kedatangan Bayu dan Nabila yang kini sudah sampai didekat mereka.


"Kakak,"Lia terisak dan langsung berhambur memeluk tubuh Bayu dan menangis didadanya, Bayu mencoba menenangkan dengan mengusap-usap rambut adiknya itu.


"Tenangkan dirimu, Li."bisik Bayu dengan lirih, sementara Lia masih saja menangis membuat Bayu yang melihatnya merasa tak tega.


"Om, bagaimana keadaan Andres?"tanya Nabila tak sabaran dengan air mata yang terus saja berlinang.


Papi Andres tidak mengatakan apapun selain menggerakan isyarat dengan gelengan kepala. Membuat Nabila bergerak secara implusif mencuri pandang kedalam ruangan dengan mengintipnya di balik kaca pintu, dimana seorang dokter dan dua suster sedang bekerja keras di dalam sana. Berjalan kesana-kemari mengambil sesuatu seraya mengitari tubuh lemas yang tengah berbaring di atas brankar.


Kaki Nabila mendadak lemas melihat bahwa benar Andres yang berada disana adalah Andres yang hidupnya di topang dengan alat-alat medis.


Nabila menangis, tubuhnya meluruh ke lantai. "Andres, apa dia akan baik-baik saja?"Nabila menangis tiada henti, seketika Lia langsung berhambur memelukanya dari belakang dengan tangisannya yang sama pecahnya.


"Andres harus baik-baik saja, dia pasti melihat bahwa kita datang untuknya."suara serak Lia terdengar ditelinga Nabila, membuat Nabila membalas pelukan Lia dengan sama eratnya.


Kolidor rumah sakit terdengar hening tanpa sua, hanya suara isak tangis yang terdengar menyelimuti.


"Andres bertahanlah,"lirih Lia pilu, tengah berharap.


Menit berikutnya setelah sekian lama menunggu, seorang dokter keluar dari ruangan. Membuat semua yang tengah menanti kabar Andres langsung berdiri, dengan ekspresi masing-masing terlihat kusut dan sembab.

__ADS_1


"Dok, bagaimana keadaan anak saya dok, saya tidak ingin kehilangan anak saya lagi dok, tolong katakan bagaimana keadaannya?!"papi Andres bertanya dengan tak sabaran dengan kedua tangannya meraih bahu sang dokter seraya mengguncang-guncangkan tubuh sang dokter dengan panik. Papi Andres terlalu kalut saat ini.


Sang dokter menunduk sebentar, sebelum akhirnya kepalanya terangkat dan mengembangkan senyuman sendu dengan menatap wajah pria paruh baya yang berada di depannya itu.".... Maaf,"


Papi Andres dan yang lainnya langsung mematung, tatapan papi Andres menatap sang dokter dengan nanar. Papi Andres menggeleng samar, tubuhnya bergetar langkah kakinya bergerak mundur dan tubuhnya langsung terhenti di dingding tembok, sampai akhirnya tubuhnya perlahan meluruh ke lantai. Saat itu juga papi Andres langsung menangis histeris dan menjeritkan nama Andres dengan isak tangis yang menyayat hati, Lia dan Nabila langsung berlari menghampiri papi Andres dan langsung memeluknya dengan kuat diiringi suara tangisan yang sama histerisnya, memenuhi kolidor ruangan yang sunyi. Jantung Bayu serasa akan rontok saat itu juga, ia meremas rambutnya dan mengacak rambutnya prustasi sambil menangis juga. Dadanya terasa begitu sesak sangat sesak, ia harap semua yang terjadi hanyalah mimpi. Semuanya tidak mungkin dengan apa yang terjadi saat ini, semuanya benar-benar tidak mungkin bahwa ternyata Andres kini telah meninggal dunia.


Sementara disana ada roh Andres yang tengah mematung, menyaksikan kepedihan karena harus melihat orang yang ia sayangi tengah menangis penuh histeris, dengan jeritan, isakan dan berkali-kali mereka menyebut namanya dengan lirih. Membuat dadanya berdenyut nyeri, Andres pun ingin menangis. Buliran air mata yang meremang kini menetes jatuh dengan mulus di pelupuk pipinya.


"Maaf,"lirihnya dan berusaha mengukir senyum di bibirnya. Sebelum akhirnya Andres menghilang secara perlahan bagai kabut tipis.


Angin sepoi-sepoi berhasil memporak-porandakan poni Andres, tatapan matanya menatap lurus memandangi pohon akasia yang berjejer dengan begitu rapih didepannya.


Sampai akhirnya Andra berdiri disampingnya, melirik wajah Andres lalu tersenyum kecil. Menyadari sesosok Andra yang berada disampingnya membuat Andres kini menoleh, angin semakin berhembus kencang tapi ia tak peduli, yang ia rasakan adalah kesedihan.


"Ini belum waktunya, Andres."kata Andra yang langsung meraih kedua bahu Andres, sehingga mereka berdua saling berhadapan.


"Apa kau tidak lihat aku sudah tidak berdaya di atas brankar?"Andres tersenyum kecut, meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan.


"Apa kau tidak bisa berjuang sedikit?! lihatlah orang-orang yang menyayangimu tengah bersedih, apa kau sudah tidak peduli mereka?"sindir Andra tak habis pikir dengan Andres yang menyerah begitu saja.


"Tidak bisakah kau diam dan tidak ikut campur, hah?!"sungut Andres seketika dengan emosi yang meletup-letup.


Plak!


Andra langsung mendaratkan tamparan di pipi Andres dengan keras, sementara Andres langsung mengangkat kerah baju Andra dengan kasar seraya giginya bergemeletuk disertai tatapan matanya yang tajam.


Andra tersenyum miris."Kau payah,"komentarnya pedas sementara Andres langsung melepaskan kerah baju Andra dengan kasar.


"Sebaiknya kau tinggalkan aku,"ucap Andres pelan tanpa menatap wajah Andra sedikitpun. "Lebih baik kau pergi!!"sentak Andres seketika lalu mendorong tubuh Andra dan hampir saja Andra terjengkang.


"Kau bodoh! sangat bodoh, apa yang ada dalam pikiranmu, hah?! seharusnya kau bahagia bahwa aku sudah tidak ada dalam kehidupan Lia. Seharusnya kau juga beruntung disayangi oleh mereka yang sedang menangismu sekarang. Kau bodoh! jika aku jadi kau, sungguh aku takan pernah melewatkannya, kau bodoh sangat bodoh! brengsek!!"Andra memaki dan terpancing emosi sehingga kepalan tangannya berhasil memukul rahang Andres berkali-kali, kemudian kembali mendarat di pangkal hidungnya sampai mengucurkan darah.


Dengan napas yang naik-turun Andra menyaksikan Andres yang terluka, dan ia sadar tak sepantasnya ia berkelahi seperti ini. Namun, sikap Andres benar-benar membuat kesabarannya habis. Sehingga emosinya meluap-luap tak terkendali seperti ini.


"Bangun dan kembalilah!!"Andra berseru namun Andres hanya tersenyum sinis.


"Tidak!"tegas Andres bersikeras.


Satu pukulan mendarat lagi kali ini di dada dan diperut Andres, Andra benar-benar sangat emosi karena Andres sangat keras kepala dan tak bersyukur dengan kesempatan yang ia miliki.


Andres terbatuk-batuk sambil membungkuk memegangi perutnya yang berdenyut nyeri, namun pandangan matanya yang tajam sama sekali tak teralihkan dari sosok Andra.


"Jangan hanya memukul, sebaiknya kau mencekikku!"sindir Andres seraya tertawa.


"Aku tak mengerti dengan jalan pikiranmu, aku hanya ingin membuatmu bahagia dan tak merasakan apa yang aku rasakan. Tidak enak jadi aku Andres. Aku yang mati dibunuh lalu jatuh cinta dengan Lia, aku tak bisa meneruskan hubungan terlarang itu, dan bahkan aku sudah tak bisa memeluk papi lagi secara nyata Andres. Hanya kau yang bisa, tapi mengapa harapan yang sudah ku bangun seketika kau runtuhkan dengan mudah, kenapa?!"Andra mengeluarkan isi hatinya dengan nada rendah disertai air mata yang berlinang. "Tapi kau sama sekali tak bersyukur dengan keberuntungan yang kau miliki!"sungut Andra menggebu-gebu sambil menunjuk Andres dengan matanya yang memerah akibat emosi yang tengah meledak. "Kau sama sekali tak ingin berjuang! kau lelaki yang sangat payah, dan tolol!"teriak Andra hampir kehilangan akal sehatnya, karena ia begitu kalut saat ini.


"Aku memang bodoh, hanya saja aku juga tak ingin melihatmu tersiksa. Jadi lebih baik aku juga mati saja."lirih Andres seraya tertawa miris, membuat Andra geleng-geleng kepala tak habis pikir.


"Tersiksa bagaimana katamu, hah?! jelas-jelas aku bahagia melihat kau bersama Lia dan kau juga bisa menemani papi yang sebatang kara. Tapi, mengapa kau kini malah begini, hah?!"Andra berseru keras. "Kau tidak beda jauh dengan seorang pecundang dan berpikiran begitu sangat dangkal,"cibir Andra muak.


Andres kini hanya diam saja, ia larut dalam pikirannya sendiri. Apa yang Andra katakan memang benar ia tidak lebih dari seorang pecundang yang sedang lari dari kenyataan.


Andra tersenyum getir."Ya, kau benar lebih baik kau mati saja. Dan jangan pedulikan mereka."sambung Andra berkata disertai sindiran, seraya ia menoleh kearah Andres lalu tersenyum meremehkan.


Andres masih saja diam namun tangannya mengepal kuat disisi tubuhnya. Bukan hanya Andra yang membenci dirinya karena keegosiannya, tapi dirinya sendiripun membenci hal itu.

__ADS_1


Kalau ia tidak egois seperti ini ia takan pernah menyerah begitu saja, takan menyanyakan kesempatan yang sudah ada, dan bahkan denyutan nadinya pun masih sangat begitu terasa. Itu artinya ia masih ada kesempatan untuk hidup lagi. Hanya saja ia yang bodoh. Buliran air mata yang meremang akhirnya menetes, bibirnya bergetar dan ingin merutuki diri.


"Aku yang brengsek, apa yang telah aku lakukan."Andres berakta dalam batin dengan rasa penuh penyesalan. "Tidak bisa seperti ini, aku tidak bisa pergi dengan cara seperti ini."lirihnya.


Mulut Andres terbuka untuk mengatakan 'Maaf' pada Andra yang masih menatapnya nanar, tapi suaranya sulit keluar. Dan bahkan ia tak bisa mendengar suara isakannya sendiri.


Andres terus meraung pilu sampai tenggorokannya terasa perih dan sakit, tapi itu semua tak bisa membuatnya memaafkan dirinya sendiri. Meskipun berkali-kali ia mengusap wajahnya kasar, tapi tetap saja rasa sesak itu sama sekali tidak hilang.


Saat itu sosok wanita paruh baya hadir dengan senyuman terkembang dan wajah yang begitu cerah, membuat mata Andra dan Andres terbelalak sekaligus rindu dengan kehadirannya. Dia adalah perempuan yang telah melahirkannya kedunia, seiring dengan sang mami yang kini mulai menghampiri dua anaknya itu.


Bibir Andres bergetar, hendak menjerit namun air mata terlebih dulu mengucur."Ma-mi,"panggil Andres dengan suara seraknya.


"Kenapa kalian bertengkar seperti ini?"tanya sang mami lembut dengan mengulas senyuman kecil.


"Kami tidak bertengkar,"kilah Andra seraya melirik sekilas Andres.


"Kemarilah,"pinta sang mami lalu dua anaknya itupun langsung berhambur cepat dan memeluknya dengan begitu erat.


Akhirnya mereka berdua menangis dalam pelukan perempuan pertama yang paling mereka cintai dalam pelung hati terdalam, dan mulai menyadari kesalahan yang terjadi bahwa mereka berdua merasa sangat bersalah satu sama lain karena telah bertegkar seperti ini. Dan semua ini terasa menyakitkan.


Tidak...seharusnya bukan begini. Andres menyadari masih banyak hal yang belum ia lakukan termasuk memberikan pembuktian bahwa ia harus meminta maaf atas segala keegoisan yang mengakibatkan kegaduhan ini terjadi.


"Berdamailah sayang, anak mami tidak pernah bertengkar seperti ini."pinta sang mami sembari merangkul kedua anaknya itu dengan rasa sayang yang tak ternilai ketulusannya.


***haha untuk part ini agak panjang ya, maaf banyak drama berhubung ini adalah episode-episode terakhir. Dalam menulis dibutuhkan konflik jadi jangan merasa ribet ya dengan ceritanya. Ini adalah cara author untuk memperpanjang cerita kalau idenya sedikit pasti ceritanya akan mentok. Jadi dibutuhkan alur. Yang penting kan masih nyambung, iya gak? jangan lupa like dan komen ya, enjoy reading oke.



 



**












__ADS_1


__ADS_2