Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Ke rumah calon mertua?"


__ADS_3

Lia menatap tanah basah kuburan tempat perisitirahatan terakhir Andra dengan tatapan mata kosong, jazad Andra di makamkan di tempat pemakaman milik keluarga. Sementara jazad Sifa di makamkan di tempat pemakaman umum. Setidaknya kini perasaan Lia sedikit lega dan perlahan ia mulai bisa menerima segala apa yang terjadi, ia sadar bahwa ia tak boleh egois dan memaksakan kehendak.


"Terimakasih telah membawaku kesini setelah dari pemakaman Sifa, setidaknya kerinduanku ini telah terobati."ucap Lia membuka suara dengan setenang mungkin, lalu menoleh ke arah Andres sembari tersenyum tipis.


Andres mengangguk pelan, seraya membalas senyuman Lia sendu."Apa kau baik-baik saja?"tanya Andres dengan tatapan khawatir.


"Tentu, aku baik-baik saja,"Lia mencoba tersenyum lagi dan berusaha menguatkan hatinya yang rapuh.


"Li, terimakasih."ucap Andres sembari memegang kedua bahu Lia sehingga mereka berdua saling berhadapan.


"Terimakasih untuk apa, Andres?"tanya Lia tak mengerti.


"Untuk segala hal, termasuk membantu memecahkan kasus pembunuhan ini. Papi ku merasa sangat tenang sekarang, bahkan mungkin Andra jauh lebih tenang juga di sana. Semua ini berkat kau, kau gadis mungil yang pemberani."ujar Andres menatap mata Lia dengan penuh rasa bangga.


Lia tersenyum."Tidak Andres, aku tidak seberani itu. Hanya saja mungkin aku beruntung bisa selamat, dan tentu saja itu atas kerja sama kita berdua Andres. Kita berhasil membongkar kasus ini, bukan karena aku semata."


"Kau yang terlebih dulu menggerakan aku, Li. Bahkan aku memang tak tahu apa-apa mengenai penyebab sesungguhnya kematian Andra, dan kami sekeluarga tidak bisa melakukan apapun saat itu untuk memecahkan kematian Andra yang janggal."


"Andra mempercayakan itu padaku, sebelumnya aku ragu untuk melakukannya."sahut Lia sembari menoleh sekilas ke kuburan Andra seraya tersenyum, kemudian menatap Andres kembali."Kau tahu, sekarang aku jauh lebih ikhlas melepas kepergian Andra. Meskipun awalnya aku ketakutan kehilangannya."


"Syukurlah, Li. Percaya padaku, jika kau bahagia Andra juga pasti bahagia disana."ucap Andres tersenyum.


Lia menoleh lagi ke kuburan Andra, kemudian ia berjongkok mengusap lembut batu nisan. Setetes air mata jatuh, maka dengan cepat ia menghapusnya dan berusaha mengembangkan senyuman agar ia bisa jauh lebih kuat.


Saat Lia mengalihkan pandangan ke kiri, ia melihat batu nisan mami Andra bernama Raisa. Maka, ia bangkit berdiri menghampir kuburan itu.


Lia berjongkok, kemudian kedua tangannya terbuka untuk mendo'akan mami Andra dengan mata terpejam, kemudian mengusap batu nisan itu dengan lembut.


"Kau mengenali mami ku?"tanya Andres setelah ia menghampiri Lia dan ikut berjongkok di sampingnya.


Lia mengangguk pelan."Kami pernah bertemu,"jawabnya.


"Wah, apa kau serius?"tanya Andres seperti belum meyakini ucapan Lia barusan.


"Sejak ingin mengetahui tentang Andra maka aku datang kerumahmu,"jawab Lia sembari melihat wajah Andres.


"Sayang sekali kita tak bertemu, Li."Andres tertawa renyah.


"Aku pikir kau memang tak diciptakan di muka bumi ini dengan wajah yang serupa seperti Andra,"goda Lia sembari tertawa ringan.

__ADS_1


"Kau ini, meledekku ya?"tangan Andres langsung terulur mengusap cepat rambut milik Lia seraya tertawa.


"Bukan meledek, aku hanya menyindir."Lia tertawa sembari mendorong pelan bahu Andres. Jika pertahanan Andres tak kuat mungkin ia akan terjengkang, untuk saja ia bisa menjaga keseimbangan.


"Sama saja,"komentar Andres mencabik, sementara Lia hanya tertawa.




"Kita mau pergi kemana?"tanya Lia agak teriak karena suaranya hampir tenggelam oleh suara deru mesin motor, serta suara kendaraan lain yang suaranya nyaring di jalan raya.


"Nanti kau akan tahu,"sahut Andres membuat bibir Lia spontan mengerucut.


"Tapi, aku ingin tahu sekarang!"ucap Lia nada penuh penasaran.


"Kalau aku beritahu sekarang, nanti bukan kejutan lagi namanya."kata Andres yang membuat Lia berdecak gemas, karena Andres tak ingin memberitahunya sama sekali.


Andres melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang, sementara ia berusaha menenangkan degup jantungnya yang berdebar kencang. ****, Andres rasa sekarang ia mulai kesulitan untuk mengusir senyum yang sedadari tadi menempel di bibirnya. Rasanya sangat aneh, ia memboceng Lia dengan perasaan berbeda tapi terasa menyenangkan.


Angin berhembus cukup kencang, sehingga rambut milik Lia yang terurai terkibas. Membuat Lia beberapa kali menyelipkan helaian rambutnya ke balik telinga.


"Li, apa kau terkejut? aku minta maaf,"ucap Andres nada sedikit panik seraya menoleh sekilas ke arah Lia, lalu melanjutkan perjalanan.


"Aku baik-baik saja, mengapa ada orang gila berkeliaran di jalanan, sih?"Lia mendengus sebal lalu ia melepas pelukannya itu seketika.


"Aku tidak tahu,"sahut Andres seraya tertawa.


"Ah, sepertinya aku tahu kau mau mengajakku kemana."ucap Lia menyadari sesuatu, yang membuat Andres tersenyum kecik sembari memperhatikan wajah Lia dari kaca sepion motornya.


"Oh, benarkah?"


"Kau mau mengajakku kerumahmu 'kan?"


Andres mengangguk."Yup, kau benar."


"Memangnya ada acara apa?"tanya Lia penasaran.


"Tidak ada,"jawab Andres pendek.

__ADS_1


"Lalu?"


"Papi ku ingin bertemu denganmu."


"Hah, serius?"


"Untuk apa aku bohong,"


"Tapi, tapi aku malu."cicit Lia yang membuat Andres tertawa seketika, seolah ucapan Lia barusan terdengar sangat lucu di telinganya.


"Tidak perlu malu, kau pakai baju 'kan?"


Lia berdecak kesal."Malu bukan berarti tidak pakai baju,"


"Waktu di rumah sakit kau terlihat tenang saat bertemu papi ku,"


"Ah, tapi beda rasanya. itu kan di rumah sakit, kalau bertemu dengan Papi mu di rumahmu langsung pasti rasanya berbeda."ucap Lia dengan degup jantung yang berpacu cepat.


"Sama saja, Li."sahut Andres terkekeh melihat ekspresi Lia yang berubah panik.


"Kenapa kau tidak bilang dari awal, tentu saja pasti aku akan mempersiapkan mentalku dulu. Ah, mengapa rasanya seperti akan di kenalkan pada mertua saja, sih."Lia menghela napas panjang dan terlihat begitu gelisah.


"Memang,"sahut Andres tertawa kecil.


"Tapi sayangnya Andra sudah tiada di dunia ini, jika di masih hidup mungkin aku akan begitu antusias saat aku akan di kenalkan pada Papi mu itu."kata Lia yang membuat Andres mengulum senyum.


"Kan ada aku, Li."sahut Andres tiba-tiba yang membuat Lia seketika terdiam untuk sesaat.


"Aish, kau ini."Lia memukul pelan punggung Andres sementara Andres hanya tertawa.


"Sungguh aku tak sabar ingin segera sampai. Li, pegang pinggangku kuat-kuat jika kau tak ingin jatuh terjengkang, aku akan melajukan motorku kencang."Andres memberikan aba-aba yang membuat Lia terkesiap seketika.


"Andres..."jerit Lia yang membuat Andres langsung tertawa ngakak, melihat Lia yang berubah panik.


Lia langsung memeluk pinggang Andres dengan kuat setelah Andres menancapkan gas dalam kecepatan sedikit cepat. Andres menoleh lalu tersenyum lebar.



__ADS_1


__ADS_2