Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Amanat dari Nabila"


__ADS_3

Suasana di aula sudah terlihat ramai, sambutan dan hiburan berlangsung secara bergantian. Suasana terasa begitu meriah dan dipenuhi dengan ekspresi dari masing-masing wajah para orang tua murid yang begitu antusias. Kini tiba saatnya untuk pengumuman kejuaraan untuk murid berprestasi. Mulai dari kelas satu, kelas dua. Ketika semuanya telah berjejer dengan rapih setelah pemanggilan nama sang juara, suasana begitu hangat diiringi suara tepuk tangan yang gemuruh. Dan kini akhirnya pengumuman kejuaraan untuk kelas tiga. Pengumuman di sampaikan dari urutan juara ketiga, lalu kedua, dan juara pertama.


Lia terperangah dan matanya langsung terbelalak, tak mempercayai ketika namanya di sebutkan sebagai juara pertama di kelas. Memang, ini bukanlah kali pertama ia juara satu. Namun, ia tak pernah merasa jumawa dan ia selalu menganggap prestasi yang diraihnya adalah suatu hal yang perlu ia sambut.


"Dan juara pertama perwakilan dari keseluruhan murid kelas tiga diraih oleh....'Lia Keinara'."seru kepala sekolah memberikan pengumuman yang diringi sambutan tepuk tangan yang meriah.


Lia langsung melangkahkan kaki untuk naik ke atas panggung yang tersedia, berjejer bersama dengan murid berprestasi yang lainnya.


Lia menggembangkan senyuman kearah sang kakak yang duduk dikursi undangan dibarisan paling depan. Sementara Bayu mengacungkan dua jempol untuknya, tanda bahwa ia merasa bangga, dan hal itu tentu saja membuat Lia tersipu.


Masing-masing juara diberikan piala, dan kini giliran Lia yang di kalungkan piagam serta diberikan piala dengan ukuran tinggi karena meraih juara pertama. Ini adalah hari yang begitu membahagiakan meskipun ada yang kurang selain tanpa hadirnya kedua orang tuanya, kini ia juga harus merasakan suatu yang kurang karena Andres tidak hadir.


Lia menoleh keujung sana dan melihat sosok tampan itu terduduk dengan begitu tenang, dia tersenyum ketika mata mereka bertemu.


"Maaf aku terlambat,"dia berbicara tanpa suara. Sementara Lia langsung geleng-geleng kepala sambil tersenyum bahagia. Rupanya Andres berbohong padanya, dia bilang ia tidak bisa hadir tapi nyatanya sekarang ia berada di disini.


Acara photo-photo dengan teman-teman sekelas untuk momen perpisahan akhirnya selesai. Lia keluar dari ruangan bersama Sania, mereka terlihat mengobrol dengan ekspresi sedih lalu saling berpelukan. Setelah itu mereka berpisah, dengan melambaikan tangan setelah Sania meninggalkannya.


Lia turun menapaki beberapa anak tangga, kemudian menghampiri sang kakak yang terlihat sedang berbincang-bincang sambil sesekali tertawa dengan Andres di halaman sekolah.


"Hai, Li?"sambut Andres setelah melihat keberadaan Lia di tengah-tengahnya.


"Katanya kau tidak bisa hadir?"tanya Lia beralasan, sementara Andres tertawa renyah.


"Ya, aku hanya bercanda."jawabnya santai sambil mengedikan bahu singkat.


"Itu bukan bercanda tapi kau berbohong padaku. Jika kau bilang terus terang, mungkin aku tidak akan merasa bersedih, hanya karena memikirkanmu yang takan datang. Kau membuat hatiku patah,"Lia mendengus sebal, Andres hanya cengengesan sementara Bayu yang berada disamping mereka hanya terkekeh.


"Ya, aku minta maaf. Tapi, sekarang kau merasa happy 'kan karena aku datang?"goda Andres penuh percaya diri.


"Biasa saja,"sahut Lia ketus, mendengar hal itu Bayu langsung tergelak. Betapa sangat menggelikannya adiknya itu ketika sedang merajuk.

__ADS_1


Lia langsung mendelik kearah Bayu, maka Bayu pun langsung menghentikan tawanya seketika. Seakan mengerti kode berbahaya dari sang adik jika ia terus meledek.


"Terlepas kau masih marah padaku atau tidak, aku ingin memberikan selamat atas prestasimu karena mendapatkan juara pertama. Aku bangga padamu, Li."Andres mengembangkan senyuman, dan entah mengapa senyuman Andres benar-benar mengalihkan dunianya. Senyuman Andres berhasil meluluhkan hatinya, dan melihat Andres tersenyum membuat kadar ketampanannya semakin berlipat-lipat.


"Thank you,"sahut Lia malu-malu lalu senyumannya pun terukir.


"Cieee.. malu-malu."goda Bayu seketika membuat Lia langsung menyikut perut sang kakak, sementara Andres hanya tertawa.


"Sudah sarapan?"tanya Lia pada Andres.


Andres mengangguk."Sudah, tapi makan siang belum."ucapnya yang membuat Lia tersadar dan melihat arloji di pergelangan tangannya. Sudah pukul sebelas siang ternyata, pantas saja perutnya kini mulai keroncongan.


"Ah, lebih baik kita makan siang dulu di kantin. Makanan di sini lezat-lezat loh,"saran Bayu yang langsung disetujui keduanya.


"Nah, ide bagus tuh."sahut Lia setuju.


Setelah sampai di kantin yang terlihat ramai, akhirnya mereka bertiga duduk di meja persegi dengan hidangan yang telah mereka pesan.


"Selamat atas kelulusanmu adikku tercinta,"kata Bayu sambil nyengir.


"Terimakasih, kak."sahut Lia disela ia mengunyah makanan.


"Li, rencana kuliahmu mau kemana? murid berprestasi sepertimu pasti akan mudah di terima di universitas terbaik."kali ini Andres yang berbicara sambil menoleh kearah Lia.


Lia mengedikan bahu singkat."Aku belum tahu, aku belum memutuskan."jawabnya sambil menyedot es teh ditangannya.


Andres manggut-manggut."Kuliah ditempatku saja, biar bisa barengan."saran Andres sambil tersenyum menggoda.


"Akan ku pikirkan,"sahut Lia membuat Andres merengut, karena jawaban Lia sama sekali tak memuaskan.


"Oke,"ucapnya pendek, lalu melanjutkan suapannya.

__ADS_1


Hening.


"Oh ya, kak. Nabila titip salam untukmu. Katanya jika ada waktu senggang Nabila ingin bertemu denganmu."ucap Andres memberitahu pada Bayu, hampir saja ia melupakan amanat dari Nabila.


Ketika Bayu tengah asik menyantap makanan miliknya, dan setelah ia mendengar ucapan yang meluncur dari bibir Andres, maka secara refleks Bayu langsung berhenti mengunyah, matanya melotot dan detik berikutnya ia langsung tersedak sambil terbatuk-batuk, menepuk-nepuk dadanya yang terasa nyeri.


Maka dengan setengah panik, Andres langsung menyodorkan air minum milik Bayu padanya."Pelan-pelan, kak."Andres berdecak.


Bayu masih berusaha menertralkan napasnya, kerongkongannya masih saja terasa perih meskipun sudah diberi air.


"Aku terkejut,"ucap Bayu apaadanya.


Satu alis Lia terangkat."Terkejut?"ulang Lia merasa heran.


Bayu mengangguk."Mengapa Nabila ingin bertemu denganku?"tanyanya penasaran pada Andres.


Andres menggeleng tidak tahu."Entah,"jawabnya.


"Mungkin mau nembak kakak,"celetuk Lia sambil terkekeh.


"Why? aku masih pengin hidup."sahutnya berlebihan, yang membuat Lia memutar bola mata sementara Andres langsung tergelak.


"Wah, rasanya aku sedang berbicara dengan bocah ingusan yang terperangkap dalam usia 27 tahun."komentar Lia sambil mengerang, karena sang kakak tak mengerti celetukannya.


"Baiklah, jangan dipikirakan. Mungkin Nabila hanya ingin mengobrol saja, tidak lebih dari itu."sambung Andres sambil mengunyah makanan.


"Baiklah, aku akan menemuinya. Boleh aku minta nomor ponsel Nabila?"pinta Bayu pada Andres.


Andres mengangguk."Tentu,"Andres merogoh ponselnya di saku celana jeansnya, lalu menyerahkan ponselnya kearah Bayu.


"Baiklah, terimakasih."ucap Bayu setelah mengetik nomor ponsel Nabila di ponselnya, lalu menyerahkan kembali ponsel itu pada Andres.

__ADS_1


__ADS_2