
*Andra
*Andres
"Andres?"
"Hm?"
"Sejak kapan kau suka menulis lirik lagu?"
"...Dari sejak SMP, kau tidak terlalu perhatian padaku. Jadi, kau tak menyadarinya."Andres masih saja berkutat dengan pena di kertas putih miliknya.
"...Andres,"
"Apa?"
"Lihat aku !"
"Sebentar, aku masih harus menyelesaikan ini."
"Ayolah, aku ingin bicara serius padamu!"
Andres berdecak malas, lalu menoleh sekilas pada Andra yang terduduk di sofa disebrangnya.
"Apa?"
"Ini tentang Lia."
Andres langsung terdiam, kemudian menatap Andra lamat-lamat. menunggu Andra untuk melanjutkan pembicaraannya.
"Apakah kau menyukai Lia?"tanya Andra yang membuat dahi Andres mengerenyit seketika.
"Apa magsudmu?"Andres balik bertanya lalu berdecih.
Andra menghela napas panjang."Itu bukan hal yang mustahil'kan?"
Andres langsung bangkit berdiri sembari berkacak pinggang."Jangan membuat presepsi sendiri ! bahkan aku si pemilik hati, tidak setuju dengan ucapanmu."Andres berkata apa adanya, sementara Andra terdiam untuk sesaat.
"Aku tahu, bahwa aku hanyalah hantu. dan, dan aku tak pantas untuk Lia. aku tak ingin semua orang menganggap bahwa Lia tak waras."ucapnya setelah beberapa detik terjeda dengan kepala tertunduk layu, sementara Andres langsung tertawa mendengar keluh kesah sang adik yang menurutnya seperti sebuah lawakan.
"Jadi, kau mendengar apa yang aku katakan pada Lia petang tadi? oh astaga, bahkan kau sebagai adikku sendiri seperti tak mengenali bagaimana watak kakak nya saja, tadi aku hanya bergurau. jadi, kau memikirkannya?"Andres tertawa sembari menghampiri Andra kemudian duduk disampingnya, lalu menepuk-nepuk pundak sang adik.
"Itu bukan gurauan, itu memang kenyataan."sahut Andres lalu tersenyum miris, bagaimana bisa seorang hantu berpacaran dengan manusia. payah, dan sangat konyol serta tak masuk akal. rasanya, kesedihan kini tengah menertawakannya.
jujur, Andra merasa sakit mendapati fakta yang terjadi padanya. bahkan, kakaknya sendiri merasa bersalah pada Andra, meskipun sebenarnya ia tak berniat menyakiti hati adiknya.
__ADS_1
"Bahkan setelah mati begini, bisa-bisanya aku jatuh cinta__"
"Stop, Andra!"Andres memotong pembicaraan Andra dengan cepat.
"Aku memang payah, aku tahu itu dan aku menyadarinya."tegas Andra yang langsung bangkit dari tempat, berdiri menatap Andres yang membuat Andres mendongkak.
"Andra, dengarkan aku dulu!"sela Andres tak suka.
"Aku tak ingin mendengar apapun lagi, Andres. aku memang payah dan bodoh, lalu aku harus mendengar apa lagi? hantu macam apa yang jatuh cinta seperti ini , hahahh.."Andra tertawa sumbang lalu mengusap wajahnya kasar, menutupi buliran air mata yang menggantung.
"Seandainya aku masih hidup, dan seandainya___"
"Jangan mulai lagi Andra !!"Andres berseru keras sembari berdiri.
"Kita sama-sama memulai !"
habislah kesabaran mereka berdua, saling adu mulut. berteriak, dan saling membentak. meluapkan sebuah kekecewaan dan keegoisan yang tak menemukan penyelesaian.
"Apa magsudmu bertanya padaku, apakah aku menyukai Lia? aku baru mengenalnya, bahkan aku tak ada perasaan sepecial untuknya. lalu, kau menuduhku? untuk apa kau menuduhku? maaf jika lelucon yang terlontar dari mulutku ternyata membuatmu sakit hati, bahkan aku tak berniat untuk menyakitimu. justru aku ingin membantumu, meskipun aku tak tahu aku harus memulainya dari mana. tapi, aku menyayangimu. aku hanya ingin kau tenang, dan berhentilah untuk berpikiran buruk terhadapku dan jangan sensitif !"cerca Andres tak habis pikir dengan prasangka buruk dari Andra padanya.
tersenyum kecut, kemudian Andra menyahut."Apakah aku tak boleh bahagia?"tanyanya sarkas dengan buliran air mata yang terjatuh membasahi pipinya.
"Andra, aku mohon maafkan aku. aku memang bersalah padamu. tapi, sungguh aku tak bermagsud."sesal Andres kini berbicara dengan selembut mungkin, lalu berteriak sembari mengacak rambutnya prustasi.
hancur pertahanan Andra, kini ia menangis. memendam semuanya malah semakin membuatnya lelah, tidak peduli dengan segala keletihan yang dilalui. air matanya memang tak mau berhenti turun, tapi Andra berusaha keras agar ia tidak terisak.
"Andres, apakah aku tak boleh bahagia?"tanyanya lagi dengan suara seraknya.
"Apa maumu?"tanya Andres dengan nada bergemetar pilu.
*****
"Li,"panggil seseorang dengan suara parau, yang membuat Lia beringsut dari kasurnya.
"Andra?"pekik Lia bahagia yang langsung meloncat dari ranjang kegirangan, kemudian ia berhambur memeluk Andra dengan kuat.
"Aku minta maaf padamu,"bisik Andra lirih, memeluk erat Lia dan menangis dalam pelukannya tanpa iskaan.
"Kenapa minta maaf padaku?"tanya Lia sembari sesegukan, karena ia tak kuasa menahan haru. kini ia bisa memeluk Andra kembali. setelah kerinduan itu begitu memenuhi ruang dadanya sehingga sesak.
"Karena sudah menghindarimu,"jawab Andra tulus.
"Aku yang seharusnya minta maaf padamu, maafkan aku.. hukk.hukk.."gumam Lia terisak-isak.
"Mengapa begitu?"
"Karena sudah membuatmu merasa terabaikan, bahkan aku melontarkan kalimat yang tak pantas padamu. aku menyesal."sesal Lia terus terang dengan berlinangan air mata.
"No. ini memang bukan salahmu. ini salahku yang terlalu sensitif."
"Tidak, justru aku yang bersalah padamu. karena__"sanggahan Lia terhenti karena tiba-tiba saja Andra terkikik geli.
__ADS_1
"Kenapa kita jadi saling maaf-maafan begini?"ucapnya disela-sela tawanya setelah melepaskan pelukan.
sebentuk senyuman kecil akhirnya tersungging dari bibir Lia.
"Andra, apa yang terjadi?"tanya Lia, mengusap pipinya yang basah oleh air mata.
sakit rasanya melihat pacar yang ia cintai terlihat sangat begitu terpuruk. kali ini Andra mulai menangis di depan Lia dan terdengarlah isakan meluncur darinya.
"Li,"panggilnya dengan suara serak.
"Iya, aku ada disini."
Lia menangkup pipinya, membiarkan tangannya ikut basah karena air matanya yang berlinang. hatinya berdesir, mengapa rasanya sakit sekali.
"Aku payah sekali, ya?"
suaranya bergetar membuat Lia bergerak secara implusif, memeluknya dengan erat seolah ia sangat takut kehilangan Andra untuk kesekian kalinya. dan membiarkan tubuh jangkungnya bersandar pada tubuh mungilnya.
dadanya terasa sakit, serasa dihantam benda tumpul yang tak kasat mata ketika mendengar Andra terisak pelan. rengkuhan Andra pun terasa lebih erat seperti takut akan sesuatu.
Lia gelisah sekaligus khawatir. setiap Andra membelai rambut panjang miliknya. Lia merasakan hatinya seperti teriris. angin malam dan suara gemericik air memenuhi seisi ruangan.
"Li, aku mencintaimu."bisik Andra lirih, dengan pelukan yang semakin kuat.
"Aku juga Andra. bahkan, aku sudah tak peduli apapun lagi. aku terlanjur mencintaimu, dan aku takut kehilanganmu."balas Lia disela isakannya.
Andra melepaskan pelukannya, kemudian merangkum kedua pipi Lia lalu tersenyum tipis. merasa lebih baik, Andra menyeka buliran air mata di ujung manik mata milik Lia dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.
"Apapun yang terjadi, kau akan selalu dihatiku, Li."cicitnya yang masih bisa didengar oleh sepasang indra pendengaran milik Lia.
"Aku juga,"sahut Lia dengan bibir gemetar.
"Kau juga?"
Lia mengangguk seperti anak kecil, masih sedikit terisak namun kali ini lebih baik.
"Jujur aku cemburu melihatmu dengan Andres,"cetusnya mengulum senyum.
"Apa? kenapa kau harus mencemburi Andres?"tanya Lia tak mengerti.
"Jika kau bicara dengannya, orang yang melihatmu takan mengatakan bahwa kau tidak waras, kau terlihat normal saat bicara dengannya."ia terkekeh sementara Lia langsung mendengus sebal sembari kedua tangannya bersidekap didada.
"Tapi, aku hanya mencintaimu saja, apa kau tahu !!"Lia berseru manja. Dan Andra langsung mencubit pelan kedua pipi milik pacarnya itu.
"Kau lucu,"komentarnya disela tawa.
__ADS_1