Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Pilihlah kata hati."


__ADS_3

"Nabila tunggu!"Bayu menghentikan langkah Nabila dengan menarik pergelangan tangannya, Nabila menoleh dan menatap Bayu dengan ragu.


"Apa?"sahutnya pendek.


"Aku masih menunggu jawabanmu dari pertanyaanku sejak lima hari yang lalu,"kata Bayu setelah menelan air liurnya pelan, sekedar untuk menetalisir rasa gugupnya saat ini.


"Bayu, sorry aku belum bisa."tolak Nabila halus seraya melepaskan tangan Bayu dengan perlahan dari tangannya.


"Tapi kenapa?"tanya Bayu seraya menatap wajah Nabila intens.


Nabila terdiam sesaat sebelum akhirnya bicara."Aku masih fokus pada karier ku dan sebentar lagi aku akan kembali ke Australia."


Deg!


Mendengar jawaban Nabila yang berkata demikian, seketika Bayu terperangah kaget dan tak tahu harus mengatakan apa. Dan yang pasti harapan yang ia bangun dengan penuh kepercayaan diri seketika harus pupus dengan begitu mudah.


"Dan aku tak bisa menjalin hubungan dengan siapapun, termasuk denganmu, Bay. Aku mengatakan ini dengan banyak pertimbangan."ujarnya dengan nada bicara selembut mungkin, agar Bayu tak merasa sakit hati. Atau mungkin penolakan itu malah telah membuatnya patah hati.


Bayu mengangguk samar seraya tersenyum miris."Apa kau takut jatuh cinta?"tanya Bayu membuat kepala Nabila kembali terangkat setelah tadi ia memilih untuk tidak menatap mata Bayu sedikitpun.


"Aku tidak pernah takut,"jawab Nabila yakin.


"Lalu kenapa kita tidak memulainya? aku takan menghalangi semua aktivitasmu, aku siap jika harus menjalani hubungan jarak jauh, dan bahkan aku takan menghalangi kau untuk menggapai cita-citamu. Satu pertanyaan dariku, apakah kau menyukaiku?"


Setelah Bayu memberikan pertanyaan yang telah berhasil membuat Nabila terpojok, Nabila hanya bisa diam tak berkata-kata. Alih-alih menjawab pertanyaan Bayu, Nabila malah melarikan diri dan itu adalah keputusan yang sangat sulit baginya. Jika ia menyukai Bayu, seharusnya ia bisa mengatakannya dengan sangat mudah, tapi mengapa rasanya lidahnya begitu sangat kelu jika harus mengatakan bahwa ia sama sekali tak memiliki perasaan pada Bayu. Atau jangan-jangan sebenarnya ia menyukai Bayu? tapi jika ia benar menyukai Bayu apakah alasan karier menjadi masalah utama yang harus dibesar-besarkan? padahal Bayu telah mengatakan bahwa ia takan mempermasalahkan karier nya sedikitpun, dan tidak masalah jika harus menjalin hubungan jarak jauh.

__ADS_1


"Nabila, tunggu!"Bayu memanggil Nabila lagi dengan sedikit teriak, Nabila menoleh sekilas lalu melanjutkan langkahnya dengan sedikit berlari tanpa senyuman. Meninggalkan Bayu seorang diri.


Bayu menghela napas kasar seraya mengusap wajahnya prustasi."Sebaiknya aku harus bersabar,"gumam Bayu seraya menghela napas panjang dan melihat punggung Nabila yang telah menghilang.


Selama diperjalanan Nabila mengemudi dalam keadaan tak tenang, menggigit ujung kuku dengan gelisah. Bayu sengaja datang ke Jakarta dan mengajaknya ke taman ibu kota. Dugaan Nabila ternyata benar adanya, bahwa Bayu mengajaknya bertemu semua itu tidak jauh dari pembahasan mengenai ungkapan cintanya hari itu. Sebenarnya Nabila sudah memikirkan jawaban apa yang tepat untuk diluncurkan, bukannya Nabila takut jatuh cinta ataupun takut karier nya rusak, sebenarnya jika harus jujur ia masih memikirkan kehidupannya, yang ternyata masih dibayang-bayangi oleh masalalu. Ia tak bisa move on dari masalalu itu yang membuat kehidupan asmaranya terhambat. Bukan karena masalah ia masih mencintai sang mantan ketika ia masih duduk di bangku SMA, hanya saja ia takut jika ia kembali menjalin hubungan dengan seseorang, masalalu suramnya akan kembali menghantuinya.


Mengingat bahwa masa remaja nya yang brengsek dan terbawa arus pergaulan yang tak sehat ia tak ingin siapapun kecewa padanya. Termasuk kekasihnya kelak, seorang wanita pasti akan menerima masalalu sang pria meskipun masalalu nya brengsek, urakan, ataupun ugal-ugalan. Tapi, belum tentu seorang pria bisa menerima seorang wanita yang memiliki masalalu yang buruk. Wanita cenderung menggunakan hati dan perasaan, sementara pria cenderung menggunakan logika.


Dan sebenarnya Nabila tak bisa memungkiri bahwa ia menyukai Bayu dari sejak pertama kali ia bertemu dengannya di pesta. Terlebih, Bayu telah menyelamatkan nyawanya dan nyawa kedua orang tuanya serta yang lainnya. Mengingat mereka berdua belum terlalu dekat, tapi Bayu berhasil memberikan kesan pertama yang begitu mengagumkan.


Mobil Nabila berhenti melaju setelah lampu merah menyala, sedetik itu lamunannya terpecah setelah melihat notifikasi dari aplikasi email. Lagi-lagi si dia yang mengirimkan pesan email disertai rentetan kiriman video, photo, serta pesan caci maki, dan ancaman, yang membuat Nabila semakin meradang dan muak, disela itu Nabila membanting ponselnya di dalam mobil ke kesembarang arah.


Bola mata Nabila seketika memanas, ingatannya kembali terlempar pada Bayu. Buliran air mata yang sedari tadi menggenang dipelupuk matanya kini menetes membasahi pipi dengan semakin deras.


Nabila menyadari kesalahannya di masalalu, ia takut melukai Bayu jika mereka berhubungan. Tidak semua pria bisa menerima dan tidak sedikit pula pria yang mau memaafkan masalalu si wanita. Kecuali jika si pria itu dalam kategori pria yang baik hati, tapi mungkin untuk mendapatkan pria berhati lembut seperti malaikat tak semudah itu untuk didapatkan.


Sudah lima belas menit Nabila menangis sesegukan sambil mengemudi. Nabila tidak langsung pulang tapi ia tak tahu harus pergi kemana.


Suara ponsel berdering, tanda ada panggilan masuk. Maka, dengan cepat Nabila mencari-cari ponselnya itu dan rupanya ponselnya terlempar di jok sebelahnya. Buru-buru Nabila memasang airpods lalu menggeser ke atas simbol hijau yang tertera dilayar setelah ponselnya beralih di genggaman tangannya.


"Hallo, Nabila?"suara Bayu di airpods-nya terdengar.


Tangisan Nabila semakin kencang, apalagi setelah Bayu menelephonenya. Membuat segenap hatinya semakin runtuh karena penyesalan yang tiada henti berkecamuk dalam dadanya sedari tadi.


"Kenapa kau menangis?"tanya Bayu disebrang sana dengan nada khawatir.

__ADS_1


"Aku hanya ingin hatiku lega, mungkin dengan cara aku menangis seperti ini aku bisa membaik."Nabila berkata dengan sesegukan.


"Jangan nangis di mobil, Bil. Nanti konsentrasi mengemudimu hilang."sela Bayu, alih-alih berhenti menangis Nabila malah semakin kencang menangis.


"Bay,"


"Hm,"


"Kau kecewa 'kan padaku, atas jawabanku tadi?"tanya Nabila sembari menghapus air matanya cepat.


Namun, Bayu hanya diam saja tak menjawab apapun. Dan, itu artinya bahwa Bayu memang kecewa padanya. Nabila menangis karena ia kesal pada dirinya sendiri karena telah mengecewakan Bayu, tapi semua itu ia lakukan bukan tanpa dasar. Ada masalah yang seharusnya segera diselesaikan, namun Nabila masih enggan memulai. Lagi-lagi itu semua karena ia takut, takut Bayu menjauhinya takut Bayu risih padanya, dan cintanya akan pudar setelah mengetahui fakta yang sebenarnya dan tentu akan mengejutkannya.


"Aku sudah tahu semuanya dari empat hari yang lalu, Bil."tiba-tiba Bayu berkata demikian yang membuat Nabila tertohok.


"Apa magsudmu, Bay?"tanya Nabila mencoba memastikan, seraya berantisipasi.


"Mungkin sebaiknya kita harus bertemu lagi, Bil. Untuk membicarakan hal ini."


"T-tapi,"


"Tadinya aku ingin membicarakan hal ini, tapi kau malah kabur duluan."


"Bay,"panggil Nabila lirih.


"Aku tunggu di tempat tadi ya, Bil. Sekarang jangan nangis lagi, ya."ucap Bayu selembut mungkin, yang membuat Nabila terenyuh dan kembali cengeng seperti anak kecil.

__ADS_1


Tak bisa dipungkiri hati wanita memang sensitif dan Nabila kini sedang merasakannya. Apalagi ini menyangkut harga diri yang harus tetap diperjuangkan, meskipun harga diri itu sudah tidak dalam keadaan suci lagi.


__ADS_2