Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Sadar dari koma,"


__ADS_3

Kini Lia sedang berada di ruang ICU atau Intensive Care Unit adalah ruangan khusus yang disediakan rumah sakit untuk merawat pasien dengan keadaan yang membutuhkan pengawasan ketat. Untuk membantu memulihkan kondisi Lia. Ruang ICU dilengkapi dengan peralatan medis khusus.


Selama berada di dalam ruang ICU, Lia dipantau selama 24 jam oleh dokter spesialis, dokter jaga, dan perawat yang sudah kompeten. Untuk memantau kondisi Lia secara lebih detail, Lia akan terhubung dengan berbagai peralatan medis melalui selang atau kabel.


Beberapa kondisi yang membuat Lia harus di rawat di ruang ICU adalah karena Lia sedang mengalami koma, akibat cedera parah di kepalanya setelah tubuhnya terbanting dari dalam mobil, dan tubuhnya terjelembab ke aspal dengan benturan sangat keras.


Alat yang terhubung pada tubuh Lia berupa monitor, monitor akan menampilkan grafis tentang kinerja organ tubuh, misalnya detak jantung, kadar oksigen di dalam darah, atau tekanan darah.


Kemudian Ventilator, Ventilator dapat membantu Lia bernapas. Alat ini dihubungkan dengan selang yang bisa dimasukkan lewat hidung, mulut, atau tenggorokan.


Defibrilator atau alat kerja jantung, defibrilator diperlukan untuk memulihkan detak jantung normal jika tiba-tiba detak jantung berhenti. Alat ini bekerja dengan cara mengirimkan kejutan listrik ke jantung agar jantung bisa bekerja lagi.


Dan ada juga selang makanan yang digunakan untuk memasukkan nutrisi yang dibutuhkan tubuh selama perawatan, jika Lia dalam keadaan kritis dan tidak bisa makan sendiri. Biasanya alat ini dimasukkan melalui hidung dan menuju lambung.


Lalu infus, yang berfungsi untuk memasukkan cairan, nutrisi, serta obat-obatan melalui pembuluh darah vena.


Dan ada Kateter, kebanyakan pasien yang berada di ICU tidak bisa buang air kecil sendiri. Pada sebagian pasien, jumlah cairan yang keluar dari tubuh, termasuk jumlah urine, juga harus dihitung sebagai bagian dari pemantauan kondisi. Oleh karena itu, dibutuhkan kateter yang dimasukkan lewat lubang kencing untuk membuang urine dari dalam tubuh.


Sejumlah peralatan medis ruang ICU di atas dibutuhkan untuk menunjang kebutuhan Lia selama koma, agar tetap bertahan hidup dan segera pulih. Walau mungkin terlihat mengerikan dan berisiko, pemasangan alat-alat ini dilakukan berdasarkan pertimbangan yang akan menguntungkan Lia sebagai pasien.


Andres sadar bahwa kunjungannya ke ruang ICU sangat terbatas, begitu juga dengan jumlah pengunjung yang diizinkan untuk menjenguk Lia.


Jika kondisi Lia di ruang ICU sudah mulai stabil, Lia bisa dipindahkan ke ruang perawatan untuk pemulihan. Namun, jika kondisinya kembali memburuk setelah keluar, ada kemungkinan Lia perlu masuk ruang ICU lagi.


Andres hanya bisa menangis tanpa suara, sembari menggenggam erat tangan Lia. Sementara papi Andres hanya bisa menyemangati anaknya itu dengan menepuk-nepuk bahu, sekedar menguatkan, meskipun mungkin hal itu tidak berpengaruh sama sekali.


Mendengar kabar dari news tv, membuat Andres terkejut serta panik, dan langsung bergegas menyusul Lia ke Bogor untuk memastikan bahwa Lia baik-baik saja dalam kecelakaan itu, meskipun sebenarnya Lia tak baik-baik saja.


Sudah hampir satu minggu Lia koma, membuat Andres begitu terpukul, tapi ia mencoba untuk tidak putus asa, dan selalu mendo'akan yang terbaik untuk Lia.


Terdengar suara Andres sesegukan, rupanya ia tak sekuat itu menahan isak tangis yang sedari tadi ia tahan.


"Andres, papi mengerti tetang kecemasanmu pada Lia. Jika kau bersedih seperti ini, bagaimana bisa kau menyemangati Lia. Tenanglah, Lia pasti akan sadar."itu suara sang papi berusaha menguatkan sang anak yang kini tampak lemah.


"Tapi, sudah seminggu Lia koma dan sampai detik ini Lia belum sadar juga, Andres begitu menghawatirkan Lia."ucap Andres lirih dengan mata terpejam, lalu satu tangan terulur memijat pelan pelipisnya.


"Percayalah bahwa tuhan tidak pernah tidur, percayalah bahwa tuhan akan mengabulkan do'a-do'a yang sering kita panjatkan untuk Lia."ujar sang papi sembari tersenyum ketika Andres menatap nanar kearah papi nya.


"Begitu Lia sudah siuman, apakah kita akan memberitahu semuanya?"tanya Andres dengan bibir bergetar.


Papi Andres menggeleng."Jangan dulu, kasihan Lia. Begitu Lia sudah benar-benar pulih baru kita beritahu Lia,"jawab sang papi yang sudah mempertimbangkan semuanya.


"Andres tidak percaya semua ini, pih. Kenapa anak sebaik Lia cobaannya berat sekali,"desis Andres bersedih sembari menghapus setitik air mata di ujung matanya, dengan menatap wajah Lia yang masih terbaring tak berdaya di berankar.


"Semuanya sudah ada yang mengatur, Andres. Papi percaya bahwa Lia anak yang kuat, pasti Lia bisa menghadapi semua ini dengan lapang dada, meskipun mungkin semuanya terasa sangat sulit,"


"Andres tak sanggup jika harus melihat Lia menangis setelah mengetahui semuanya,"desis Andres lalu menghela napas panjang.


"Kuatkan dia Andres,"kata sang papi.


Andres mengangguk,"Tentu."


"Lebih baik kita makan dulu sekarang, sudah seminggu ini dirimu makan tak teratur, papi takut nanti kau sakit. Jika kau sakit siapa yang nanti menguatkan Lia?"bujuk sang papi seraya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Ya,"sahut Andres setuju.


Lalu sang papi pun merangkul bahu Andres, kemudian mereka berdua pun bergegas keluar ruangan.


Baru beberapa menit Andres dan papi nya keluar ruangan, tiba-tiba jemari Lia bergerak secara perlahan. Mata yang semula terpejam, kini terbuka. Pandangan pertama yang ia lihat adalah langit-langit berwarna putih yang semula mengabur kini terlihat begitu jelas dipandang.


"Ayah, Ibu, Kakak,"panggilnya dengan gerakan bibir sepelan mungkin.


Sekelebat bayangan muncul dalam memory nya, terdengar suara canda tawa yang terngiang-ngiang di telinganya, serta cuplikan hitam putih yang tak jelas, membuat kepala Lia terasa sangat pening dan membuatnya merasakan nyeri yang luar biasa.


Lia mencoba memejamkan mata sekedar untuk meredakan rasa nyeri, dan mencoba mengendalikan diri, ada beberapa momen yang tak di ingat Lia sama sekali, termasuk momen kecelakaan na'as yang terjadi padanya sekeluarga.


"Lia, bangun sayang,"tiba-tiba suara lemah lembut terdengar, membuat mata Lia terbuka kembali secara perlahan.


Ketika matanya telah terbuka, Lia merasakan kebahagiaan yang tiada terperi. Mendapati kehadiran kedua orang tuanya yang tersenyum teramat manis tepat disampingnya.


"Ayah, Ibu?"Lia menatap kedua orang tuanya dengan begitu antusias.


"Sembuhlah sayang,"kata sang Ibu sembari membelai-belai rambut milik Lia dengan penuh kasih sayang.


"Apa yang terjadi bu? kenapa Lia berada disini?"tanya Lia dengan suaranya yang masih parau.


"Tenanglah, ini hanya kecelakaan kecil,"jawab sang ayah seraya mengembangkan senyuman.


"Kita kecelakaan?"ulang Lia yang sama sekali tak ingat kejadian itu."Jika hanya kecelakaan kecil, kenapa Lia harus berada di ruangan ICU?"tanya Lia lagi dengan heran.


"Nanti kau akan tahu,"kata sang ibu yang tiada henti membelai rambut anaknya itu.


"Ayah dan ibu kenapa pakai baju serba putih? kita kan satu rumah sakit, baju ku warna biru. Lalu ayah dan ibu..."keheranan Lia tentu saja beralasan, namun kedua orang tuanya langsung menanggapinya dengan tawa. Memecah suasana yang terlihat begitu serius.


"Ya, Lia juga setuju. Entah mengapa melihat ayah dan ibu menggunakan baju berwarna putih ini, ayah dan ibu terlihat lebih bersinar."kata Lia dengan senyuman terkembang di bibir.


"Wah... begitu, ya?"sang Ayah langsung tertawa.


Lia mengangguk kuat."Iya, Ayah."


"Li,"panggil sang ibu begitu lembut.


"Iya, bu?"


"Jaga dirimu baik-baik ya! kau tahu, ibu dan ayah sangat mencintaimu. Dan ayah, ibu memohon padamu untuk menjadi anak yang kuat dan tegar dalam hal apapun. Kau tahu, hidup begitu keras, meskipun begitu kehidupan harus tetap berlanjut, jangan putus asa ataupun menyerah. Ketahuilah bahwa apa yang terjadi tak seburuk itu,"nasehat sang ibu panjang lebar, lalu mencium puncak rambut anaknya itu dengan penuh kasih sayang sejati.


"Tentu, bu."Lia mengangguk seraya tersenyum setelah sang ibu mengecupnya.


"Mau janji sama ayah dan ibu?"tanya sang ayah.


"Janji untuk apa ayah?"


"Janji bahwa kau tidak boleh lemah, tidak boleh cengeng."sambung sang ayah dengan binar mata seperti tersirat akan sesuatu.


"Tergantung situasi,"canda Lia disela tawanya, namun tawa Lia terhenti setelah mendapati kedua orang tuanya terlihat sangat serius.


"Hm, jangan bercanda."tegur sang ibu.

__ADS_1


"Oh, maaf bu, yah. Iya, Lia akan berusaha untuk itu,"ujar Lia akhirnya.


"Baiklah,"sahut sang ibu tersenyum kecil.


"Li, kalau begitu ayah dan ibu pergi dulu, ya."pamit sang ayah membuat kening alis Lia bertaut bingung.


"Kemana?"tanya Lia.


"Ke suatu tempat,"jawab ayah.


"Lia boleh ikut 'kan?"


"Lia disini saja, temani kakak mu."timpal sang ibu.


"Oh, begitu ya. Memang nya kak Bayu dimana sekarang?"


"Nanti dia kesini,"ucap sang Ibu seraya tersenyum.


Lia mengangguk paham."Ibu dan Ayah tidak lama kan perginya?"


Mendengar pertanyaan Lia, kedua orang tuanya hanya tersenyum. Senyuman sendu yang tak terbaca oleh Lia, membuat Lia sedikit merasa heran dan di penuhi tanda tanya, karena ekspresi orang tuanya yang tak seperti biasanya.


"Ibu, Ayah?"panggil Lia sembari menatap kedua orang tuanya yang hanya diam."Nanti kembali lagi 'kan, keruangan Lia?"tanya Lia lagi.


Alih-alih menjawab, kedua orang tuanya tiba-tiba menghilang dengan sekejap. Dan tentu saja hal itu membuat Lia terperanjat, lalu berteriak memanggil keduanya.


"AYAH, IBU?"panggil Lia berteriak.


Lia langsung membuka matanya dengan melotot, sembari berteriak-teriak memanggil kedua orang tuanya. Membuat Andres terperanjat lalu terbangun dari tidurnya yang berada sofa, kemudian menghampiri Lia dengan begitu panik dan terburu-buru.


"Li, ada apa? kau sudah sadar?"panik Andres setelah berada tepat di samping Lia.


"Ayah dan ibu ku dimana Andres?"tanya Lia dengan napas terengah-engah setelah ia terbangun dari koma serta mimpi yang ia alami.


"Ya?"Andres tampak bingung harus menjawab apa saat ini.


"Ayah dan ibu ku dimana?"tanya Lia lagi tak sabaran.


Lia baru saja siuman dari koma serta mimpi yang tak dapat di mengerti olehnya, namun rasanya aneh. Membuat Lia merasa kebingungan bercampur dengan kesedihan yang sama sekali tak dapat dimengerti oleh dirinya sendiri.


Perjalanan koma yang dilalui begitu mengerikan, menyedihkan, dan tak beraturan.


Andres hanya menatap Lia dengan nanar, dan tak tahu harus memulainya dari mana.


Apakah Andres harus menjawab jujur, dari pertanyaan Lia yang terlontar?





__ADS_1


"


__ADS_2