Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Ciuman bukan akhir segalanya?"


__ADS_3


Andres terbangun dari posisi berbaring, dan beringsut lalu duduk di tepi ranjang, mengambil ponsel di nakas lalu menakan aplikasi kontak dan jemarinya ragu untuk menekan tombol untuk menelphone Lia.


Andres menatap layar ponselnya dengan resah, ia menyugar rambutnya dengan gelisah, kemudian meremas helaian rambut poni yang terjatuh dari remasan tangannya.


Andres menghela napas panjang, dan menyadari apa yang ia lakukan sungguh kekanak-kanakan. Tapi, sungguh ia tak bermagsud untuk tidak mengerti posisi Lia. Hanya saja Andres belum siap jika harus membantangkan jarak dengan Lia.


Andres menyadari ketika bertemu Lia pasti rasanya tak sebebas ketika Lia masih di Jakarta, sementara setelah pindah ke kota Bogor pasti rasanya akan berbeda, butuh waktu di perjalanan, menemui Lia hanya di hari libur, dan tentu tidak bisa sesering mungkin untuk bertemu.


Andres berdiri, mencoba menelphone Lia dan ingin meminta maaf atas tingkah bocahnya. Yang ia harapkan sekarang adalah mendengar suara Lia di panggilan telephone sebrang sana.


Tuuut.....


Andres menghela napas kasar, lalu melempar ponsel keatas tempat tidur saat panggilan telephonenya yang di lakukan berkali-kali sama sekali tak dijawab Lia. Sepertinya mungkin kini Lia yang berbalik marah padanya.


Tampaknya Andres tengah dilanda situasi yang membingungkan, Andres menatap langit-langit kamar dengan kedua tanggan dipinggang. Apa yang harus ia lakukan sekarang?



Lia mencoba memejamkan mata, namun tetap saja tak bisa. Dan ia sekarang pun berusaha untuk mencoba melupakan apa yang baru saja terjadi, melupakan bagaimana tanggapan Andres yang jelas marah padanya, termasuk melupakan kepindahannya nanti. Dan entah mengapa dadanya dipenuhi sebentuk emosi yang gelap, dan pekat. Apa itu semua terjadi karena Andres marah padanya? sehingga mood-nya berubah berantakan seperti ini?


Lia menghela napas panjang dan kemudian beringsut duduk, mencoba menghalau rasa sesak yang menghimpit dadanya. Kesadaran tentang perubahan perasaannya terhadap Andres benar-benar membuatnya terguncang.


Lia menghapus sisa-sisa air mata dengan punggung tangan, kemudian mengambil ponsel yang tergeletak di nakas, melihat di lcd ponsel dengan beberapa panggilan tak terjawab dari Andres, tapi Lia malah memilih mengabaikannya.


Mungkin yang harus Lia lakukan saat ini adalah menjaga jarak dengan Andres. Mungkin dengan begitu perlahan perasaan bersalahnya terhadap Andres akan menghilang dengan sendirinya, dan tentu saja ia akan merasakan kenyamanan sebelumnya di tempat kelahirannya dulu, tanpa memikirkan Andres.


Lagi pula untuk saat ini Lia tidak ingin melihat Andres bersedih karena berpisah dengannya, dan menjauh adalah pilihan yang aman.


Tiba-tiba saja ia mendengar jendela kaca kamarnya di ketuk seseorang, membuat jantung Lia mencoba mengantisipasi. Malam-malam begini siapa yang mengetuk jendela kamarnya?


Dengan ragu Lia berjalan menghampiri jendela kaca, membuka perlahan gordeng kamaranya sebagian dengan perlahan dan waspada.


Di luar sana berdiri sosok jangkung yang tentu mudah di kenali, sosok itu adalah Andres yang terlihat sangat keren seperti biasanya.



Kenapa Andres kembali lagi? apakah semua itu ada hubungannya karena ia tak mengangkat telephone?


Lia langsung berhambur membuka pintu balkon, sementara Andres masih saja diam terpaku.


"Kenapa balik lagi?"tanya Lia sedikit ketus, Andres tampak gugup, padahal biasanya Andres selalu terlihat percaya diri.


"Boleh masuk? aku ingin bicara sesuatu."ucapnya pelan.


Lia menghela napas, mungkin terasa tak bijaksana jika ia tak mengizinkan Andres untuk masuk. Lia merasa bahwa ia harus menghargai kedatangan Andres, lagi pula jarak rumah Andres dan rumahnya menghabiskan waktu tempuh tiga puluh menit, jadi tidak ada salahnya juga jika Lia memberi kesempatan untuk mendengar apa yang ingin Andres sampaikan.


Akhirnya Lia membuka pintu lebih lebar agar Andres bisa masuk. Kemudian Andres duduk di kursi meja rias, sementara Lia duduk di tepi ranjang dan mereka berdua saling berhadapan, Lia hanya diam menanti Andres berbicara lebih dulu.


"Aku datang untuk meminta maaf,"akhirnya Andres berucap.


"Maaf? maaf untuk apa Andres?"Lia tertawa hambar.


"Tentang aku yang kekanak-kanakan,"wajah Andres terlihat sangat menyesal, Lia mengedikan bahu sembari memainkan jari-jemari miliknya.

__ADS_1


"Tak perlu ada kata maaf darimu Andres, dan mengenai kepindahanku itu bukan mau ku."Lia tersenyum tipis.


Lia bersungguh-sungguh dengan ucapannya barusan, setelah punya waktu untuk berpikir ia sadar bahwa respons Andres adalah hal yang wajar sebagai teman yang mengetahui bahwa mereka berdua akan berpisah dalam waktu singkat.


"Ya, aku mengerti."Andres hanya mengangguk pelan."Dan aku sudah berpikir dan aku menerima keputusanmu, aku mengizinkanmu pindah meskipun rasanya sangat sulit,"lanjutnya.


"Andres, agar kita tidak tersiksa dengan perpisahan ini, lebih baik kita tidak perlu bertemu lagi."ucap Lia yang membuat kening Andres berkerut.


"Apa magsudmu, Li?"


"Ya, kita tak perlu bertemu lagi."sahut Lia memperjelas semuanya.


"Aku mengizinkanmu untuk pindah, Li. Tapi, mengapa kau malah menyuruhku untuk tak bertemu denganmu lagi?"Andres tersenyum ketus, lalu menatap Lia tak habis pikir.


Lia menghela napas lalu matanya menatap mata Andres dalam.


"Why don't you like my suggestion? it's the best thing so that we don't always be sad all day long, or tormented with longing, right?"


"Tapi aku tidak setuju, Li."protes Andres seketika.


"Why?"tanya Lia tajam.


"About longing, if it can still be achieved by meeting, it will definitely be resolved, Li."


"Tapi, itu akan menguras waktumu, tenagamu, aku tak ingin kau melakukan semua itu dan kau malah repot sendiri!"seru Lia lalu menghela napas kasar, dan mengalihkan pandangan agar tak melihat wajah Andres.


"Lihat aku Lia!"pinta Andres tajam, membuat Lia seketika menoleh dan menatap Andres malas.


Andres menghela napas panjang, dan mulai menata perasaannya yang kalut untuk lebih tenang lagi. Semua bisa di atasi dengan kepala dingin tanpa harus marah-marah seperti ini.


"Kenapa kau melakukan itu? jelas tadi kau marah padaku?"Lia bertanya dengan lirih.


"Kau tidak lihat aku? aku baru saja bangun tidur saat itu, Li?"jawab Andres mencoba berkilah dari alasan sesungguhnya.


"Jangan bohong, Andres."decak Lia memutar bola mata malas.


"Trust me,"


"Jangan mencoba merayu!"pelotot Lia dengan kedua tangan bersidekap di dada.


"Itu bukan rayuan, Li. Kenapa kau tidak bisa membedakan mana rayuan dan permohonan untuk mempercayai aku?"


"Terserah,"Lia masih merajuk dengan kalimat penekanan.


"Well, apa kau mau memaafkan aku kan, Li?"tanya Andres lagi dengan binar mata yang begitu menggemaskan.


"Jika kau bukan teman baikku, aku mungkin takan pernah memaafkanmu."sahutnya santai.


Mendengar kata-kata itu membuat Andres tersenyum lega, sangat senang ketika mereka berdua punya kesempatan untuk bicara baik-baik seperti sekarang, ralat mungkin Lia masih sedikit kesal tapi setidaknya Lia sudah memaafkannya 'kan?


"Sekarang sudah di maafkan, jadi pulanglah,"canda Lia namun masih berlaga judes.


"Ah, begitu ya? baiklah aku pulang,"


Andres membuat gerakan seolah ia akan segera beranjak, kedua mata milik Lia membola maka buru-buru Lia meraih pergelangan tangannya agar Andres tak pergi. Andres hanya menatap wajah Lia dengan datar, menepis pelan tangan Lia hingga terlepas dari pergelangan tangannya.

__ADS_1


Alih-alih pergi, Andres malah menautkan jemarinya dengan jemari milik Lia. Membuat bibir Lia berkedut lalu terukir sebentuk senyuman.


"Tadi aku hanya bercanda,"cengir Lia.


"I know,"sahutnya mengedikan bahu singkat, lalu mereka berdua pun terduduk di tepi kasur.


"Andres, thank you."bisik Lia tepat di telinga Andres dengan nada senang.


Satu alis Andres terangkat."Untuk?"


"Sudah mengizinkanku pindah,"sahut Lia tersenyum lebar.


"Tidak masalah,"ucap Andres singkat.


Andres merentangkan tangan, dan bahkan Lia sama sekali tak menolak. Lia mengikis jarak, mendekati Andres dan Andres pun langsung membungkus tubuh mungil Lia dalam sebuah rengkuhan erat dalam pelukan, seolah ini adalah kesempatan terakhir dan meskipun tak bisa di bohongi dari lubuk hati paling dalam, bahwa ketidak relaan itu masih ada.


Pelukan itu sangat terasa nyaman, dan bahkan hati Lia menghangat dan semuanya terasa lebih baik. Andres benar-benar teman yang baik, dan bisa menerima segala keputusan yang ia ambil.


"Li?"panggil Andres dengan lirih.


"Hm.."sahut Lia tanpa menatap Andres.


"Apakah terasa salah, jika seorang lelaki berada di kamar seorang gadis malam-malam seperti ini?"tanya Andres dalam kalimat serius.


"Jika teman baik seperti dirimu mungkin tidak salah, jadi tidak akan ada pikiran kearah sana 'kan?"


Lia menatap Andres minta dukungan, entah mengapa Andres terlihat salah tingkah, apa mungkin ini hanya perasaannya saja? Di antara pertemanan yang mereka jalin, Lia merasa bahwa tidak pernah sama sekali ada hal-hal romantis yang di lalui. Apalagi pikiran erotis, tidak pernah terpikirkan sedikitpun.


"Menurutmu?"Andres malah balik bertanya dengan suara seraknya dan binar mata yang sukit di baca.


"Kita akan baik-baik saja meskipun dalam kamar. Mana mungkin kau tega melakukannya denganku, aku sangat mempercayaimu Andres,"ucap Lia dengan yakin sembari kepala mendongak menatap Andres.


Tiba-tiba saja Lia merasakan tangan Andres turun dari lingkaran lehernya, dan bertengker di pinggangnya. Andres menunduk hingga wajah mereka berdua tak berjarak, bahkan Lia bisa merasakan deru napas Andres yang hangat menerpa wajahnya.


Binar tak terbaca itu menghilang sekejap, dan sudah berganti oleh tatapan kelam yang membuat Lia berusaha mengantisipasi.


"Andres?"panggil Lia mencoba tenang.


Pikiran-pikiran liar sudah memenuhi isi kepala Lia. Lia terlihat menggeleng samar, berusaha meyakinkan diri bahwa Andres tidak mungkin melakukan sesuatu yang sempat ia pikirkan.


"Semua orang pernah melakukan ciuman 'kan, Li?"bisiknya membuat Lia berigidig.


"T-tapi, tidak dengan seorang teman."sahut Lia terbata-bata.


"Ciuman bukan akhir dari segalanya, Li."ucap Andres lirih.


Lia merasakan Andres meraih dagunya, menatap wajah Lia lamat-lamat dengan mata kelamnya.


"Li, apa aku pantas mendapatkan ciuman darimu?"mata Lia membola dan langsung menggeleng panik.


Cup!


Sesuatu yang kenyal dan lembut tiba-tiba terasa menempel di bibir Lia. Lia terpaku, berusaha mencerna apa yang terjadi dan katakanlah bahwa ini hanya mimpi, mimpi bahwa Andres tak benar-benar mencium bibirnya.


__ADS_1



__ADS_2