Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Bisa antar aku ke kamar mandi?"


__ADS_3

Empat orang sudah terduduk berjejer dengan tegang di sofa, lampu ruang televisi di matikan dengan sengaja, hanya pantulan cahaya dari telivisi yang mengisi ruangan. Dan mata mereka pun kini tengah fokus menonton tayangan film horror di televisi. Andres dan Lia menonton sambil menikmati cemilan, meskipun dengan wajah tegang tapi mereka malah terlihat begitu santai, tidak ada jeritan yang meluncur dari bibir keduanya. Sementara Nabila sedari tadi tak bisa menyembunyikan kengeriannya, berkali-kali menelan ludah dan siap-siap berantisipasi untuk bersembunyi di balik bantal jika ia melihat adegan hantu yang mengerikan.


Musik khas film horror bergema, membuat Nabila yang menonton benar-benar ketakutan. Seiring dengan adegan dimana si hantu tiba-tiba muncul membuat Lia dan Nabila tersentak bukan main, mereka berdua menjerit sekeras mungkin. Lia yang langsung bersembunyi di balik lengan Andres serta Nabila yang refleks memeluk tubuh Bayu dengan cengkraman kuat seraya wajah yang tenggelam di balik dada bidang milik Bayu. Bukannya memeluk bantal ia malah memeluk Bayu. Ketakutannya benar-benar membuatnya melupakan fakta bahwa ia masih kesal pada Bayu. Karena hal itu juga membuat Bayu seketika ikut terkejut karenanya.


"Bay, aku takut."suara Nabila teredam dibalik bajunya tapi masih cukup jelas terdengar.


"Kalau kau takut sebaiknya nontonnya jangan diteruskan,"saran Bayu membuat kepala Nabila terangkat, kemudian ekspresinya berubah kecut.


"Siapa bilang aku akan berhenti di tengah jalan, aku akan menonton sampai film nya habis!"Nabila berkata dengan sinis lalu tubuhnya menjauh dari Bayu seraya kedua tangan bersilang di dada. Tampaknya Nabila baru sadar kalau ia masih kesal pada Bayu dan sepertinya terlalu cepat jika ia berbaikan dengan Bayu, maka ia harus mempertahankan gengsinya itu.


"Andres,"panggil Lia serupa bisikan, seraya ia masih memeluk lengan Andres.


"Apa?"sahut Andres tanpa menoleh dan lebih fokus pada televisi.


"Sepertinya kak Nabila sedang tidak akur dengan kak Bayu,"ucap Lia setelah melirik sekilas kearah dua orang yang terlihat tengah menjaga jarak.


Andres menoleh sekilas kearah dua orang itu, dan mendapati ekspresi Nabila yang masam, serta wajah Bayu yang terlihat stres sendiri. Kemudian Andres pun menatap Lia dengan kening alis berkerut. "Mereka tadi baik-baik saja 'kan?"


Lia mengangguk pelan. "Aku rasa begitu."


"Biasanya Nabila tidak pernah marah pada orang yang baru di kenalnya,"ucap Andres heran.


"Pasti kak Bayu membuat kesalahan, sampai-sampai kak Nabila seperti itu,"bisik Lia yang di setujui Andres dengan anggukan kepala.


"Kalau begitu kita buat mereka berbaikan,"Andres terlihat menampakan binar mata cemerlang sepertinya ia menemukan sebuah ide.


Lia tersenyum lebar setelah mendengarnya. "Ya, aku setuju."


Akhirnya napas lega meluncur dari bibir Nabila dan lampu dinyalakan kembali setelah film itu berakhir, dengan ending film yang tak terduga ternyata plot twist nya adalah pembunuh hantu itu adalah adiknya sendiri, yang ternyata cemburu karena kedua orang tuanya lebih perhatian pada sang kakak, namun si adik malah bertingkah seolah ia begitu kehilangan dengan mengikuti serangkaian investigasi pada pacar si kakak yang menjadi target tersangka, setelah kasus sebenarnya terbongkar fakta mengejutkan terjadi. Sang adik lah si pelakunya membuat kedua orang tuanya berteriak histeris sambil menyumpahi sumpah serapah pada anaknya itu. Si anak naik pitam dan langsung membunuh kedua orang tuanya dengan cekikan dan menggorok leher keduanya dengan sebilah pisau daging, sangat mengerikan dan cukup menegangkan serta menguras emosi, namun itu hanyalah film tapi malah seperti kisah nyata.


Televisi dimatikan oleh Lia kemudian ia kembali menaruh remotnya di meja televisi. Dan didapatinya Andres yang tengah menguap lebar sepertinya ia terlihat sudah mengantuk.


"Apa kau mengantuk?"tanya Lia seraya duduk di sofa kembali.


Andres mengangguk. "Aku ingin tidur, mataku berat sekali."ucapnya sambil menguap kembali.


"Kalau begitu kita ke kamar, aku juga sudah mengantuk."akhirnya suara Bayu terdengar. Membuat Lia mencoba meluncurkan sebuah ide yang telah ua rancang sebelumnya.


"Eh, aku pulang saja ya."tiba-tiba suara Nabila terdengar, sekalinya terdengar membuat ketiga orang disana terkejut.

__ADS_1


"Pulang ke Jakarta?"tanya Lia dengan mata terbelalak.


Nabila mengangguk."Iya,"


"Jangan gila Nabila. Ini udah pukul satu malam. Katanya kau mau menginap, dan lagi pula aku tak mengizinkanmu untuk pulang ke Jakarta apa lagi sendirian!"larang Andres tegas, sementara Nabila langsung terdiam. Sebetulnya Nabila juga tidak berani jika ia harus pulang dini hari seperti ini, rupanya itu hanyalah ekspresi kesalnya pada Bayu. Sehingga ia merasa tak betah untuk menginap.


"Lebih baik kak Nabila menginap disini, aku juga pasti akan khawatir jika kakak pulang sekarang, dan aku juga tidak akan mengizinkannya."timpal Lia serius.


Bayu tidak mengeluarkan sepatah kata apapun hanya helaan napas panjang yang terdengar. Ia sadar Nabila mengatakan hal itu pasti karena masih kesal pada dirinya.


"Baiklah, aku minta maaf."ucap Nabila menyadari kekeliruannya. Rupanya memutuskan untuk pulang adalah keputusan yang salah.


"Ya sudah bagaimana kalau kita semua tidurnya di sini saja, aku takut nanti Nabila malah melarikan diri,"saran Andres yang disetujui Lia dengan anggukan kepala.


"Aku tidak akan pulang Andres, aku dan Lia tidur di kamar saja, tidak perlu tidur disini."ucap Nabila datar.


"Ah, saran Andres ada benarnya juga kak. Lagi pula tadi kita baru saja selesai menonton film horror aku tidak berani tidur di kamar,"sambung Lia cepat membuat Nabila tak ada pilihan lain.


Dan apa yang dibilang Lia ada benarnya juga, setelah menonton film horror tadi membuatnya hampir terkena serangan jantung, dan jangan sampai nanti ia melihat hantu sungguhan. Setidaknya jika bersama-sama seperti ini mereka bisa saling menjaga kalau terjadi sesuatu.


"Baiklah,"ucap Nabila pendek, seraya menghela napas.


Keempat orang itu mulai membaringkan tubuh mereka masing-masing. Lia dan Nabila berbagi sofa bad. Sementara dua lelaki tidur itu di bawah dengan alas kasur lantai. Andres terlihat sudah tidur lebih awal, karena sedari tadi ia terus menguap dan matanya pun sudah terasa sangat berat.


"Masih kepikiran film tadi, ya?"tanya Lia pelan.


Nabila mengangguk."Iya."


"Coba dipaksa merem kak, nanti tidur sendiri. Aku juga masih takut, tapi aku sekarang mulai mengantuk. Jadi bayang-bayang film tadi aku tidak terlalu kepikiran."ujar Lia dengan suara serak kemudian ia pun menguap lebar, sepertinya Lia juga sudah mulai mengantuk.


"Jangan tidur dulu, Li."rengek Nabila.


"Iya aku masih terjaga kok,"sahut Lia dengan suara parau, Nabila langsung mendesah kesal karena rupannya Lia malah tertidur.


"Li, jangan tidur dulu. Temani aku,"Nabila mencoba mengguncang-guncang tubuh Lia pelan. Namun, tampaknya Lia sudah sangat terlelap.


Nabila menelentangkan tubuhnya, menatap langit-langit dengan gelisah. Suara tawa terkikik terasa lekat di telingannya, suara tawa khas dari film tadi yang rupanya masih terpikirkan oleh Nabila sampai saat ini, menyebabkan ia kesulitan untuk tidur. Nabila mencoba menenangkan diri dengan menarik napas dalam kemudian menghembuskannya pelan. Namun, suara-suara aneh itu semakin terngiang-ngiang di telinganya, maka Nabila pun langsung bersembunyi dibalik selimut tebalnya.


Nabila mengumpat dalam hatinya, ia menyesal telah menyetujui untuk menonton film horror, seharusnya ia menonton film komedi romantis saja setelah ia diberi pilihan oleh yang lainnya mau menonton apa.

__ADS_1


Nabila tak tahan lagi, maka ia kembali membuka selimut. Beringsut duduk dan melihat sosok Bayu yang tengah terduduk sambil memainkan ponsel di tangannya. Ruang televisi yang dijadikan tempat untuk tidur sangat gelap karena lampu sengaja di matikan agar mereka semua bisa cepat tidur. Tapi, nyata nya hanya dua orang yang masih terjaga. Dan hanya cahaya ponsel milik Bayu yang berpendar.


Nabila melihat sekeliling, suasana rumah yang sunyi membuatnya merinding. Pandangannya kembali menatap punggung Bayu yang tegap, sepertinya Bayu juga kesulitan tidur. Bukan karena ia ketakutan, melainkan karena ia ingin menjaga Nabila. Karena saat ia mencoba untuk tidur ia mendengar obrolan Nabila dengan Lia, meskipun serupa bisikan tapi ia bisa menangkap dengan jelas bahwa Nabila kesulitan untuk tidur.


Sebenarnya Bayu memang sudah mengantuk, namun ia memaksakan diri. Agar ia tetap terjaga maka ia memutuskan untuk beringsut sambil memainkan ponsel.


Nabila menggigit bibir bawahnya dalam, sepertinya ia ingin buang air kecil. Tapi, karena takut ia tidak bisa sendirian ke kamar mandi. Dan satu-satunya orang yang masih terjaga hanya Bayu. Tapi, ia juga gengsi jika harus memintanya untuk mengantar ke kamar mandi. Ia sadar bahwa ia sedang menjaga jarak dengan Bayu, tapi karena rasanya sudah di ujung ia tak tahan lagi untuk menahan-nahan. Maka, dengan sangat terpaksa ia harus meminta Bayu untuk mengantarnya ke kamar mandi, serta ia harus rela menekan rasa gengsinya itu.


"Bay, Bayu."panggil Nabila pelan tapi berulang-ulang. Membuat si punya nama langsung menoleh ke belakang. "Bisa antar aku ke kamar mandi?"


Bayu mengangguk tanpa embel-embel berpikir. "Ayo,"sahutnya kemudian bangkit dari posisinya.


Nabila langsung beringsut dari sofa bad. Bayu menyalakan senter ponsel untuk menerangi langkahnya, diikuti oleh Nabila dari belakang.


Bayu menekan saklar hingga lampu dapur menyala, kemudian dengan terbirit-birit Nabila bergegas masuk ke dalam kamar mandi, membuat Bayu ingin tertawa melihatnya. Sambil menunggu, Bayu pun duduk di kursi pantry sambil memainkan poselnya lagi. Tak membutuhkan waktu lama, Nabila pun sudah keluar dari kamar mandi membuat Bayu langsung bangkit berdiri.


"Nabila, aku mau minta maaf dan kau salah paham tadi, aku tidak bermagsud meledek atau apapun yang kau pikirkan, aku sama sekali tidak ada niatan seperti itu."Bayu memulai percakapan, sementara Nabila terlihat menghela napas kasar.


"Kau tahu penyebab aku marah padamu?"tanya Nabila kecut.


Bayu mengangguk."Iya."


"Sudahlah aku tidak mau berdebat."Nabila berusaha beranjak sebelum akhirnya langkahnya terhenti karena Bayu menarik pergelangan tangannya.


"Jangan marah terus,"kata Bayu sementara Nabila diam saja sambil menatap Bayu sinis. "Sudah besar, kok ngambekan."lanjutnya mencoba mencairkan suasana, namun malah membuat Nabila menanggapi dengan senyuman kecut.


"Dikira hidup cuma untuk minta maaf,"sindirnya membuat Bayu merasa semakin bersalah.


"Lalu aku harus apa?"tanya Bayu memelas seraya mengusap wajahnya kasar dan mengerang prustasi.


"Tidak perlu melakukan apa-apa."sahut Nabila mengedikan bahu acuh.


Sedetik itu Nabila tersentak kaget, saat Bayu mendorong pelan tubuhnya pada dingding tembok, satu tangannya bertengger dipinggang Nabila sementara satu tangan lainnya merangkum pipinya.


"Aku menyukaimu,"bisiknya dengan pelan, tepat ditelinga Nabila.


"Apa?"


"Aku menyukaimu Nabila."ulangnya serius dengan kalimat penekanan, sembari menatap Nabila. Sementara tenggorokan Nabila seakan tercekat ingin mengatakan sesuatu namun ia tak sanggup mengatakan apapun. Nabila mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar. Apa ini mimpi?

__ADS_1




__ADS_2