Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Li, apa kau tak pakai bra?"


__ADS_3


Lia menghempaskan tubuhnya ke kasur, setelah membersihakan diri dari peluh keringat yang terasa lengket setelah sepulangnya dari taman. Kini ia mengenakan celana jeans pendek belel berwarna cokelat serta tank top berwarna putih, membuat tubuhnya begitu terasa segar setelah rasa lelah tadi.


Lia menenggelamkan kepalanya diatas bantal. Setelah itu ia membaringkan tubuhnya, menghela napas panjang sambil menatap langit-langit kamar dengan perasaan hampa, setelah ia mendengar kedua orang tuanya berbincang di ruang keluarga barusan. Rupanya Lia tak sadar dengan hari-hari yang begitu cepat berlalu, beberapa minggu lagi ia harus meninggalkan kota metropolitan untuk kembali ke kota hujan, menyelesaikan sekolahnya yang sempat terhenti akibat kasus Semmy, dan melanjutkan sekolah di SMA Bumi Pertiwi tentu tak mungkin, karena sekolah itu sudah di tutup. Meskipun banyak sekolah-sekolah di kota metropolitan, tapi kedua orang tuanya merasa sangat khawatir terhadap Lia semenjak kejadian itu, maka mereka memutuskan untuk kembali ke kota hujan yang dirasa aman. Dan entah mengapa Lia merasa bahwa ia belum siap-- dan payahnya sekarang ia tengah memikirkan bagaimana tanggapan Andres jika mengetahui bahwa ia akan pindah. Belum apa-apa kini Lia di hantui rasa bimbang, dan rasanya entah mengapa ia merasa sangat sedih.


Bagaimanapun Lia sudah menganggap bahwa Andres adalah teman baik, setelah melalui pemecahan kasus itu secara bersama-sama entah mengapa Lia merasa bahwa jika ia pergi untuk kembali ke kota hujan, maka berpisah dengan Andres adalah sebuah keputusan yang sulit.


"Ayah, jika kita membiarkan Lia tetap berada di kota metropolitan ibu begitu khawatir dengan Lia. Dengan kejadian minggu lalu membuat ibu merasa trauma dan bahkan ibu belum sembuh dari rasa cemas itu."kata sang ibu bernada khawatir.


"Ayah mengerti, bu. Tapi, apakah Lia setuju? kenapa tidak bersekolah di tempat lain saja? agar kita tak perlu kembali ke kota hujan lagi."


"Ibu tidak setuju ayah, kita harus tetap kembali ke kota hujan. Ini demi kebaikan Lia, ibu tidak mau kejadian mengerikan itu terjadi lagi!"


"Baiklah, nanti kita bicarakan ini dengan Lia."


Perbincangan kedua orang tuanya terngiang-ngiang di telinga Lia. Kini Lia telah bangkit dari tempat tidur, dan berada didepan jendela kaca sembari menatap penampakan matahari petang yang anggun.



"Hai, Li?"sambut seseorang tiba-tiba dengan suara samar akibat si pemilik suara berada diluar.



"Andres?"Lia terkesiap seketika, mendapati Andres yang berada di hadapannya yang hanya terhalang jendela kaca.


"Stttt..."Andres menempelkan jari telunjuknya di bibirnya, agar Lia tak berisik.


Lia menengok ke kiri, berharap tidak ada seseorang yang membuka pintu kamarnya. Lalu ia menatap Andres dengan keadaan yang masih terkejut.


"Kenapa kesini?"tanya Lia melotot.

__ADS_1


"Buka dulu."Andres menggerakan bibirnya tanpa mengeluarkan suara.


Kemudian Lia pun bergerak membuka pintu kaca itu, dan kini Andres berada di hadapannya. Lia memangpangkan raut wajah datar sembari kedua tangan bersidekap didada, sementara Andres hanya nyengir.


"Kenapa tidak masuk saja lewat pintu depan? kenapa malah memanjat balkon?"tanya Lia nada protes sementara Andra masih saja cengengesan.


"Kau tahu, pria zaman dulu melakukannya ketika si pria takut kepada orang tua si perempuan, takut tidak di beri izin untuk masuk kedalam kamar anak gadisnya. Well, aku mengikuti trik zaman dulu."jawab Andres berbangga diri.


"Berarti kau pria yang payah, dan mengapa kau ingin masuk kedalam kamarku?"introgasi Lia dengan kedua mata menyipit.


"Hanya ingin bertemu denganmu saja,"sahutnya mengedikan bahu singkat, menghela napas lalu berjalan menghampiri ranjang dan terduduk di tepi kasur, dan tentu saja di pemilik langsung protes.


Lia mendengus sebal, menghampiri Andres lalu berkacak pinggang."Kau tidak sopan!"Lia melotot menggemaskan membuat Andres tertawa kecil.


"Ya, memang."ucap Andres dengan santainya, kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur milik Lia, membuat sang empunya memangpangkan mimik wajah sebal.


Lia berdecak gemas, lalu memukul lengan Andres."Andres, kenapa kau tidak sopan sekali, sih."


"Kenapa tidak istirahat di kamarmu saja? mengapa harus di kamarku?"protes Lia menghela napas kasar.


Andres membuka mata, kemudian punggungnya bersandar di kepala ranjang."Tapi, aku penginnya di sini, Li. kalau kau tak suka kau boleh pergi tinggalkan aku sendirian di sini, lagi pula aku hanya numpang istirahat sebentar. kenapa tidak boleh? kita kan teman baik, Li."lagi-lagi Andres bertingkah jahil sambil mengulum senyum, dan tentu saja membuat Lia semakin dongkol.


"Andres, kenapa kau sangat menyebalkan sekali, sih."rajuk Lia yang serasa berubah menjadi gila karena usaha Andres membuatnya kesal ternyata berhasil.


"Li, apa kau tak pakai bra?"tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dari bibir Andres, dengan tatapan mata mengarah pada serabi di balik tank top milik Lia.


"Oh, sialan."gumam Lia dengan wajah yang langsung berubah pias.


Kedua mata Lia seketika membola tak percaya, mengapa Andres begitu berani meluncurkan pertanyaan semacam itu. Maka, dengan cepat Lia langsung menutupi bagian dadanya itu dan langsung terbirit-birit menuju toilet kamarnya. Jangan sampai Andres melihatnya--melihat sebentuk lingkaran kecil mungil dibalik serabi miliknya. Ralat, pasti Andres telah melihatnya. Dan disana Andres hanya tergelak sambil memegangi perutnya yang berdenyut nyeri akibat terlalu puas menertawakan Lia yang begitu polos.


Lia langsung menutup pintu toilet dengan begitu panik. Kemudian melihat wajahnya di cermin, dan pandangannya turun, dan mengintip kebagian dalam.

__ADS_1


"Oh, brengsek...Andres mengerjaiku."umpat Lia kesal, setelah melihat serabi miliknya yang ternyata mengenakan bra.


Ada perasaan lega, dan perasaan kesal bercampur menjadi satu akibat tingakah Andres yang begitu usil. Dan bodohnya mengapa ia bisa terkecoh dengan usilan Andres, tentu saja hal itu di karenakan Lia begitu panik sehingga menimbulkan reaksi lupa dadakan, padahal sedari tadi Lia memang sudah mengenakan bra.


Maka, dengan cepat Lia keluar dari toilet dan rasanya ia tak sabar ingin memaki Andres.


"Andres, kenapa kau mengerjaiku??!"Lia berseru kesal dengan berjalan terburu-buru menghampiri Andres. Namun, terlihat kini Andres sudah terlelap sambil memeluk guling kesayangannya, membuat Lia menghela napas kasar dan berusaha sabar.


"Jangan pura-pura tidur Andres! Bangunnnnn!!!"Lia menggoyang-goyangkan tubuh Andres, namun hanya terdengar suara Andres yang tengah mendengkur.


"Grokk...grokkkk..."


"Aish, memangnya seberapa lama aku meninggalkanmu ke toilet? baru saja ditinggal beberapa menit, kau sudah tidur lelap begini!"omel Lia lalu menyebikan bibirnya pada Andres yang masih terpejam, mungkin Andres memang benar-benar kelelahan sehingga ia tidur lebih cepat.


"Grokk...grokkk...."suara dengkuran Andres memenuhi seisi ruangan kamarnya.


"Aish, aku benar-benar tak menyangka pria tampan seperti dirimu ternyata sering mendengkur ketika tidur. Kau serupa dengan Andra tapi dari caramu tidur sangat begitu berisik,"


Hening.


"Grokk..grok...grok..."


"Ya, ampun aku tak bisa membayangkan jika dia memiliki istri dan tidur seranjang, pasti Andres akan lebih mendominasi memecahkan keheningan malam. Dan bahkan aku tak bisa membayangkan jika Andres berciuman dengan kekasihnya, pasti saat berciuman akan terdengar berisik sekali."Lia berbicara sendiri sembari menatap wajah Andres yang masih terlelap.


Lia menghela napas, kemudian ia pun lebih memilih meninggalkan kamarnya dan membiarkan Andres yang masih terlelap.




__ADS_1



__ADS_2