
Andres membuka kedua matanya secara perlahan, dan sedang menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruangan yang masuk pada penglihatannya.
tangannya yang ditancapkan jarum infus itu bergerak, serta selang oksigen yang terpasang di hidungnya.
Ceklek.
Seseorang membuka pintu ruangan dan menutupnya, mendengar suara pintu membuat Andres menoleh dengan sangat pelan karena leher serta kepalanya masih bergitu terasa sangat sakit. Rupanya, itu papi nya yang datang begitu terburu-buru dengan ekspresi wajah pucat dan begitu panik. Seketika papi nya langsung terkesiap melihat anaknya yang sudah sadarkan diri, maka ia pun langsung membuka pintu ruangan kembali dan memanggil dokter dengan sangat lantang.
"Dok, anak saya sudah bangun dok, tolong dok!"teriaknya dengan antusias.
Sang dokter muncul dengan cepat, kemudian masuk kedalam ruangan. Terlihat bagaimana papi Andres bernapas lega karena Andres sudah sadarkan diri, yang entah sudah berapa jam Andres pingsan.
Dokter itu menghampiri Andres dan mulai memeriksa dengan menyenteri mata milik Andres, kemudian menempelkan stetoskop didadanya untuk mendengarkan suara dari dalam tubuh, salah satunya untuk mendengar suara detak jantung, dan mendeteksi kelainan yang lain.
"Tuan Andres apa bisa mendengar suara saya?"dokter perempuan paruh baya itu bertanya, yang dijawab Andres dengan anggukan kepalanya pelan.
"Bagaimana, dok keadaan putra saya?"serobot papi nya tak sabaran ingin mengetahui keadaan anaknya.
"Sepertinya putra bapak pulih lebih cepat dari perkiraan, meskipun belum pulih betul. Jika melihat dari betapa parahnya luka disekujur tubuhnya terutama di bagian dada, perut, dan leher. beberapa jam langsung sadarkan diri adalah sebuah keajaiban. untuk lebih pastinya, kita pantau kondisinya sampai beberpa jam yang akan datang, sebelum kita memeriksa keadaanya secara menyeluruh. dan Andres harus banyak istirahat dulu, jangan terlalu memaksakan untuk melakukan aktivitas yang berlebihan."jelas dokter panjang lebar.
"Baik, dok."sang papi mengangguk paham.
Mendengar penjelasan dokter, kepala Andres mendadak pusing namun ia berusaha menahan diri agar papi nya tak panik. Andres mencoba memejamkan mata dan berusaha mengingat mengapa ia bisa berada disini.
"Kalau begitu saya pamit dulu, Pak."pungkas sang dokter.
"Silahkan, dok."
Setelah dokter pergi meninggalkan ruangan, Andres berusaha keras mengingat kejadian suram itu, membuatnya sedikit trauma. Andres membuka matanya kembali setelah mendengar papi nya yang mulai mengajaknya berbicara.
"Andres, syukurlah kau sudah sadar. kau tahu betapa cemasnya papi? papi tak ingin kehilangan anak papi lagi, maka lekas sembuhlah."ucap sang papi disela isakannya.
"Andres minta maaf,"lirih Andres dengan suara parau.
"Sekarang sekolah terkutuk itu sudah diberi garis polisi kita lihat perkembangannya nanti, papa tak habis pikir kau melakukan hal se-nekad ini."sang papi geleng-geleng kepala sembari mengusap-ngusap rambut anaknya itu dengan penuh kasih sayang.
Mendapati kabar buruk seperti ini, membuat papi Andres tak percaya dan tak habis pikir bagaimana bisa musibah seperti ini sering kali terjadi pada keluarganya. Belum lama kehilangan istri tercinta dan putra terakhirnya Andra, sang papi serasa tersambar petir mendapati Andres yang mengalami kejadian mengerikan ini.
__ADS_1
Apalagi keadaan Andres cukup parah dengan luka dalam yang ia alami, mulai dari dada, leher, pergelangan tangan, serta wajahnya yang sudah dipenuhi luka sayatan. Serta beberapa tulang rusuk yang patah akibat perkelahian.
"Papi tahu aku berada disini dari siapa?"tanya Andres menatap mata sang papi dengan sendu.
"Dari keluarga Lia."jawab sang papi.
Mendengar nama Lia, Andres tersadar dan ikut mengkhawatirkan bagaimana keadaan Lia. apa dia sudah sembuh? atau malah sebaliknya?
"Lia..Lia.."resah Andres memanggil-manggil nama Lia berulang kali.
"Lia baik-baik saja, dia sudah sadar beberapa jam yang lalu. Luka yang di alami Lia kebanyakan luka luar, dan bagian kakinya terkilir. tapi, keadaannya sudah sedikit membaik."kata papinya yang membuat Andres sedikit bernapas lega.
Sementara Lia langsung meminta Bayu untuk mengantarkannya ke ruang rawat Andres, begitu mendengar kabar Andres yang disampaikan Bayu membuat Lia merasa cemas bahkan ia sama sekali tidak peduli dengan kondisi tubuhnya. Maka dengan helaan napas panjang, Bayu terpaksa menuruti keinginan Lia yang tetap bersikukuh ingin menemui Andres, lalu Bayu pun membantu Lia untuk duduk di kursi roda.
Lia dan Bayu menyusuri lorong rumah sakit, kemudian mereka berdua telah sampai di ruangan Andres.
Ceklek.
Bayu membukakan pintu lalu mereka berduapun masuk kedalam. Andres dan Lia saling bertatapan lama ketika pandangan mereka berdua beradu.
"Andres,"Lia tersenyum haru dengan setitik air mata yang menetes membasahi pelupuk pipinya. Namun, dengan cepat ia menghapus air mata itu dan berusaha untuk tegar dan tidak cengeng.
Bayu mendorong kursi roda Lia dan mendekati brankar tempat Andres berbaring.
"Permisi om, maaf kami lancang."sapa Bayu sungkan pada papi Andres, dan papi Andres mengangguk seraya tersenyum sopan.
"Tak apa. terimakasih sudah memberikan kabar Andres pada saya, ya. terus terang saya sangat terkejut atas musibah ini."ucap papi Andres bersedih.
"Iya, om. saya turut perihatin. terus terang saya juga tidak tahu adik saya begitu nekad melakukan ini, padahal adik saya sangat penakut aslinya."kata Bayu merasa tak enak hati dengan papi Andres.
"Justru saya berterimakasih pada Lia. ternyata Lia sangat tulus untuk membantu mengungkap kasus ini. saya sebagai orang tua Andra merasa sangat bersyukur karena kasus ini sudah terungkap. meskipun pahit, tapi saya merasa lega setelah mengetahui fakta sebenarnya."tutur papi Andres seraya menatap Lia kagum.
Lia membalas senyuman kearah papi Andres, penampilan papi Andres sangat casual dan cool. wajahnya teduh mengingatkannya pada wajah Andra, meskipun Andres serupa dengan Andra tapi Andra memiliki wajah yang begitu teduh saat di pandang berbeda dengan Andres yang memiliki wajah kelam sepekat malam. Melihat hal itu membuatnya merasa rindu pada Andra, apakah ia masih bisa bertemu Andra? apakah waktu dan semesta masih bisa mengizinkan itu? jika iya, maka ia ingin bertemu Andra lagi tanpa harus berakhir.
"Mungkinkah kalian ingin berbicara empat mata?"tanya papi Andres melirik anaknya serta melirik kearah Lia.
"Andres rasa iya, Andres ingin berbicara sesuatu pada Lia. bolehkan, pih?"sahut Andres serius.
__ADS_1
Papi Andres menganggukan kepalanya."Boleh, tentu saja. kalau begitu papi keluar ya,"pamit sang papi yang dijawab Andres dengan anggukan kepala.
Papi Andres merangkul bahu Bayu, kemudian mereka berdua pun keluar dari ruangan, meninggalkan Andres dan Lia disana.
Andres meraih tangan Lia dan menggenggam tangannya. Mereka berdua saling menatap satu sama lain, kemudian mereka berdua sama-sama menangis, Lia yang terisak sementara Andres hanya menitikan air mata, menangis tanpa suara.
"Apa yang kau pikirkan, Li?"tanya Andres dengan suara seraknya.
"Aku merindukan Andra, apa aku bisa bertemu dengannya lagi?"ucap Lia sembari sesegukan.
"Aku juga tidak tahu, Li."sahut Andres berucap dengan nada lemah.
"Kau tahu aku sangat mencintainya, tapi mengapa cinta kita terlarang? mengapa aku mengenalnya setelah dia sudah tak memiliki raga? mengapa aku harus bertemu dengannya sementara setelah itu dia harus pergi dariku?"cerocos Lia mengungkapkan isi hatinya dengan teramat perih, disertai isak tangis yang menyayat hati membuat dadanya terasa sangat sesak diterpa sembilu.
"Li, tenanglah."sambung Andres cepat sembari menguatkan genggaman tangannya itu, Lia menurut akhirnya ia hanya terdiam sembari menunduk tanpa berbicara, hanya isak tangis saja yang masih terdengar.
Andres menghela napas berat, lalu satu tangannya menghapus air mata Lia yang masih saja menetes. Kepala Lia terangkat, menatap wajah Andres dalam, sebelum akhirnya ia berhambur memeluk Andres dengan kuat sembari menangis tersedu-sedu.
"Andres,"lirihnya terisak-isak.
Perlahan tangannya terulur membelai rambut panjang Lia dengan tulus."Li, kau harus merelakan Andra."ucap Andres lirih.
"Aku tidak bisa, Andres."cicit Lia teramat pelan, namun Andres masih bisa menangkap suaranya.
Lia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Andres, meskipun sebenarnya tubunya harus rela menahan rasa sakit. Namun, sungguh dengan cara seperti ini membuatnya sedikit lebih baik.
"Andres, izinkan aku sebentar saja untuk memelukmu."ucap Lia disela isakannya.
"Kau boleh memelukku jika itu bisa membuatmu merasa lega."kata Andres tersenyum kecil sembari jemarinya terulur menghapus setitik air mata disudut matanya.
"Apa seperti ini rasanya memeluk Andra jika dia masih hidup?"tanya Lia lemah.
"Jika kau mencintainya, mungkin lebih dari ini."jawab Andres dengan perlahan kedua tangannya bertengger kuat memeluk pinggang Lia, hingga debaran jantungnya berdesir.
__ADS_1