Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Kita putus !"


__ADS_3

Perlahan Lia membuka matanya yang terasa sangat berat, melihat langit-langit yang berwarna putih yang mengabur dan kini berubah menjadi warna yang jelas. Lia berusaha mengerejapakan mata untuk menyesuaikan cahaya yang terkena matanya.


"Lia..Lia..Lia.."panggil sang ibu histeris yang menyapa gendang telinganya. Lia masih belum bisa melirik keaarah sang ibu karena ia merasa begitu kesakitan.


"Dokter tolong diperiksa bagaimana keadaan Lia."itu suara sang ayah berteriak.


kini dua orang berpakaian putih menghampirinya, seorang dokter dan seorang suster.


"Selamat malam Lia, bagaimana bisa mendengar suara saya?"tanya dokter pria paruh baya itu seraya tersenyum, sementara Lia hanya menjawabnya dengan anggukan kepala lemah.


Dokter pun memeriksa Lia pada tubuhnya menggunakan stetoskop.


"Jangan terlalu banyak bergerak ya Li, dan harus banyak istirahat juga,"kata sang dokter lalu derap langkahnya menjauh, terdengar mereka berbicara namun Lia tak dapat menangkap ucapan mereka, karena Lia kembali memejamkan mata dan gelap.


*****


"Li, bagaimana keadaan mu?"terdengar suara Bu Sabrina selaku wali kelas, setelah Lia membuka matanya kembali dengan susah payah.


Lia ingin menjawab, namun bibirnya tak kuasa untuk mengucap sepatah kata apapun.


"Tenanglah sayang, kau akan baik-baik saja."sang Ibu mengelus puncak rambut Lia dengan lembut, seraya tersenyum.


tidak berapa lama sang ayah beserta kakaknya pun terlihat. memangpangkan wajah khawatir yang berlebihan. membuat Lia merasa sedih, dan hampir ingin menangis.


"A-apa yang terjadi ibu?"akhirnya Lia bisa bertanya dengan susah payah. sementara mereka semua hanya saling pandang, seperti kebingungan apakah harus menceritakan kejadian sebenarnya atau tidak.


"Li, kau di temukan pingsan dan tergeletak di ambang pintu kelasmu."bukannya sang ibu yang menjawab, tapi itu suara Bayu.


Lia berusaha berpikir dengan kedua alis bertaut bingung. kenapa bisa ia berada di ambang pintu kelas? bukankah ia terakhir kali berada di gudang? Lia larut dalam pikirannya sendiri, ternyata psikopat itu benar-benar cerdik untuk menyembunyikan semuanya. tapi, mengapa ia tidak dibunuh oleh psikopat itu? lalu siapa gadis psikopat itu? sebaiknya ia jangan dulu menceritakan kejadian sebenarnya kepada keluarganya, Lia takut mereka semua menjadi khawatir dan panik. dan Lia tak ingin semua itu terjadi.


dua hari kemudian, akhirnya Lia bisa pulang juga, karena ia sudah merasa membaik. Lia dipapah oleh sang ayah ke kamar, di antar juga oleh sang ibu dan sang kakak.


"Awas pelan-pelan,"sang ayah memberi arahan, sementara Lia hanya tersenyum.

__ADS_1


Lia dibaringkan di kasur dengan sangat hati-hati.


"Terimakasih ayah,"kata Lia seraya mengembangkan senyuman.


"Sama-sama sayang. sekarang Lia istirahat dulu ya, jangan sampai kelelahan. untuk beberapa hari ini jangan dulu masuk sekolah ya, sebelum kondisi mu pulih."kata sang ayah dan Lia mengangguk paham.


"Jika perlu apa-apa panggil ibu yah sayang. jangan memaksakan mengambil sesuatu sendirian."sambung sang ibu perhatian.


"Baik bu,"sahut Lia paham seraya tersenyum tipis.


"Jika kau ingin ditemani, panggil aku saja oke."kata Bayu yang tak kalah perhatian, sementara Lia hanya tertawa kecik kemudian mengangguk.


"Kami tinggal ya sayang, istirahat ya."tukas sang ibu tersenyum, lalu mereka semua pun keluar dari kamar Lia setelah Lia menganggukan kepala.


Lia memiringkan tubuhnya, melihat kesamping tempat tidur yang kosong. tak ada Andra disana? bahkan dia sama sekali tak muncul saat dibutuhkan. apa dia sudah lupa dengan janjinya bahwa dia akan menjaganya? tapi, dia mengingkarinya. membuat Lia sangat kecewa dan marah. bahkan kini buliran air mata yang meremang itu jatuh membasahi pelupuk pipi. Lia menangis dan terisak, hatinya menclos dan ini kah yang disebut patah hati? mendapati fakta yang ada, bahwa pacar tak pernah berarti apa-apa dan sungguh dia sangat acuh, meskipun kini belahan jiwanya sedang terancam dan jatuh sakit.


"Li,"suara berat itu terdengar. suara yang sangat di kenali, yang membuat Lia menghapus cepat air mata itu. dan memutuskan untuk tak menoleh kebelakang.


"Apa kau marah padaku?"tanyanya dengan suara serak dan terlihat sedih. namun, tak ada jawaban dari Lia.


"Pergi saja, untuk apa berada disini."akhirnya Lia berbicara, meskipun kalimatnya bernada pengusiran dan sangat dingin.


"Aku ingin minta maaf,"sesal Andra menunduk layu, melihat Lia yang masih saja memunggunginya.


"Aku tak ingin melihatmu,"ucap Lia sembari terus menerus menghapus air mata yang berjatuhan.


"Aku punya alasan untuk ini, Li. aku mohon dengar dulu."imbuhnya.


"Tidak perlu, pulanglah."usir Lia lagi disela isakannya.


"Aku takan pergi, sebelum kau mau bicara dan mau memaafkan aku. dan tolong dengarkan dulu penjelasanku."ujar Andra nada memohon dengan lembut.


"KAU TIDAK DENGAR?"Lia langsung berbicara sarkas dan bangun dari posisinya dengan hentakan kasar, meskipun sebenarnya ia harus menahan sakit yang ia rasakan."PULANG!"usir Lia marah dengan menatap wajah Andra.

__ADS_1


Andra menggeleng."Tidak, Li. aku akan tetap disini. menjagamu !"sambung Andra cepat. sementara Lia langsung tersenyum kecut mendengarnya.


"Menjagaku?"Lia berdecih."Waktu aku berada disituasi genting memangnya kau menjagaku?! tidak 'kan?! lalu, untuk apa aku mempercayaimu, hah? kau pembohong besar, bahkan kau tak ada saat aku membutuhkanmu."Lia memaki kasar. Andra berusaha menggenggam pipi Lia namun dengan cepat pula Lia menepis tangannya dengan satu hentakan.


"Li, dengar dulu."Andra memohon dengan sangat sabar.


"Aku tak ada waktu !!"Lia berseru keras dengan air mata yang kini menerobos keluar.


"Li..."


"Apa gunanya kau sebagai pacar?"sungut Lia tajam.


"Apa?"


"Baiklah, aku harus mengatakannya."ucap Lia tegas, sembari menghapus air mata yang membasahi pipinya berulang kali.


"Mengatakan apa?"tanya Andra tak mengerti.


"Putus. lebih baik kita putus saja. itu yang terbaik."kata Lia manggut-manggut dengan nada sedih bercampur dengan rasa kecewa yang menggebu-gebu. Sementara Andra menatapnya terkejut, tak mempercayai apa yang terlontar dari bibir Lia barusan.


"Mengapa secepat ini?"tanya Andra lemah.


"Lebih cepat lebih baik,"sahutnya dengan sorot mata memerah akibat ia terus-terusan menangis.


Andra tersenyum tak habis pikir, menahan rasa sedih serta amarah yang bercambur menjadi satu.


"Mami ku meninggal, apa kau puas, Li?"kata Andra setelah beberapa saat terdiam. membuat jantung Lia serasa disambar sesuatu yang membuatnya sangat terkejut.


"Aku tidak datang saat kau membutuhkanku, apa kau tahu alasannya? aku sedang melihat mamiku sakaratul maut setelah mengalami kecelakaan mobil, dan di bawa kerumah sakit. menurutmu apakah aku harus diam saja?"Andra tertawa getir, sementara Lia hanya terdiam dalam kebisuan dan menyesali tindakan bodohnya pada Andra setelah mendapati alasan sebenarnya.


"Baik, jika itu mau mu. Kita, putus? setelah baru beberapa hari jadian?"Andra tersenyum miris."Aku terima keputusanmu,"tandasnya sebelum akhirnya menghilang dengan kabut beserta cahaya.


"Andra? Andra?!!!"panggil Lia berkali-kali, melihat sekeliling. namun, terlambat Andra telah pergi.

__ADS_1


"ANDRAAAA...."teriak Lia menjerit histeris sembari menangis lalu ia pun terkulai lemas dan terduduk di lantai, tangannya terulur mengacak-ngacak rambutnya prustasi.


__ADS_2