
Falasback on:
Angin sepoi-sepoi meniup poni seorang anak laki-laki yang tengah berlarian semaunya, di area taman bermain anak-anak. sementara satunya lagi tengah mengejarnya, anak laki-laki tanpa poni dengan gaya rambut memiliki jambul. namun, wajah mereka berdua terlihat serupa.
"Andla, jangan lali-lali nanti kau jatuh."teriak anak laki-laki yang sedang mengejar. sementara anak laki-laki yang berponi itu tampak tak peduli, ia terus berlari sambil tertawa puas.
"Kejal aku, jika belhasil menangkapku kau boleh memakai pelampung milikku untuk hali minggu libulan ke Bali. ayo kejal aku Andles."Andra lelaki cilik itu tertawa lalu berlari kembali, sementara Andres menghela napas kesal. sebelum akhirnya ia mengejar Andra lagi.
"Kau sulit di atul, nanti jatuh balu tau lasa !"geram Andres menghentikan langkah dengan napas yang terengah-engah, dan menyeka keringat di keningnya.
Brukk....
"Aw... huuu..hukkk cakit... ini cakit... hukkkk.."
"Andla..."
Melihat sang adik terjatuh, Andres langsung berteriak memanggil sang adik lalu berlari untuk menghampirinya.
Andra meringis kesakitan setelah ia tersungkur, dan di dapatinya lutut nya memar terkena kerikil.
"Andla, apa kau baik-baik saja?"tanya Andres panik yang kini duduk disamping sang adik sembari meniup lutut sang adik.
"Kau pasti ingin meneltawakan aku, iya 'kan?"tuduh Andra disela isakan.
"Sembalangan, jika kau mendengalkan apa kataku mungkin kau takan jatuh. dali pada lali-lali, mending kau main balbie saja di lumah. lebih aman,"kata Andres lalu akhirnya ia tertawa.
"Aku tak suka belmain balbie."sergah Andra tak terima.
"Kalau begitu jangan cengeng, ayo beldili."ledek Andres sembari mengulurkan tangan, Andra menatap sejenak sang kakak lalu menyambut tangan itu kemudian bangkit berdiri.
"Aku minta maaf, aku menyesal."Andra merengek sembari menundukan kepalanya malu.
"Sudah, aku sudah memaafkanmu. lebih baik kita belmain pasil saja, aku akan membuat sebuah istana yang besal."tunjuknya kearah box yang berisi pasir, lengkap dengan ember serta sekop anak-anak yang sengaja di letakan disana.
"Istana dali pasil?"mata Andra berbinar, merasa sangat antusias.
"Iya, ayok !"ajak Andres lalu memapah Andra.
Flashback off:
Berbaring di hamparan rumput hijau yang luas, Andres dan Lia merasa lebih ringan sekarang, setelah mereka berdua saling bercerita. bahkan, kini ia telah mendapatkan fakta yang sebenarnya, dan Andres merasa lega setelah menceritakan semuanya. bahwa Andra adalah saudara kembarnya. begitupun dengan Lia yang merasa tenang setelah menceritakan apa yang terjadi, antara dirinya dengan Andra.
meski Andres terdengar tertawa di pertengahan ceritanya, tapi tawa itu seperti terdengar seperti kesedihan dan kerinduan yang menyatu menjadi satu.
karena merasa penasaran, Lia memutuskan untuk pergi bersama Andres dan mengirim pesan pada kakaknya. setelah di berikan izin maka Lia dan Andres bergegas ketempat ini. dengan hembusan angin dan cuaca langit yang cerah, serta pemandangan yang sangat indah. rasanya damai dan tenang, belum pernah Lia mengunjungi tempat seperti ini di kota metropolitan.
__ADS_1
"Aku lelah, Li."bisiknya setelah cerita itu berakhir.
Hati Lia merasa teriris setelah mendengarnya, ia paham bagaimana perasaan Andres mengetahui sang adik sudah lebih dulu meninggalkannya dan disusul oleh Maminya. bukan hal yang mudah untuk melewati situasi pelik seperti itu.
"Lucu ya, orang sepertiku bisa merasakan lelah, bahkan dulu aku berkata pada Andra bahwa jangan menjadi lelaki cengeng. tapi, nyatanya aku juga sama. hahaha..."Andres tertawa hambar dengan pandangan menatap langit yang mulai petang.
Lia menoleh kerahnya, rasanya ia tak menyukai saat Andres mengucapkan kalimat seperti itu yang bernada putus asa.
"Kau tahu? hidup adalah sebuah perjalanan bukanlah sebuah pelarian. meskipun kehidupan terasa sangat buruk, tapi kehidupan haruslah tetap berlanjut. jangan pernah kau menertawakan kehidupanmu, hidup mu bukanlah sebuah lelucon."ujar Lia menatap langit, sementara Andres langsung menoleh kearahnya.
Andres menatap Lia lama, sementara Lia menelisik perasaan Andres saat ini.
"Bagaimanapun aku manusia, Li. aku bisa merasa putus asa dan aku juga bisa merasa lemah."ucapnya bernada lirih.
Lia menoleh sekilas, kemudian menghela napas.
"Aku mengerti perasaanmu."sahut Lia kemudian melirik kearah Andres lalu tersenyum tipis.
Andres telihat bangkit dari posisinya yang berubah duduk di hamparan rerumputan, membiarkan angin mengacak-ngacak rambutnya yang agak panjang. sementara pandangannya hanya menatap lurus dan tak bergeming.
tanpa sadar, Lia merasa terbuai akan ketampanannya. jika dia Andra, mungkin ia takan berhenti untuk menggodanya.
garis wajahnya yang seperti pahatan, hidungnya yang bangir, dan sorot matanya yang terlihat sayu dan kelam. dia terlihat sempurna.
Lia juga ikut bangkit, dan duduk disebelahnya. menyadari Lia yang sedang tersenyum sembari memperhatikannya, membuat Andres seketika langsung tersenyum miring dan menoleh kearah Lia.
"Andra yang lebih tampan."sahut Lia cepat sembari memutar bola mata malas.
"Kau lupa? kami serupa, jadi tidak ada alasan di antara kami berdua siapa yang lebih tampan, kami sama."kekehnya, sementara Lia terlihat sembunyi-sembunyi menghirup napas lalu mengalihkan pandangan.
Hening.
"Ternyata Andra benar,"ucapnya memecah kebisuan.
"Apa? dia mengatakan apa tentangku?"tanya Lia tak sabaran.
Andres tertawa."Sungguh kau ingin tahu? kau tak akan menyesal setelah mendengarnya?"
Lia menghela napas kesal."Memangnya dia bilang apa?"
"Dia bilang kau cantik, dan itu benar."jawab Andres yang membuat Lia tersipu, jadi Andra mengatakan bahwa ia cantik? "Cuma, galak saja katanya."lanjutnya yang membuat senyuman Lia tenggelam seketika.
"Dia brengsek."umpat Lia mendengus sebal. sementara Andres hanya tertawa.
"Dan aku juga percaya kau memang galak,"sambungnya yang membuat Lia langsung mendelik, lagi-lagi Andres hanya tertawa terpingkal-pingkal.
__ADS_1
"Jadi, kau juga bisa melihat Andra?"tanya Lia serius, yang membuat Andres menghentikan tawanya. kemudian ia mengangguk.
"Entah, aku juga bingung. mengapa aku bisa melihatnya sekarang-sekarang ini. padahal, awalanya aku tak pernah bisa melihatnya."jawab Andres mengedikan bahu singkat.
"Mungkin itu semua terjadi karena kau bertemu denganku tempo hari, maka kau bisa melihat Andra."kata Lia yakin.
"Begitukah?"Andres manggut-manggut.
"Aku merindukannya, kau bisa mempertemukan aku dengannya?"pinta Lia dengan sorot mata memohon.
"Kau bertengkar dengannya?"
Lia mengangguk dengan pandangan matanya menuju rerumputan."Aku berbicara tak pantas padanya."ucap Lia terus terang.
"Aish, aku tak percaya kalian bisa bertengkar. jika orang-orang melihat kalian bertengkar di tempat umum pasti kau akan dicap orang gila yang kabur dari rumah sakit jiwa."
"Apa katamu?"sahut Lia cepat sembari menatap kesal kearah Andres, sementara Andres hanya tersenyum lebar lalu terkekeh.
"Aku tak percaya kau berpacaran dengan Andra, mengapa tidak berpacaran saja denganku, aku lebih nyata."celetuk Andres bergurau yang disambar sepasang mata Lia yang melotot ngeri.
"Maaf, aku hanya bercanda."sambungnya mengangkat jari membentuk peace, sambil terkekeh.
"Kenapa kau jahat sekali kepada adikmu sendiri?"komentar Lia mendengus sebal.
"Aku hanya iri padanya,"sahutnya.
"Iri karena apa?"tanya Lia sewot.
"Iri karena bisa memacari gadis galak sepertimu, hahaha.."jawabnya dengan gelak tawa, seketika Lia langsung memukul lengan Andres.
Plak...
"Aku tidak galak, apa kau paham? kenapa kau sama menyebalkannya dengan Andra!"seloroh Lia berdecih. sementara Andres masih saja tertawa ngakak.
"Baiklah, aku rasa kita harus serius."kata Andres setelah menghentikan tawanya.
"Seharusnya !"Lia berseru dengan kalimat penekanan, Andres hanya bisa mengulum senyum betapa Lia sangat menggemaskan.
"Jadi, apa rencanamu? untuk mengungkap pembunuh berdarah dingin itu?"tanya Andres mulai serius, dan Lia berusaha berpikir.
"Kita harus masuk kedalam gudang itu,"jawab Lia setelah beberapa saat larut dalam pikirannya sendiri.
"Gudang?"ulang Andres tak mengerti.
__ADS_1